
"Seluruh murid diharapkan berkumpul ke tengah lapangan, untuk acara api unggun!" suara Pembina terdengar melalui speaker di seluruh penjuru sekolah.
April masih agak lemas setelah uji nyali satu jam yang lalu. Uji nyali dimenangkan oleh dua kelas dari jurusan IPS kelas 11, satu jurusan IPA kelas 10, dan satu jurusan IPS kelas 10. Menurut pengakuan teman sekelas April yang juga menemukan bendera putih tertancap di pohon beringin, bendera itu kosong tanpa tulisan alias zonk. Untung saja, April tidak nekat menghadapi hantu tadi hanya untuk mendapatkan bendera kosong itu.
Ia berjalan bersebelahan dengan Citra menuju ke tengah lapangan, tempat api unggun disulut oleh kakak pembina. Kondisi sudah cukup ramai. April bisa melihat Husain duduk terdepan, dekat dengan api unggunnya. Kepala April tidak memikirkan apa pun saat kakinya bergerak sendiri menuju tempat Husain duduk. Tangannya segera dicekal oleh Citra dan ditarik untuk duduk di belakamg bersama Isla yang sudah berkumpul di sebelah teman sekelasnya.
"La, duduk sini ya, kita?" tanya Citra sembari mengangkat genggaman tangannya pada lengan April.
"Duduk aja, Cit. Nih, sebelah gue." Tangannya menepuk permukaan lapangan di sebelahnya.
Citra berterimakasih dan memaksa April untuk duduk anteng. Tangan April bahkan ditahan kuat-kuat oleh Citra, agar gadis itu tak punya kesempatan kabur untuk bersama Husain. "Kebucinan April harus diatasi," pikir Citra.
Fiki, pembina yang notabenenya juga teman dekat Husain, membawa gitar di tangannya. Ia duduk di depan bersama Husain. Ia mengecek bunyi gitar sebelum mulai bermain.
"Ada yang mau request lagu?"
Seorang siswi mengacungkan tangan. "Kesempurnaan Cinta by Rizky Febian, dong, Kak!" serunya.
Fiki berbisik pada Reno, meminta lelaki itu untuk mencari kunci gitar lagu yang diminta oleh siswi itu. April menunggu sembari bertopang dagu, di sebelahnya, Citra dan Isla mengikuti posenya kompak.
Petikan pertama telah dimainkan oleh Fiki.
"Kau dan aku tercipta oleh waktu
Hanya untuk saling mencintai
Mungkin kita ditakdirkan bersama
Merajut kasih menjalin cinta," suara renyah bariton milik Fiki membuat mereka terutama para siswi terbawa perasaan, baper.
Husain ikut membuka ponsel dan mengetikkan lagu Rizky Febian yang berjudul Kesempurnaan Cinta itu. Setelah liriknya muncul, Husain mengiringi permainan gitar Fiki dengan nyanyiannya.
April melenyot. Ia terperangah dengan mulut membeo. "Bagus banget, MasyaAllah, jodoh April."
"Berada dipelukanmu
Mengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan cinta
Berdua bersamamu
Mengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan cinta."
"Kesempurnaan cintAaa," senandung April, fals, memaksakan diri untuk mengikuti nyanyian kedua lelaki di depan sana. Suaranya membuat banyak orang menoleh dan tertawa. Citra bahkan menutup wajahnya sembari bergumam, "Bukan temen gue. Bukan temen gue."
Sesi bernyanyi bersama berlangsung menyenangkan. April menikmati setiap petikan gitar Fiki dan nyanyian yang keluar dari mulut Husain.
"Itu," tunjuk Isla tiba-tiba, ke arah siswa kelas sebelas berpotongan rambut undercut, dengan tahi lalat di bawah mata kirinya.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Citra.
"Gue pernah cerita ada cowok yang lagi deket sama gue 'kan, Pril."
"Oh, iya, waktu itu! Jadi ... dia?" tunjuk April ke arah siswa yang ia kenali sebagai Reno, salah satu teman dekat Husain. Isla mengangguk.
