School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
Maaf, Reno


__ADS_3

Sebelum persami dinyatakan selesai, Pembina memerintahkan seluruh siswa untuk membersihkan sekolah.


Mata tajam April menangkap sosok lelaki yang dibicarakan sahabatnya semalam. Reno tak henti mencuri pandang ke arah Isla. Sesekali, April melihat ia melangkah kecil sedikit demi sedikit mendekati posisinya dan Isla. Ketika Isla berpinsah tempat, ia mengikuti dengan mata menatap malu-malu. April terkikik melihatnya. Ia senggol lengan Citra dengan sikutnya, lalu menunjuk Reno dengan ujung dagu.


Citra memahami kodenya dan melihat pergerakan lelaki itu. Gadis itu tersenyum miring dan berkata, "Godain, yuk."


Tepat setelah mengatakan itu, ia bersiul menghadap Reno. "Cieee, bucin. Nyapu aja ngelihatin gebetan teruuus."


Isla berhenti menyapu dan bertanya pada sahabatnya itu, "Siapa?" Enggak peka total.


"Tuuu," tunjuk Citra.


Isla mengikuti arah telunjuknya, dan kebetulannya, Reno tengah menatapnya lurus. Mata mereka bertemu, Reno memutus komtak mata mereka secepat mungkin. Isla menatapnya dalam diam, ekspresinya datar tanpa satu otot wajah pun bergerak.


"Cieee, enaknya ada yang bucinin. Jones kek gue bisa apa," goda Citra.


"April udah ada yang punya, sih."


"Ya ampun, bucin merajalela."


Isla mendengus. "Udahlah, April, Citra," ujarnya pelan.


"Cieee, liat tuh pipi Kak Reno merah banget. Salting parah."


"Isla itu coba dideketin cowoknya!"


"Iya, padahal semalam seru banget cerita-cerita pasal gebetan. Pas ketemu malah diem-dieman."


"Udah, Cit," tegas Isla.


"Kenapa sih?"


"Kak Reno sampe telinganya ikut merah," ujar April sembari menunjuk telinga Reno yang memang benar semerah itu. Isla melirik Reno, dan mengulum bibirnya dalam.


"Ceilah, malu-malu," goda Citra sembari terkikik.


"Udah."


Bagai tak mendengar ucapan Isla, April menyoraki Reno yang kabur mendekati Husain dan rombongannya dengan wajah semerah tomat.


"Udah. Berhenti bisa ga?" ujar Isla dengan suara tegasnya. "Gue gak suka digodain kayak gitu," terangnya lebih lembut dari barusan.


Citra dan April kompak mengunci bibir mereka rapat. Isla berbalik dan menunduk pada Reno, seraya berujar, "Maaf, Kak Reno. Kakak pasti terganggu." Isla menarik tangan April dan Citra, membawa mereka menjauh dari sana.


***


Ketiga sahabat itu menyapu terpisah setelah Isla membentak Citra dan April. Citra meminta maaf pada Isla, lalu lanjut menyapu di dekat kantin kelas 12. Sementara, Isla mengikuti rombongan kelasnya menyapu di sekitar gedung IPS kelas X dan XI.


Citra menggaruk lehernya yang tak gatal. Masih merasa bersalah. Isla hampir tak pernah marah sebelumnya. Bisa dibilang, emosinya yang paling terkontrol di antara mereka bertiga. Melihatnya marah seperti itu, artinya, Citra dan April berlaku kelewatan.


"Isla masih marah gak, ya?"


"Entar gue minta maaf lagi sama dia, deh."


"April juga," sahutnya sembari bertopang dagu di atas sapu.


Suara hentakan sepatu beramai-ramai terdengar dari arah belakang. Husain dan enam teman sepermainannya tampak baru kembali setelah menyapu di sekitar gedung kelas 12. Saat ini, mereka mulai menyapu dan mengumpulkan sampah di parkiran sebelah kantor. April memerhatikan Husain di setiap langkahnya.


Lupa akan tumpukan sampah yang belum diserok di atas tanah, April berlari kabur ke arah Husain berdiri. Citra dibuatnya melongo dan terpaksa menyelesaikan sapuannya secepat mungkin, agar dapat menyusul gebetannya yang juga berdiri tak jauh dari sana.


"Buset, April enggak pake nunggu-nunggu. Temen laknat emang. Kurang ajar," gerutu Citra.

__ADS_1


"Hai, Kak!" sapa April ceria sembari membantu menyapu dedaunan di atas tanah dan dimasukkan ke dalam serok yang terbuat dari daun kelapa yang dianyam.


"Isla tadi baik-baik aja?"


"Enggak tahu, sih. Langsung pergi bareng temen sekelasnya tadi. Maaf ya, April sama Citra ngeselin banget, kah?"


"Lumayan."


April menghela napas dan menyapu sambil mengambil langkah kecil mendekati tempat Husain berdiri.


