School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
9. Interogasi Calon Mertua


__ADS_3

"Dia ini ...." 


"Saya pacar April, Om." Husain mengulurkan tangan hendak menyalin tangan ayah April. 


April malah melotot menatap pacar yang berdiri di sebelahnya ini memperkenalkan diri dengan berani, padahal April gugup setengah mati menyebut statusnya di depan sang ayah. 


Ayahnya masih menjunjung tinggi sopan santun, dengan terpaksa ia mengulurkan tangannya untuk disalim oleh Husain. Dagu ayah April terangkat tinggi seakan itu dapat membuat Husain yang tubuhnya semampai tampak lebih rendah darinya. 


"Kamu bisa nundukan dikit, atau bungkuk gitu? Sengaja kamu ninggi-ninggin badan begitu? Biar kelihatan lebih tinggi dari saya?" 


Bapak kok sensi banget. 


"Tidak, Pak. Faktor keturunan saya emang tinggi." Satu-satunya gadis diantara mereka melongo, jawaban santai Husain yang logis padahal ayahnya sudah menatapnya tajam seperti ingin memakannya. 


"Serius dia pacar kamu, Pril?" Ayah April menghadap sang putri, ingin mendengar jawaban jujur langsung dari bibir anaknya itu. 


Sekilas, putrinya melirik sang pacar genit sebelum menjawab, "Iya, Pak." Mata ayahnya mendelik, lalu bagai Ying dalam Boboiboy, ayah Ap menyerocos dengan cepat. "Kamu kok malah pacaran, Pril? Semester kemaren aja enggak masuk peringkat 10 besar kelas. Udah gitu nilaimu mentok KKM semua." 


Aib April diumbar ke pacar di hari kencan pertama oleh bapak sendiri. Apa ini karma atas kedurhakaan April selama ini? April bermonolog dengan dirinya sendiri. 


Tapi, Husain bagai malaikat tak bersayap, tersenyum dan berkata, "Saya bisa bantu April naikin nilai, Pak. Saya peringkat 3 paralel di SMA." Kurang apa lagi coba, pacar April tuh. 


Ayah April memiliki kepekaan tinggi. Ia mencubit lengan putrinya karena menatap lawan jenis dengan tatapan cinta yang meluap-luap itu. "Hush," peringat sang ayah.


Setelah mendengar peringkat Husain yang cukup membanggakan, alis ayah April naik sedikit, agak meragukan kompetensi Husain sepertinya. 


Entah karena apa, Husain menyebutkan nama lengkapnya sambil mengusap tengkuk. "Saya Husain Ghuzammir, Pak." 


Memori jangka panjang ayahnya, membawanya ke ingatan masa lalu saat pengumuman juara paralel yang diumumkan dengan speaker saat pembagian rapot, sehingga orangtua dari seluruh angkatan dapat mendengarnya. Salah satu nama yang diingatnya sebagai tiga besar di UAS lalu adalah Husain. 


Efeknya luar biasa. Ayah bak dihipnotis atau baru saja kena pelet, karena ia memasang senyum tipis dan bicara dengan nada normal—tanpa intonasi tegas seperti tentara dan polisi. April baru tahu kalau ayahnya itu pecinta nilai. Berhubung kedua anaknya sama-sama punya otak yang tidak memadai, jadi ayah tidak pernah memaksa April dan kakaknya untuk mendapatkan nilai sempurna di sekolah. 


"Oh, kamu anak yang itu. Pinter kamu cari pacar, Pril. Memperbaiki keturunan," ujar sang Ayah dengan senyum miring. Ini pujian, kan? Tapi, kok, April merasa digunjing. 


"Tapi, ingat lho, jangan macam-macam ke anak saya. Termasuk, nyentuh-nyentuh badan anak saya." 


"Ih, kok gitu," celetuk April kecewa. Ia menelan ludahnya saat kedua lelaki di dekatnya kini menatapnya cengo. 

__ADS_1


"Heh, kok kamu yang protes? Pengen dipegang-pegang?!" 


"Ih, mana ada, Yah. Enggak, kok," ngeles April dengan kedua tangan menyilang di depan dada. 


"Awas ya, tak awasi kamu, April!" peringat Ayahnya seraya menunjuk matanya dan mata April bergantian dengan jari telunjuk dan jari tengah, yang artinya, "Mata Bapak selalu mengawasimu." 


Setelah Husain meminta izin pulang dan meinggalkan teras rumah April, sang ayah melingkari pundak putrinya dengan tangan berbulu lebat miliknya. "Cewek tuh, mesti jaga diri. Jangan mau dipegang-pegang cowok. Jangan pula kamu yang inisiatif, April." 


"Iya, Pak." 


"Jangan iya-iya doang, praktekin!" 


"Iya, Pak," jawab April lagi. 


"Udah dibilangin jangan iya-iya aja!" 


"Bukan iya lagi, deh, aye-aye captain!" serunya ala opening Spongebob.  