"Jangan khawatir lagi, oke?" Pipi April bersemu saat mengiyakan ucapan Isla.
***
Duduk di depan menggantikan Husain dan Fiki, Nina membawa senter redup di tangannya untuk sesi cerita seram. Gadis itu memulai dengan perkenalan sebelum mulai menceritakan orientasi ceritanya. Sesi ini dipelopori oleh dirinya sendiri. Kesan seram dan misterius selalu menyertai Nina. Apalagi, kulitnya yang putih pucat, rambutnya yang panjang lurus dan hitam legam. Salah-salah, orang bisa mengiranya hantu jika ia berkeliaran mengenakan gaun putih.
"Ini kisah tentang seorang siswi di sebuah SMA yang terletak di Tangerang. Gadis itu mengalami perundungan di sekolahnya. Meja penuh dengan makian dari tinta spidol. Satu hari sebelum ulang tahunnya, teman sekelas gadis itu memintanya untuk datang ke pohon beringin di belakang sekolah."
"Kok, kayaknya gue pernah denger ya, cerita ini." April yakin ia mendengar cerita ini belum lama.
"Ini cerita Kak Nina di UKS tadi, bodoh."
"Lah, berarti, pohon beringin sekolah kita, dong."
Bersamaan dengan anggukan Citra, April memeluk tubuhnya yang seketika merinding sepanjang kelanjutan cerita seram yang Nina bawakan. Bahkan, setelah Nina menyelesaikan ceritanya, ia masih merinding.
"Serem, Cit."
"Setuju."
Satu per satu siswa-siswi ditunjuk untuk membawakan cerita seram ke depan. Sampai ada adegan tarik-menarik hanya untuk membuat salah seorang siswi maju ke depan. Yang justru, membuatnya semakin malu dibanding maju biasa.
"Citra! Gue takut cerita serem, enggak bisa cerita apa-apa," kilah April sembari mrncoba melepaskan diri dari genggaman tangan Citra.
"Gue gak tanggung jawab kalau ada yang kencing di celana," pungkas Isla, pasrah dibawa oleh Citra.
Mendadak, ketiganya menjadi pusat perhatian murid-murid di tengah lapangan. Citra menangkupkan tangan dan mencoba tampak semisterius mungkin.
"Seorang wanita memelihara burung beo di rumahnya," karang Citra mendadak. Entah dapat ide darimana.
"Burung beo itu selalu menirukan ucapan seseorang setelah mendengarnya. Burung beo itu sangat pintar. Setiap malam, setelah wanita itu pulang bekerja, burung beo itu selalu mengucapkan 'selamat datang' pada pemiliknya. Padahal, wanita itu tak pernah mengucapkan itu pada burung beo," ceritanya dengan tangan di atas, bergerak-gerak tidak jelas seperti gayanya saat presentasi.
"Itu tidak menakutkan. Tapi, membingungkan," batin April.
Cerita Citra ditutup oleh keheningan. Sepertinya, banyak orang setuju dengan April di dalam kepala mereka.
"Ceritanya kudapat dari riddle yang bertebaran di media sosial. Mayan, 'kan?"
Isla mengangguk-angguk saja, mungkin tulus, tetapi bisa jadi untuk membuat Citra senang saja.
***
Langit telah menggelap dan bulan tertutup oleh awan tatkala April mengucek matanya karena mendadak terbangun. Aroma popmie terhidu masuk ke penciumannya. April bangkit dan berjalan mengikuti penciumannya, menuju sumber aroma itu. Mata April telah terbuka lebar saat kakinya sampai di tengah lapangan, lima meter dari api unggun yang masih menyala. Di sana, duduk lah Husain yang mengaduk bumbu popmie hingga merata.
"Kak Husain belum tidur?" Kemunculan April yang tiba-tiba membuat Husain terkejut sampai tersedak saat meminum kuah popmie.
__ADS_1
"Lo sendiri?" tanyanya setelah meminum setengah botol air mineral.
