
Butuh bujuk-rayu selama satu jam untuk membuat Hugo mau mengantar April ke Jakarta, mengejar Husain. Tak terlalu peduli dengan pakiannya, April hanya memilih pakaian yang tergantung di balik pintu kamar. Segera, kedua kakak-adik itu memasuki mobil yang terparkir di dalam garasi.
Mobil merah brio disetir Hugo dalam kecepatan tinggi, menyalip kendaraan lain yang ada di depannya. Di sebelah kursi supir, April mencari kontak Husain untuk meneleponnya.
Terdengar dering tanda telepom telah tersambung, tanpa salam, April menyerobot dengan bertanya, "Kak, di mana?"
"Lagi belanja di Thamrin. Bentar lagi ke luar, gak bisa lama-lama, temen-temen takutnya nunggu. Emang kenapa?" tanya Husain di seberang sana sembari memilih satu epe satu jajanan yang tersaji di depannya.
Mobil Hugo diparkirkan di restoran terdekat. April ke luar masih dengan telepon yang tersambung. Menelusuri sekitar dengan matanya. Tanda panah yang menunjukkan parkiran Thamrin menjadi pusat perhatian April. Gadis itu berlari menuju ke sana. Meninggalkan kakaknya yang masih di dalam mobil.
April tak dapat bersabar. Kakinya mengetuk permukaan tanah yang disemen sepanjang waktu. Pasti aneh untuk melihat seorang gadis berdiri di depan tanda panah ke luar parkir, sendirian.
Mata April menatap sekitar dengan was-was. Entahlah, perasaannya tidak enak sedari kemarin. Seperti, ia merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu yang ia tak tahu apa. Terlebih lagi, karena mimpi buruk yang ia lupakan semalam semakin membuat perasaannya tidak nyaman.
Sebuah mobil hitam Terios berjalan ke luar. April memerhatikan mobil itu. Di balik kaca yang cukup gelap, April bisa melihat sosok Husain duduk di kursi bagian tengah. April melangkah ke depan setelah mobil hitam itu berhenti tak jauh darinya. Tak salah lagi, ini mobil travel yang dinaiki Husain. Karena, lelaki itu membuka pintu mobilnya dan mengijakkan sepatu conversenya ke daratan.
Wajah Husain tampak tidak ramah. "Lo ngapain ke sini, April? Astaga ...." Pelipisnya ia pijat dengan satu tangan. Ia tak habis pikir akan sikap pacarnya.
"Pril, gue malu lho. Minta berhenti di Thamrin. Tiba-tiba pacarnya datengin gini. Kesannya kayak gue sengaja minta mereka berhenti karena pacar gue mau ketemu. Malu, Pril. Diliatin temen-temen gue di dalam mobil. Kesannya gue menyatukan kehidupan pribadi sama organisasi."
Kata-kata Husain menohok dirinya. Ia bahkan tak tahu mengapa menjemput Husain ke mari. Yang ia tahu hanyalah ia harus melakukan ini.
"Maaf," ujar April dengan kepala menunduk.
"Ke sini sama siapa?"
__ADS_1
"Kak Hugo."
"Balik sama Kak Hugo, sekarang," tegas Husain dengan nada dingin. April dibuatnya kesusahan menelan ludah sendiri.
"Oleh-olehnya mana?" April tahu dia kelihatan tak tahu diri. Tapi, menunda sedikit lebih lama, mungkin lebih baik, begitu kata firasatnya.
Ekspresi Husain yang mengeras membuat April tiba-tiba merasa ciut. Lelaki itu meminta pada temannya di dalam mobil untuk mengambilkan barang-barang yang ia beli di Thamrin melalui kaca mobil. Dua buah paperbag ia tenteng di tangan kanannya. Kemudian, Husain lemparkan ke depan dada April dengan kasar. April membeku menatap dua paperbag itu.
Hugo yang berdiri tak jauh dari sana, melihat semuanya dan menggertakkan giginya menahan amarah. Tapi ia tahu, tak etis untuk bertengkar di pinggir jalan seperti ini. Ketika waktu dan tempatnya tepat, ia akan menghabisi muka songong pacar adiknya itu hingga memar dan bengkak.
Hugo menari pergelangan tangan adiknya setelah mengambil paperbag di pelukan sang adik. April menoleh ke belakang elama tangannya ditarik paksa oleh sang kakak. Husain menatap kepergiannya dengan dingin dan berbalik masuk ke dalam mobil. April menyadari sesuatu, lalu menelepon nomor Husain untuk yang ke-sekian kalinya hari ini.
"Apa?" tanya Husain tanpa basa-basi. April membalas, "Coba keluar sebentar saja." Kaki April tertahan, tak ingim ditarik paksa lebih jauh oleh kakaknya.
