School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
Strangely, She Cried


__ADS_3

"April pikiran soal diari Isla terus," jujurnya. Isla mendengarkan sambil menepuk pundak April, menenangkan tangisnya.


"Gue udah move on total, Pril. Oh, gue belum cerita ya, gue sekarang lagi deket sama seseorang."


"EH?" April tidak menyangkanya. Isla tidak pernah memberikan aura orang yang sedang pdkt. Yah, kalau orang biasanya akan senyum-senyum atau salah tingkah enggak jelas 'kan? Atau cuma berlaku untuk April doang?


"Kapan-kapan gue ceritain detailnya." Kode kedipan mata ia lancarkan, lalu berdiri meninggalkan April saat Husain berjalan mendekat.


Dua pasangan kekasih itu duduk terpisah dari yang lainnya. Di depan ruang OSIS, Husain menarik dua kursi plastik untuk mereka duduki.


"Duduk, Pril."


"Iya, Kak," sahutnya.


Setelah pantat keduanya duduk mantap di atas kursi, Husain tanpa basa-basi langsung membicarakan topik utamanya.


"Cemburu gue jalan bareng Isla?"


To the point banget seh, kesannya kayak April doang yang deg-deg-an. Eh, emang iya.


April tak menjawab, tapi dengan membaca raut wajahnya saja Husain bisa tahu gadis itu sedikit kesal. Ralat, sangat kesal.


"Maaf. Mau maafin gak?"


"Hadiah," celetuk April tidak nyambung.


"Hm?"


"Hadiah buat April, mana? Kak Husain doang lho, yang belum kasih apa-apa," tagih April sembari menengadahkan tangan tepat di depan wajah Husain. Wajahnya sudah seperti Ibu Kost penagih uang bulanan. Tapi, tak seperti penghuni kost yang ketakutan, Husain justru gatal ingin tertawa.


"Bentar," ujarnya, lalu merogoh saku celana levisnya. "Kok enggak ada, ya?"


Ada aura dingin-dingin yang bikin merinding ya, di sebelah gue, batin Husain.


"Kak," panggil April dengan gigi gemertak, siap mengamuk.


"Bercanda, ya Allah. Canda, April. Ada kok hadiahnya," serem banget pacar gue.


"Ya mana?" Jika satu kali lagi Husain membuatnya kesal, tamatlah sudah, April naik pitam. Namun, tak perlu khawatir, Husain tahu cara menjinakkan kekasihnya.

__ADS_1


"Ini." Dari saku jaket, Husain menarik sebuah kotak hitam kecil seukuran kepalan tangan balita.


Kalau di drama-drama, kotak hitam yang kesannya mewah kayak gitu, biasanya ... "Cincin!"


"Heh, bukaaaan." Husain menggelengkan kepala panik, "Gue belum ada niat mau nikah apalagi tunangan," sambungnya.


"Terus?"


"Buka, deh," pinta Husain menyerahkan kotak itu ke atas telapak tangan April yang terbuka.


Saat kotak itu perlahan terbuka, mata April memicing karena terkena pantulan cahaya matahari dari isinya. Sebuah kalung berwarna perak berliontin mutiara palsu berbentuk hati.


"Ini bahannya dari emas putih. Lebih tahan lama, terus cenderung enggak gatal saat dipakai. Ukurannya yang kecil juga bikin enggak berat dan nyaman buat dipakai."


Perut April tergelitik untuk tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Husain yang kesannya seperti promosi produk, enggak beda jauh sama SPG di mall.


April mengusap air mata di ujung kelopak matanya. "Tau darimana sih?"


"Kata mbak salesnya lah."


Oke, April K.O. Tawanya tak dapat berhenti lagi. Membayangkan Husain mendengar penjelasan Mbak SPG dengan fokus sampai hapal dialog andalan SPG itu untuk menggaet pembeli.


Sejenak, April tertegun, tawanya berhenti seketika. Bodoh. Mudah banget sih, Pril, luluhnya, gerutu April dalam hati. April berdeham menjawab seadanya.


"Dipake dong kalungnya."


"Pakein kalungnya atau hadiahnya gak April terima."


Tanpa ba-bi-bu, Husain menurut bak anjing pada majikannya. Menarik bahu April untuk membelakanginya. Kini Husain dihadapkan oleh punggung gadis itu. Tangannya memakaikan kalung itu pada leher putih April. Harum rambut April yang seperti bau mint, sejuk saat masuk ke penciuman, membuatnya salah fokus.


