School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
16. Masa SMP


__ADS_3

"Jam empat ... " gumam April saat melihat jam dinding kafe. Mulutnya terbuka untuk menyesap teh susu miliknya. Sudah cukup lama Husain meninggalkannya untuk mengobrol dengan teman SMP-nya. Langit berubah oranye, intip April dari balik kaca.


Ia berdiri dan mencari ke mana Husain dan temannya pergi. Setelah bertanya pada pelayan di mana letak balkon, April mengikuti instruksi pelayan itu. Lega hatinya saat melihat Husain dan temannya berdiri di balkon membelakangi pintu transparan di balik punggung mereka.


Tangan April menyentuh pintu dan hendak mendorongnya. Namun, gerakannya terhenti saat mendengar obrolan Husain dan Jeje.


"Lo ketemu Isla di SMA? Isla yang sekretaris OSIS 'kan? Yang cantik?" Rokok terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah Jeje. Asapnya terbawa angin hingga menerpa wajah Husain. Dengan pelan, Husain mengibaskan tangannya di depan wajah.  


"Ya iya, emang ada Isla yang lain di SMP kita?" 


"Gak, sih." Bibir Jeje terbuka mengeluarkan asap rokok setelah menyesapnya. 


April diam, ia ingin mendengar obrolan mereka lebih banyak. Telapak tangannya masih menempel di atas kaca pintu.


"Gue masih inget banget dulu banyak yang suka 'kan sama Isla. Elo juga," goda Jeje sambil menyenggol bahu Husain dengan sengaja.


"Ck, masa suram gue pas SMP dulu jangan diingetin." Mengingat masa SMP-nya membuat Husain merinding atas tingkahnya yang khas anak ABG baru pubertas. 


"Suram apaan? Muka lo tiap Isla lewat sumringah banget. Sampe dikit-dikit beliin makanan trus kasih ke Isla, alasannya 'gue kebanyakan beli makanan, buat lo aja'. Najis, Sen."


Tahan April, dengar sampai selesai. "Mungkin, Husain bakal ngejelasim sesuatu," batin April menguatkan diri bersamaan dengan tangannya yang mengepal kuat.


"Dah gue bilang jangan diungkit. Malu gue. Diem ga lo?" ancam Husain.


"Ya udah diem. Btw, yang tadi pacar lo?" Husain mengangguk mengiyakan.


"Emang lo udah mupon dari Isla?" Pertanyaan itu membuat mata April fokus menatap Husain. Lelaki itu menoleh menatap Jeje tanpa kata. Mulutnya terbuka tanpa satu kata pun keluar.


"Jawab, Kak," gumam April amat pelan bak berbisik. Tapi, Husain diam lama. Sepuluh detik, tanpa jawaban. Bahkan, April tak menangkap semili pun bibir lelaki itu bergerak untuk mengelak pertanyaan Jeje. 


Hati April seakan jatuh, dihempaskan dari langit sejauh ribuan kaki. Gadis itu berbalik dan berjalan cepat menuju pintu ke luar. Ia tak sanggup mendengar percakapan dua orang itu lebih lama. Bagaimana jika, Husain mengiyakan? Kalau pun ia mengelak, kenapa membutuhkan waktu selama itu untuk berpikir? Terlebih, ia takut, mereka berbalik dan menangkap basah dirinya yang diam dengan mata berair.


April meraih ranselnya di atas kursi dan meninggalkan Kafe Langit Oranye. Tanpa memberi kabar pada Husain, gadis itu menunggu angkot di pinggir jalan sambil menggenggam erat tali ranselnya. Emosinya ini harus ia tahan untuk ditumpahkan di rumah. 


***


"Lama banget Kak Husain ngobrolnya," batin Aprils seraya bertopang dagu. Tangannya mengaduk teh susu di atas meja dengan sendok.


"Jam empat ... " gumam April saat melihat jam dinding kafe. Baru saja tubuhnya bangkit, bayangan gelap menutup meja putih di depannya. Kepala April mendongak. Pupilnya memantulkan sosok Husain yang berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana.

__ADS_1


"Udah ngobrolnya?" tanya April.


"Udah, lama ya?" tanya Husain sembari mengambil ranselnya di atas kursi.


"Bahas apa?"


"Masa SMP."


"Itu doang?"


"Ya kan dia temen gue pas SMP, ya bahasnya masa-masa SMP lah, Pril. Masa pas SD, kan ga satu sekolah."


