
Mau tahu apa yang sedang dilakukan April sekarang?
Tubuhnya berbaring terlentang di atas kasur. Mulutnya senyum-senyum sendiri. Pikirannya mengarah pada kencannya bersama Husain. Lusa hari Minggu. Tapi, deg-deg-annya udah dimulai dari hari ini.
Tadi, Husain sempat mengirim pesan pada April.
^^^Hari Minggu nanti nonton, ya. ^^^
Siap, Kak!
Nonton bioskop! Kayak di drama-drama banget, kan? April membayangkan jika ada bagian yang seram, dia bisa memeluk lengan Husain dengan romantis. Atau, jika film romantis, ketika bagian so sweet dari film diputar, dia mungkin bisa bertatap-tatapan dengan Husain. Bisa juga, saking asiknya menonton film, tangan mereka bersentuhan saat mengambil popcorn. Kalaupun filmnya membosankan, April bisa berpura-pura mengantuk dan menyenderkan kepalanya ke bahu Husain.
April memukul-mukul bantal lalu memeluknya hingga wajahnya yang merah padam tertutupi bantal. Dia benar-benar tidak sabar!
"Kalau kencan, kira-kira pakai baju apa ya?" Pikiran itu sempat terlintas di benak April. Ia bangkit dan membuka pintu lemarinya. Ada lebih dari sepuluh baju santai tergantung, dan puluhan pakaian terlipat di rak lemari. April mengambil gaun hijau muda dan jaket denim crop miliknya. Mencobanya di depan kaca sambil berpose.
"Lumayan."
Kemudiam mengambil setelan tunik warna beige dengan motif bunga. Meletakkannya di kasur, di sebelah gaun hijau dan jaket denimnya. Membandingkan kedua pakaian itu seraya berkacak pinggang.
"Gue ada baju lain gak ya? Yang gemes gitu. Ini kesannya kan agak tomboy gitu."
Ia mengeluarkan seluruh baju yang menurutnya potensial dan mampu membuatnya tampak lebih wow. Melihat tumpukan pakaiannya di kasur membuat kepala April pening. Perasaan bajunya bagus-bagus semua kalau dilihat lama-lama.
Gadis berbaju putih itu meraih ponselnya di nakas dan menelpon sahabat yang selalu bisa ia andalkan.
"Citra!" panggilnya tepat setelah dering nada tersambung berbunyi.
"Apa sih, Pril?" jawab Citra dengan nada malas.
"Bantu April milih baju buat kencan."
"Kencan sama siapa lu?" Ini enggak salah Citra masih nanya?
"Ya sama Kak Husain lah, siapa lagi? April tuh setia!" tegasnya.
__ADS_1
"Canda doang, say. Kalau gitu harusnya jangan telepon suara dong, tapi vidcall. Gimana sih?"
Iya juga. Menyadari kebenaran perkataan Citra, April menepuk kepalanya sendiri. Kayaknya dia emang makin bodoh gara-gara kemarin siang Kak Husain menyentil dahinya.
Keduanya mengubah mode telepon menjadi telepon video. April mengarahkan kamera belakangnya ke tumpukan pakaian di kasur yang tersusun tidak beraturan. Citra yang melihat jadi gemas saking berantakannya.
"Lo nyari baju apa ada gempa bumi, Pril?" tanyanya sarkastik.
"Hehe." Yang ditanya cuma bisa nyengir menanggapi sahabatnya mengomel.
"Pusing banget lo milih baju doang. Tampil biasa aja kali biar enggak kelihatan excited banget."
"Eh, mana bisa! April mau dandan cantik banget biar Kak Husain pangling!" serunya semangat.
"Lo gak tahu metode jual mahal dalam pdkt, apa?"
"Buat apa jual mahal ke pacar sendiri. Citra juga sok-sok'an nasehatin April masalah pdkt. Padahal Citra kan belom pernah pacaran," sahutnya.
"Heh, gue mungkin jomlo, tapi gue tahu kali metode ginian dari drakor, film, dan novel romantis!"
April diam sebentar, memikirkan jawaban yang ampuh untuk mengalahkan argumen sahabatnya. Ah, dia tahu.
"Dih, siapa?"
"Misal Ko Munyeong sama Gangtae."
"Ko Munyeong cantik bego! Enggak kek elu," jawab Citra di telepon dengan nada ngegas.
"April juga cantik kalee."