"Apa lagi, Pril?" geram Husain
Husain menuruti keinginan April. April meminta Hugo melepas genggamannya sebentar. Lalu, gadis itu membuka risleting jaket kakaknya. Hugo salah tingkah, menahan tangan April untuk melepas jaketnya dari tubuhnya yang hanya mengenakan kaus putih dengan gambar Patrick si Bintang Laut berwarna pink. April acuh akan sablonan kaus kakaknya. Berbeda dengan kebiasannya yang selalu meledeki Hugo kerap kali lelaki itu mengenakan kaus bergambar kartunnya.
April berjalan menuju Husain dan menyerahkan jaket hitam milik kakaknya. "Ambil, Kak. Di Bandung dingin," ujarnya disertai senyum tipis. Seketika, Husain didera rasa bersalah. Ia menerima jaket itu dan ia pakai di tempat. Sebelum meninggalkan April, ini yang ia ucap, "Maaf dan terimakasih, April."
April hanya melambaikan tangan.
Kemudian, Hugo kembali menarik paksa gadis itu ke dalam mobil. April menerima pasrah ke mana kakaknya menarik tubuhnya ini. Ia sempat menoleh ke belakang untuk melihat kepergian mobil Husain.
Namun, April menyadari suatu keganjilan. Dari kejauhan, sebuah mobil melaju amat cepat di jalanan dengan roda yang oleng tak tentu arah. Mobil dan motor di depannya menepikan diri untuk menghindari mobil oleng tersebut. Supir mobil travel Husain tidak menyadarinya.
__ADS_1
Panik. Ia menepis tangan kakaknya dan berlari menuju mobil Husain yang sudah mengeluarkan bagian depan mobilnya ke jalan raya.
April menelepon nomor Husain secepat yang ia bisa. Dengan kedua tangan gemetar memegangi ponselnya, mata April menatap Husain putus asa. "Tolong! Ke luar dari mobil sekarang! Menjauh dari jalan raya!" pekiknya sembari berlari. Napas April tak karuan. Genangan basah tak tampak di matanya yang hanya menatap lurus ke arah mobil yang dinaiki Husain. Flat shoes putihnya berubah kecokelatan karena noda air genangan hujan yang kotor.
"Ke luar, Kak!" pekik April keras, tenggorokannya terasa sakit. "Ada mobil oleng! Semuanya ke luar!"
Mobil abu-abu yang sepertinya kehilangan kendali itu telah menabrak sebuah mobil, menyebabkan tabrakan beruntun.
Husain baru saja membuka pintu mobil dan mengeluarkan kakinya saat hantaman keras mengenai bagian depan mobil hingga seluruh kaca mobil pecah. Dua motor yang terlempar karena tabrakan beruntun itu jatuh pada bagian depan mobil.
April membeku menatap jalanan. Dadanya bergemuruh. Ini pasti mimpi buruk.
***
Tangis April menggila. Ia meraung-raung saat melihat Husain yang berdarah-darah karena menjadi korban kecelakaan beruntun yang disebabkan mobil yang remnya blong. Polisi mengevakuasi jalanan. Tangan April ditarik Hugo untuk kembalu ke dalam mobil secara paksa. Lutut adiknya gemetaran. Sekedar berdiri tegak pun kini ia tak tanggup.
"Ayo, Pril. Kita harus pergi."
"Enggak, Kak. April harus jagain Kak Husain!"
"Kita langsung ke RS-nya aja, ya. Naik mobil kakak," ajak Hugo dengan lembut. April mengangguk. Matanya yang sembab dan terasa hangat mengantarkannya ke dunia mimpi.
Mimpi yang jauh lebih baik dari kenyataan. Karena, begitu mata April terbuka, sebuah berita duka keluar dari mulut dokter yang menangani Husain. Jantung Husain sudah melemah sejak dibawa ke sini. Dalam proses pengobatan, jantung lelaki itu berhenti. Dokter dan para perawat tidak bisa melawan kehendak tuhan. Jiwa Husain sudah tak ada pada raganya.
Keterpurukan terbesar menimpa April seumur hidupnya. Mayat Husain yang ditutupi kain putih akan dibawa ke ruang mayat. Rumah sakit harus menunggu keluarganya untuk mengambil tubuh Husain yang sudah memucat dan dingin untuk dimakamkan. April yang bukan siapa-siapa, sekadar pacar, tak bisa melakukan apa-apa selain menatap ranjang Husain didorong oleh seorang lerawat wanita.
__ADS_1
Cepat sekali tuhan mengambil Husain dari dunia.
April takut ia tak siap.