
"Lo itu Islaini, kan?"
"Kak Husain masih ingat?"
"Kalian udah saling kenal?" tanya April, sepertinya ia ketinggalan informasi.
Isla menoleh menghadap April dan menjelaskan, "Gue dulu sekretaris OSIS selama Kak Husain menjabat sebagai Waketos di SMP."
"Ah, Kak Husain juga alumni SMP N 66 Jakarta, toh? April baru tahu."
Husain mengangguk. "Udah lama banget enggak ketemu, La. Kabar baik?"
"Alhamdulillah baik, Kak," ujar Isla disertai senyuman.
"Bagus deh kalau udah kenal. Oh, orang yang Kak Husain tunggu masih belum keluar juga?" April melihat sekeliling, mencari orang yang mungkin ditunggu oleh sang pacar.
"Udah keluar, kok, Pril."
"Yah, April pasti nahan Kak Husain kelamaan ya? Telat dong, maaf," sesal gadis itu menundukkan kepala.
"Belom telat kok, ayo," ajaknya dan mengulurkan helm lain yang selalu ia bawa.
"Ha?"
"Ayo pulang bareng, Pril. Enggak mau?"
Ia bahkan tidak berpikir dua kali atau setidaknya bimbang, sedetik pun tidak. Bibirnya secara otomatis menjawab begitu saja. "Ih, mau!" Dengan semangat tinggi, April memasang kaitan helm secepatnya dan naik ke atas jok motor Husain.
"Bye-bye, gaes!" seru April dengan senyumam lebar ketika Husain menyalakan motornya.
"Dadaah!" Citra dan Isla melambaikan tangan kaku.
April duduk dengan punggung tegak dan tangan yang memegangi jok motor kuat. Melihat posisi duduk aneh yang dilakukan April dari kaca spion, Husain bicara dengan suara agak menjerit, "Pegangan, Pril."
"Hm? Di mana?" Hati April sudah berbunga-bunga, tak sabat mendengar jawaban Husain.
"Di tali tas aja."
Mood April seketika langsung tengkurap. "April kira bakal disuruh meluk perutnya," gumam gadis itu kesal sambil mengerucutkan bibir.
"Ha, ngomong apa?!"
"Bukan apa-apa!"
__ADS_1
"Ha?"
"Ih, Kak Husain udah gak peka, budeg pula!"
"Lo ngomong apaan sih? Gue pake helm nih, gak kedengeran!"
"Gak tahu!" seru April kesal dan menggenggam tali tas Husain erat.
***
Meski sebenarnya April bete kuadrat setelah kejadian pulang bareng yang tak seromantis yang diharapkan, entah kenapa dia tetap membuat kue untuk makan siang Husain. Emang susah jadi bucin.
Gadis itu mengeluarkan kotak bekalnya dan membuka tutupnya untuk sekadar mencium aroma manis dari kue yang ada di dalam. Penciuman Citra tak kalah tajam, beberapa detik ia mencium harumnya, gadis itu langsung berbalik ke belakang dan menatap kotak bekal April seperti benda itu harta karun.
"April, nyicip," ujarnya, kemudian mengulurkan tangan untuk membuka tutup kotak. April menyentil tangan nakal Citra dan menarik kotak itu ke pelukan.
"Eits, tidak bisa. Ini buat doi. Dia orang spesial."
"Emang gue gak spesial di mata lo?" tanya Citra dengan raut melas yang dibuat-buat.
"Untuk hari ini, doi April cuma Kak Husain doang." Ia memasukkan kotak itu ke dalam laci meja dan mengeluarkan buku pelajaran. Bersiap untuk bel masuk kelas sebagai tanda jam belajar dimulai.
***
Di pinggir lapangan, tujuh siswa itu tak pernah absen untuk duduk santai di sana. Meski matahari hari ini teriknya tak dapat dihalangi oleh dedaunan pohon di atas mereka, tujuh siswa itu tetap tak berpindah dari posisinya.
"Ck, kalah gue," ujar Ujang kesal, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Kalah main game?" tanya Husain tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
"Iya, tim gue beban banget."
"Lo yang enggak jago kali." Ujang memukul pundak kawannya itu. "Sembarangan! Gue diamond kok." Husain hanya berdeham tak menanggapi Ujang lebih lanjut.
Ujang bertopang dagu dan melirik Reno dan Kipli yang bermain game bersama. Begitu layar mereka menunjukkan bahwa mereka kalah, Ujang menutup mulutnya untuk menahan tawa. "Ceilah, kalian kalah juga?" ujarnya.
"Iya nih, timnya beban." Reno mematikan ponselnya.
Ujang memainkan matanya menatap Reno dan Kipli. Dua lelaki itu menaikan sebelah alis, menanyakan maksud permainan kata Ujang hanya dengan raut wajah. Ujang menunjuk Husain yang menundukan kepalanya memandang layar dengan dagunya. Lalu, bibir Ujang menyebut nama April tanpa bersuara. Ia menyunggingkan senyum jahil dan memainkan alisnya. Kipli dan Reno menerima sinyal itu.
