
"Kau menangis seperti itu, sadar atau tidak kalau orang lain bisa mendengarnya? Atau kau ingin dia mendengarmu? Beruntung, aku ada di sini. Don't make the same mistake twice, Isla."
Twice? Isla sendiri tidak memahami kata twice dari kalimat Nina. Tidak mungkin gadis itu mengerti apa kesalahannya di masa lalu. Entah kesalahan mana lagi yang harus Isla tebus. Sampai kapan ia merasa seolah langkah kakinya berada di atas kaca rapuh. Ia sungguh menyayangi April sebagai sahabat. Menyakitinya tidak termasuk dalam pilihan, apalagi berkhianat.
"Kalau gue berkhianat lagi, mungkin seumur hidup gak akan pernah ada pengampunan untuk gue," kata hati Isla sembari berjalan menyusuri koridor SMA sendirian, mengingatkannya pada hari itu.
***
SMP adalah puncak pubertas, katanya. Seperti sebagian besar remaja, Isla juga memiliki tambatan hati di usia yang sedang labil-labilnya ini.
Lihat kakak kelas di depan sana, yang sedang menyampaikan sosialisasi tentang jalan santai yang akan diadakan hari ini. Namanya Husain Al-Ghuzammir, dari namanya saja sudah kebayang gantengnya, 'kan? Hampir setengah dari warga SMP N Kuningan—tanpa memandang gender—mengaguminya. Ketua OSIS, baik, tegas dan disiplin tetapi tidak diktator. Auranya ke adek kelas sangat mengayomi. Bukan hanya satu-dua yang seketika membayangkan hidup berkeluarga dan berketurunan, nikah adat apa, bahagianya bersuami, kalau melihat senyuman yang sangat merangkul kekosongan dalam hati remaja perempuan.
Namun, tidak, Isla tidak begitu. Husain adalah satu dari beberapa kakak kelas yang ia kagumi, terutama baginya yang juga bertujuan menjadi ketua OSIS di masa depan kelak. Hanya sampai situ, perasaan Isla pada awalnya.
"Kak, OSIS bakal mengiringi dari belakang, 'kan?" tanya Isla yang saat itu berusia 13 tahun. Rambutnya masih panjang, tetapi ukuran wajah dan tubuhnya lebih mungil.
"Iya. Lo jangan jauh-jauh, ya, La. Jangan sampai kita jagain adik-adiknya berhasil, justru anggota OSIS-nya yang ngilang." Tersirat candaan dalam kalimat itu.
Sebut Isla terlalu serius. Namun, ia tidak tahu jawaban lain selain, "Iya, Kak."
Malah Ujang yang tertawa di pinggir lapangan, melihat aura canggung di antara adik dan kakak kelas itu. Husain cuma senyum sambil mengusap pangkal lehernya. "Enggak lucu, kah?" tanya lelaki muda yang saat itu tingginya bahkan belum mencapai 160 cm.
Isla melaksanakan tugas dengan amanah. Tak sedikit pun ia berhenti memerhatikan barisan murid SMP N Kuningan. Terdapat sugesti dalam hatinya, "Jangan sampai ada yang tertinggal, hilang, apalagi kabur."
__ADS_1
Padahal, banyak kakak kelas yang jalan santai mengobrol di antara satu sama lain. Husain sendiri sempat berhenti membeli minuman di pinggir jalan karena haus sebelum akhirnya kembali ke barisan. Lelaki itu melihat keseriusan Isla dalam menjalankan tugas. Tampak lucu sekaligus keren. "Kok bisa orang sefokus itu? Padahal dia bisa sedikit nyantai, gemes banget." Walau isi hatinya berkata demikian, mulut Husain tak akan pernah mengeluarkan kalimat itu. Ia merasa seolah kakak kelas banget malah, intinya merasa tua. Gengsi.
Lelaki yang membawa es milo di tangan kanannya itu, menyenggol Ujang dengan siku tangan kirinya. "Bilang ke dia untuk santai, beli minum dulu, entar dehidrasi."
"Kenapa gue? Lo aja," tolak Ujang.
"Nggak mau, canggung, malu. Lo aja, lah. Cepet, kasian anak orang."
Ujang mau enggak mau menurut, kesal juga sama ketua OSIS yang sering dipandang keren ini, padahal kerjaannya tiap hari, "Canggung, malu." Dikira Ujang enggak punya malu, apa? Iya, emang, sih.
"La, lo beli minum dulu. Gapapa, yang lain 'kan ngeliatin juga. Ntar lo dehidrasi, waduh kalau anggota OSIS yang pingsan, bisa repot," ujar Ujang, mendramatisasi keadaan.
Isla ingin menolak, tetapi ia rasa tidak ada alasan untuknya berkata tidak. Semua alasannya seolah sudah diberi balasan telak oleh kakak kelasnya itu. Tanpa menoleh ke depan lagi, gadis itu menuju ke pinggir jalan untuk membeli minuman dari pedagang keliling.