Begitu masuk ke rumah, pemandangan kakaknya yang jongkok di depan jendela adalah hal pertama yang menjadi perhatian April. Hugo tersenyum pada April dan ayah yang telah berjalan meninggalkan keduanya. 


"Apa sih, Kak Hugo? Bilang aja iri sama April, secara kan Kak Hugo jones." April berjalan menuju dapur, hendak mengambil segelas air. 


"Idih, gue tuh cari yang berkualitas." 


"Kak Husain berkualitas kalee." 


"Oh jadi namanya Husain?" 


"Duh, keceplosan," batin April. 


Ia diam dan menekan tombol biru di dispenser. Menegak air minumnya tanpa memedulikan keberadaan sang kakak yang cekikikan menatap ponselnya. April berdiri dan mengintip layar ponsel Hugo dari balik punggungnya. Tampaklah videonya bersama Husain yang sedang diomeli sang ayah. 


"Ih, Kak Hugo kenapa direkam, sih?" Tangan gadis itu terulur untuk menarik paksa ponsel kakaknya. Namun, ia kalah cepat. Sang kakak memanfaatkan tubuh tingginya dan mengacungkan ponselnya tinggi-tinggi sambil berlarian mengelilingi meja makan. Tak mau kalah, April lari dengan kecepatan super mengejar kakaknya.


"Heh, jangan kejar-kejaran di dalam rumah!" seru sang ibu dari lantai dua sambil melempar sandal jepit mengenai punggung Hugo. April bersorak hore di dalam hatinya. 


"Mampus! Makanya jangan jahil sama adik!" Gadis itu menggunakan kesempatannya untuk meraih ponsel Hugo. Senyuman semringanya luntur dalam sekejap saat melihat layar ponsel Hugo menampakkan sandi pola dengan sembilan titik. 

__ADS_1


"Kok dikunci, sih?!" teriaknya geram lalu memukuli sang kakak hingga Hugo mengaduh dan meneriakkan nama sang ibu. 


"Bu, April nakal!" 


***


Kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Jendela tertutup gorden, lampu mati, tiada ventilasi lain sebagai pencahayaan. Husain menekan sakelar di samping pintu kamarnya untuk menyalakan lampu kamar. Ranselnya ia taruh di bawah meja belajar. Lalu, lelaki itu melepas pakaiannya untuk berganti dengan pakaian yang lebih nyaman untuk dipakai di rumah. Tubuhnya ia baringkan di atas kasur empuk. Husain meraba meja di sebelah kasurnya, mengambil remote AC. Mengatur suhu AC hingga 18°C. Udara sejuk dari AC membuatnya memejamkan mata. 


"Kak, mana tangannya? April mau kasih hadiah."


Mata Husain sontak terbuka lebar. "Kok gue jadi kepikiran?" Husain menatap tangan yang tadi siang digenggam erat oleh kekasihnya. Rasanya aneh. Bibirnya tanpa sadar tersenyum. Menyadari perubahan aneh pada dirinya, Husain menggelengkan kepalanya heboh. Memaksakan diri agar tak memikirkan gadis itu lagi. Ia memejamkan matanya paksa.


Lalu, ingatan akan April yang menyebut temannya—yang ia yakini maksud April adalah Arais—membuatnya menggertakkan gigi. "Astaga, gue kenapa, sih?" Lelaki itu mengacak rambutnya heran. Tangannya menarik guling dan memeluknya erat sambil membenamkan wajahnya. "Tidur aja, deh."


Di sisi lain, April menelepon Citra dan memberi salam heboh diiringi teriakan gembira. Mulutnya mulai menyerocos tentang kisah kencannya bersama Husain, sedari lelaki itu menjemputnya, hingga mengantarnya pulang. 


"Gila sih, Citraaa. April seneng bangeeet. Ih, gimana ya. Pokoknya, Kak Husain tuh bener-bener bisa aja deh bikin April bahagia." 


"Perasaan dia gak ngapa-ngapain," celetuk Citra di sambungan telepon. 


"Kak Husain ga ngapa-ngapain juga April tetep bahagia, hehe." Gadis itu cengengesan sambil mengangkat bantal pink di tangannya ke atas. Menatap bantal itu dalam, seakan di bantal itu terpajang wajah lelaki yang disukainya.  


"Jijik, Pril. Jijik tahu ga!" seru Citra merinding menghadapi  kebucinan sahabatnya yang sudah mendarah daging. 


"Citra iri ya? Iri bilang, bos!" 


"Najong!" 


April tertawa senang seraya memegangj perutnya. "Oh ya, Citra mau April kenalin ke temen Kak Husain gak?" 


"Dih, ogah. Ngapain coba." 


"Ganteng, lho." April mencoba meyakinkan sahabatnya itu. 


"Enggak mau, Pril," putus Citra tak bisa diganggu gugat lagi. 


"Ya udah," jawab April pasrah sebelum mereka memutuskan sambungan telepon. 

__ADS_1


__ADS_2