
Tidak peduli seberapa lama ia memikirkannya, April sulit untuk memercayai bahwa Arais juga memercayai mitos sekolah sepertinya.
"Lo ngomongin gue?" tanya Arais santai pada Nina. Nina mengangguk dan mengarahkan dagu pada April yang masih cengo menatap Arais yang berjalan semakin dekat.
"April juga di sini? Wait, sejak kapan kalian saling kenal? Mencurigakan." Usai mengatakannya, Arais menatap Nina dengan tatapan yang mengisyaratkan, "Maksudnya ape nih. Ada sesuatu pasti."
"April mau ngomong sesuatu." Nina yang tiba-tiba melempar kewajiban untuk menjelaskan pada April membuat gadis itu gelagapan dan menatap keduanya bergiliran dengan cepat.
"Kok April sih, Kak?"
"Memang ada yang ingin kamu tanyakan 'kan?"
"Ya iya, sih. Tapi kan ... " ujarnya menggantung sembari melirik Arais yang menunggunya melanjutkan kalimatnya.
April mengumpulkan keberanian dengan menghirup oksigen dalam-dalam, laku menghembuskannya. Matanya fokus dan mantap, memandang Arais serius.
"Buset, kenapa serius banget mukanya? Mau diseriusin, Pril? Bukannya lo udah sama Husain?" Sontak, Nina memukul lengan Arais dengan buku tebal yang sebelumnya ia baca. "Ga usah bercanda. Gak lucu."
"Aw, KDRT lo, Nin. Ya udah gue serius. Apaan, Pril?"
"Pril?" panggil Arais lagi.
"Eh iya, Kak. Jadi, ehem, Kak Arais percaya mitos sekolah?"
"Mitos sekolah apaan dah?" Arais mengernyit sejenak, lalu dengan kecepatan cahaya ia melirik sinis Nina yang diam di tempatnya dan kembali menatap April santai.
"Perubahan ekspresinya cepat sekali. Flash aja kalah," batin April yang menyadari perubahan ekspresi kilat Arais barusan.
"Mitos tentang pohon beringin di belakang perpus, yang kalau bohong di sana tanggal 1 April, kebohongannya bakal jadi nyata," jelas April pelan dan penuh penekanan.
"Gue baru tahu ada mitos gitu—"
"Gak usah bacot. Jujur aja, aku dah bilang ke April kalau kamu percaya mitosnya," potong Nina, kesal Arais terus mengelak dan pura-pura tak tahu apa-apa.
"Bab—lo kok gitu, Nin?" Arais tak terima.
Nina menopangkan dagu di atas telapak tangan, lalu berujar santai, "April juga percaya mitosnya, kok. Santai."
"Santai apaan! Lo berkhianat—eh, tapi what the heck? Lo percaya mitos itu juga, Pril?" Arais beralih menatap nyalang April dengan bibir menganga yang ditutup dengan telapak tangan kanannya.
Dengan enggan April mengaku, "Hehe, iya."
__ADS_1
Arais menurunkan tangannya dari mulut dan berubah ekspresi, tampak lebih open (?).
"Berarti kita sekarang squad yang percaya mitos sekolah, dong?"
Nina memasang wajah datar, tak menanggapi ucapan Arais, baik dengan ekspresi maupun kata-kata. Responnya membuat Arais bungkam, sepoi-sepoi kecanggungan bertiup di sekitar ruangan.
"Kak Arais sejak kapan percaya mitosnya?" tanya April, mencoba mencairkan suasana.
"Dulu, pas MOS, gue denger dari kakak kelas. Sayangnya waktu itu udah lewat bulan April. Gue coba di semester dua, dan yah, gitu deh," jelas Arais, kemudian mengangkat kedua pundaknya.
"Emang Kak Arais bohong apa?"
"Kepo banget?"
"Kok deja vù, ya?" batin April.
"Bohong kalau dia cowok populer, " sahut Nina.
"Buka aja teros aib gue. Pengen tak hiiih!" geram lelaki yang kedua tangan terjulur ke arah leher Nina seolah hendak mencekik angin.
Apa cuma April yang merasakan aura kedekatan yang semerbak ini?
"Kalian deket, ya," celetuk April tanpa pikir panjang.
"Deket apaan? Jauuuh," ujar Arais bersamaan dengan berjalan cepat ke belakang. Kayak moonwalk-nya Michael Jackson.
"Lo sendiri bohong apaan di pohon beringin?"
April mengerjapkan mata beberapa kali dan menatap sekitar perpus dengan gugup. "Itu ... " gantung April sebelum menghembuskan napas berat dan berkata jujur, "bohong kalau April pacar Kak Husain."
