School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
Deja Vu


__ADS_3

Waktu itu bulan April, saat Nina pertama kali bertemu April, anak kelas 10 yang melompat kegirangan dengan anehnya hingga memeluk pohon beringin itu dengan senyuman di wajahnya. Nina berpikir itu konyol. Ucapan April setelahnya membuatnya terdiam, mencerna sesuatu.


"Makasih, lho. Kebohongannya beneran jadi nyata, ternyata," ujar April sebelum pergi menjauh.


Nina seakan pernah mendengar perkataan itu sebelumnya. Aneh. Dari kalimat April itu pula, Nina tahu, gadis itu pasti memercayai mitos sekolah tentang pohon beringin dan kebohongan di tanggal 1 April.


Pertemuan kedua, di koridor kelas X IPA. Gadis itu menatap kagum ke arah lapangan. Entah kenapa, Nina bisa menebak siapa yang April lihat di antara belasan siswa kelas sebelas di lapangan.


"Sumpah, Kak Husain kalau diliat-liat makin ganteng. Pacar April ker—" Tebakannya benar.


"Kebohonganmu jadi nyata ya," ujar Nina tepat pada telinga April, hingga menghembuskan napas hangatnya di sana. Seperti dugaan, April terperanjat dan hampir jatuh dari kursinya. Nina tak tahu bagaimana ia bisa menduga hal itu.


"Kakak siapa?" Ada yang bicara dalam pikiran Nina. Ia yakin ini suara April, gadis di hadapannya. Tapi, gadis ini belum menggerakkan bibirnya. Otak Nina belum mencerna semuanya dengan jelas, ketika bibirnya terlebih dulu membalas pertanyaan di pikirannya itu. "Aku Nina dari XI IPS 5." 


"Aku belum tanya, sih." "Kau sudah bertanya di pikiranku," balas Nina dalam benaknya.


"Belum artinya akan, kan?" tanya Nina retoris dengan nada kaku bak robot.


"Kenapa ... " —kok ngomong gitu?"


Lagi-lagi, ada yang berbicara di pikirannya. "Aku melihatmu saat di pohon beringin di balik kaca perpus," pungkasnya. April di hadapannya bahkan belum menyelesaikan kalimatnya. Tapi, orang yang berbicara di pikirannya seakan tahu apa yang akan ke luar dari bibir kecil April.


Gadis itu kini melongo menatapnya. Wajahnya memerah tak lama kemudian.


"Kalau begitu, kau percaya mitos itu sungguhan?"


"Dibilang percaya sih, enggak juga ... ya." "Ah, dia mengelak," pikir Nina.


"Enggak perlu bohong. Udah pasti percaya, kok. Syaratnya begitu."


"Syarat?" "Dia tak tahu," batinnya.


"Syarat mitos itu ada dua, pertama, harus percaya mitosnya beneran, kedua, harus dilakukan tanggal 1 April."


"Eh, ada yang begituan, toh?" Nina mengangguk.


"Darimana Kak Nina tahu?" Suaranya lagi.


"Ada artikelnya di blog berita SMANDUGA." April bahkan belum mengeluarkan suara sama sekali untuk mengungkapkan kata-kata yang ada di pikirannya saat Nina selesai mengatakan itu.


Kali ini, Nina enggan untuk mendengar ucapan selanjutnya dari suara di pikirannya. Ia hendak meninggalkan April, tapi mulutnya entah kenapa gatal untuk berkata, "Semoga lancar hubungannya. Jaga dia baik-baik." Nina tak paham maksud ucapannya sendiri. Tapi, ia merasa bahwa kalimatnya benar, tanpa perlu memahaminya.


"Kalau butuh bantuan tentang mitos itu, cari saja aku."


Deja vù. Nina yakin sekali ia sudah pernah melihat adegan barusan dari awal hingga akhir. Tapi, di mana?


***


Sebenarnya, keanehan itu dimulai setelah pertemuannya dengan April. Bahkan, setelah hari itu, ia semakin sering mengalami kejadian aneh.


Hari terakhir persami. Nina bertugas mengembalikan alat-alat kebersihan yang tadi dipakai teman-teman sekelasnya. Nina hendak menutup gudang saat telinganya tiba-tiba berdengung dan terdengar suara seseorang menangis.


Nina membuka pintu gudang kembali, terlihat sebuah bayangan hampir transparan seorang gadis yang memeluk lututnya sambil menangis. Setelah Nina mengerjapkan matanya, bayangan itu hilang. Aneh. Belakangan ini ada yang aneh dengan pikirannya. Tak sekali-dua kali ia membayangkan hal yang tidak terjadi. Ralat, belum terjadi. Karena, tak lama setelah itu, kejadian yang dibayangkannya tak jarang menjadi kenyataan.


