
Dua minggu menuju ulangan akhir semester, mimpi buruk sebagian besar murid, tetapi sebuah ajang pembuktian bagi murid peringkat atas. Citra, bukan murid peringkat atas (mengingat ia tak pernah memasuki lima besar), memiliki semangat melampaui batas untuk menjadi salah satu dari jejeran murid tercerdas itu. Bisa dibilang, saking sibuknya ia belajar, April pun tak terkendali di kelas. Loh, apa hubungannya?
April stres. Terlampau stres. Belajar UAS dua minggu sebelum itu tidak masuk akal bagi penganut belajar SKS-atau-tidak sama-sekali. Hubungannya dengan belajar seburuk hubungan Spongebob dan Squidward. Berdasarkan sudut pandang Squidward, Spongebob (juga belajar) memiliki kasta yang sama dengan makhluk gaib. Sehari tidak bertemu pasti adalah hari paling bahagia. Sementara, hubungan Citra dan belajar seperti Spongebob pada spatula kesayangannya.
Gadis yang terus menggesek roknya di permukaan kursi dengan gusar itu, menatap sahabatnya panik dan bibir bawah yang digigit. April mengistirahatkan kepalanya di atas meja dengan wajah menghadap Citra. Ekspresi andalan! Insert cute puppy emoticon!—atau setidaknya seperti itu bayangan di otaknya. Acuh tak acuh, Citra menghempaskan angin kosong a.k.a lambaian mengusir padanya. Dengan dramatis, ekspresi April seperti tokoh sinetron India yang terkejut karena calon menantunya ternyata miskin saat ia berdiri dan berlari ke luar kelas yang lagi-lagi seperti sinetron India di mana tokohnya salah paham akan perkataan sang kekasih lalu berlari dengan harapan kekasihnya akan mengejar. Itu bodoh, memang. Citra bahkan tidak menggerakkan kakinya barang semilimeter setelah April pergi.
April curiga, jangan-jangan sebenarnya Citra sudah di lem pakai lem Fox dan terlalu malu untuk bilang makanya dia duduk diam dan belajar terus. Jika benar, wah, kasihan sekali dia.
Mencari teman main lain, April berjalan dengan kaki menghentak-hentak ceria di atas keramik koridor. Koridor tidak terlalu ramai saat itu karena sebenarnya saat ini kelasnya sedang jam kosong bukannya jam istirahat. Guru bahasa inggris yang harusnya mengajar hamil sehingga beliau mengambil cuti untuk beberapa minggu. Guru lain memiliki jadwal yang bertabrakan dengan kelas lain, sehingga kelas April hanya mendapat tugas. Kelas April bukan satu-satunya yang sedang jam kosong. Fenomena ini bukan sekali-duakali dalam kehidupan SMA, 'kan?
April berjalan riang menuju kelas XS3, kelas Isla. Namun, di dalam kelas itu ternyata sedang tidak jam kosong. Awalnya, April kecewa berat. Barulah ia menyadari bahwa kursi yang seharusnya diduduki sahabatnya itu kosong tanpa pemiliknya. Matanya meneliti satu per satu murid di dalam kelas dengan mengintip-intip kecil di balik jendela. Tidak salah lagi, Isla tidak ada di dalam. Di mana ia? Ke toilet mungkin.
Begitu ia menginjakkan kaki ke luar gedung IPS, matanya menyorot anggota ekskul basket yang sedang berlatih di minggu-minggu terakhir ulangan ini. Sepertinya dalam waktu dekat akan ada pertandingan. Hanya saja, bukan itu yang menjadi fokus April.
"ISLAA?" pekiknya tanpa sadar di antara kelas-kelas berisi guru yang sedang mengajar. Cari mati memang anak ini.
Bukan hanya anggota basket yang tersentak oleh suara melengkingnya itu, tetapi juga murid-murid dan guru di dalam kelas. Seorang guru yang April kenali mengajar Geografi ke luar kelas dan menegurnya dengan alis melengkung (mungkin tanda marah (?)). Gadis yang ditegur itu menggigit bibir bawahnya dan menggerak-gerakkan kakinya gelisah karena malu.
"Maaf, Pak," katanya sembari menunduk empat puluh lima derajat.
Masa ceramah itu bertahan selama 10 menit. Begitu usai, suara sahabatnya yang lembut nan khas terdengar memanggil namanya. Isla, mengenakan pakaian olahraga, berlari menuju tempat April berdiri.
__ADS_1
Gadis yang dipanggil namanya itu kembali ke mode awal. Matanya menjelit, dan oktaf suaranya kembali meninggi, "KOK—" sampai Isla memberi kode dengan tangan yang diturunkan agar April sadar untuk mengecilkan frekuensi suaranya. "—Isla di sini? Bolos, ya?" godanya dengan suara lirih.
"Enggak," ujarnya seraya menggoyang-goyangkan tangan karena lelah menulis sedari pagi tadi.
"Tangan Isla kenapa?"
"Oh, ini? Gue baru jadi manajer basket jadi banyak yang belum gue tahu. Makanya gue banyak nulis biar bisa gue ingat buat nanti."
