
"Telah berpulang siswi Jihan Andara ke pelukan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kepada seluruh murid untuk mulai berdoa sesuai agamanya masing-masing dipimpin oleh ketua kelas dan guru yang sedang mengajar."
***
OSIS sedang gempar. Sepertinya, sekolah akan melakukan rapat mendadak. Semua orang membicarakan Jihan lagi hari ini. Pengurus OSIS pun sama. Husain tak henti menemui guru-guru dari pagi. Isla duduk di pojok ruangan dengan wajah tertutup telapak tangannya. Berita kematian Jihan belum bisa dicerna baik oleh gadis itu. Ia tak dapat menenangkan diri. Kemarin, padahal sahabatnya itu masih bicara padanya.
Penyebab kematian Jihan menjadi perbincangan yang lebih hebat daripada kematiannya itu sendiri.
OSIS telah diperintahkan untuk menyita seluruh ponsel siswa-siswi, berupaya mencegah mereka untuk menyebarkan informasi mencengangkan ini.
Isla menurunkan tangannya, lalu meraba-raba saku seragam. Kotak pipih di tangannya itu kembali ia buka. Ia mengetik username sosial media sang sahabat. Melihat postingan cerita itu untuk ke-sekian kalinya hari ini. Pemilik sosial media itu telah tiada, tetapi, ponselnya pasti sangat berisik. Akunnya pasti sangat ramai untuk beberapa hari kemudian.
Postingan cerita pada akun sosial media Jihan sejak 7 jam yang lalu, tepatnya sekitar pukul 2 pagi. Total ada tiga gambar. Semuanya menjadi buah bibir satu sekolah. Pertama, foto tubuhnya yang membiru, luka-luka, dan goresan-goresan di tangan (entah perbuatannya atau orang lain) dengan caption, "Bekas fisiknya tidak sesakit bekas luka di dalam." Kedua, potret tali yang diikat, dengan bagian tengah cukup besar untuk dimasuki kepala manusia, caption yang ditinggalkan Jihan, "Senangnya. Hari ini telah tiba." Kemudian, pesan terakhirnya disertai potret surat yang ia tulis sendiri di atas meja belajar, "Maaf kepada kedua orangtuaku. Namun, ini adalah bukti terbesar dan permohonan terakhir untuk keadilan ditegakkan. Semoga kalian @anxx_id @its.hxxy mendapat ganjaran yang pantas."
"Lupa itu bodoh, La." Jihan benar, lupa itu bodoh.
***
Pada pemakaman Jihan yang dihadiri perwakilan sekolah dan keluarganya, Isla berjanji, kesalahan yang sama tak 'kan pernah ia ulangi.
Setelah acara selesai, ibu Jihan memanggilnya. Ia memeluk Isla erat. Berterima kasih telah datang sebagai sahabat Jihan. Isla menyunggingkan senyum terpaksa. Memohon maaf pula pada sang ibu walau beliau mungkin tak memahami maksudnya. Tangan ibunya menyerahkan sebuah amplop dengan tulisan Jihan di atasnya, "To Isla."
Jihan ternyata meninggalkan surat untuknya. Isla merasa lebih tenang. Ia tak sabar membaca surat itu. Apa yang ingin Jihan katakan sebelum nafasnya berakhir? Ia cepat berterima kasih pada ibu dan bergegas berjalan ke rumah.
__ADS_1
Dia berjalan. Tangannya dengan tidak sabar menyobek amplop itu. Di tepi jalan yang sempit itu, sontak Isla terduduk lemas dengan tangan dan jantung bergetar hebat.
Awal surat dipenuhi tulisan umpatan acak-acakan, seperti munafik, bodoh dan sial. Lalu, pada pertengahan kertas, tulisan Jihan lebih rapi. "Puas main-main sama OSIS-nya? Seru enggak? Seru, dong, harus. Lo bahkan lupa soal gue. Main-main lagi aja sama OSIS selamanya. Mungkin, lo juga bisa lupa kenapa gue mati. Isla ... lo adalah sahabat terburuk sepanjang masa. Manusia munafik dan khianat. DOSA TERBESAR LO ADALAH KETIDAKSADARAN LO ATAS DERITA GUE. Selamat, menebus dosa selamanya." Kalimat-kalimat selanjutnya tak sanggup Isla baca. Ia takut. Tak mau membaca lebih banyak. Ia malu, marah, pada dirinya sendiri.
Bodoh. BODOH. Bodoh. BODOH. Gadis itu memukuli kakinya sendiri sambil terus mengumpati diri. Tangannya meremas rambut panjangnya, menjambaknya kuat seolah ia ingin menginterpretasikan sakit Jihan dengan caranya sendiri.
"Kalau gue jadi anak baik. Bantu orang-orang, nolong semua orang, apa dosa gue bakal ketebus? Kalau gue selalu mengingat lo dan enggak pernah lupain lo lagi, apa lo bakal puas? Gue janji gak akan pernah lupa. Jihan ... Jihan ... Jihan." Suaranya memang lirih, tetapi seolah menjerit-jerit dalam pikirannya. Isla baru akan menyentuh 14 tahun saat itu. Beban dalam mentalnya tak bisa diatasinya dengan kepala dingin sendirian. Suara langkah terdengar dari belakang. Kepalanya menoleh sedikit, menemukan pusat perhatiannya selama sebulan belakangan.
