School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
15. Fair-Play (?)


__ADS_3

Bujuk-rayu April telah membawa Citra ke depan rumah gadis itu. Tangannya menenteng plastik putih supermarket berisi camilan ringan, mie instan dan lima botol yakult. Citra menyapa Ibu April dengan senyuman dan menundukan kepala agak rendah. Lalu, ia berjalan di belakang April yang menaiki tangga ke lantai dua. 


Sebelumnya, tubuhnya gerah dan berkeringat. Namun, setelah April menekan tombol power pada remote AC-nya, Citra seolah merasakan surga dunia. Sejuk banget, mengusir udara panas yang mengelilinga. April duduk di tepi kasur sambil memeluk gulingnya erat. 


"Gimana ya, Cit?" Sudah dimulai. April membujuknya untuk mampir ke rumah agar dapat melaksanakan sesi curhat dengan bebas tanpa harus khawatir ada yang mencuri dengar. Beruntung, Hugo memiliki pertemuan dengan dosbimnya, hilanglah satu-satunya hama di rumah ini. 


"Apanya?" tanya Citra ketika membuka segel yakult. 


"Ya, tentang yang April ceritain di sekolah tadi." 


Citra menghela napas, lalu mengacungkan botol yakultnya sambil berkata, "Ya elo maunya gimana? Kalau mau gue sih, ya minum yakult." Ia menegak yakult dengan kepala mendongak. Mata Citra mengarah pada sahabatnya yang uring-uringan di atas kasur. 


"April juga enggak paham maunya gimana ...." 


"Dia aja gak paham, apalagi gue," batin Citra, memasang senyum geram pada sahabatnya itu. Otaknya seakan membuka file drakor, film romansa, dan semua novel yang pernah ia baca untuk menuntaskan kasus ini. Cling! Jika di dunia komik, pasti kepalanya sudah mengeluarkan lampu bohlam yang menyala terang. 


"Fair-play aja gimana?" saran Citra. 


"Fair-play? Caranya?" 


"Ya putusin cowok lo, terus kejar secara sportif lah. Kan lu jadian karena mitos-mitosan itu." 


"Mu-mutusin Kak Husain?" Wajah April berubah pucat dan panik. 


"Atau ... lo mau lanjutin aja? Toh, Isla bilang udah mupon." 


"Itu kan di mulut, Cit. Di hati siapa yang tahu?" 


"Jadi, lo gak percaya sama sahabat lo sendiri?" 


"Ih, bukan gitu! Citra kayak gak tahu aja, Isla pasti enggak mau nyakitin April." 


"Hm, jadi?" 


"Ya, kalaupun beneran Isla udah mupon, April tetep gak enak hati. Masa Isla suka duluan, April yang dapet." 


Citra mendecih, ia membanting botol yakult yang telah kosong ke atas lantai keramik. "Udah gue bilang kan? Cinta itu enggak bukan masalah dari siapa yang suka duluan." Citra kadang enggak paham dengan jalan pikiran sahabatnya. Enggak enak mulu, apa-apa enggak enak. 


"Pokoknya, pilih putusin atau pertahanin. Terserah lo. Gue bodoamat. Masalah-masalah lo kok gue ikut pusing." 


"Hehe, sori." 


"Jadi?" 


April diam dan merenung sembari memilin bantalnya. Citra bahkan sudah menghabiskan dua bungkus makanan selama April berbaring terdiam di kasurnya. 


"April bakal putusin Kak Husain!" seru April semangat. 


Tekad April sudah bulat, sebulat bola ping-pong. Ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Husain yang umurnya bahkan belum selama telur ayam menetas. Pasti bisa! 


"Oh, ya udah. Telpon sekarang." 


