School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
12. Budak Cinta (2)


__ADS_3

Mata April hampir tak kuat untuk terbuka, saking membosankannya pelajaran sejarah yang dibawakan guru di depan papan tulis. Bapak itu menjelaskan panjang kali lebar, tak berjeda, dengan kumisnya yang bergoyang pelan entah karena tertiup angin atau napas bapak guru yang tiada habisnya. Citra di depannya, sudah seperti perisai yang melindungi April dari ocehan guru serta terlindungi dari cipratan air liur guru itu. Citra menegakan punggungnya meski mulutnya terus menguap, matanya berair dan kepalanya berkali-kali tersantuk meja karena lemas ingin membaringkan diri di atas meja. 


Ding dong! 


"Jam keempat telah selesai. Jam istirahat pertama." Suara perempuan yang lembut terdengar dari speaker membangkitkan dua gadis yang mengantuk itu. April dan Citra bangkit dari kursi mereka dan segera merogoh tas untuk mengambil uang saku yang diberikan oleh ibu/ayah saat berangkat pagi tadi. 


Dengan lari super cepatnya, Isla berlari dari gedung IPS yang terletak lumayan jauh dari gedung IPA ke kelas mereka. Gadis itu berhenti di depan kelas X IPA 4 dengan napas ngos-ngosan seraya memegangi lututnya. "Ngantin barengnya jadi?" tanya Isla setelah mengatur napas dan pose tubuhnya.


April ke luar kelas dengan langkah kecilnya dan uang di dalam kepalan tangan. "Jadi, dong," jawabnya. Citra menyusul dengan langkah lambat. "Ngantuk banget gue." 


"Pelajaran sejarah bosenin banget emang." 


"Sejarah bukannya seru?" Pertanyaan Isla yang dipicu oleh reaksi spontan itu mendapat delikan dari kedua sahabatnya. 


"Isla emang beda," ujar April sembari bertepuk tangan mengapresiasi.


SMANDUGA memiliki dua kantin. Salah satunya terletak di sebelah gedung IPA anak kelas X dan XI. Kantin lainnya terletak di belakang gedung kelas XII IPA dan IPS. Kemageran yang sudah merajalela tubuh mereka, membuat mereka memilih untuk makan di kantin sebelah gedung X dan XI IPA, kantin terdekat. Kenyataannya, kantin di belakang kelas XII memiliki menu yang lebih bervariasi dan pemandangan yang lebih menyejukkan karena terletak tak jauh dari taman sekolah. Tapi, kantin itu jauh dari kata ramai, cenderung hanya digunakan oleh anak kelas XII. Selain karena letaknya yang jauh, alasan kebanyakan murid menolak makan di sana karena kakak-kakak kelas XII, jika melihat juniornya seperti melihat mangsa yang tinggal diterkam saja dapat. Seram. 


April pernah sekali melewati kantin itu untuk melihat pohon beringin yang terletak sekitar 15-20 meter dari kantin. Untungnya, saat itu kantin cukup sepi, tapi baru selangkah ia menginjak kantin itu, mata seluruh senior yang jumlahnya tak lebih dari sepuluh orang terpusat padanya. Jantung April seketika diskoan. Sejak saat itu, April trauma pergi ke pohon beringin melewati kantin. Di antara tembok pagar dan tembok perpus, sebelah WC gedung kelasnya, terdapat gang kecil yang cukup untuk gadis sekecil April. Ia selalu melewati jalan itu demi menghindari kantin kelas XII. 


Kini, April bersama Citra dan Isla baru kembali setelah mengantre cukup lama. Di tangan April semangkok bakso dengan satu sendok penuh sambal ijo siap untuk disantap. Citra memesan satu piring siomay yang cukup pedas. Sementara, Isla memesan mie goreng rasa original. Ketiganya membeli sebotol aqua untuk minuman. Ditambah Citra yang juga memesan es jeruk sebagai minum tambahan. 


Terpisah tiga meja dari mereka, tujuh siswa duduk santai sembaru mengobrol seru. Ujang, Kipli, dan Cito sibuk membicarakan tentang cewek-cewek cantik yang mereka temui lewat media sosial dengan kedua kaki naik di atas kursi dan mengangkang. Husain makan dengan khidmat, sama sekali tak terusik akan kemesuman tiga teman di seberang mejanya. 

__ADS_1


"Gak gabung ngobrol sama mereka, Ar? Lo kan suka tuh ciwi-ciwi cintik," ledek Fiki saat mengambil sedotan untuk meminum es tehnya. 


"Gak level, Fik. Mereka mah jomlo karatan. Gue kan cassanova," ujar Arais bangga dengan senyuman miring. Husain yang mendengar ucapannya seketika merinding. Satu-satunya yang terjaga kewarasannya meski berteman dengan mereka hanya ia, dan sangat sedikit sisa kewarasan di circle itu dimiliki oleh Fiki dan Reno. Intinya, yang paling tidak waras diantara mereka itu Ujang, Kipli, Arais dan Cito. 