Sepersekian detik awal, April manggut-manggut saja. Namun, seolah aliran listrik yang akhirnya terkonduksi, April menatap Isla dengan alis mengerut yang bisa diartikan, "Ini apa ya? Kok, apa, ya? Ini ceritanya gimana, ya? Kok ga ada cerita apa-apa, ya? Kok tiba-tiba manajer, ya?" Seperti itulah Isla mengartikannya.
"Ya, karena beberapa alasan, gue mencalonkan diri jadi manajer ekskul dua hari lalu."
"Sangat minim penjelasan. Isla, you better tell me the story via telephone at least," tuntut April dengan bibir mengerucut.
"Iya, nanti," jawab Isla.
Masih ada sekitar setengah jam lagi sampai jam pelajaran Inggris di kelasnya selesai. April berinisiatif menonton hari pertama Isla menjadi manajer basket (yap, bukan menonton anggota basket bermain. Tidak ada lelaki yang bisa mendapatkan perhatiannya, kecuali jika Husain bergabung di antara mereka). Ia duduk di kursi kayu bercat biru muda yang terletak di pinggir sebelah kanan lapangan basket atau tepat di depan gedung IPS. Siku beristirahat di senderan tangan kursi, lalu telapak tangan April menopang pipi chubby-nya. Suasananya sangat tenang. Seharusnya tetap begitu kalau saja bukan karena ....
"Lo bolos?"
Pertanyaan dua kata itu sukses membuat April mengeluarkan jeritan tuan putrinya. Tubuhnya menyender sampai benar-benar di ujung kursi, matanya melotot menatap lelaki yang puncak kepalanya lembab dan meneteskan satu-dua titik air. Gadis itu menelan ludah. Sekitar 4 detik lalu, Husain berada pada jarak amat dekat mungkin kurang dari 10 sentimeter di antara bibir Husain dan telinganya. Tangan kanannya menutup telinga kanan—merupakan tempat Husain melayangkan bisikan maut—yang merah padam. Kejam. Husain tidak tahu apa kalau dalam jarak satu meter saja April sudah diskoan di dalam hati, apalagi sedekat barusan.
__ADS_1
"Eng-enggak!" jawab April gagap.
"Kalau gagap biasanya bohong," ujar Husain semakin menyenderkan wajahnya mendekat. Oke, perlu diperjelas, bahwa posisinya saat ini berdiri di belakang kursi dengan kedua tangan duduk di puncak senderan punggung kursi.
"April ga bohong. Pelajaran bahasa Inggrisnya tabrakan sama kelas lain, jadi kelas April jamkos," jelas gadis itu dengan mata tak lagi berani memandang kekasihnya.
"Kalau bohong juga biasanya ga mau natap mata, lho."
Haduh, ribetnya. April mendongak dan mata mereka bertemu. Habislah sudah. Bibirnya sontak naik membentuk setengah lingkaran dengan deretan giginya sedikit mengintip di balik bibir merah mudah itu. Husain terlalu manis untuk enggak dihadapi dengan senyuman.
"Kalau ngomongnya sambil senyum juga biasanya artinya bohong, lho."
"IH, KAK HUSAIN, TUH, SENGAJA YA? APRIL TUH BEGINI BUKAN KARENA BOHONG TAPI SALTING SOALNYA KAK HUSAIN MANIS BANGET. YA ALLAH PUNYA PACAR GA PEKA BANGET, SIH," ujarnya meledak-ledak. Pipinya pasti seperti ondel-ondel, merah banget.
Pernyataan itu disaksikan kelas-kelas di belakang mereka, juga anggota ekskul basket yang sampai menoleh dan tidak melanjutkan latihan mereka untuk sesaat. Isla di seberang sana berdiri menatap sejoli itu dengan kaku. Matanya lurus menatap mereka, tetapi seolah kosong, pikirannya melayang kemana-mana.
Husain ikut malu dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Pasangan kekasih itu diam dalam rasa malu sambil melirik ke satu sama lain di antara sela-sela jari. Bahkan, ketika lirik-lirikan kecil itu, mata mereka bertemu setengah detik saja, masa diam-diaman itu menjadi semakin panjang.
Husain tidak paham jantungnya berdegup kencang—seperti rumah di sebelah sedang kondangan dan menyetel lagu koplo— karena ia malu atas pernyataan April atau karena dia sangat senang atas pernyataan blak-blakan gadis favorit terbarunya itu. Mungkin juga keduanya. Yang jelas, mereka harus menenangkan diri.
Tenggorokan Isla seperti kering saat menonton gerak-gerik pasangan itu. Sontak, ia berbalik untuk mengambil sebotol air mineral yang telah berada di tangan Arais yang mengarah padanya.
__ADS_1
"Minum terus duduk aja. Gak usah liatin mereka." Lelaki itu menarik Isla duduk di pinggir lapangan di atas sepatu conversenya, lalu menghalangi jangkauan penglihatannya.
Jika Isla menghadap ke depan, maka yang akan bertemu dengan pupil cokelatnya adalah pupil hazel milik Arais.