Citra yang baru datang setelah selesai memasukkan semua tumpukan daun ke dalam kotak sampah, menyoraki kedua sejoli itu. "Bucin teros! Sampe temen sendiri ditinggal! Berkhianat lo, ya, setan!" seru Citra kesal, membanting serok di tangannya ke atas permukaan. Kemudian, ia mendadak kalem saat melihat Arais menoleh ke arahnya.


Pak Sujino, alias Pembina Pramuka, ke luar dari kantor guru dan menatap April dan Husain yang berjalan lengket sekali. Menyapu saja jaraknya kurang dari satu meter. Meski April lah yang memaksakan diri untuk tetap dekat.


Ia berdeham keras. Sontak, tujuh lelaki serta dua gadis yang sedang menyapu itu menoleh ke sumber suara.


Dengan santai, seakan kata-katanya tak ditujukan kepada mereka, Pak Sujino berkata, "Anak muda jaman sekarang pacaran terus. Sekolah pun dijadikan tempat bermesraan."


April yang merasa tersindir, menutup wajahnya dengan menyatukan helai-helai rambutnya di depan dagu. Di balik rambut hitamnya, pipi April merona kemerahan. Ia berjalan membawa sapunya melewati koridor kelas 12, meninggalkan Citra untuk yang kedua kalinya.


"Ditinggal lagi?! Buset. Kalau malu kenapa bucen terus!" Citra mengejarnya dengan kedua tangan penuh membawa serok serta sapu lidi.


***


"April!"


Merasa terpanggil, April menoleh ke belakang. Citra berlari ke arahnya.


"Kenapa?"


"Balikin sapu sama serok ke gudang," ujarnya, kemudian menyerahkan sapu dan serok secara paksa ke tangan April.


"Kok April?"


April mendecak dan terpaksa berjalan menuju gudang kebersihan dengan wajah merengut.


Gudang kebersihan terletak di antara gedung IPS dan ruang OSIS. April berjalan dari koridor UKS, melewati lapangan dan sampai di koridor IPS. Sekitar 20 meter ke depan, pintu gudang kebersihan terlihat. Sembari berjalan, April melihat papan nama kelas yang digantung di atas pintu. Saat ini ia melewati kelas X IPS 4. Kalau begitu, kelas selanjutnya adalah kelas Isla.


***


Terdengar suara gaduh, seperti seruan seseorang saat April hampir melewati kelas X IPS 3, kelas Isla. Dari jendela yang sedikit berdebu, April melihat Isla bersama seseorang di dalam. April berjalan lebih jauh hingga jendela terdekat dengan pintu masuk. Bukan niat menguping, hanya saja jiwa keponya harus dipuaskan.


Lelaki yang berdiri di depan Isla adalah Reno. Yang disebut-sebut sebagai gebetan Isla yang baru. April terkikik pelan melihatnya. Tak ingin menganggu mereka, April menutup mulutnya, menahan bibirnya untuk mengeluarkan suara. Tawa April terhenti saat mendengar suara tangisan samar-samar. Suara Isla.


Ada yang berani bikin Isla nangis?! batin April dengan kedua tangan menggenggam sapu dan serok semakin erat.


"Maaf, Reno. Gue beneran enggak bisa jadi pacar lo."


"Kenapa, La?"


"Gue takut nerima lo, sementara gue sendiri belum mupon total dari Kak Husain," ungkapnya.


Jantung April seakan baru saja jatuh. Ia tidak salah dengar, kan?


"Gue enggak mau PHP, Ren. Coba lo pikir, gimana kalau selama pacaran sama lo gue tetap gak bisa lupain Kak Husain. Gue gak mau bikin lo terluka. Maaf."


"Lo udah bikin gue terluka, La. Gue pikir perasaan lo udah berubah. April sama Citra juga ... " kata-kata Reno menggantung di udara. Seakan ia menyadari sesuatu. "Lo manfaatin gue supaya April yakin lo enggak ada rasa sama Husain?" Tepat sasaran. Isla membeku di tempatnya dengan mata yang sembab. April juga sama, tubuhnya bergeming. Syok berat, napasnya pun tertahan di pangkal hidung.


"Maaf karena udah manfaatin lo buat yakinin April, Reno. Tapi, tapi, gue harus gimana, Ren .... " Suara Isla gemetar.


"Sahabat gue pacaran sama orang yang gue suka, terus gue mesti gimana?" Lagi, Isla menangis sesegukan, napas yang tak beraturan dengan hidung yang mengeluarkan lendir basah.

__ADS_1


Reno mengacak-acak rambutnya. Ia merasa kacau. Baru sedikit ia diterbangkan, langsung terjatuh lagi.


Sekarang, semuanya masuk akal. Isla yang marah ketika digodai Citra dan April, bukan karena malu atau apa, tapi gadis itu merasa bersalah. Reno yang tersipu membuatnya sadar bahwa ia harus mengatakan yang sejujurnya pada lelaki itu. Untuk membuat Reno berhenti berharap.


