School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
7. Ejen Ali


__ADS_3

April mengajak Husain membeli thai tea sebelum masuk ke antrean untuk membeli tiket. Dalam sekejap mata, bahkan April dan Husain baru maju selangkah dari antrean, minuman di tangan April telah habis. Tersisa butiran es batu dengan air es yang mencair. April sampai enggak sadar sudah menyedot habis thai tea-nya. 


Tak berselang lama, datanglah giliran Husain dan April. Husain menatap layar yang menunjukkan daftar film yang diputar hari ini beserta jam-nya. April melihat film berjudul Sunyi yang akan tayang dua jam dari sekarang. Itu satu-satunya film horror Indonesia yang tayang hari ini. Ia masih teringat haluannya memeluk lengan Husain saat bagian seram muncul. Pasti romantis banget. 


"Mbak, tiket Sunyi dua, ya." 


Husain yang mendengar ucapan April menoleh dengan cepat kepadanya dengan mata terbuka lebar. "Lah buset, kenapa mesen tiket film horror."


"Eh, Mbak, nanti dulu!" ujar Husain secepat kilat sebelum pegawai wanita di depannya memproses tiket yang diminta April. 


"Kok, Sunyi, sih, Pril. Ejen Ali aja gimana?" 


"Masa Ejen Ali sih, Kak. Sunyi aja, ya?" pinta April sembari menggoyangkan lengan Husain manja. 


"Enggak, Pril. Ejen Ali aja, ya?" mohon Husain dengan lembut. "Iyain aja plis, subhanallah. Malu gue kalau ketahuan takut nonton film horror. Kan malu kalau tiba-tiba gue teriak."


"Sunyi aja, masa film animasi Malaysia sih, Kak. Cintai produk dalam negeri," kata April yang tumben-tumbennya bijaksana. 


"Nanti lo takut, April." 


"Biasa aja, kok. Janji deh!" "Iya, masalahnya gue yang takut, Bambang!" batin Husain menderita. 


"Ejen Ali aja, Mbak." 


Baru saja wanita itu menyentuh komputer di hadapannya, pasangan kekasih baru itu kembali berdebat masalah tiket film. Padahal, antrean di belakang sudah menunggu dengan wajah tertekuk. Wanita itu amat bersyukur saat komputernya menunjukkan suatu info yang bisa membuat pasangan di depannya diam. 


"Mas, Mbak, tiket film Sunyi-nya ternyata sudah habis," ujarnya disertai senyuman. 


"Alhamdulillah", batin Husain dengan tulus. Selamat juga kehormatan imej Husain yang terkenal dengan label, "Kakak kelas ganteng, cool, nan baik hati."


Sementara, April langsung memasang wajah kesal. Mereka segera keluar dari antrean setelah mendapatkan tiket yang diinginkan. Film itu akan dimulai sekitar setengah jam lagi. Selama menunggu, April dan Husain berkeliling mall dengan kedua tangan saling menggenggam. 


Rasanya, kalau bisa April mau pegangan dengan Husain sampai akhir hayat. Sayang, tiba-tiba ia merasakan perasaan tidak nyaman di antara kedua kakinya. Tidak mungkin masuk ke tempat keramat bareng Mr. Crush, 'kan? Walau otak April agak bengkok kalau bareng Husain, IQ-nya itu cuma jongkok, belum tengkurap. Alhasil, setelah perdebatan batin panjang—di dunia nyata berselang 2 menit saja padahal, soalnya dia kebelet—April memutuskan kaitan tangan mereka dan meninggalkan Husain setelah penjelasan singkat yang isinya, "Hukum alam, Kak."


Husain berdiri di tempat sambil berpikir, "Dia buang air besar?" Imej April makin jatuh. Kalau dia mendengar pikiran Husain barusan, April pasti menjerit dengan suaranya yang melengking indah, "April buang air kecil, doang. SUMPAH!"


Kembalinya April disambut Husain dalam diam tanpa komentar. Ia tidak sejahat itu untuk bertanya, "Gimana? Keluar fesesnya lancar?" Mereka berjalan bersisian dengan April yang masih tidak tahu isi pikiran Husain.


Langkah April terhenti saat melihat gantungan kunci berbentuk bunga matahari yang terpajang di sebuah toko aksesoris. 


