
Jam istirahat pertama. Semalam, April sempat bertukar pesan dengan Husain. Lelaki itu, mengajaknya belajar bersama di perpustakaan pada jam istirahat pertama. Tak perlu tunggu apa-apa lagi, April melesat menuju perpustakaan membawa dua buku cetak dan satu coret-coretan. Pintu perpustakaan dalam keadaan terbuka sebagian. Nina tidak duduk di kursinya.
April masuk setelah melepas sepatu dan menaruhnya di dalam rak di sebelah pintu masuk. Mengambil kursi di depan jendela. Saat mendongak, April melihat pphom beringin yang daun-daunnya berjatuhan. Mengingatkannya pada malam uji nyali. Ia menggelengkan kepala kuat, mencoba mengenyahkan ketakutannya.
"Tumben ke perpus," ucap seseorang yang familiar di telinga April. Gadis itu berbalik, kemudian dihadapkan oleh Nina yang di tangannya penuh buku-buku tebal.
"Eh? Mau kubantu?"
"Boleh," sahut Nina. April mengambil sebagian buku-buku itu dari tangan Nina, kemudian mengikuti ke mana gadis itu menaruh buku-buku ini. Buku-buku yang jumlahnya tiga puluh empat itu ditumpuk di atas meja yang terletak di sebelah meja komputer perpustakaan, tempat Nina biasa duduk.
"Untuk apa, Nin?"
"Ini buku-buku lama. Kondisinya udah lumayan parah. Mulai dari sampul yang hilang, halaman yang robek dan lain-lain. Gue mau cek buat lapor ke guru. Kalau kondisinya udah parah banget terpaksa dibuang sih, biasanya."
"Sayang banget."
"Memang. Tapi, kalau halaman tidak lengkap juga pembaca tidak puas saat membaca bukunya. Informasi yang diberikan juga tidak lengkap, jadi lebih baik dibuang, kadang kalau masih bisa ditolerir akan dibagikan gratis ke perpustakkan berjalan atau panti. Kata guru sih, begitu," jelas Nina.
"April baru tahu begitu cara kerja perpustakaan."
"Enggak semuanya. Sekolah kita aja yang ketat masalah perpus begini," ungkapnya, bersamaan dengan pintu perpus yang terbuka dan menampilkan sosok yang ditunggu-tunggu April.
"Pril," panggil Nina.
"Iya, Kak?"
"Husain bakal pergi ke luar kota, atau ke mana gitu?"
"Enggak."
"Tolong, kabarin kalau Husaim mau pergi ke luar kota." April enggak mengerti, tapi ia hanya memberi tanda oke dengan tangannya.
Husain duduk bersebelahan dengannya dan sesi belajar di mulai.
***
Dering telpon menginterupsi kekhusyukan Husain dan April belajar. Ponsel Husain yang berdering keras, membuat Nina menaruh perhatian pada mereka dan menyuruh mereka diam dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, kemudian menunjuk poster yang bertuliskan, 'Jangan Berisik'. Nina membawa ke luar buku-buku di atas meja, bersamaan dengan Husain terpaksa ke luar perpustakaan, membiarkan April berkutat sendiri dengan bukunya. Tak lama, lelaki itu kembali setelah menutup telepon.
"Kenapa?"
"Besok gue bakal ke Bandung," ungkap Husain sembari memasukkan gawainya ke dalam saku celana.
"Kok tiba-tiba banget?"
"Perwakilan organisasi dari Tangerang harusnya bukan gue, tapi perwakilan yang terpilih sebelumnya tiba-tiba ngabarin kalau dia sakit DBD sampai dirawat di RS. Jadi, terpaksa gue gantiin, deh."
