School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
Ulangan! Alert


__ADS_3

Sudah satu jam lebih, panggilan suara bersama Husain masih belum terputus. Entah kesambet apa, Husain menelepon April tanpa alasan usai pukul sembilan kurang. April masih ingat seberapa berdebar ia saat menerima teleponnya. Tak ingin suaranya dan Husain didemgar oleh orang rumah, terutama Hugo, kakaknya yang laknat, April mengenakan earphone di salah satu telinganya.


Sebuah dering notifikasi khusus, yang April setel untuk Citra, berbunyi dua kali. Tanpa memutus sambungan telepon, April membuka kolom pesannya bersama Citra.


Citra


^^^Besok ulangan, geb^^^


^^^Jangan nyontek gue, yak^^^


"Lah? Ada ulangan?" gumam April tertegun. Memori di mana guru MTK dan Kimianya mengumumkan bahwa akan ada ulangan minggu ini diputar dalam otaknya.


Btw, ini beneran ulangan Kimia sama Matematika di hari yang sama? Apa enggak modar murid-muridnya? April tak bisa percaya ini. Jangan-jangan, ini azab atas kejahilan teman-temannya yang sering usil menggodai guru yang mengajar dua pelajaran itu. Terkutuk teman-temannya dan karma.


"Pril?" panggil Husain di seberang sana. Jiwa April kembali mengijaki bumi.


"Iya, Kak," sahut April.


"Ada ulangan?"


"Iya. Kedengeran toh, tadi?"


Husain mengiyakan dengan dehaman.


"Maaf, Kak. April terancam nilai endog kalau enggak belajar malam ini. Jadi ...." Jujur, April enggak rela menekan tombol merah dengan gambar telepon yang menghadap ke bawah.


Husain biasa saja sepertinya. Karena tanpa babibu, lelaki itu memutus sambungan. April menatap log panggilan di layar dengan ekspresi datar dan kecewa yang implisit.


"Oke, gapapa, April," ujarnya menenangkan diri seraya mengusap dada pelan. 


Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh kurang lima menit saat April mengambil buku paket Matematika yang saking tebalnya bisa untuk membunuh orang.


Dengan mata mengeluarkan kobar api dengan semangat juang tinggi, April membuka tutup penanya, dan mengacungkannya tinggi.


"Oke, dari jam sepuluh sampai jam satu! SKS—Sistem Kebut Semalam! Semangat!" seru April menyemangati diri sendiri.


Meski sudah begadang hanya untuk menyelesaikan materi MTK yang bak neraka itu, April harus menahan tangis saat melihat soal ulangan harian yang memiliki persentase kemiripan kisaran 10% dari contoh yang diberikan di buku paket.


"Emang nasib April tuh, enggak dapet nilai di atas KKM kali, ya," gumamnya saat mulai menuliskan rumus di atas selembar kertas.


Kelasnya bising luar biasa. Pelototan tajam dari guru di depan papan tulia tak mempan untuk membuat mereka diam. April tak henti menyenggol kaki Citra di bawah meja. Kode meminta contekan.


Citra berbisik, "Nomor berapa?"


"Lima sampai sepuluh."


Setengahnya, dong.


"Eh, gila lo. Gue aja baru nomor sepuluh."


"Cepet, Citraaa. April enggak ngerti apa-apa. Otak April udah didengkul kayaknya."


"Diaminin sama mailaikat lewat lo entar! Ishh," gerutu gadis dengan rambut sebahu itu.


Di detik-detik terakhir jam pelajaran MTK, April masih menulis 'diketahui' untuk soal nomor delapan. Saat bel berbunyi, April menyerahkan kertas jawabannya yang kotor—karena telah berkali-kali menghapus goresan pensil—ditambah lagi, jawaban yang belum lengkap.


Ulangan Kimia lebih mendebarkan daripada ulangan MTK. Terutama, saat guru yang mengajar sempat berdiri di sebelah April dan berujar, "Dibaca baik-baik, ya soalnya."


"KENAPA? APA YANG SALAH? APRIL SALAH APA? KENAPA GURUNYA BILANG GITU? HUAAA." Hati April meledak-ledak dalam konteks negatif, bukan cinta. April mau nangis aja. Enggak sanggup. Say goodbye to camera.


***


Husain berevolusi menjadi guru les tambahan yang ganteng. Siang ini, ia dan April duduk sebentar di taman sembari menunggu parkiran sepi. Karena, Husain memarkirkan motornya di pojok, di mana ia dijepit dinding, dan belakangnya dipenuhi motor siswa-siswi tak dikenal. Lelaki itu memeriksa kertas ujian April dengan seksama.


