School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
13. Masih Trauma


__ADS_3

Jalan aspal sedikit basah karena hujan semalam. Beberapa kali, cipratan air akibat roda motor Husain dan pengendara lain mengenai kaki April. Bibirnya tak henti menggerutu. Sepatu yang ia pakai hari ini baru dicuci, melihat sepatu itu kotor kembali semudah mengedipkan mata membuatnya kesal. 


"Kak, jalannya cari yang enggak basah, dong." 


"Ha?" Suara April terdengar samar-samar di telinga Husain. Kendaraan di sekitarnya menimbulkan bunyi berisik yang membuat telinganya tak dapat mendengar dengan baik. 


"Cari jalan yang enggak basah!" pekik April. 


"Jalan yang batu?" 


"Ha? Batu di mana?" Mata April mengelilingi jalan di sekitarnya, mencari batu yang dimaksud Husain. 


"Ada batu, Pril? Di mana?" 


"Kak Husain kok malah nanya April?" jawab April dengan suara meninggi. Itu langka, sungguh. April sendiri tidak percaya ia bisa marah pada Husain untuk kedua kalinya selain kali pertama ini.


"Ha? Bukannya lo yang bilang jalan batu?" 


"Lah, siapa yang bilang jalan batu?" 


"Emang lo bilang apa?" pekik Husain. 


"Cari jalan yang enggak basah, Kak!" Oke, itu baru saja dipatahkan. Kedua kalinya datang sangat cepat.


"Alang yang enggak?" 


"Jalan!"


"Ha?!"


"Jalan!"


"Ha?!" 


April menggeram kesal. Ia mendekatkan kepalanya ke arah Husain hingga helm mereka hampir sejajar. Husain yang menyadari jarak mereka semakin menipis tak bisa fokus dan mendelik menatap wajah April melalui kaca spion. "Deket banget, subhanallah,"  ucap Husain dalam pikirannya.


"Cari jalan yang enggak basah, Kak!" 


"Astaghfirullah," ucap Husain saat setir motornya oleng. Teriakan April membuatnya seakan baru saja terkena serangan jantung. 


"Hati-hati, Kak. Jalannya basah lho, licin!" 

__ADS_1


"Micin?" sahut Husain salah dengar. 


"Ah gak tahu, bodoamat! Kak Husain budeg!" 


"Gudeg?" 


"Gudeg, siomay, batagor, pecel, bubur kacang, bubur ayam, boba sekalian," sahut April sarkastik. Husain mengernyit bingung. Yang dia dengar dengan jelas hanya satu, Xiaomi. 


Entah kenapa, kalau mengobrol sama Husain saat lelaki itu sedang mengendarai motor, April seketika darah tinggi. Telinga Husain udah kebanyakan kotoran, mungkin. Makanya pendengarannya jadi ngawur begitu, pikir April diam-diam. 


***


Rambut April tampak acak-acakan dari pantulan kaca spion setelah ia melepas helmnya. Kakinya berdiri di depan gerbang rumahnya yang bercatkan putih. Helm itu ia kembalikan ke tangan sang pemilik, Husain. Husain meletakkan helmnya di pengait yang terletak di di bawah setir. 


Tak lupa, April berterima kasih disertai senyum manis atas jasa lelaki itu mengantarnya pulang. Jika menyebutnya jasa, Husain terkesan seperti abang ojek online, ya? April melambaikan tangannya sembari menggeser pagar ke kanan untuk membukanya, gadis itu hendak berbalik saat matanya menangkap sosok Husain belum pergi dari halaman rumahnya melalui lirikan mata. Namun, baru setengah putaran kepalanya menengok, tiba-tiba seseorang memaksa kepalanya untuk menghadap lurus ke depan. Itu ibunya, wanita itu memegangi dagu dan tengkuk April seraya melirik ke belakang punggung putrinya. 


"Siapa?" Pertanyaan singkat itu mampu membuat April gelagapan dan berkeringat dalam hitungan detik. 


"Pa-car," kata April dengan suara terputus. 


Ibunya berjalan melewatinya, lalu membuka pagar sehingga cukup muat untuk motor Husain masuk. 


Ibu April menatap Husain dari ujung sepatunya yang basah oleh cipratan air hujan dan kekuningan karena telah lama tak dicuci, hingga ujung rambutnya yang berketombe. Husain merasakan deja vú. 


"Assalamualaikum, Bu, saya Husain Guzammir, pacar April dan juga kakak kelas April di sekolah," ujar Husain, kemudian menatap April sekilas. Tangannya meraih telapak tangan Ibu dan menempelkannya ke dahi sebagai tanda hormat. Ibu April bersemu atas kesopanan dan keramahan Husain. Ibu April melambaikan tangan sebagai ajakan masuk ke dalam rumah. Husain menyanggupi meski dalam hatinya sudah mengadakan pesta besar-besaram dengan suara yang memekakan telinga seperti biduan pesta pernikahan tetangga. 


"Maaf ya, rumahnya agak berantakan dan enggak begitu bagus sih," ujar Ibu April rendah diri. Ujung bibir Husain naik dengan terpaksa. "Rumah rapi begini dikata berantakan, apalagi kamar gue, kayak kapal pecah dong? Enggak begitu bagus darimananya? Dua lantai, dinding putih kinclong enggak ada coretan pensil bekas ide kreatif bocil, sofa ada dua, ruang tamu ada AC-nya pula. Ibu April sengaja merendah untuk meroket, ya?" ujar Husain dari dalam hatinya yang terdalam. 


