School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
Meledak tapi Bukan Bom Nuklir


__ADS_3

Mendekati minggu UAS, April sudah menduga interaksinya dengan Husain akan berkurang. Lelaki itu harus memertahankan posisinya sebagai sepuluh besar di angkatannya. Dukungan seratus persen tentu April berikan. Ia membuat banyak kue untuk camilan Husain kala bosan di rumah dan di sekolah. Benar-benar tipikal pacar yang suportif.


Respons Husain baik pada hari pertama dan kedua, lalu pada hari ketiga yaitu hari ini ....


"Pril, lo daripada ngabisin waktu buat ngadon kue untuk gue, mending waktunya dipakai buat belajar. Barang 30 menit juga alhamdulillah."


Nasihat belajar, lagi. April kira mendengarnya dari Citra sudah cukup. Orangtua April bahkan sudah lepas tangan dengan gaya belajarnya. Secara general, kalimat mereka adalah, "Dinasihatin seribu kali pun juga dia paling-paling duduk di meja belajar, mandang buku tulis tapi pikirannya ngehalu." Tepat sasaran. Satu-satunya keahlian April yang diakui hampir seluruh manusia adalah skill memanggang kue. Bahkan menurut orangtuanya, kue buatannya lebih enak daripada buatan sang ibu. Makanya, April lebih suka hidup di dapur daripada di meja belajar.


Alasan-alasan itu dibantah Husain dengan pertanyaan, "Lo masih murid, kan? Tugas murid apa?"


Mulanya, April mau ngeles a.k.a ngalem, "Maen, hehe." Lalu, bibirnya dicubit oleh Husain. Katanya, "Nakal, ya." Aduh, April baper. "Gemes banget. Nakal katanya, ehe. Jadi makin mau ...."


"April," panggilnya tenang. Namun, justru menusuk gadis itu sampai pikirannya pun akhirnya ikut diam.


"Iya?" jawabnya takut-takut.


"Belajar, ya. Nanti kalau hasil ulangannya bagus, kita ngobrol pake aku-kamu. Mau?"


Duar. Ada yang meledak tapi bukan bom nuklir.


Itulah ringkasan bagaimana April kini termotivasi untuk belajar setidaknya 30 menit sehari.


"Sebenarnya, patokan nilai yang bagus itu apa, sih?" pikir April sambil duduk di depan meja belajarnya dengan kaki menyilang di kursi.

__ADS_1


Dia sedang belajar Pendidikan Agama Islam saat tiba-tiba pertanyaan itu muncul. Menurut standar April sebagai murid yang secara stabil mendapat peringkat 18 atau 19 di kelas, nilai tujuh puluh adalah suatu mukjizat indah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun, untuk Husain yang notabenenya tidak pernah keluar dari sepuluh besar seangkatan, nilai puluh yang mepet-mepet KKM itu pasti sangat mengecewakan dan jelek, 'kan?


Kalau dipikir-pikir lagi, agak mustahil untuk mencapai ekspektasi Husain bila ia menggunakan standarnya untuk menilai apakah April mendapatkan hasil yang bagus atau tidak. Harusnya, ia membuat perjanjian mengenai nilai yang disepakati.


Jalan pikirannya lancar sekali memikirkan ini, bahkan hampir satu jam sudah terlewati. Ia yakin buku Pendidikan Agama Islam-nya itu baru dibaca dua lembar barusan.


Tangannya mengacak rambutnya frustrasi. Ia harus istirahat. Memanggang sedikit kue mungkin bisa menghilangkan stresnya. Ibunya dulu jarang di rumah karena sibuk bekerja kantoran sebelum akhirnya memilih berhenti untuk menjual kue dan menjadi ibu rumah tangga sekitar dua tahun lalu, sehingga AprilĀ  lebih banyak belajar memanggang kue otodidak. Pertama kali membuat kue adalah ajaran dari neneknya. Di rumah nenek yang didominasi oleh cucu-cucunya yang bila dijumlahkan mencapai tujuh anak dari usia satu tahun sampai tiga belas tahun itu, April yang saat itu berusia sembilan ikut bergabung dengan nenek di dapur. Sebagian besar anak-anak bermain di sana pada weekend, tapi April hampir setiap hari berada di sana. Ia lah yang paling dekat dengan neneknya.