Matanya tampak frustrasi dan pasrah. Seolah tenggelam dalam palung dan tertutup oleh kegelapan. Masih dengan tangan meremas rambutnya, bibirnya berucap, "Atau... gue harus bunuh diri kayak dia untuk nebus kesalahan gue?"
Husain bisa merasakan getaran kesedihan Isla, memeluk gadis itu di antara lengannya. Isla menangis, meraung-raung. "Jihan, gue yang salah. Maaf. Gue yang salah. Gue bakal jadi anak baik, sahabat yang baik, gue enggak akan pernah lupa sama lo. Gue bakal jadi anak baik ..." lirihnya berulang-ulang.
***
Misalnya, gue."
Berita penyebab kematian Jihan bahkan menjadi tajuk rencana bulan ini di koran lokal. Sebentar lagi, mungkin akan mencapai telinga reporter nasional dan menjadi berita yang ditayangkan di televisi. Semuanya membahas tentang dua orang yang diduga merupakan pelaku bullying yang telah menekan korban hingga ia memutuskan mengakhiri hidupnya.
Sementara sekolah sedang heboh-hebohnya, Isla membuat keputusan baru. Ia menuliskan surat pengunduran diri baik sebagai sekretaris maupun pengurus OSIS. Husain menjadi orang yang mempertanyakan keputusannya pertama kali.
"La, apa karena kasus ini? Kita bisa atasin bareng-bareng, 'kan?" tanya Husain dengan suara yang sama lembutnya dengan kemarin-kemarin. Suara yang Isla dulu sukai.
"Kak," panggilnya pelan hampir berbisik. Namun, suara kecilnya itu mencuri seluruh perhatian Husain. Lelaki itu menatap Isla lurus, menunggu penjelasannnya.
__ADS_1
"Kenapa yang diadili cuma dua orang itu saja?"
"Karena mereka lah yang bersalah, La."
Isla menutup matanya, mengingat kembali kata-kata Jihan. Ia kurang mengkritik satu hal lagi. Bukan hanya lupa, tetapi kepolosan juga bodoh. "Kalau kita menyadari sejak awal. Kalau pengurus OSIS lebih mengawasi pada hari jalan santai itu. Kalau pengurus OSIS sadar ada gerak-gerik aneh. Kalau gue sadar Jihan jarang ada di kelas. Kalau gue sadar Jihan tidak sedang baik-baik saja." Isla mengambil nafas sejenak. "Bukan cuma sebagai sahabat, tetapi apa gunanya menjadi pengurus OSIS yang jelas-jelas korbannya ada di dekat kita, tapi kita enggak pernah satu kali pun menyadari itu. Harusnya Jihan baik-baik saja kalau kita sadar," akhirnya dengan nafas terputus-putus.
Pengurus OSIS tetapi tidak bisa menolong anggotanya. Itu bodoh. Ia tidak butuh menjadi pengurus OSIS yang seperti itu.
"Gue memilih keluar karena malu, Kak. Maaf, karena gagal dalam menjalankan tugas." Isla menahan nafas, kepalanya sedikit mendongak. Ia tak ingin menangis. Namun, wajahnya telah basah dihujani air mata. Gadis itu akhirnya menunduk, membiarkan dirinya untuk menangis. Bibirnya tertutup, tidak mengeluarkan suara apa pun. Ia mengulum bibir sembari menunggu tangisnya mereda.
Berada di OSIS malah membuatnya menjadi sahabat yang buruk. Ia tahu, mungkin bukan ini penyelesaian yang tepat. Namun, untuk hati kecil Isla yang terluka, ini penyelesaian yang bagus. Isla menutup pintu ruang OSIS setelah menghapus air matanya dengan pangkal lengan seragam.
"Maaf, Isla. Mungkin, gue juga bukan ketua yang baik," kata lelaki itu, sebelum Isla sepenuhnya meninggalkan ruangan.
***
"Kenapa kamu selalu seperti terobsesi jadi baik?"
Isla mengingat lagi pertanyaan Nina sebelumnya. Ia memang membiarkan Nina pergi tanpa menjawab. Namun, jawabannya tidak pernah berubah.
"Sebagai bentuk penebusan dosa. Sebagai bentuk pengingat akan Jihan. Seolah-olah melayani semua manusia bisa membuat Jihan mendengar permohonan maafnya. Juga, sebagai penepatan janji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, yaitu tidak menjadi sahabat yang buruk untuk April."
Lagipula, ia tidak sepenuhnya berbohong. Isla memang tidak berniat memiliki hubungan lebih dengan Husain selamanya. Husain telah menerima dan melupakan kasus itu. Isla tak akan pernah lupa. Rasa suka itu hanyalah bekas dari masa SMP-nya. Itu anggapan Isla. Rasa sakitnya juga bekas lama. Pasti akan hilang.
__ADS_1