***
Hari berjalan begitu cepat. Dalam sekejap mata, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. April siap di kamarnya mengenakan kemeja putih dengan outer cardigan maroon, celana jeans kulot, dan bando pita motif batik terpasang di kepalanya. Pipinya dibubuhi blush-on pink. Kulitnya wangi karena lotion ibunya telah ia pakai berlapis-lapis. Bibir menggunakan lipgloss. Bedak tipis agar tidak terlihat menor. Keimutan yang pas, tidak berlebihan. April bangga atas hasil make-over-nya sendiri.
Sebuah notifikasi chat dari Husain muncul di beranda ponselnya. Iya menekan notifikasi itu dan membaca pesan singkat dari sang pacar.
__ADS_1
^^^Gue di depan. ^^^
April turun dari lantai dua dengan cepat. Ia berjalan cepat menuju ke depan pintu rumahnya. Sebelum membuka pintu, ia baru teringat belum meminta izin ayah.
"Minta izinnya gimana ya?" gumam April panik sendiri.
Dia tahu, kalau bilang nanti pasti dilarang pergi. April enggak pernah jalan bareng cowok, sih. Tapi, kalau enggak bilang, pulangnya kena marah dan selama kencan, ponselnya pasti diteror telepon dari sang ayah dan ibu, menanyakan di mana posisinya nanti. Memikirkan teror dari ayah dan ibunya saja berhasil membuat April merinding. Ngeri. Atau dia bohong saja? Eh, enggak deh, dosa bohong ke orangtua.
Dengan iq-nya yang tidak seberapa, April mendapat ide jenius untuk menghadapi masalahnya.
Ia membuka ponsel dan mencari kontak ayah di aplikasi chatting latar hijau. Ia jujur saja ke ayah.
Yah, April mau jalan bareng temen. Jangan telepon, ya. Hehe.
Ia mematikan notifikasi pesan dari ayah, lalu membuka pintu rumahnya. Di depan gerbang, Husain telah menunggu di atas motornya.
Penampilan Husain hari ini berhasil mengalihkan dunia April. Jaket denim yang dibaliknya terdapat kaus hitam polos, celana cargo hitam dan sepatu kets hitam bertali putih. Senyum tipis yang menghiasi wajah Husain sangat manis. Lebih manis daripada penampilan April yang totalitas hari ini.
"Naik," ujar Husain sembari menyodorkan helm biru muda berukuran kecil ke April.
"Punya siapa, Kak?" tanyanya setelah mengaitkan kunci helm.
"Adik," jawab Husain singkat.
Mereka sampai di mall tujuan sebelum matahari bersinar terang di atas kepala. April melepas helm dan menaruhnya di atas kaca spion. Lalu, menolehkan kepala ke sekeliling. Saat menemukan apa yang dicarinya, April berjalan menuju ke tujuan. Ia merapikan rambutnya yang acak-acakan setelah mengenakan helm dengan berkaca di jendela mobil yang letaknya hanya berbeda lima kendaraan dari motor Husain. Setelah yakin penampilannya rapi, ia kembali ke tempat Husain berdiri.
Mereka memasuki mall dan seketika udara sejuk menyapu tubuh April. Ia menghela napas lega. Di luar cukup panas, begitu masuk mall berasa masuk kulkas. Udah kayak ikan saja harus masuk kulkas biar enggak basi. Pikiran absurd-nya membuat April terkikik. Husain geleng-geleng kepala melihat kekasihnya yang tiba-tiba terkikik sendiri tanpa alasan.
Masih di perjalanan menuju lantai teratas, lantai bioskop berdiri. April menatap tangan Husain yang menganggur. Tergiur untuk memegangnya. Dan, lagi-lagi, ide jenius datang ke otaknya. Kalau urusan bucin, otak April lancar banget waktu mikir.
April menghentikan langkah Husain dengan menarik lengan jaketnya.
"Kak, mana tangannya? April mau kasih hadiah," ujar April tiba-tiba. Husain bingung, tapi tetap menurut. Ia menunjukkan sebelah tangannya ke depan wajah April.
April tersenyum melihat telapak tangan kasar itu di depan matanya. Ia mengangkat tangan dan mengepalkannya. Seolah-olah ingin memberikan sesuatu di dalam kepalannya itu.
__ADS_1
Lalu, saat tangan mereka saling menyentuh, April membuka kepalannya dan menautkan jemari keduanya erat.
"Ayok jalan!" ajaknya semangat.