Citra dengan mata tajamnya dapat melihat pacar sahabatnya, Husain di meja yang kerumuni enam lelaki lain itu. Tangannya menyikut lengan April, lalu menunjuk meja tujuh lelaki itu dengan dagunya. Mengisyaratkan bahwa, kekasih yang menjadikannya bucin ada di sana. Isla ikut menoleh ke arah tatapan kedua sahabatnya, saat mata seseorang bertemu dengan gadis itu, Isla berbalik dan menyantap mie gorengnya dengan gerakan kaku. Kedua temannya tak menyadari Isla yang salah tingkah. April menatap Husain terpesona. 


"Ya Allah, temen gue bucin banget. Ya gak, La?" ledek Citra. Perkataan Citra membuat Isla sedikit rileks. "Gapapa, jadi hiburan."


April membubuhi baksonya dengan saus saat kedua sahabatnya sibuk meledek kebucinannya. Citra yang menyadari bahwa April sudah hilang fokus total, mencoba menyadarkan gadis itu.  


"Astaga, kok saus di mangkok April banyak banget?" 


"Makan tuh makan, jangan liatin gebetan lu, geb!" April mengerucutkan bibir dan memisahkan saus cabainya dari kuah menggunakan sendok. 


"Bucin emang meresahkan." Citra menggeleng-gelengkan kepala sembari menatap April dengan tatapan yang dapat diartikan dengan, tak patut tak patut. 


Tubuhnya tak tahan untuk bergerak-gerak tak nyaman. Tatapan Husain membuatnya salah tingkah total. Pipinya memerah dan bibirnya tak bisa menahan diri untuk tersenyum. Citra, di sebelahnya, duduk bertopang dagu dengan bibir membe-o sembari menatap April geli. "Temen gue mesti diruqyah. Lebaynya masyaallah, kayak kerasukan setan." 


Husain bangkit, langkah lelaki itu tak salah lagi berjalan ke arah meja mereka. April mendongak saat Husain telah berdiri di depan meja. 


"Ini tupperwarenya. Kuenya enak, Pril. Makasih." April mengangguk cepat dan memeluk kotak bekalnya erat di depan dada.


"La, ternyata ngelihat bucin lebih menjijikkan daripada ngelihat tahi nyemplung ke closet ya." 

__ADS_1


"Astaghfirullah, Cit. Gue lagi makan!" seru Isla mendelik. April tak goyah, sindiran keras dari Citra tak melunturkan senyum kasmarannya. Kekuatan cinta terlalu kuat sampai Citra dibuat merinding. 


"Citra jomlo dan ga pernah jatuh cinta sih, makanya ga tahu rasanya." 


Tak mau kalah, Citra mengangkat dagunya tinggi dan berkata, "Gue suka sama Kak Arais biasa aja, gak kayak lu." 


Mungkin karma, Arais kebetulan berjalan ke arah mereka untuk memanggil Husain. Citra tak siap akan kedatangan gebetannya, refleks mengangkat piring siomaynya untuk menutupi wajah. Tindakan yang tidak berguna karena piring sekecil dan setipis itu tak mampu menutupi pipi merona Citra. 


"Citra jadi orang kok gak sadar diri," ledek April dengan suara keras. 


***


Peregangan tangan, lalu membereskan buku-bukunya di atas meja April lakukan lima menit sebelum jam pulang. Ketika bel jam pelajaran terakhir berbunyi, gadis itu cukup menunggu gurunya mengucapkan salam, lalu kabur ke luar kelas. Senandung ceria April lagukan sembari menenteng tasnya ke luar kelas bersama teman sekelasnya yang lain. 


April berpapasan dengan Husain yang baru saja turun tangga dari lantai dua. Lelaki itu tampak kaget melihat April yang berdiri di dasar tangga secara kebetulan.


"Pulang bareng?" tanya Husain. Mata April otomatis berbinar dan mengangguk secepat kilat. Langkah kecilnya mengikuti langkah panjang Husain di belakang punggung lelaki itu. Di parkiran, Citra memainkan gantungan kunci motornya yang berupa boneka spongebob seraya memerhatikan sepasang sejoli itu. Dua motor dari tempat motornya diparkirkan, Arais berdiri sembari memasang kaitan helm di depan kaca spion. Kaki Citra bergerak sendiri seperti terhipnotis ke arah Arais berdiri. 


April melambaikam tangan heboh ke arah teman-teman Husain dan Citra. Tindakannya memancing teman-teman Husain untuk bersorak tak terkendali. 


"Peluk dong pacarnya! Biar romantis," seru Kipli, lalu bersiul. 


Husain berdecih karena risih akan sorakan mereka, kemudian meraba belakang tubuhnha untuk meraih pergelangan April dan meletakkannya di atas perut. April menegakan punggung karena kaget. 

__ADS_1


"Bucin teros! Masih di sekolah, woy. Sakit ati nih babang jomlo," ledek Arais. Meraih kesempatan di tengah kesempitan, Citra sempat-sempatnya merayu Arais di sebelahnya tanpa pikir panjang. "Kalau mau, gue bisa lepas predikat jomlo dari Kak Arais." Arais bergeming di tempatnya dan perlahan matanya bergerak ke sampingnya, Citra yang panik dengan mata melotot dan pipi bersemu segera kabur. Gadis itu duduk di atas motornya dan memasang helm segesit yang ia mampu. 


"Astaghfirullah, refleks ni mulut! Malu woi!" batin Citra kala motor yang dinaiki sahabat dan pacarnya meninggalkan parkiran. 


__ADS_2