"Ha?" April tercengang menatap Citra yang menyodorkan ponselnya ke depan wajahnha sendiri. "Telpon Kak Husain, April. Sekarang." Tatapan tajam Citra mengintimidasi. Jantung April jadi berdebar-debar (bukan debaran cinta, April straight seratus persen). Ia menelan ludah saat mengambil ponselnya dari tangan Citra. Sudah ia nyalakan, ia ketik pula password ponselnya. Jari telunjuknya menekan aplikasi kontak. Sekarang, ia hanya perlu mencari kontak Husain, yang seharusnya tak sulit. Tapi, saat jemari April mengetik Pacar April, ia berkali-kali menahan napas. Saat kontak yang diinginkannya muncul teratas, ia hanya perlu menekan simbol telepon, dan teleponnya akan segera tersambung. Tapi ... "April gak siap, Cit!" 


"Ya udah persiapan dulu."   


"Ih, Citra. Kasih keringanan, kek!" 


"No, April. Lakukan, sekarang atau tidak sama sekali." April dulu dosa apa sih, kok dapat sahabat tegas banget, bapak-ibunya aja kalah. 


"Oke, April siap-siap dulu."


Gadis itu meraih sebotol yakult dan meminumnya hingga tak bersisa. Ia bangkit dan mulai melakukan pemanasan senam irama. Kemudian, lari di tempat. Ambil mie instan di plastik dan pergi ke luar kamar. 

__ADS_1


"Mau ke mana?" tanya Citra. 


"Masak. Buat persiapan energi," ujar April yakin. Lantai satu kosong tanpa orang. Karena kakak dan ayahnya tak ada di rumah, April menebak ibunya ada di kamar, entah tidur atau bermain fesbuk. Saat air sudah mendidih, terdengar suara kaki dari arah tangga. 


"Masakin gue juga," ujar Citra. 


April memberi tanda oke dengan membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan jempolnya. 


Usai makan, Citra dan April kembali ke kamar. April berbaring di atas kasurnya dengan tenang, hingga Citra menyodorkan benda pipih ke arah wajahnya. 


"Katanya mau telpon. Nih." 


"Ih, April kira abis makan, Citra bakalan lupa." 


"Gak mungkin gue lupa, say. Yok, gue pantengin." 


April merengut dan mengambil ponselnya. Setelah mengambil-membuang napas beberapa kali, gadis itu menekan tombol telepon di ponselnya. Tak butuh waktu lama, tulisan menghubungkan berubah menjadi 00:00.


"Kenapa, Pril?" Suara renyah Husain membuat hati April luluh. Tapi, ia harus tegas. Lakukan, Pril! 


"Anu, Kak." April tergagap, matanya melirik Citra yang duduk bersila di atas karpet. 


"Cepet putusin," ujar Citra tanpa suara. 


"Ada yang mau April omongin." 


"Apa?"


"April mau minta ...."


"Minta?" 


"Minta itu ... " putus dari Kak Husain. 


"Put ... "


"Put?" 


April menggigit bibirnya. Matanya menatap Citra takut-takut. "Citra ... " rengeknya tanpa suara. Citra hanya diam memandangi sahabatnya sambil bertopang dagu. Ia menghela napas dan melanjutkan ucapannya. 


"Bilang aja, Pril." 


Gimana mau bilang, ini April mau nangis rasanya. 


"Put—" April menyerah, dia tak sanggup. 


"Putri maksudnya."


"Putri? Siapa Putri?"


"April mau minta Kak Husain supaya April jadi putri di hati Kak Husain." 


Citra mendelik menatap sahabatnya. Kedua tangannya menengadah, seakan meminta penjelasan segera. 


"Ada-ada aja, Pril." 


"Hehe, udah dulu ya, Kak," putus April sebelum menekan tombol merah. 


"Jadi?" Citra menaikan alisnya dengan mata memicing sinis. 


"Duh, April gak berani. Gak tega. Gak bisa, Citra!" 


"Ya kenapa?!" 

__ADS_1


"Pikirin deh, yang nembak April, yang bilang suka juga April. Masa April yang mutusin? Kesannya April mainin Kak Husain dong. Pokoknya gak bisa." 


"Oke, hari ini gak bisa. Kalau gitu, besok-besok, harus bisa? Paham?!" 


"Ih, Citra galak banget!" 