"Sen," panggil Kipli. Temannya itu mendongak dan bertanya, "Apa?"
"Coba liat belakang deh, ada pacar lo!" tunjuk Ujang ke belakang punggung Husain. Refleks, bagai robot yang sudah disetel, Husain menoleh cepat ke belakang dengan senyum kecil. Namun, sosok gadis yang disebut Ujang tak ia temukan. Ujung bibirnya sontak menurun.
__ADS_1
"Cie, noleh. Nyariin pacar nih ya," goda Ujang dan Kipli bersamaan. Keduanya tertawa terbahak-bahak, sementara Reno, Cito, Arais dan Fiki hanya terkekeh sembari menggelengkan kepala mereka maklum. Jahil sudah jadi tabiat mereka. Hanya Husain yang anti-jahil. Arais dan Ujang yang paling jahil dan selalu punya ide untuk menggoda teman-temannya.
"Nyariin apanya?" sanggah Husain.
"Alah, gak usah ngelak. Buktinya, baru ditunjuk doang lo langsung senyum terus noleh tuh. Cepet banget, pula," kata Ujang.
"Siapa yang senyum? Gue?"
"Ya iya, sapa lagi? Masa lo gak sadar." Husain hendak menjawab, tapi ia berhenti mengeluarkan suara karena Fiki dan Kipli menunjuk ke belakang tubuhnya.
"Cewek lo, Sen," ujar Fiki.
"Gue gak akan tertipu lagi, Fik."
"Lah, ada cewek lo beneran itu." Husain menggelengkan kepalanya, heran akan kegigihan Fiki untuk menipunya. Ia menunduk dan menggeser layar ponselnya dengan jari telunjuk.
Nyatanya, April memang sedang berjalan ke arah Husain membawa kotak bekal berwarna oranye terangnya. Setelah berada pada jarak dekat dengan pacarnya, gadis itu berjongkok dan mengangkat kotak bekalnya ke depan wajah Husain. "Kak," panggilnya.
Husain terperanjat dan tak sengaja melempar ponselnya, sepersekian detik kemudian, layar ponsel itu mengenai permukaan lapangan yang kasar karena bebatuan.
"April ngagetin ya?" tanya gadis itu, lalu duduk di sebelah Husain.
"Ehem, enggak. Biasa aja."
April tersenyum lalu menyerahkan kotak bekalnya ke pangkuan Husain. "Kue, Kak. Ada brownies juga," ujarnya. Husain membuka kotak itu, aroma manis tercium olehnya dan juga enam temannya yang masih diam di tempat.
"Baunya enak bener, Pril," puji Kipli dengan mupeng—muka pengen.
"Makasih. Kak Husain, aku balik ke kelas dulu ya. Belom ngerjain peer, hehe," ujar April sebelum berjalan cepat menuju kelasnya.
Husain mengambil sepotong brownies dan menyuapkannya ke dalam mulut, sementara teman-temannya menatap kue-kue di dalam kotak bekal April sambil menelan ludah. Cokelat lumer yang menjadi topping brownies April sangat memanjakan mata. Hanya melihat saja sudah bisa merasakan seenak apa browniesnya. Husain tak peduli teman-temannya hampir ngiler dan terus-terusan menatap kotak bekal April.
"Sen, minta!"
"Tau nih, Husain makan depan temennya ga ngasih-ngasih," ujar Cito sembari mengulurkan tangan untuk mengambil sepotong kue. Dengan gesit, Husain menutup kotak bekal itu dan memeluknya erat di dada sebelum Cito menyentuh kotak bekalnya.
"Medit banget, ya Allah. Bagi-bagi oi!" Ujang hendak merampas kotak itu dari kekangan Husain dengan menarik paksa tangannya. Reno di belakangnya ikut membantu dengan menahan tangan Husain agar tak kembali memeluk kotak itu. Cito ikut bangkit dan duduk di belakang tubuh Husain untuk menahan tubuhnya agar Ujang dan Reno dapat leluasa menarik tangan lelaki itu. Husain memberontak dan berteriak, "Ini kue buat gue, goblok!"
"Minta!" teriak ketiganya hampir bersamaan.
Husain terlepas dari kekangan ketiga temannya dan berlari mengelilingi lapangan, kabur dari tiga orang yang paling bersemangat mengambil kotak bekal itu darinya.
Di pinggir lapangan, April yang baru saja selesai mengerjakan tugas menatap kekasihnya yang berlari untuk menjaga kotak bekalnya, berdiri dengan jantung yang berdebar-debar. Gadis itu memegangi pipinya yang memerah sambil bergerak-gerak aneh. "Lemes kakiku kalau Kak Husain segemesin itu."
__ADS_1
"Temen gue sehat?" Citra memandangi sahabatnya itu jijik. Citra menjepitkan telapak tangannya di ketek lengan kirinya. Lalu, telapak tangan itu ia posisikan di depan hidung April, bahkan tepat di depan dua lobang hidungnya. Namun, April tetap melunturkan senyumnya. Citra meringis dan seketika merinding.
"Fiks, temen gue gila," ujar gadis itu sambil berkacak pinggang dan kembali ke kelas.