Kue pertama yang ia buat sebenarnya bukan kue juga, sih, tapi bolu lapis. Menjelang lebaran, nenek mulai mengestok bolu dan kue-kue untuk hari raya. Bolu lapis yang pertama kali ia buat, seingatnya, sedikit gosong dan rasanya terlalu manis. Setelah kegagalan itu, April memerhatikan perbedaan antara caranya dan nenek memasak. Melalui pengamatan itu, April kecil bisa membuat bolu lapis yang sama enaknya dengan nenek.


Sejujurnya, itu adalah kejadian yang menakjubkan setidaknya di lingkup keluarga kecilnya. Ibunya bahkan menyangka April adalah jenius atau apa karena pandai membuat bolu lapis. April kecil tidak punya apa pun untuk dikatakan selain, "Itu 'kan mudah saja, begitu tahu salahnya di mana, jika diperbaiki pasti bolu selanjutnya akan enak." Namun, kata-kata itu tidak semudah kenyataannya, 'kan? Sebagian orang tidak bisa membuat masakan yang enak hanya karena mereka tahu cara yang salah dan cara yang benar bagaimana.


Bahkan untuk April saat ini, memanggang kue itu masih semudah kata-katanya dulu. Jika tahu apa yang salah, tinggal diperbaiki. Belajar tidak seperti itu. Ia bahkan tidak tahu apa yang salah dari jawabannya. Lalu, tidak ada bentuk pasti yang di depan mata dari soal-soal yang dia jawab. Berbeda dengan membuat kue, begitu ia mengetahui yang salah dan memerbaikinya maka kuenya pasti enak, 'kan? Sedangkan, dalam soal, jika ia menjawab soal mengenai debit air dalam bak mandi dalam waktu sepuluh menit, tidak mungkin setelah menyelesaikan soalnya akan ada bukti bak mandi di depan mata, 'kan? Mungkin, ia harus menunggu sampai tiba di rumah untuk membuktikannya. Hal-hal itulah yang membuat belajar menjadi membosankan dan sulit.


Pada akhirnya, semua itu dipandang sebagai alasan saja. Tidak salah. Mereka memang alasan April tidak suka belajar.


Telepon April berdering tatkala gadis itu memotong bolunya menjadi beberapa bagian. Nama "Husain" muncul di layar. April sontak langsing sumringah dan menjawab telepon tanpa menunggu lagi.


"Hai, Kak!" sapanya manis.


"Lagi apa?"


"Manggang bolu, hehe."

__ADS_1


"Bolu lagi? Katanya mau belajar," oceh kekasihnya itu.


April menggaruk-garuk puncak kepalanya sendiri. "Tadi udah bentar, biar enggak stres sekalian buat bolu aja."


"Beneran? Ya udah."


April menunggu Husain untuk mengatakan hal lain, tetapi lelaki itu diam untuk beberapa detik.


"Besok belajar bareng, mau? Sebentar aja sepulang sekolah. Aku mau lihat sampai mana kamu belajar."


" ... " Jantung April menjerit. Tiba-tiba, what? Tidak adil. April enggak siap. Oke, jika kalian belum sadar, coba baca ulang kalimat Husain tadi.


"AKU-KAMU KATANYA, WHATTT. DISKOAN JANTUNG APRIL GILA. BAHAGIANYAAA."


"Pril?" Panggilan Husain memecah kacau-balaunya pikiran April.


"Iya, Kak. Siap. Besok, ya? Noted." Duh, dia jadi kaku karena salting.


Telepon dimatikan tak lama kemudian. April jingkrak-jingkrak di dapur. Bolunya ia ambil ke kamar untuk bersenang-senang merayakan kebahagiaan ini.


Dia sudah melambung tinggi menuju imajinasi tanpa batas. Sampai sebuah pesan dari Husain muncul di layar notifikasinya.


Btw, kalau besok pas kucek kmu g ada hasil apa2, nanti perjanjiannya batal, ya.

__ADS_1


Waduh. Tunda perayaannya. April harus belajar. Ingin menangis tapi dia terlalu bahagia.


Ada yang meledak tapi bukan bom nuklir. Melainkan otaknya.


__ADS_2