"April, jawaban lo rata-rata caranya bener. Tapi, pas pertengahan, lo salah itung. Di sini, 3x - 2, di mana x nya adalah g(x) sama dengan x pangkat 2 plus 5. Jadi, harusnya, tiga kali lima itu lima belas, bukan dua lima. Kurang teliti. Jawaban nomor enam juga enggak beda jauh." Lima belas menit tanpa jeda, Husain menjelaskan kesalahan April dalam menjawab soal-soal. Setiap kata yang keluar dari mulut Husain, jangankan masuk kuping kanan ke luar kuping kiri, semuanya mantul.


April hanya bisa menggaruk-garuk lehernya yang tak gatal saat mendengar penjelasan Husain. Soalnya, tiba-tiba badannya gatal-gatal. April curiga, mungkin dia alergi belajar. Harusnya ia ke rumah sakit bukan di sini.


"Gue bakal ngajarin lo kalau ada yang susah."


"Beneran?" tanya April antusias. "Lumayan. Bisa modus berkedok belajar. Hehe."


"Iya. Kan gue juga udah janji ke bapak lo." Semangat belajar April naik drastis.


"Oke! Siap, Kak! April siap kapan pun, di mana pun, untuk belajar bersama Kak Husain."


"Di kuburan mau?"


April terdiam sesaat. "Itu bisa dibicarakan baik-baik."


Tak lama, tawa pelan Husain lepas dari bibirnya. Ujung bibir April ikut naik ke atas tanpa dapat ia kendalikan.

__ADS_1


***


"Ikut, Pril?"


April yang memainkan ujung bajunya dengan memilinnya hingga berbentuk seperti pocong, mendongak menatap Citra yang membalikkan badan.


"Ikut apaan?"


"Per—"


"Pokoknya entar kita cari barang buat sembunyiin hape, laptop, kalau bisa bawa proyektor sekalian! Biar bisa bioskopan!"


"Duh, aku kayaknya enggak diboleh papa lagi, deh."


"Gue bakal les tambahan hari itu. I guess, no." Percakapan mereka menenggelamkam suara Citra hingga April tak mendengar apa-apa.


"Apaan, sih, ribut banget," gerutu April, kedua tangan menutup dua lubang telinganya. "Tadi ngomong apa, Cit?" tanya April setelah memajukan kepalanya ke arah Citra.


"Persami, April."


"Oh, kemah?"


"Yap. Sekolah ngadain persami. Lo ikut ga?"


"Kayaknya enggak bakal ikut, deh. April aja pas SMP enggak diboleh ikut study tour."


"Study tour mah jauh, persami di sekolah doang."


"Nginep di rumah tetangga aja gak boleh. April juga males. Enakan di rumah."


"Ya udah." Percakapan mereka mengenai persami berhenti di situ.


Tak ada yang ingin melewatkan makan di jam istirahat, termasuk April dan Citra. Kedua siswi itu berjalan beriringan, dengan sebelah tangan Citra, April gandeng.


Dari pinggir lapangan, suara seseorang memanggil nama April terdengar. Gadis itu menengok, mencari sumber suara. Sekitar 15 meter dari tempat mereka berdiri, Husain melambaikan tangan sembari berjalan cepat.


"Kenapa, Kak?"


"Oh, enggak. Lo ikut persami?"


"Enggak, sih, kayaknya. Kak Husain ikut?"


"April ralat!" serobot April.


"Ha?"


"April ikut. Bakal ikut. Pasti!" Perubahan pendapat yang sangat mudah sekali dengan kekuatan Husain.


"Apaan, sih? Kata lo tadi kagak." Citra memandang temannya heran. Labil banget.


"Sst, diem!" desis April sembari mencubit lengan Citra yang digandengnya.


"Oh ya? Ya udah, mau ke kantin kan?"


"Iya."


"Gue balik ke temen-temen gue dulu," pamit Husain, lalu meninggalkan keduanya.


"Lo kenapa tiba-tiba mau? Katanya enakan di rumah?"


"Enggak, lah. Enakan persami. Kan ada Kak Husain, hehe."


Citra mengambil napas dalam-dalam, dan bersiap melancarkan bom andalannya.


"BUCEEEEEEEEN!" serunya memekakan telinga.