"Kak, ke sana, yuk," ajaknya lalu seolah dihipnotis ia berjalan ke sana tanpa memalingkan muka sedikit pun. Husain terpaksa mengikuti di sampingnya. 


April mengambil gantungan kunci incarannya dan menunjukkannya ke Husain dengan senyuman lebar. "Gemes banget gantungan kuncinya, Kak. April pengeeen." 

__ADS_1


Seorang wanita berseragam serba merah muda menghampiri dua sejoli itu. Ia meletakkan kedua telapak tangannya bertumpukan di bagian perut. 


"Silahkan dipilih, Mas, Mbak. Murah-murah. Lagi diskon 10% untuk pembelian di atas lima puluh ribu rupiah," ujarnya sambil menunjuk poster kecil yang tertempel di rak aksesoris toko. Ucapannya semakin membuat mata April berbinar. 


"Kak, ini bagus, kan? April mau beli ini aja, deh." Husain mengangguk kaku bak robot.  


"Ini adiknya ya, Mas? SMP kelas berapa?" sapanya ramah. Tapi, keramahannya salah sasaran. 


"Maksud Mbaknya apa ya?" April bertanya dengan nada kesal dan bibir mengerucut. 


"Eh?" Wanita itu sadar akan perubahan sikap April yang tiba-tiba sontak menatap Husain seakan meminta pertolongan. 


"April pacarnya, tauk! Adik darimana?! Emang April enggak kelihatan kayak pacarnya Kak Husain ya?" April tersinggung. Husain hanya bisa menepuk dahinya sembari menyembunyikan sebagian wajah. Gadis itu mengembalikan gantungan kunci yang menarik hatinya, lalu membawa Husain pergi dari toko itu. 


Wanita yang menyinggung perasaan April segera membungkuk dan meminta maaf pada April. Namun telat, sang pelanggan telah pergi. 


April mencak-mencak di atas eskalator menuju lantai teratas. Moodnya agak membaik setelah Husain membeli popcorn untuknya. Sisa waktu sebelum film dimulai sekitar sepuluh menit lagi. Keduanya telah mengambil kursi di dalam bioskop dan duduk tenang. Ia menyodorkan kotak popcorn ke pangkuan April. Gadis itu tampak tersenyum kecil menatap popcorn itu, entah apa yang dipikirkannya. 


"Makasih, Kak. Padahal Apri—maksudnya gue enggak minta beliin apa-apa. Hehe," ujar April dengan cengiran. 


"Sama-sama." 


"Btw, ini rasa caramel ya? April—gue ... lebih suka rasa keju sih."


"Kok tiba-tiba make gue gitu, sih?" Tawa pelan lolos dari bibir Husain. Dia agak heran kenapa April yang terbiasa memanggil namanya sendiri saat bicara, justru dua kali mengganti cara bicaranya. 


 


"Ya habisnya, April—gue maksudnya, enggak mau dianggap kayak anak kecil. Apalagi adik Kak Husain, April kan pacarnya. Iya sih, April pendek tapi masa dikatain anak SMP?!" gerutu April kesal lalu mengerucutkan bibirnya. Husain malah tertawa. 


"Kok ketawa?" 


"Enggak, cuman lucu aja. Pril, mau orang bilang lo adik gue, anak kecil atau gimana pun juga kan enggak mengubah status kita. Jangan dipikirin. Hm?" 


"Hm?! Hm katanya, masyaallah. Hm-nya ganteng banget." Kalau kata Citra, April itu bucin kritis. Kak Husain tiba-tiba merayap di dinding kayak cicak juga April tetap terpesona.


Senyum manis Husain meluluhkan hati April. Dia jadi meleleh dan pengen filmnya segera mulai supaya bisa melancarkan strategi romantisnya, apalagi salah satu alatnya, popcorn, sudah di tangan. 


Tak lama, layar lebar menampilkan pembukaan film animasi Malaysia itu. April menoleh ke arah Husain dan siap melangsungkan rencananya. Tapi, ia terdiam saat mendapati, di tangan sang pacar telah penuh popcorn yang ia ambil dari kotak popcorn di pangkuannya. Ternyata, Husain memesan dua kotak popcorn. Berarti, insiden saling menyentuh secara tidak sengaja karena mengambil popcorn secara bersamaan tidak akan terjadi. 