April mengulum bibirnya. Dadanya sesak, seakan diremas. Andai dia tidak mengikuti mitos itu, mungkin, jadinya tidak seperti ini 'kan? Perandaian itu sempat terlintas di benaknya, saat ia melangkah menjauh dari kelas itu.


***


Nina, berjarak sekitar lima langkah darinya, berjalan lurus mengikuti koridor. April menghentikan langkah. Kemudian, dengan kernyitan dahi ia bertanya, "Kak Nina ngapain?"


"Habis dari gudang kebersihan," sahut Nina cepat. Ia melihat dua tongkat sapu dan satu serok di genggaman tangan April.


"Gue yang bawa ke gudang kebersihan aja, gimana?" tawar Nina mengulurkan tangannya.


"Eeh, gak usah. Ngerepotin."


"Enggak apa-apa, April."


"Enggak, pokoknya April balik-"


"Tadi, gue lihat Husain digodain cewek-cewek," pungkas Nina.


April melongo dan seketika matanya dipenuhi emosi marah, serta cemburu. "Di mana, Kak?" tanya April dengan napas memburu, panas terbakar emosi seperti napas naga.


"Di taman."


"Taman ... jaraknya lumayan jauh dari sini," gumam April seraya menggigit bibir, kakinya bergerak tidak sabaran.


"Makanya, gue aja yang balikin. Lo jagain Husain aja."


"Duh, maaf banget ngerepotin Kak Nina. Tapi, April harus memberantas cewek-cewek ganjen!" ujar gadis itu, lalu menyerahkan dua sapu dan serok di tangannya ke Nina. Secepat kilat ia berlari ke arah taman.


Nina meghela napas pelan, sedikit lega. Ia melewati koridor kelas X IPS 3 saat terdengar suara orang mengatakan, "Sahabat gue pacaran sama orang yang gue suka, terus gue mesti gimana?" Tangis gadis itu meledak setelah mengatakannya.


Nina berjalan menjauhi tempat itu, lalu menyelesaikan tugasnya untuk mengembalikan sapu dan serok. Tubuhnya memutar ke pintu keluar, di sana berdiri sepupunya, Arais, dengan kunci gudang tergantung di antara jari-jarinya.


Gadis dengan rambut panjang menjuntai hingga punggung itu bertanya, "Kenapa?"


Arais memerhatikannya dengan tatapan aneh.


"Enggak. Gue dengar suara orang nangis waktu jalan ke sini."


"Jadi?"


"Mantan gebetannya Husain pas SMP. Kayaknya dia nangis gara-gara—"


"You realize it's none of our bussiness, right?"  potong Nina, tak membiarkan Arais menyelesaikan kalimatnya.


"Nin, lo tuh kenapa kayak mengistimewakan April, ya? Padahal, Husain pernah suka sama orang lain juga, lo enggak pernah sepeduli itu. Isla juga pernah disukai Husain, lo enggak peduli. Aneh."


Nina mengernyit. "Pertama, aku enggak mengistimewakan April karena dia pacar Husain, Ar. Kedua, mereka semua beda dari  April karena April punya status, mereka cuma punya rasa."


Saudara perempuannya itu melangkah pergi. Beberapa hal menetap di pikiran Arais setelah pertukaran kalimat mereka. Sesungguhnya, ia menyadari bahwa Nina agak protektif—bahkan lebih dari bagaimana gadis itu memerlakukannya—pada Husain. Husain telah mengenal mereka sejak lama. Bagi keduanya, keberadaan lelaki itu lebih dari sekadar teman. Arais berhutang pada Husain. Nina ... kadang menjaganya seolah memuja lelaki itu, tetapi bukan seperti perasaan cinta pada kekasih. Kalau terjadi sesuatu pada Husain, Nina akan jadi orang pertama juga terdepan yang mencarinya.


Keanehan di antara mereka tidak memudar walau telah lulus dari bangku SMP. Arais pikir, Nina akan menemukan dunia baru di SMA. Namun, matahari dalam tata suryanya, tetaplah Husain.


Setelah mengunci pintu gudang, ia hendak kembali ke lapangan dengan jalan yang sama saat ia datang. Di tengah koridor yang akan ia lewati, Isla, dengan matanya yang kemerahan karena menangis lama, mematung seolah kakinya telah dipaku di sana.


Arais mengambil kesimpulan baru. Ia berlari padanya. Menarik bahunya sehingga mereka saling menatap dan pertanyaan itu keluar dari bibirnya, "Nina bilang sesuatu padamu?"


Mata Isla yang berkaca-kaca, memberikan efek kilau permata yang indah. Bibir kecilnya berujar, "Katakan terimakasih padanya karena menghalau April untuk mendengarku."

__ADS_1


"Pasti tadi terjadi sesuatu." 


__ADS_2