April cuma cengar-cengir mengikuti ibunya dan Husain. Cengirannya berubah menjadi tatapan ingin memangsa dan tatapan garang seolah ia adalah predator saat wajah tak berdosa kakaknya yang baru turun dari lantai dua terlihat. 


"Wih, ada sapa nih?" tanya Hugo dengan sebelah alis terangkat. April mendecih dan menatap kakaknya tajam, mata itu mengirim sinyal ke kakak lelakinya itu yang artinya, "Jangan ganggu pacar April, Kak Hugo sayang."


Alis Hugo naik dan tersenyum miring pada adiknya. Matanya mengerling pada sang adik yang berarti, "Tidak mungkin terjadi, adikku tercyintah." 


Aura permusuhan mereka amat pekat. Bahkan Husain yang baru mengijakan kaki di rumah April bia merasakan tatapan tajam kedua saudara itu menembus tubuhnya. Sang Ibu berdeham keras, dan menunjuk sofa di ruang tamu. Husain memahami maksud Ibu dan duduk tenang di sana. 


"Mau minum apa, Nak?" tanya Ibu April. 


"Terserah, Bu." 


"Gak ada minuman terserah." Senyum Ibu memiliki arti yang dalam. 

__ADS_1


Segera, Husain meralat ucapannya, "Maksud saya, mau minum air putih aja, Bu." Ibu April berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air untuk tamu anaknya. 


"Ibu April enggak suka cowok labil, Kak," kata April. Ucapannya menjadi petir yang menyambar dunia Husain. 


"Oh," jawabnya singkat. Gadis itu berbalik dan mengejar ibunya untuk membantu menyiapkan minuman dan camilan. 


Kakaknya masih berdiri di depan tangga dengan jari kelingkin yang sedang menggali harta karun di dalam indera penciumannya, hidung. 


Kaki Husain tampak bergerak tanpa henti. Seperti tak sabar untuk melakukan sesuatu. Hugo memahami bahasa tubuh lelaki itu. Karena itu, dengan senyuman ia berkata, "WC di sebelah sana," tunjuknya. Tanpa kecurigaan sedikit pun, Husain segera berlari menuju tempat yang ditunjuk Hugo. 


Saat ia sedang mengambil gayung untuk menyiduk air, lampu kamar mandi tiba-tiba padam. Sedetik kemudian, lampunya menyala, lalu mati dan menyala lagi hingga beberapa kali. Husain, sebagai seseorang yang phobia hantu, dan hantu identik dengan kegelapan, maka lelaki itu tak dapat menahan diri lagi. Jiwa kemaskulinannya luntur. 


"KYAAAAAA," pekiknya histeris, tak jauh berbeda dengan pekikan kuntilanak di film horror. Husain memasang celananya dengan cepat dan menarik pintu sekuat tenaga. Pintu itu tak goyah dan tetap tertutup. Membuat Husain semakin histeris, hingga lupa dunia dan lupa sedang di mana. 


April dengan kegesitannya berlari menuju sumber suara bersama ibunya di belakang. Hugo yang terkikik dengan senyuman jahil sedang memainkan sakelar dan tangannya yang menahan pintu mendapat jitakan keras dari adiknya. "Kakak kurang ajar!" 


April menepis tangan kakaknya. Bersamaan dengan itu, pintu terbuka dan Husain keluar dengan tubuh yang oleng hingga terpeleset dan hampir jatuh. Beruntung, April yang ada di depan pintu segera menangkap tangan Husain. Ujung mata Husain sedikit basah. Begitu melihat tiga orang yang berdiru di hadapannya, jantung Husain seperti mau jatuh. "Malu, astaghfirullah."


"Kak Husain gapapa?" 


"I-iya." 


"Heh, Hugo! Ada tamu kok malah dijahilin!" seru Ibu April seraya memukuli kepala putranya dengan centong nasi. 


"Aduh, maaf Bu. Ini namanya, sambutan!" 


"Sambutan darimana?! Otakmu udah pindah ke dengkul?!" 


Husain menatap horror Ibu April yang melotot saat memarahi anaknya. "Persis kayak muka kuntilanak di film," batin Husain. Ibu April ternyata sama menyeramkannya dari hantu yang selalu ia takuti. Seketika, nyalinya menciut sekecil biji jeruk.   


April dan Husain memisahkan diri. Keduanya duduk di sofa, April pamit sejenak untuk mengambil gelas berisi air mineral. 


"Maaf, Kak. Kak Hugo emang orangnya jahil banget." 


"Gapapa, Pril." 


"Masih trauma sih, lumayan." Hati Husain seolah bergetar dan mengalami badai hebat. Berbanding terbalik dengan ekspresi datarnya, ia menahan napas akibat rasa syok yang membendung.


"Cemen tuh!" celetuk Hugo dari lantai atas. Ya, lelaki itu segera kabur dari omelan ibunya ke lantai atas. 


"Hugo!" tegur Ibu April dengan suara menggelegar. 

__ADS_1


__ADS_2