
Isla akui, setelah menjabat sebagai sekretaris selama hampir 3 bulan, selain semakin mengagumi Husain, gadis itu jadi terpincut padanya. Bukan salah gadis itu sebenarnya. Kak Husain acap kali membantunya dalam menyusun laporan dalam jarak amat dekat—jarak terdekat sekitar 4 sentimeter di samping telinga. Lalu, ia juga selalu memuji hasil Isla, memerhatikan Isla kala bertugas, juga menyapa Isla dengan malu-malu (super manis). Tentu, gadis itu tidak lupa soal peraturan bahwa pengurus OSIS tidak boleh memiliki hubungan romantis. Oleh karena itu, ia menyembunyikannya dengan diam dan hanya tersipu begitu keluar dari pagar sekolah.
"Isla, kita nanti mau pergi ke pasar buat beli barang-barang. Lo mau gonceng gue atau naik ojek?" tanya Husain, sedikit lebih berani walau telinganya masih merah padam—mana mungkin Isla melewatkan keimutan samar-samar itu.
"Boleh sama kakak aja?"
Hati Husain saat ini sedang bermain drum sepertinya. Berdentum keras sekali, telinganya bahkan jadi sulit mendengar orang-orang di sekitarnya (Isla tidak termasuk, tentu). "Iya. Kan udah gue tawarin."
Gadis itu tersenyum dari ujung telinga ke ujung lainnya. Husain jadi terdiam karena senyuman manis Mrs. Crush-nya itu membuat tak dapat berkutik.
Isla kembali ke kelas setelah tugasnya di OSIS selesai. Sudah beberapa hari ini, ia jarang mengikuti pelajaran hingga selesai. Suasana kelas ramai seperti biasa padahal guru sedang menjelaskan di depan. Tak heran, Isla sudah biasa. Tempat duduknya berada di sebelah Jihan. Namun, sahabatnya itu justru tak terlihat tampangnya.
"Gi, Jihan mana?" tanya Isla pada Anggi, siswi yang duduk di belakang mereka.
"Mana tahu. Dari jam istirahat sampai sekarang belum balik. Tadi aja, dia dialfain sama bapak."
Isla berdiri celingukan. Bingung ke mana perginya Jihan. Itu tidak wajar bagi temannya untuk menghilang. Ia tidak mengikuti ekstrakurikuler, juga tidak punya posisi khusus di kelas untuk dipanggil oleh guru karena alasan apa pun. Isla memilih duduk dan menunggu sahabatnya kembali.
Ini semakin aneh. Bel tanda siswa-siswi dibubarkan untuk kembali ke rumah masing-masing telah berbunyi dan Isla tidak melihat Jihan di mana pun. Dia juga tidak punya waktu untuk mencari gadis itu. Sehingga, ia hanya menanyakan kabarnya lewat aplikasi bertukar pesan di ponsel. Langkahnya berjalan menuju parkiran di mana Husain dan anggota OSIS yang lain telah menunggu.
"Kak!" panggil Isla semangat. Ia disambut lambaian tangan Husain. Helmnya dipasangkan oleh ketua OSIS itu. Isla kaget karena inisiatif Husain yang tiba-tiba—sesungguhnya, itu saran Ujang (apa yang kalian harapkan dari Husain?). Itu hari yang menyenangkan, seperti hari-hari sebelumnya.
Namun, besok ternyata tidak semenyenangkan ekspektasinya.
***
__ADS_1
"Minggir!"
Suaranya serak karena terus meneriaki semua murid yang berkumpul di satu titik. Ia membelah barisan murid-murid itu dengan paksa, meneriaki seluruhnya untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, apa yang ada di depan mereka lebih menarik daripada suara teriakan Isla.
Kakinya akhirnya berhasil mencapai barisan terdepan. Dengan nafas terengah-engah, matanya naik menelusuri pemandangan di hadapannya. Seorang gadis berjalan di tengah koridor, membelah barisan-barisan murid secara alami. Semua orang ingin melihat, tetapi tak ingin mendekat. Semua orang tertarik, tetapi tak ada yang peduli. Isla berdiri kaku di sana untuk beberapa detik, sampai matanya menangkap seorang murid membawa jas sekolah di lengannya. Tanpa meminta izin, tangannya menarik jas itu dan membungkus gadis yang menjadi pusat perhatian tersebut dengannya. Ia membawa lari gadis itu dari kerumunan menuju ruang OSIS. Untungnya, ruangan itu lengang.
Isla melepaskan jas dari tubuh gadis itu, Jihan, yang basah dan menguarkan bau apek seperti air bekas mengepel dari ujung kaki sampai puncak kepalanya. Ia menghilangkan indra penciumannya, not literally, hanya berpura-pura seolah tak ada bau yang merasuki hidungnya. Dengan jas itu, Isla mengelap tubuh Jihan yang basah kuyup. Ia penasaran, prihatin, khawatir, tetapi Isla memutuskan untuk menutup mulutnya sampai Jihan bercerita sendiri.
