School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
Menyelamatkannya


__ADS_3

April duduk terpaku di atas trotoar. Mobil-mobil di sekitar yang tidak terlibat kecelakaan beradu klakson yang memekakkan telinga. Keasadaran April masih melayang-layang. Kepalanya mencerna peristiwa barusan dengan reka ulang yang lambat.


April berdiri dengan lutut yang gemetar, melangkah lambat ke arah mobil Husain. Semakin lama langkahnya semakin lebar, semakin cepat, hingga gadis itu berlari konstan sampai ke mobil hitam Terios yang penyok di bagian depan.


"Kak Husain," panggilnya dengan suara serak. Jantung April bagai ingin berhenti kala melihat kaki Husain yang terjulur ke luar dari pintu mobil dipenuhi darah. Perutnya tiba-tiba mual.


April mengambil ponselnya di saku dan mengetikkan nomor darurat RS. Dering tersambung terdengar, April berkata dengan suara gemetaran hebat, "Tolong, di Thamrin ...."


***


Hugo menatap adiknya yang tertidur dengan mata sembab di dalam mobil. Lelaki itu memutar kunci mobil untuk menyalakannya, kemudian memasang safety belt sebelum melajukan mobil merah Brio-nya di jalan raya.


Rumah Sakit Umum Bunda adalah tujuan mereka. Husain bersama korban lainnya dikabarkan telah sampai terlebih dahulu di sana. Tak membangunkan April, Hugo menunggu adiknya itu terbangun. Sepertinya, sadar bahwa mobil telah tak berjalan lagi, perlahan kelopak mata April terbuka.


Gadis itu melihat pemandangan dari balik kaca. Kemudian, menoleh ke kursi di sebelahnya. Kakaknya yang sedang memainkan ponsel duduk nyaman di atasnya.


"Kak," panggil April, suaranya serak karena terlalu banyak menangis.


"Lo udah bangun?"


"Ya. Ini di ...."


"RS Umum Bunda," pungkas Hugo sembari melepas safety belt-nya. "Ayo, turun. Lo gak mau lihat pacar lo yang kasar itu?"


"Apa, sih, Kak Hugo. Kak Husain enggak kasar."


"Terserah. Di mata gue dia kasar sama lo."


"Ruangan Kak Husain emang di mana?"


"Mana gue tahu," ujar Hugo mengendikkan bahu.

__ADS_1


"Terus?"


"Di RS itu ada yang namanya suster, perawat, dokter, April. Tinggal nanya," jelas kakaknya menjaga kesabaran.


Setelah menangis terlalu lama, sepertinya adiknya menjadi semakin dongo. Lihat, wajahnya planga-plongo menatap siapa pun yang lewat.


Hugo berhenti di depan meja administrasi. Menanyakan kamar pasien bernama Husain, yang baru saja terlibat kecelakaan beruntun pada wanita di balik meja.


Wanita itu mengarahkan Hugo untuk jalan lurus dan belok ke kanan dua kali. Kamar nomor 104, katanya. Karena dokter masih menangani pasien, sebaiknya tamu dari luar menunggu di kursi yang disediakan di luar kamar, pesan wanita itu pada Hugo.


April duduk di atas kursi sambil menatap pintu kamar lurus dan tak bergerak. Hugo menghela napas. Menyampaikan salam pada adiknya, bahwa ia akan membeli dua bungkus nasi, karena sejak pagi mereka tidak sempat sarapan karena terburu-buru mengejar Husain yang tidak tahu diri.


"April." Suara itu April kenali. Nina bersama Arais di sebelahnya, duduk mengapit April.


"Lo baik-baik aja?" tanya Nina. Tangannya mengelap keringat dingin yang mengalir di kening April.


April tiba-tiba ingin menangis lagi. "Maaf," ujarnya penuh penyesalan. "Kalau saja April berhasil nahan Kak Husain untuk ke Bandung pasti gak gini jadinya. Kalau saja, setidaknya April tidak meminta Kak Husain berhenti di Thamrin, mobil Kak Husain pasti enggak ikut kecelakaan," sesalnya.


"Gue juga bersalah," gumam Nina amat pelan.