Rencana romantis memeluk tangan Kak Husain gagal, rencana yang ini juga gagal. Gini amat nasib, April. 


***

__ADS_1


April masih terbawa suasana film yang baru mereka tonton. Sepanjang jalan ia bengong, berhalusinasi akan adegan aksi yang seru di ******* film. Dia enggak menyangka filmnya seseru itu untuk ukuran film animasi yang cenderung menargetkan audiens anak-anak. 


"Kak, filmnya seru banget ya! Apalagi pas adegan si Ali make Override Mode. Hancur semuanya, ciat-ciat!" Dengan lincah April mempraktekkan gerakan tinju dan tendangan di tengah-tengah koridor berkarpet merah menuju pintu keluar. 


"Terus, bagian ibunya Ali itu sedih banget. Ternyata Override Mode itu dari data yang diambil selama ibunya Ali makai IRIS. Plot twist-nya keren!" ujar April seraya melompat-lompat kecil. Setelah Husain menahan tangannya dengan menautkan jemari mereka, barulah April berhenti melompat. Ia menatap genggaman tangan Husain dengan pipi bersemu. 


Kak Husain inisiatif megang tangan April lho! Ini perkembangan!


"Selain animasi yang keren dan alur cerita yang menarik. Pesan moral film itu patut diacungi jempol. Terutama, ia mengangkat fakta bahwa di jaman sekarang, kepala negara terbiasa memajukan wilayah yang maju bukannya memajukan wilayah terpencil. Lalu, mencapai tujuan itu selalu ada jalan. Hanya karena tujuan kita baik jika proses kita mencapainya dengan cara yang salah, maka kita masihlah orang jahat. Selalu ada jalan lain yang tidak membuat kita menyakiti atau merugikan orang lain untuk mencapai apa yang kita inginkan." 


April hanya bisa bengong mendengar penjelasan Husain yang panjang kali lebar kayak pidato. Ini juga pertama kalinya Husain bicara sepanjang itu kepadanya. 


Ada dua hal yang April tangkap.


Yang pertama. "Kak, kita itu beda banget ya?" 


Sebelah alis Husain naik mendengar penuturan April. "Kenapa?" tanyanya. 


"April bahas ceritanya, keseruannya, kayak anak kecil deh. Ga paham apa-apa yang penting seru." Ia mengambil jeda sebentar untuk mengambil napas. 


"Tapi, Kak Husain khas orang dewasa banget. Nyari tahu pesan moral dan amanat dari cerita itu. April jadi takut," ujarnya, kalimat terakhir April utarakan dengan suara yang pelan. Namun, Husain mendengarnya. 


"Takut kenapa?" 


"Karena kita beda banget, nanti enggak cocok." 


Keduanya diam hingga masuk ke basement tempat motor Husain diparkirkan. Husain diam bukan karena setuju akan pendapat April. Tapi, ia tak tahu harus mengatakan apa. Perkataan yang bisa membuat ketakutan April lenyap. Ia mencari perkataan itu. Lalu, ia sadar, sebenarnya enggak perlu mencari perkataan romantis, puitis, atau bijaksana untuk menjawab masalah ini. 


"Bagus dong kalau beda. Bisa saling melengkapi." Husain tahu ini murahan, tapi dia tak terpikirkan jawaban lain. 


April tersenyum mendengar jawaban Husain. Ia lalu menyenggol lengan pria itu dan menunjuk motor Husain yang tinggal beberapa langkah lagi dengan dagu. 


"Yok, pulang." 


Husain memboncengnya lagi. Hari masih terik seperti biasanya. Sekejap, perasaan bersalah menghinggapi April. 


Yang kedua—ia tangkap dari pesan moral yang dijelaskan Husain, meraih tujuan dengan cara yang salah menjadikan kita orang jahat. 


Sama seperti April. Menggunakan mitos dan bukannya menarik hati Husain secara perlahan adalah jalan yang busuk. Tapi, ia tak mau berhenti sekarang. 


Suatu saat, perasaannya akan berbalas, pasti. Mitos hanya mengubah status mereka, tidak merubah perasaan Husain kepadanya. 


***

__ADS_1


__ADS_2