Seketika, rona merah menyebar dari pipi hingga telinga. April tak butuh kaca untuk mengetahui bahwa ia tampak seperti kepiting rebus sekarang.
Seakan mewajarkan hal itu, Arais hanya menjawab, "Pantesan kok bisa pacaran tiba-tiba," dengan santainya.
"Aneh juga tuh jomlo kok bisa langsung dapat pacar padahal kemaren-kemaren kagak ada skandal deket ma sapa-sapa." April tahu Arais menyindir Husain. Tapi, kok dia ikut merasa tertohok.
Canggung. Serius. April masih malu. Tapi, setelah ingat tujuan utama mengapa ia mencari Arais, April memberanikan diri dengan keberanian yang secuil untuk bertanya padanya.
Bibir April sudah terbuka dan siap untuk melontarkan pertanyaannya. Tapi, begitu melihat wajah Arais, bibirnya bungkam lagi. Nyali April kenapa secuil banget siiiih. Giliran nembak kemaren berani, mutusinnya masa enggak, jeritnya dalam lubuk hati.
Bak superhero yang datang kesiangan, Nina mewakili April untuk bertanya, "Tahu cara batalin mitosnya gak?"
__ADS_1
"Enggak tahu juga deh, gue gak pernah kepikiran mau batalin mitosnya. Mungkin, lo harus bohong lagi ke pohonnya pas tgl 1 April." Sama sekali tidak membantu menemukan jalan ke luar.
"Kan masih setahun lagi," keluh April dengan senyum terpaksa yang sebenarnya menahan diri untuk tidak memukul Arais atas jasanya yang tidak membantu apa-apa.
"Wait." Arais tampak baru menyadari sesuatu. Setitik rasa harap April miliki.
"Lo mau batalin mitosnya? Lah, berarti lo kau putus dari Husain, dong?!"
"Ah, ****," umpat April dalam hati.
"Iya." Jujur ajalah, April anak yang jujur dan baik.
"Kenapa?"
"Soalnya ... April mau ngejar Kak Husain secara sportif!" Puja otak April yang bisa menemukan jawaban di saat-saat mendebarkan seperti ini.
"Ya kejar sekarang aja, mumpung udah pacaran. Tinggal bikin suka doang kan? Gampang."
"Ya tapi kan, bukan pdkt namanya kalau udah pacaran."
"Gue gak ngerti."
April tak punya pertanyaan lain untuk ditanyakan dan tak ingin diinterogasi lebih lanjut. Maka, gadis itu undur diri.
Saat membuka pintu perpustakaan, ia dikejutkan dengan wajah sahabatnya yang tepat berada di depan pintu.
"Astaghfirullah," ucap April mengelus dadanya.
"Buset, lo kesurupan apa, Pril? Kok ke perpus?" Citra jaga jarak dan siap dengan ancang-ancang ala petinju yang ia contek dari televisi.
"Reaksi Citra lebay."
"Bukan lebay ini. Gue curiga. Lo bukan temen gue, kan? Pasti lo setan yang masuk ke tubuh April. Ke luar gak lo?!" pekik Citra, lalu menggoyangkan bahu April kuat seakan itu mampu mengeluarkan setan yang ia sebut-sebut.
"Ih, berenti! April ga kesurupan! April abis ketemu Kak Nina buat tanya soal mitos itu," jelas April setelah Citra berhenti menggoncangkan tubuhnya.
Citra menengok ke dalam ruangan dan raut penasarannya berubah bete saat melihat pemandangan di dalam. Potret Nina dan Arais yang duduk berhadapan memantul dari bola matanya.
"Apaan sih kok deket sama Kak Arais," gerutunya kesal. Dari aura-auranya sih, Citra sudah bergabung secara emosional dengan fans-fans gila Arais. Kalau menurut kpopers, biasanya disebut sebagai sindrom BIM (Bias Is Mine).
"Pril, cewek itu sapa?" tanya Citra menunjuk Nina dengan ujung dagunya.
__ADS_1
"Kak Nina yang gue omongin tadi."
Citra hanya ber-oh, lalu memandang ke arah lain. Bibirnya otomatis mengerucut sendiri karena bete. Orang tampan memang lebih asik dilihat ketika jomlo dan tidak ada cewek di sekitarnya. Why? Karena menurut sebagian cewek, lebih mudah untuk membayangkan kemungkinan hubungan romantis terjadi di antara mereka. Kehaluan Citra lebih parah daripada April, walau ia selalu mengaku April otaknya lebih miring.