***


Suara hentakan kaki mengijaki anak tangga terdengar. April menggunakan sandal bulu dengan kepala boneka kelinci di atasnya. Dengan rambut digulung handuk merah, gadis itu turun ke lantai satu.


Ibunya memasak seperti biasa. Aroma harum sop sayur memasuki penciumannya. Kepala April mengintip dari balik pundak ibunya.


"Yey, ada jagungnya!"


"Astaghfirullah, April! Ngagetin aja," seru Ibu April mengusap dadanya dengan sebelah tangan sementara tangan lainnya ia gunakan untuk mengaduk sop di panci.


"Hehe. Anu, Bu ...."


"Mau apa kamu?"


"Ibu tahu aja April mau sesuatu." Gadis itu menggoyangkan tubuhnya malu-malu.

__ADS_1


"Ya iya, Ibu hapal kalau kamu bilang anu, sambil cengengesan biasanya pasti ada maunya."


"Iya. Jadi, April mau minta izin ikut persami."


Tang.


Sutil di tangan Ibu April beradu dengan kompor. April terperangah dan memegangi dadanya.


"Oh, mau ikut persami?"


"I-iya," jawab April takut-takut.


"Gimana, ya ...."


"Ya Allah, Ibu sengaja ih, gantungin April!"


Teriakan Hugo dari lantai dua terdengar. "Jangan izinin, Bu!"


"Apa, sih, Kak Hugo ikut campur!" protes April gak terima.


"Alah, biasanya lo gak mau ikut!"


"Si-siapa yang bilang?! April tuh gak mau ikut soalnya nurutin mau Ibu-Ayah!" bela April dengan sedikit kebohongan di dalamnya. Dia memang enggak mau ikut karena ia tahu Ayah-Ibunya enggak izinin, kok. Kebetulan dia enggak mau juga, sih.


"Lo mau pacaran, kan? Makanya mau ikut?" Tepat sasaran.


"Ih, enggak! Suudzon!"


"Lo tuh zina!"


"Kak Hugo iri, kan? Jomlo abadi, sih!"


"Gue direbutin tahu, di SMA. Gue aja yang enggak mau pacaran!"


"IBUUU!" rengek April memegangi ujung lengan daster ibunya.


"Hugo, jangan jahil sama adeknya."


"Ngaduan!"


"Weeek!" Terjulur lidah April, mengejek kakaknya.


"Boleh, ya, Bu? Study tour April udah gak ikut. Masa ini juga?"


"Tanya ayahmu."


"Ayah pasti enggak bakal izinin kalau April yang ngomong. Tapi, kalau Ibu, pasti diiyain deh. Ya?"


"Dikasih hadiah apa?"


April pikir-pikir sebentar. "Cium?"


"Coba mana." Bibir April mengecup pipi Ibunya dengan kedua mata tertutup.


"Ya udah. Entar Ibu bilang ke Ayah."


"Yey!"


"Ih, Ibu gak adil! Hugo juga mau ikut mendaki, study tour, dan lain-lain bareng temen kuliah kalau gitu."


Ibunya mengacungkan sutil ke arah Hugo. Ancaman tanpa kata. "Masih mau?"


"E-enggak, deh."


April kabur ke lantai dua. Saat Hugo menatap April penuh permusuhan, April berbalik dan menjulurkan lidahnya mengejek. "Weeek!"


***


Tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Persiapan April tidak beda jauh dengan orang yang ingin menginap satu minggu. Koper besar berwarna biru terang dengan stiker boboiboy tertempel di bagian depan badan koper. Citra menggelengkan kepalanya sembari bertepuk tangan takjub.


Senyum April merekah selama perjalanan. Meski agak berat, karena dibantu roda, koper itu sanggup untuk dibawanya.


"Oke, sebelum siapin tenda dan lain-lain. Kami akan menggeledah barang bawaan kalian. Ingat! Dilarang membawa elektronik, termasuk hape! Semuanya akan disita, kecuali lampu senter."


Senyum April pudar berganti wajah pucat dengan mata mendelik. Ia melirik kopernya yang berharga. Ponsel, laptop, dan kaset film yang ia siapkan untuk ditonton bersama Citra, akan disita.


"Sial," umpatnya. Citra mendengar itu dan berkata, "Lo sendiri enggak nanya ke gue, sih."


Apa benar persami ini akan seru? Ponsel 'kan setengah jiwa generasi Z.


April menatap kakak-kakak yang membuka tasnya dengan bibir melengkung ke bawah. Kecewa besar.

__ADS_1


__ADS_2