***


Husain pikir hari ini akan sama seperti hari-hari sebelumnya. Tapi, tidak, ada yang aneh. Setelah telepon singkat dari April semalam, Husain merasa ada yang April sembunyikan. Dan kecurigaannya semakin kuat karena April terus-menerus menghindarinya. Seperti saat ia turun dari lantai dua dan melewati koridor X IPA, April ke luar kelasnya dan mata mereka bertemu. Baru saja Husain mengangkat tangan hendak menyapa, gadis itu berbalik 180° dan masuk ke kelasnya lagi. 


"Dia ngehindar?" gumamnya heran. Arais yang berdiri di sebelahnya menggoda, "Lo buat salah kali. Ketahuan selingkuh, mungkin?" 


"Mana ada! Gue setia," bantah Husain kesal. 


"Ya terus kenapa tu anak ngehindarin lu?" 


"Mana gue tahu, lah!"


"Lah, kok ngambeknya ke gue?" tanya Arais retoris seraya menunjuk dirinya sendiri. 


Arais mengejar sahabatnya dan merangkul pundaknya. Husain berusaha menyingkirkan tangan Arais bertengger di bahunya, tapi Arais tidak terpengaruh. 


"Tangan lo minggir. Najis." 


"Heh, gue mau ngasih saran." Husain diam menanggapi Arais. 


"Kalau cewek ngambek, ajak makan, bicara baik-baik, rayu dia. Biasanya teknik ini berhasil sih, apalagi dikasih makan enak. Mood cewek langsung naik." 


Husain mengernyit, tapi menyimpan pesan Arais di memorinya. 


Karena saran Arais, Husain menyisihkan uang jajan untuk mengajak April makan di kafe. Tahu bahwa April menghindarinya, lelaki itu sengaja menunggu di depan kelas April untuk membawa gadis itu. Dan berhasil. April terperanjat saat melihat kekasihnya berdiri di depan pintu kelas dengan santainya dan kedua tangan masuk ke saku celana abu-abu. 


"Kak Husain kenapa?" 


"Pril, makan di kafe, yuk." 


"Eh?" 


April bahkan tak ingat sudah menjawab ya atau tidak. Yang dia ingat hanyalah, Husain menarik tangannya dan ia duduk di atas jok motor Husain seperti biasa. Dan sekarang, motor Husain berhenti di depan Kafe Langit Oranye. 


"Ayo, masuk, Pril."


"April mimpi gak sih? Kak Husain ngajak makan gak ada angin gak ada hujan. Jadi curiga. Astaghfirullah, gak baik suudzon sama orang." 


Mereka makan seperti pengunjung lainnya. Tak ada kejadian romantis seperti berbagi makanan, suap-suapan, apalagi makan mie bareng yang kebetulan ujung dan ujungnya bertemu hingga mereka saling mendekatkan kepala. Memikirkannya membuat pipi April bersemu kemerahan. "Mesum!" batinnya menghina pikiran kotornya akibat terlalu banyak menonton film romansa. 


Seorang lelaki tak dikenal mendatangi meja mereka. April menatapnya heran. Tak disangka, lelaki itu mengenal Husain. 


"Loh, Husain, kan?" tanyanya menunjuk Husain. 


"Eh? Jeje, kan? Wah, udah lama ya enggak ketemu." Tangan keduanya melakukan tos sambil tertawa.


"Apa kabarnya, nih?" 


"Baik, alhamdulillah." 


"Ngobrol yuk. Di balkon kafe aja, sekalian gue mau ...." Dua jarinya ditaruh di depan bibir. Artinya, lelaki bernama Jeje ini ingin nyebat. Kesimpulan yang diambil oleh April. 


Husain menoleh ke arah April dan menatapnya lama. Seakan dengan tatapannya, April paham bahwa ia meminta izin untuk ikut bersama teman lamanya itu. 


Dengan terpaksa, April mengangguk dan berkata, "Gapapa, Kak. Ngobrol aja." 


"Makasih." Lalu, dua orang itu pergi ke arah balkon kafe sambil berangkulan.  

__ADS_1


__ADS_2