Nina berbalik dan hendak kembali ke kelasnya. Di koridor kelas X IPS, gadis yang bayangannya menangis di dalam gudang sedang berjalan membawa dua sapu dan satu serok di tangannya. Ah, Nina bisa gila. Ada apa dengan isi kepalanya? Apa April benar-benar akan menangis di dalam sana? Kenapa? Ia bahkan tidak memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu saat tubuhnya tergerak untuk mendekati April.


Saat melewati kelas X IPS 3, terdengar suara tangis seseorang. Sedikit lirikan tajam saja Nina bisa tahu siapa yang ada di dalam sana. Mungkin, mereka lah penyebab tangisan April. Nina tak tahu alasan apa yang mendasarinya bersikap seperti ini, tapi ia merasa tak punya pilihan lain selain melakukannya.


"Kak Nina ngapain?" tanya April setelah mereka berjarak sekitar lima langkah.


"Habis dari gudang kebersihan," sahut Nina cepat. Ia harus mencari alasan untuk membuat April tidak melewati kelas itu. Nina melihat dua tongkat sapu dan satu serok di genggaman tangan April. Baiklah, dia bisa menggunakan tiga benda itu sebagai alasan.

__ADS_1


"Aku yang bawa ke gudang kebersihan aja, gimana?" tawar Nina mengulurkan tangannya.


"Eeh, gak usah. Ngerepotin."


"Enggak apa-apa, April."


"Enggak, pokoknya April balik—"


"Tadi, gue lihat Husain digodain cewek-cewek," pungkas Nina, tiba-tiba ide berbohong muncul saja di otaknya.


"Di mana, Kak?" "Bagus, dia terpancing," batinnya.


"Di taman."


"Taman ... jaraknya lumayan jauh dari sini," gumam April seraya menggigit bibir, kakinya bergerak tidak sabaran.


"Makanya, gue aja yang balikin. Lo jagain Husain aja." "Mau, Pril. Kakak mohon."


"Duh, maaf banget ngerepotin Kak Nina. Tapi, April harus memberantas cewek-cewek ganjen!" ujar gadis itu, lalu menyerahkan dua sapu dan serok di tangannya ke Nina.


Nina meghela napas pelan, sedikit lega. Ia melewati koridor kelas X IPS 3 saat terdengar suara orang mengatakan, "Sahabat gue pacaran sama orang yang gue suka, terus gue mesti gimana?" disertai tangis tersedu-sedu. Nina melewati kelas itu dengan kepala lurus dan tanpa ekspresi.


***


Keanehan pada diri Nina tak berakhir di situ. Kali ini, ia bisa menebak Husain akan pergi ke luar kota besok. Itu terbayang olehnya saat tak sengaja tertidur sebentar saat menyusun buku-buku. Firasatnya buruk. Sepertinya akan terjadi sesuatu jika Husain tetap pergi ke luar kota.


Suara pintu yang dibuka oleh seseorang mengalihkan perhatian Nina. Gadis itu mengambil tumpukan buku yang ia ambil dan diangkatnya menuju meja tempatnya bekerja sebagai penjaga perpustakaan. April dengan buku di tangannya masuk ke dalam.


Menyadari kesulitan Nina, April membantunya dengan senang hati. Setelah selesai menatanya di atas meja, Nina menatap April sejenak. Ada yang harus ia katakan, pikirnya tanpa tahu yang ingin dikatakannya. Nina curiga, ia mulai gila.


"Pril," panggil Nina. 


"Husain bakal pergi ke luar kota, atau ke mana gitu?" Mengapa ia menanyakan ini?


"Enggak." 


"Tolong, kabarin kalau Husain mau pergi ke luar kota." Memang kenapa jika Husain akan pergi ke luar kota. Dia bukan maniak ramalan, bukan tuhan, bukan utusan tuhan, bukan siapa pun yang bisa membaca masa depan.


Ini konyol. Namun, Nina merasa bahwa mimpinya nyata. Ia harus mengubahnya dengan cara apa pun.


Sebuah pesan dari nomor April menjadi notifikasi teratas di layar ponsel Nina.


^^^Kak Husain bkal brngkat ke Bandung bsk, ktany. ^^^


Tahan dia ke Bandung sebisa mungkin. 


^^^Kenapa?^^^


Pikirkan alasannya, Nina. Tidak mungkin 'kan dia bilang kalau firasatnya buruk, jadi Husain harus dihentikan. Itu tidak masuk akal. Dan April mungkin tak akan terdorong untuk membantunya.


Ada yang ak perlu. 