April langsung teringat Nina. Gadis itu sudah tidak ada di kursinya. Kadang, ia penasaran apa Nina memiliki darah cenayang. Baru tadi ia bertanya apa Husain akan pergi ke luar kota atau tidak, sekarang sudah kejadian. April hari ini tidak membawa ponsel ke sekolah, dia juga sepertinya tidak akan punya kesempatan menyampaikan ini pada Nina karena bel masuk kelas telah berbunyi. Mungkin, nanti setelah sampai di rumah, ia akan mengirimkan pesan pada Nina.
***
April mamasuki kamarnya untuk mengambil handuk dan sabun muka. Ponselnya yang terletak di atas meja, mengalihkan perhatiannya sesaat. Seperti, ada yang ia lupakan.
"Oh, iya. Chat Kak Nina, untung inget." April menepuk dahinya sendiri. Jarinya bergerak lincah di atas keyboard. Pesan terbarunya terkirim pada pukul 5:58.
__ADS_1
Kak Husain bkal brngkat ke Bandung bsk, ktany.
April mematikan ponselnya, lalu turun tangga untuk pergi ke kamar mandi. Butuh waktu lima belas menit untuk menyelesaikan ritual bersih-bersihnya di kamar mandi. Rambutnya yang masih basah pelintir di dalam handuk biru yang terpasang di atas kepalanya.
Bertepatan dengan dorongan April pada kenop pintu kamarnya, dering notifikasi terdengar. Notifikasi pesan dari Nina. April membuka aplikasi bertukar pesan hijau itu dan menekan kontak Nina. Tampaklah pesan darinya.
^^^Kak Nina ^^^
^^^Tahan dia ke Bandung sebisa mungkin. ^^^
Kenapa?
^^^Ada yang aku perlu. ^^^
Pesan balasan itu terkirim berselang dua menit setelah pesan terakhir yang April kirim.
Knp g lgsg bilg ke Kak Husain aj, Kak Nina?
^^^Kalau denganku dia belum tentu mau nurut. Tolong. ^^^
Balasan itu membuat April jadi agak malu.
^^^Btw, balasnya jangan pakai singkatan. Aku kurang bisa. ^^^
April cukup terkejut mendengar sisi lain dari Nina yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Mungkin, Nina termasuk di antara beberapa orang yang kaku, terutama di media sosial, pikir April.
Okay.
April usahain, Ka
Baiklah, April pusing tujuh keliling setelah mengatakan itu. Argh, dia agak menyesal setuju melakukannya. Awalnya, ia pikir, ia ingin menolong Nina untuk membalas kebaikannya. Tapi, kalau membalas dengan cara ini pasti sulit, terutama dengan kepribadiannya yang seperti ini. Pengecut parah.
Beranikan dirimu, April! Ke mana keberanianmu saat menyatakan perasaan pada Kak Husain dulu?! soraknya pada diri sendiri. Sisi dirinya yang lain menjawab, Keberanian April udah tenggelam. Di telan paus!
Sisa keberaniannya yang sekecil upil itu, cukup untuk membuat April melakukan langkah pertama. Yaitu, menelepon Husain.
"April?" kata pertama Husain setelah telepon tersambung.
"Iya, Kak," jawab April santai padahal jantungnya sedang remix-an.
"Kenapa nelpon?"
Ya Allah sungguh indah suara makhlukmu ini.
April menampar dirinya sendiri karena salah fokus.
"Kak, berangkat ke bandungnya jangan besok, bisa gak?" April ingin bertepuk tangan saat ia sadar, ia baru saja keceplosan menyatakan tujuannya secara gamblang tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Terdengar tawa pelan di seberang sana. "Ya mana bisa sih, Pril," sahut Husain dengan sisa tawanya. "Ini kan organisasi," sambungnya.
"Enggak bisa banget, ya?"
"Iya. Kenapa? Kangen?"
__ADS_1
Astaghfirullah, kok malah gombal. Fiks, pipi April pasti merona sekarang. Susah emang jadi bucin.