***


Itu adalah pertama kalinya Nina melihat tangisan Arais semenjak lelaki itu beranjak remaja. Terakhir kali, saat ia kelas 6 SD. Tak hanya Arais, belasan—tidak, puluhan orang menangisi seseorang yang sudah dibalut kain kafan dan proses dimakamkan. Saat tanah mulai menimbun peti matinya, tangisan histeris seorang perempuan menjadi melodi yang mengiringi pemakaman itu. Bukan ibunya, bukan juga saudari perempuan sang almarhum. Tapi, April, gadis yang berpacaran dengannya sejak awal bulan April ini.


Nina hanya diam dengan tubuh tegap saat orang lain menangis, meraung-raung, mengucapkan beribu penyesalan, mengucapkan beribu maaf dan terimakasih, terhadap orang yang bahkan tak dapat menggerakkan bibirnya lagi.


Wajah datar Nina menutupi dadanya yang terasa sesak. Suara-suara orang di sekitarnya menjadi lagu penghantar mimpi buruk untuknya. Air mata yang berderai berjatuhan ke atas tanah yang lembab. April memegangi dadanya yang terasa sesak luar biasa, pundaknya dikuatkan oleh dua sahabat yang menangis, meski tak sehebat tangisan gadis itu.


Enam sahabat yang selalu bersama Husain di masa SMA-nya, memerlihatkan sisi lemah mereka. Tak mereka tahan tangis akan rasa kehilangan ini. Saling merangkul pundak masing-masing, menguatkan mereka meski tahu hari ini, tak ada satu pun yang kuat.


Nina hanya bisa memikirkan hal ini. Satu, ia tak suka suara-suara mereka yang terdengar putus asa dan kesakitan. Dua, ia lebih tak suka lagi pemandangan orang-orang yang menangisi sang almarhum. Tiga, ia tak suka orang-orang yang berharga baginya kesakitan, atas kehilangan sahabat, kekasih, atau saudara mereka.

__ADS_1


Satu tahun setelah hari itu, bayang-bayang suara dan pemandangan yang bagai mimpi buruk itu tak mudah hilang dari ingatan Nina.


Seharusnya, murid kelas 12 di masa itu sudah dalam masa bebas setelah ujian. Namun, Nina masih mengijakkan kakinya di halaman sekolah. Menuju tempat pertama kali ia menemukan April, gadis yang berbohong pada pohon beringin tahun lalu.


Satu hari sebelum pertemuannya, 1 April, Nina ada di tempat gadis itu dulu berdiri.


Untuk pertama dan terakhir kalinya, Nina menghadap pohon beringin di belakang perpus, dengan kedua tangan saling bertautan. Ia mengucap kebohongan yang ia harapkan bisa menjadi nyata, setidaknya, di dimensinya yang lain. "Aku bisa merubah masa lalu, karena ingatanku saat ini menjadi kekuatan diriku di masa lampau." 


"I will be your saviour, Husain."


***


Arais meninggalkan sepupunya yang sedang menenangkan pacar sahabatnya, untuk menghubungi keluarga Husain yang ada di Tangerang.


Di waktu yang hampir bersamaan, dokter yang menangani Husain akhirnya ke luar dari kamar nomor 104. April dan Nina berdiri di hadapan dokter itu.


"Di mana keluarga pasien?"


"Masih di perjalanan. Kami temannya," jawab Nina datar.


"Pak, tolong jelaskan keadaan Kak Husain sekarang!" pinta April putus asa.


Dokter itu berdeham sebelum menyampaikan diagnosisnya terhadap Husain. "Pasien cukup beruntung. Pasien hanya mengalami luka-luka kecil. Ada beberapa pecahan kaca tertinggal di luka-lukanya. Saya tidak bisa menjelaskan lebih dari ini, selain pada keluarga pasien." Penyampaian dokter yang jelas membuat perasaan April sedikit lega. Sedikit kabar pun sudah cukup untuknya.


Nina di sebelahnya tertegun mendengar penjelasan dokter. Senyum tipis tampak dari bibirnya. "Setidaknya, sampai di sini, masa depan berubah."


***


Pohon beringin yang sudah menjadi saksi bisu puluhan kebohongan April sejak SMA dulu, masih ada di tempat yang sama. Satu kebohongan lagi, yang ingin ia katakan.


"Aku berhasil menyelamatkannya dari kecelakaan itu." Dia yang kini tak menemaninya lagi.

__ADS_1


__ADS_2