School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
14. Husain


__ADS_3

Ke mana jarum itu mengarah membuat mood April anjlok dalam sekejap. Ia melongo menatap ke bawah kakinya dan jarum itu. 


52 kg. 


"Naik tiga kilooo!" April histeris sembari memegangi rambutnya erat. "TIDAAAK!" Gadis itu turun dari timbangan dan duduk di sofa sambil memegangi wajahnya. Setelah dipikir-pikir, kemungkinan besar, alasan berat badannya tiba-tiba naik adalah karena semua kue yang ia cicip selama memanggang kue untuk Husain. Belum lagi, ia sering mengambil kue sisa yang tidak terjual oleh ibunya. Puluhan kalimat penyesalan menyerangnya. 


"Pipi April bengkak ya," rengek gadis itu. 


"Alay bener," celetuk seseorang yang tanpa menoleh pun April tahu siapa. 


"Kak Hugo tuh gak paham perasaan cewek kalau berat badannya naik tuh gimana!" 


"Emang berat badan lo berapa?" 


"Lima dua kilo," jawabnya. 


"Itu kekurusan ogeb!" 


"Kurus dari antah berantah?! Di atas lima puluh, Kak!" 


"Berat badan gue aja enam sembilan kilo biasa aja." 


"Gini ya, Kak Hugo itu tinggi. Jadi kalau berat badannya banyak wajar. Lah kalau April? Udah pendek, bontot, gendut pula. Stres diri ini." 


"Ya udah kalau stres bunuh diri aja." 


April menatap kakaknya horror dengan mata berair. "Kak Hugo mau April mati?" 


"Lah kok nanges?" 


"Si-apa yang nanges?!" April mengusap ujung matanya. 


"Itu, matanya berair kan. Tuh kan, nanges, ih nanges. Cengeng," ledek kakaknya sembari berjoget gaya ayam berkotek. 


Bersamaan dengan sakit perut yang bergejolak, April menangis dengan menutupi wajahnya menggunakan bantal sofa. Meredam tangisnya dan menumpahkan semuanya ke atas bantal. 


"Astaghfirullah," ucap ibunya yang baru saja pulang sedari pasar dengan plastik yang ia jinjing di kedua tangannya. 


"Kak, ini kenapa adeknya nangis?" 


"Gak tahu, Bu," jawab Hugo tanpa dosa. 


Ibunya menaruh barang belanjaannya di atas meja lalu berjalan menuju April. Ia tepuk pundak putrinya dan mengajaknya berdiri untuk kembali ke kamarnya di lantai dua. 


"Yok, balik ke kamar—astaghfirullah," ucap ibunya terperanjat. 


"Ya Allah, Dek. Sofanya kenapa merah semua." Sofa yang berwarna putih tulang itu kini mendapat motif warna merah tak beraturan di tengahnya. 


 


"Kayaknya April tembus, Bu," ungkap April jujur. Ibunya menepuk dahinya sendiri dan meminta Hugo membantunya membawa sofa ke belakang untuk dicuci. 


***


April sedang sensitif parah. Ia merenung menatap langit-langit kamar. Di kepalanya, susunan rencana diet telah terancang rapi. Hanya tersisa satu hal, praktik. Tekadnya sudah bulat. Dia harus diet! Demi menghilangkan perut buncit dan pipi gembul yang seperti bakpau ini. 


April berniat untuk memesan makanan diet seperti salad atau makanan sejenisnya pada Isla. Sahabatnya yang satu itu mengelola online shop makanan ringan, baik untuk yang diet maupun tidak. Tangannya dengan lincah mengetik di atas keyboard ponsel. 


La, mau pesen makanan. Ada apa aja? 

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, tulisan mengetik tampak di bawah nama kontak sahabatnya. 


^^^Bentar, Pril. ^^^


Ia mengirim sejumlah foto banner yang pernah April lihat di deretan postingan instagram Isla. Foto pertama adalah menu minuman, yang tersedia ada tiga. Yang kedua adalah makanan korean street. Corndog, tokkebi, kimbab, dan beberapa lainnya. Gambar tokkebi yang tampak lezat dengan topping mayones dan saus tomat membuat April melongo. 