Pertanyaan itu tidak terjawab, hingga lima menit berikutnya Jihan masuk melalui gerbang utama sekolah bersama dua murid dari kelas lain yang namanya tidak diketahui Isla. Keterlambatan tiga orang tersebut menciptakan segunung pertanyaan di kepala Isla, juga segunung kemarahan pengurus OSIS lainnya. Gadis berpakaian jersey dengan lengan digulung itu menerobos barisan hendak memisahkan Jihan dari dua orang lain sebelum ia dicerca oleh pengurus OSIS yang lebih berkuasa darinya. Namun, Husain telah berdiri di hadapan tiga siswi tersebut dengan tangan terlipat.
"Bisa jelaskan alasan kalian jalan terpisah dari barisan?" tanyanya lembut, untuk sekarang.
Siswi dengan rambut yang dikuncir karet hello kitty menjawab dengan santai, "Duh, tadi si Jihan sempet kesandung, Kak. Ternyata keseleo, jadi kami duduk-duduk di pinggir jalan dulu supaya kakinya enggak makin sakit. Makanya sampainya lama. Kalau mau marah, ya jangan marah ke kami. Kami 'kan udah baik niatnya nolong Jihan."
Penjelasan panjangnya itu mengalihkan perhatian Isla pada kaki Jihan yang tampak memerah. Ia baru menyadari bahwa Jihan sepertinya kesulitan untuk berjalan normal.
Ia merasa gagal sebagai sahabat. Tangannya segera memindahkan tangan Jihan ke punggungnya dan membawa sahabatnya menuju UKS. "Kak, gue izin antar Jihan ke UKS, ya?" tanyanya sebelum berbalik tanpa mendengar jawaban kakak-kakak kelasnya lagi.
__ADS_1
Husain sempat terkejut karena gadis itu acuh, pergi begitu saja. Namun, perhatiannya kembali pada dua siswi yang tersisa di hadapannya. Ia mulai menginterogasi mereka dan mengakhiri pembicaraan dengan pujian dan nasihat dalam menolong teman, lalu menyuruh mereka bergabung ke barisan.
Dalam ruangan UKS yang berukuran 5x6 meter itu, Isla duduk menunggu Jihan yang diperiksa oleh guru sekolah. Kaki Jihan dililit oleh kapas dan diberi alkohol. Sepertinya, selain keseleo, kakinya juga tergores cukup besar di balik celana olahraganya.
Jihan berjalan ke luar seraya menatap Isla, pupilnya bergerak-gerak seolah tak tenang. Isla segera menepuk-nepuk punggung temannya perlahan, ingin menenangkannya dengan berkata, "Gapapa. Pasti nanti sembuh, kok. Pulang bareng gue aja, jangan naik angkutan umum." Jihan mengangguk menyetujui setelah berujar terimakasih.
***
Hari-hari di OSIS berjalan cukup baik. Ia bahkan diangkat menjadi sekretaris. Menurut pendapat kakak-kakak kelas yang ia dengar, Isla sangat tekun, teliti, peduli, dan cepat dalam bekerja. Mungkin, karena itulah kadang ada beberapa oknum kakak kelas yang memanfaatkannya. Misalnya, Ujang yang meminta gadis itu menyusun proposal atau menghadiri beberapa acara yang diperintahkan padanya. Isla tentu setuju-setuju saja. Sampai Husain mendengar kabar tersebut, Ujang seger ditindak bahkan diturunkan dari jabatannya yang pada saat itu adalah sekretaris. Kemudian, digantikan oleh Isla, seperti yang mungkin telah kalian duga.
Sebagai sekretaris, acap kali Isla melakukan tugas bersama Husain, sang ketua. Kesibukannya di OSIS membuatnya kehilangan banyak waktu untuk memenuhi tugas tepat waktu, tetapi di saat bersamaan dia juga mendapati hal baru, contohnya bagaimana ia kini memahami mengapa Husain begitu diidolakan.
"La, lo-lo udah ma-makan?" tanya Husain masih canggung, dengan leher yang terus ia usap dengan sebelah tangan. Pipinya agak merona tiap kali mengajak Isla mengobrol.
"Belum, Kak. Ini lagi nyusun daftar barang-barang yang belum siap buat lomba kemerdekaan bulan depan."
"Mau ma-makan soto bareng, eng-eng-ga?" Husain merutuki kegagapannya yang tiba-tiba datang dalam hati. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai, rasa gugup menguasai saat Isla tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Kak, mau periksa ke UKS dulu? Katanya, kalau suka gagap itu ada kelainannya, lho. Kayaknya, sih, belum parah. Soalnya tadi pagi Kakak normal-normal aja," saran Isla dengan naif. Padahal, kelainan gagap itu enggak datang semudah itu.
Husain malah dihujani rasa malu. Pipinya pasti berwarna merah muda terang. "Eng-ga, La. Ini mah," —"soalnya gue suka lo aja," — "biasa. Jadi, mau engga?" tanya Husain berusaha keras menahan kegugupannya.
"Oh, boleh. Tapi, nanti ke UKS, ya."
__ADS_1
Perhatian sederhana Isla justru membuat Husain jadi makin suka. Ia menggigit bibir bawahnya agar tidak tersenyum terlalu lebar. Malu kalau kelihatan jelas ia suka pada adik kelasnya itu. Di sisi lain, ada rasa nyaman akan bagaimana lembut dan baik Husain padanya. Namun, ia belum tahu pasti apa itu juga rasa suka.