Jawaban singkat yang agak ambigu itu adalah satu-satunya yang bisa Nina pikirkan saat ini.


^^^Knp g lgsg bilg ke Kak Husain aj, Kak Nina?^^^


Kalau denganku dia belum tentu mau nurut. Tolong. 


***


Jam dinding menunjukkan pukul 16:24, tatkala Nina terbangun dari tidurnya dengan tubuh berkeringat dingin. Mimpi buruk. Nina memukul kepalanya kuat. Seakan itu bisa mengeluarkan sesuatu yang membantu.

__ADS_1


Apa yang terjadi di mimpi itu?


Meski tak ingat dengan jelas, tangannya segera meraih ponsel untuk menelepon satu orang, yang ia tahu pasti mau menolong-nya juga. Jika berhasil, sesuatu mungkin berubah. Mimpi itu sepertinya adalah bencana, tidak boleh terjadi, harus dicegah. Walau alasannya tidak jelas, semoga gadis di seberang sana mendengarkannya dengan baik. Setelah selesai menghubungi gadis itu, Nina berlari menuju kamar sepupunya, Arais. Tangannya menggedor kamar itu, memukul-mukulnya kuat. Pemilik kamar keluar dengan rambut berantakan dan wajah kesal yang tidak ditutupi.


"Apa? Enak-enak tidur siang, juga."


"Pertama, ini udah sore. Kedua, kamu harus antar aku ke suatu tempat." Nina mencoba untuk mengulang kembali mimpinya. Mengotak-atik ingatannya, mencari bagian yang berisi mimpi itu. Pasti ada sesuatu yang ia ingat.


Ah, benar. Bayangan peristiwa di mana Husain di rawat. Rumah Sakit Umum Bunda. Tak salah lagi, di sanalah tempatnya. 


"Siap-siap sebelum pukul enam. Antar gue ke Jakarta."


Ini bukan jam jenguk. Namun, tak masalah, orang yang ia cari masih belum datang. Arais terpaksa mengikuti kehendak Nina yang dianggapnya tanpa alasan. Ia telah memiliki SIM karena sebenarnya satu tahun lebih tua dibanding usia anak kelas 11 pada umumnya.


Di tempat yang diminta Nina, mereka memarkirkan mobil. Entah apa yang ditunggu, Arais berbaring di atas kursi mobil sambil memainkan ponselnya.


Nina menatap lurus di jalan hingga terlihat sebuah ambulans diparkir masuk di depan pintu rumah sakit. Perawat membawa pasien ke luar setelahnya.


Bukan itu yang ia tunggu.


"Ck, ngapain sih, ke sini? Mau jenguk orang tapi lo gak keluar-keluar," gerutu Arais di kursi supir.


"Kau akan menyesal jika tak ikut, bego." Arais terperangah, itu pertama kalinya ia mendengar Nina berkata kasar semenjak mereka beranjak remaja.


Seseorang ke luar dari mobil merah Brio. April bersama seorang lelaki yang tak ia kenali.


"Masuk, Ar," ujar Nina sambil membuka pintu mobil. Sepupunya gelagapan karena perintah tiba-tiba itu.


Keduanya mengawasi April yang duduk di kursi di depan kamar nomor 104.


"Kita jenguk siapa, sih, Nin?"


"Husain."


"Ha? Canda lu, ya? Husain tuh ke Bandung."


"Kecelakaan."


"Yang bener? Kok gak ada berita dari guru atau siapa gitu?" Arais masih tak percaya.


"Bukan gak ada, memang belum."


"Terus, kok lo yakin banget Husain kecelakaan?"


"Liat ambulans yang tadi? Mereka bawa Husain." Nina mulai jenuh menjawab pertanyaan-pertanyaan Arais.


"Kok lo tahu?"


"Ck, matamu buta? Liat. Ada April. Kau pikir dia menunggu siapa? Ya, pacarnya," murka Nina. Oh, meski dibilangnya marah, nada bicara Nina masih datar tanpa perubahan intonasi. Hanya urat-uratnya saja yang kelihatan mengeras.


"Ha? Aneh lu. April bisa jadi nunggu keluarganya—"


"Sst, diam." "Halah, banyak juga alasan yang mesti dibuat kalau ngajak Arais."


Setelah lelaki yang bersama April meninggalkannya, Nina menarik tangan Arais untuk mendekati April. "Wait, gue masih ga—"


"April," panggil Nina.


Gadis itu mendongak menatapnya. Nina dan Arais duduk mengapitnya dan menenangkan April yang tentunya masih syok.


Nina mencondongkan tubuh ke arah Arais. Ia membisikkan ini padanya, "Telpon orang tua Husain. Aku yang akan menenangkan April."

__ADS_1


__ADS_2