"Ya iya, sih. "


Keduanya meninggalkan Kafe Langit Oranye. Motor Husain membawa April membelah jalanan di bawah langit senja. Udara dingin menerpa kulit April seiring motor Husain melaju.


***


Alas sepatunya berdiri di atas trotoar di depan pagar. Seperti biasa, April melepas ikatan helmnya. Husain menerima  helm itu dan memutar kunci motornya ke arah tanda ON.


April mengambil nafas dalam-dalam. Sepanjang perjalanan, kepala gadis itu telah merekam rencana untuk memutuskan Husain. Seperti kata Citra, sekarang atau tidak sama sekali. Katakan, April! 


"A ... " Suara April terputus. Baru satu huruf ke luar dari mulutnya, kini bibirnya terkatup kembali. Benak April menangis. Ia tak sanggup. 


"Hm? Itu-anu," gimana ya ngomongnya. 


"Hati-hati," ujar April tak tahu harus berkata apa. 


Husain sudah memasang posisi berangkat. Ia harus cepat. Hanya tiga kata, "Aku mau putus," dan semuanya beres. 


Mulut April ga bisa diajak kerja sama. Buka dong, ngomong!  


Meski sudah meringis dan mengumpati diri sendiri, hingga Husain meninggalkan komplek perumahannya pun April tak kunjung bersuara. 


"B-E-G-O untuk April," ujarnya seraya menangkupkan kedua telapak tangan dan menatap jalanan dengan pasrah. 


Atas kerja keras otaknya untuk memutuskan Husain, April menghadiahi diri sendiri dengan makan banyak, menonton acara komedia dan menggulir beranda instagram. Sampai gadis itu membuka aplikasi chatting setelah melihat notifikasi telah melebihi 99 . 


"Grup kelas ribut banget, kek pasar." Sudah ratusan pesan menumpuk yang belum terbaca dari grup kelasnya. Maklum, isinya bacotan semua, unfaedah. April tak memiliki niat membukanya kecuali ada yang penting. Tapi, yang sangat mengganggunya saat ini adalah, pin chat teratas. Kontak Husain dengan pesan terakhir yang telah bercentang biru. 

__ADS_1


"Lewat chat aja kali ya?" Mungkin, kalau tidak secara langsung, April bisa lebih berani? Kurang lebih seperti itulah ekspektasinya. 


Sayang, realita memang sering mengecewakan. April berkali-kali menulis dan menghapus pesannya sendiri. 


Kak, April mau mnta putus. 


Delete. 


Kak, blh mnta putus g? 


Delete. 


Kak, jujur April mrsa g enak, tpi April ngerasa klau kita hrs putus. 


Delete. 


"Hapus aja terus, ******. Kapan mau dikirim?!" April tersentak mendengar dirinya sendiri mengumpat, terlebih saat gadis itu berada di dalam rumah. Mulutnya yang mengaga atas keterkejutannya ia tutup dengan sebelah tangan. Untungnya, kamar sang ayah dan ibu ada di lantai bawah. Sementara kamar kakaknya berseberangan dengannya. Aman. 


Jemari April kembali mengetikan pesan yang bahkan sebelum ia tulis pun ia tahu akan ia hapus lagi. 


Kak, April pen ngejar Ka Husain dri nol. Makanya, kita putus y? 


Delete. 


"Eh?" Mata April sempat buram, rabun atau buta kok malah kepencet kirim?!


"Ya Allah, subhanallah." Secepat kilat, sebelum pesanny berubah centang dua abu-abu, April menghapus pesan itu dengan mata berkilat panik. 


Setelah pesannya berganti menjadi, Anda telah menghapus pesan ini, hati April meringan. Dan saat itulah, ia sadar kebodohan yang ia lakukan. 


"Niatnya mau mutusin, pas pesannya terkirim malah panik. Emang bego." 


Dan ia semakin sadar akan kebodohannya saat Husain membalas. 


Kenapa dihapus? 


Otak April yang pintar, yuk, cari alasan yuk. 


Dengan senyum tertekan, April mengetik alasan klise yang mainstream banget. 

__ADS_1


Hehe, maaf salkir, Kak. 


Percakapan pun berakhir. Husain memang pasif dalam bertindak jika tidak ada campur tangan teman-teman bejatnya. Dan April merasa bersyujur atas kepasifannya malam ini. 


__ADS_2