"Berhenti." Itu kata pertama yang keluar dari mulut Jihan setelah keheningan lama di antara keduanya.
Jihan mendongak, menatap Isla yang beberapa senti lebih tinggi darinya. "Kenapa hari ini? Ga bareng sama kakak-kakak OSIS lagi lo?" tanyanya dengan dingin.
"Ha, apa, sih, Han?" Isla dibuat kebingungan dengan pertanyaan Jihan yang agak agresif.
"KENAPA BARU HARI INI LO PEDULI? KEMARIN-KEMARIN KE MANA AJA!" sentak Jihan.
"Han ...."
"KENAPA? GUE SIAPA BUAT LO?"
"Of course, my best ... friend," lirih Isla lembut.
"Kalau gue sahabat lo, kenapa lo gak pernah ada saat gue butuh? Kenapa lo enggak pernah sadar gue butuh lo? Gue cuma sahabat di mulut lo doang. Kenyataannya lo enggak tahu apa-apa, La."
Isla diam, membiarkan Jihan mencacinya. Ia pikir, mungkin Jihan sedang emosi, kejadian hari ini pasti mengacaukan pikirannya. Lebih baik menerima daripada berdebat dengan Jihan dalam keadaan seperti ini. Kemudian, ia diam membeku menunggu amarah Jihan mereda.
__ADS_1
"Lo ... ga mungkin sadar apa yang terjadi sama gue sebulan terakhir, 'kan? Lo sibuk OSIS, sibuk menyukai kakak kelas itu 'kan?"
Isla akhirnya menatap Jihan kembali. Ia sepertinya belum cerita soal— "Kan? Gue tahu apa yang terjadi sama lo tanpa harus denger dari lo sendiri. Ini namanya sahabat, La. Lo bukan." Jihan berjalan ke luar ruang OSIS sembari membanting pintu, menyebabkan getaran yang berdengung di telinga Isla dalam diamnya.
Mungkin, agak aneh, tetapi Isla tiba-tiba sadar sesuatu. Sebulan ini, kapan ia dan Jihan duduk berhadapan untuk mengobrol terakhir kali? Sepertinya, itu awal bulan lalu. Dia memang sibuk karena baru diangkat menjadi sekretaris di pertengahan semester ini. Kesibukannya membuat ia lupa untuk sekadar bertukar kabar dengan sang sahabat. Konyol, bukan?
***
"Maaf, gue terlalu sibuk sampai lupa untuk setidaknya mengobrol sama lo." Itu pesan Isla saat menemui Jihan di depan pagar rumahnya.
Sebaliknya, teman bicaranya itu justru tergelak. Itu juga konyol di telinga Jihan, sepertinya. "Lupa? Mending lo ngarang alasan lain. Lupa itu bodoh, Isla."
"Gue minta maaf, Jihan. Gue minta maaf karena enggak menghubungi lo, gue pikir lo pasti ngerti kalau gue lagi sibuk. Tapi, harusnya gue enggak seegois itu. Maafin gue, ya?"
"La, lo diem, deh. Bacot banget, sih." Wajah Jihan tampak kesal, alisnya mengerut dan tangannya mengepal seolah tak tahan untuk memukul Isla jika saja ia hilang kendali.
"Han?" Seluruh tubuh Isla tegang dihadapkan oleh amarah Jihan yang tidak sesederhana itu. Sahabatnya bukanlah orang yang semudah itu untuk mengucapkan kata-kata kasar. Ini bukan sahabat yang ia kenal.
"La, kesibukan macam apa yang bisa membuat lo lupa untuk bicara sama sahabat lo? Pikiran lo itu," ujarnya dengan telunjuk pada permukaan dahi Isla, "penuh sama kehidupan baru OSIS yang berkilau dan aroma romansa, sampai hal lain itu sekadar nyempil aja udah ga ada tempat lagi. Terima kasih atas ketidakperhatiannya." Jihan menutup pagar dan berbalik meninggalkan Isla yang memanggil-manggil namanya.
Apa yang terjadi dalam sebulan sampai Jihan berubah sejauh itu? Kenapa? Pertanyaan Isla terjawab oleh berita esok hari yang lebih mencengangkan dari pertengkarannya dengan Jihan. Isla tak 'kan pernah melupakannya seumur hidup.
Jihan resmi telah menetap dalam ruangan khusus di kepala Isla pada hari itu.
Sebuah pengumuman terdengar dari toa-toa sekolah di koridor. Isla yang sedang duduk di kelas menatap kursi Jihan yang kosong itu, jantungnya seolah jatuh diinjak-injak oleh dunia saat mendengar, "Telah berpulang siswi Jihan Andara ke pelukan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kepada seluruh murid untuk mulai berdoa sesuai agamanya masing-masing dipimpin oleh ketua kelas dan guru yang sedang mengajar."
__ADS_1