"Rambut lo harum," pujinya. Pipi April semerah api yang membara tak dapat dipadamkan.


"Pakai sampo apa? Sejuk banget," usai mengatakan itu, Husain mengambil beberapa helai rambut April dan mencium harumnya dalam-dalam.


Duar!


Jantung April meledak. Kembang api maupun bom nuklir kalah akan suara ledakannya.


Serius deh, Kak Husain pakai pelet apa sih? Baru ngambek langsung luluh lagi. Capek April tuh, deg-deg-an terus. Mana Kak Husain kayaknya hari ini dandan pula. Makin ganteng.

__ADS_1


Alay. Lebay. Bucin. Entah predikat apa yang akan diberikan oleh orang yang tahu isi hatinya, April tak peduli. Ia hanya ingin menikmati setiap saat dengan sebaik-baiknya. Karena momen indah itu, hampir tak mungkin untuk terulang.


Husain melepaskan rambut April dari genggamannya. Lalu, menarik bahu April untuk kembali menghadapnya. April secepat mungkin merubah ekspresi malu-malunya, tapi terlambat. Mata Husain sudah menangkap ekspresi April dan disimpan dalam memori.


"Merah banget pipinya." Jari ibu Husain mengusap pipi April gemas.


"Jangan pegang-pegang," ucapnya panik, lalu menepis tangan Husain yang bertengger di wajahnya. Bisa-bisa April masuk ke rumah sakit dan didiagnosis sakit jantung kalau detakan jantungnya lebih cepat dan keras daripada ini. Husain terkekeh dengan telapak tangan menutup sebagian wajahnya.


Tingkah April yang yah, memang kesannya alay dan lebay, yang selalu membuat orang di sekitarnya jijik, bahkan menganggapnya sok imut, justru adalah hal yang paling menghibur di matanya. Entahlah, kegelian atas tingkahnya membuat bibir Husain tak tahan untuk tidak tertawa. Awalnya, bagi Husain, tingkah April itu menggelikan, alay dan semacamnya. Tapi, sekarang ia bahkan tak sempat berpikir seperti itu. Otaknya langsung memberi sinyal kepada mulutnya untuk tertawa.


Bukan April saja yang luluh di sini.


"Kak, cantik gak?" tanya April dengan mata berbinar penuh harap sambil merapikan rambut.


"Cantik."


April tersipu dan menggoyangkan kedua kakinya malu-malu. Kedua telapak tangan menangkupkan pipinya yang hangat.


Tapi, senyum manisnya luntur saat Husain melanjutkan, "Kalungnya cantik."


Tiga detik kemudian, lengan Husain diserang bogeman lemah bertubi-tubi dari kepalan tangan April. Telak. Tawa Husain lepas tak terkendali. Husain tahu jawaban seperti apa yang diinginkan gadisnya itu. Tapi, mukutnya tak semudah itu untuk mengatakannya. Gengsi atau apalah, ada alasan yang tak bisa ia jelaskan.


Serangan terakhir yang menjadi tanda gencatan senjata antara keduanya adalah tendangan kuat dari kak April menuju tulang kering Husain. Sontak, laki-laki itu mengaduh keras. Tulang kering memang salah satu kelemahan semua orang, terutama saat tersandung.


"Awas ya! Kak Husain jahil banget, ih! Suka ya, liat April kesel?" tanya April dengan ubun-ubun yang mengeluarkan kepulan asap (jika ia berada di dunia komik).


"Maaf, Pril. Lucu." Alasan ditolak!


***


"Nostalgianya," ujarnya seraya menikmati hilir angin yang meniup pelan setiap helai rambut panjangnya. Aroma mint yang menyejukkan hidung tercium semerbak. April menarik beberapa helai rambutnya untuk dicium wanginya.


"Hah, aromanya kira-kira berbeda enggak ya, dari hari itu? Samponya sama sih. Semenjak dipuji begitu, gue enggak pernah ganti sampo. Jadi kayak iklan."


"Hah? Jadi duta shampoo lain?" peraga April sembari mengibaskan rambut badainya ke belakang.


April mendongak saat merasakan sehelai daun mendarat di puncak kepalanya. Tangannya meraih daun itu dan mengusap permukaannya pelan.


"Sumpah, waktu itu ulang tahun terbaik gue, 'kan?" Ingatan-ingatan menyerbu April.

__ADS_1


Ia ingin tertawa bahagia saat mengingat salah satu kenangan terbaik dalam hidupnya. But, strangely, she cried.


__ADS_2