"Enggak apa-apa," jawab April pada akhirnya. Tak lama, karena topik obrolan yang habis, juga Husain yang harus mengurus beberapa hal tentang organisasinya, sambungan telepon diputus entah oleh siapa.
April berbaring di atas kasurnya. Menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi jaring laba-laba dan nyamuk yang beterbangan. Lamunannya membuatnya tertidur tanpa sadar.
***
Ada orang lain yang juga tertidur. Namun, kondisinya mungkin berbeda.
"Ah!" jerit Nina saat tiba-tiba matanya seketika terbuka lebar setelah terpejam selama tiga puluh menit. Napasnya cepat dan kulitnya berkeringat, seakan ia baru saja mendapat mimpi buruk. Tapi, tak sedikit pun potongan mimpinya, Nina ingat. Yang ia tahu, dia harus membuat Husain menunda keberangkatannya ke Bandung.
Tangannya meraba meja di sebelah kasur, meraih batangan pipih miliknya. Begitu menyentuh ponselnya, Nina segera menelepon nomor April. Ada sesuatu yang harus ia cegah. Mimpinya tidak memberikan kejelasan. Namun, rasa tidak nyaman di hatinya ini, tidak mungkin salah.
Saat terdengar nada tersambung, Nina segera berkata, "April, kamu bisa pergi ke Bandung sekarang? Tolong. Husain, mungkin akan terjadi sesuatu padanya. Kumohon." Harus ada lebih dari satu orang yang menolong. Ia sendiri tidak tahu apa ia mampu.
"Sekarang, Kak?"
"Please. Something might happen to him. Dia mungkin akan lebih mendengarkanmu."
Meski hanya dari ponsel, April bisa merasakan intensnya kekhawatiran Nina. Sampai gadis itu jadi ikutan gemetar. Sekarang, ia takut. Teleponnya dengan Nina segera ia tutup, berganti dengan kontak Husain tampak di layarnya berdering.
"Kak, tolong, tunda aja keberangkatannya. Plis," mohon April langsung saat telepon sudah tersambung.
"Kenapa, Pril? Jangan aneh-aneh." Husain bingung kenapa kekasihnya membahas ini lagi. Ia pikir, sudah tuntas diskusi mereka.
"Plis, penting banget."
"Gak bisa, April. Gue berangkat bareng perwakilan lain, naik bus," jelasnya.
"Begitu, ya. Maaf."
Kepala April rasanya ingin meledak. Ia harus mencari cara untuk menunda keberangkatan Husain. Apa pun caranya. Perkataan Nina seolah merupakan titik penting. Ia tidak bisa mengabaikan kalimat itu. Sesaat pikirannya dikuasai itu, April mendapat ide.
"Kak, beliin jajanan di Thamrin City Jakarta, bisa?"
"Bisa. Entar pas gue pulang, gue bawa buat oleh-oleh."
"Eh? Enggak! Belinya pas berangkat."
"Ya, mana bisa, sih, Pril. Kan, aku udah bilang, aku berangkat bareng perwakilan lain."
"Plis, Kak. Yah?"
"Ya, udah, iya. Karena Jakarta dan Tangerang kota pertama yang dilewati busnya, harusnya bisa."
"Makasih banyak, Kak!"
Telepon ditutup. Jawaban Husain tadi setidaknya sedikit meredakan beban pikirannya. Yah, seharusnya dia sudah bisa tenang.
Tapi, begitu matahari terbit, April kembali gelisah. Seakan dikejar waktu, April ke luar kamar setelah selesai mandi pagi. Kakinya berlari menuju pintu kamar sang Kakak satu-satunya. Norma kesopanan melayang entah ke mana, April mendobrak pintu kamar kakaknya. Hugo yang sedang mabar menatapnya dengan kernyitan dahi.
"Buka pintu biasa aja, bisa ka—"
__ADS_1
"Kak, anter April ke Thamrin City!" potong gadis itu dengan kedua tangan terkepal di depan dada.