"Kebangun. Kayaknya gara-gara bau popmie, deh." April mengucek sebelah matanya lagi. "Kak Husain belum jawab," sambungnya.
"Gue abis selesai kumpul-kumpul bareng kakak-kakak yang lain," terangnya sembari menyuapi mulut dengan segarpu mie.
April memerhatikan Husain dengan seksama. Lelaki itu gemetaran dengan kaki yang saling menggesek meski telah dibalut kaus kaki tebal. April berlari menuju tendanya untuk mengambil selimut.
"Nih, Kak." April membentangkan selimut itu di atas kaki Husain yang gemetar.
"Ma-makasih," ucap Husain tergagu. April mengambil tempat di sebelahnya untuk diduduki. Menggesekkan telapak tangan untuk menghangatkan tubuh.
Husain melihat tindakannya dan menawarkan, "Barengan aja, yuk." April menurut dan menarik ujung selimut untuk menutupi tangan dan kakinya. Wajahnya merona kemerahan, karena dalam kepala April, adegan ini seperti adegan film romansa barat.
Mata April yang terkantuk-kantuk, berubah memicing saat melihat rambut panjang ke luar dari kaca perpus yang berjarak sekitar 15 meter dari tempat mereka duduk.
"Hiii," pekik April kala melihatnya.
"Kenapa? Apa? Tuyul? Kunti? Genderuwo?" tanya Husain beruntun dengan wajah panik.
April menunjuk wanita berambut panjang dengan gaun putih terlampir di tubuhnya itu. Husain mengikuti arah telunjuknya dan hanya bisa menelan ludah dan mengangkat selimut.
Satu,
Dua,
Tiga.
Kompak, seperti menghitung dalam telepati, keduanya berlari kabur ke arah ruang OSIS sembari menjerit dalam kebisuan. Di pundak keduanya, selimut berkibar seiring langkah mereka yang cepat, membuat mereka tampak seiras dengan superman.
Ruang OSIS tinggal selangkah lagi. Begitu sandal swallow April mengijaki koridornya, April berhenti dengan napas terputus-putus.
Kepalanya menoleh ke sebelah kanan, Husain yang ngos-ngosan dan wajah pucat memantul dari pupil cokelatnya.
"Kak Husain takut hantu juga?" tanya April kepo.
"Enggak. Kaget doang tadi," kilah Husain seraya melambaikan tangan di depan wajahnya mengelak. Suara perempuan berbisik di belakangnya, dengan napas yang meniup tengkuknya hangat. "Bohong, tuh."
"GRAAHH," teriakan mempesona itu terdengar dari mulut Husain yang menganga lebar. Kedua tangannya terkepal di depan dada rapat, seperti gadis manis.
Sontak, Husain dan April menoleh dengan mata nyalang. Tangan Husain memegangi tengkuknya sambil menatap horror gadis berambut panjang yang mirip dengan wanita yang mereka lihat tadi.
"Hai," sapa Nina. Nina beralih menatap April. "Cowok lo emang takut hantu, Pril," ungkapnya. "Gengsi doang. Makanya, gak mau jujur."
Husain menggeram, gatal ingin menyekik dan memotong lidah Nina yang seenak jidat mengungkapkan rahasianya.
April mengangkat alisnya, cukup kaget akan fakta yang ia dengar baru saja. Gadis itu menatap kekasihnya di sebelahnya. Menepuk lengan Husain santai. "Kak Husain kalau takut sesuatu bilang aja. Sememalukan kayak gimana pun, April tetep cinta."
Tatapan Husain kosong, ekspresinya datar. Tanpa pamit dan menoleh ke belakang, Husain berjalan menuju tendanya. Bukannya merasa perkataan April romantis, justru ia merinding sampai mau mual. Meski terbesit sedikit kelegaan karena April tidak tampak terganggu setelah tahu ia takut makhluk gaib dan kawan-kawannya.
April mengejar Husain setelah memberi salam perpisahan pada Nina. Ia kaitkan tangannya dan tangan Husain. Malam itu, Husain mengantar April hingga memasuki tenda siswi kelasnya.
__ADS_1