Oke, besok ambil aja di kelas gue ya, Pril. 


"Ha? Apanya yang diambil?" April membaca pesan sebelumnya yang ia kirim. 


Tokkebi sama kimbabnya satu porsi ya, La. 


"Heh?! Sejak kapan April pesen?!" pekik gadis itu panik. Ia hendak menolak Isla dengan mengetik pesan, "Gajadi, La." Saat jempolnya hendak menekan tombol kirim, ia menatap kembali gambar tokkebi yang menggugah selera. "Udah terlanjur gapapa kali, ya?" tanya April pada dirinya sendiri. 


"Gapapa, deh. Dietnya besok-besok aja," ujar gadis itu. Besok-besok, mungkin dia akan berkata, besok-besok lagi. Entah kapan besok-besok diet yang dimaksud April akan datang.


***


April sudah mengantongi sejumlah uang di saku seragamnya. Perjalanannya ke kelas Isla, X IPS 4, terasa cukup menyenangkan dengan bayangan tokkebi dan kimbab di kepalanya. Di depan pintu kelas, April memasukkan kepalanya terlebih dahulu untuk melihat keadaan kelas Isla. Kelas itu sepi, Isla tidak ada di dalam. 


"Nyari siapa, Pril?" tanya siswi yang duduk dua meja di depan meja Isla, satu-satunya yang masih berada di kelas. 


"Isla," jawab April. 


"Oh, tadi katanya ke toilet. Dia bilang kalau lo nyariin suruh ambil aja makanannya di tas." Setelah menyampaikan pesan itu, siswi itu ke luar kelas sambil menunduk membaca novel di tangannya.  


"Makasih," ujar April saat siswi itu melewatinya. April melangkah masuk menuju meja Isla. Di atas meja, sebuah buku diary berukuran 10x12cm dan dua buku paket tersusun tak beraturan. 


Gadis itu membuka tas Isla dan mencari makanan yang telah dipesannya. Agak sulit karena tas Isla dipenuhi buku paket yang tebalnya hampir menyamai tulang lengan. Ia terpaksa mengeluarkan satu per satu buku paket itu. 


Tak. 


"Hm?" Kepalanya menoleh mencari sumber suara. Di pangkal sepatunya, buku diary Isla jatuh dalam keadaan terbuka setelah tergeser oleh tumpukan buku paket tanpa sengaja. Gadis itu pasti pergi ke toilet terburu-buru sampai tak sempat mengunci buku diary-nya. April menunduk untuk mengambil diary itu. Lembar paling belakang terbuka dan April sekilas membaca tulisan Isla terlukis di atas kertas. Ia terdiam di tempatnya. 


Isla ❤ Husain 


"Pril?" Panggilan dari suara yang familiar di telinganya membuat April terperanjat dan refleks menutup buku diary itu secepat kilat. Sayang, Isla telah menebak apa yang dilihat April dari ekspresinya yang mudah terbaca. 


"Lo lihat halaman paling belakang, ya?" 


Padahal, saat ini yang terciduk harusnya Isla, tetapi April yang gemetar gugup. Ia membongkar rahasia yang tak pernah ia sangka sahabatnya miliki. 


"Iya," jawab April jujur. Ia sudah tertangkap basah.


Ia mencoba memikirkan semuanya. Sahabatnya menyukai pacarnya, tetapi tidak pernah mengatakan apa-apa? Kenapa? Harusnya Isla bilang. April terus mencari-cari apakah ada saat di mana Isla tampak tertarik dengan Husain. Namun, sulit mengingatnya. Ia tak pernah memerhatikan bagaimana orang lain memandangnya atau Husain saat lelaki itu di dekatnya. Matanya terkunci pada satu orang dan tidak ada yang mampu mengusik pikiran itu.


April kecewa. Bukan pada Isla, tetapi pada kebodohannya. Namun, ia juga kesal, mereka berteman cukup lama untuk Isla berkata jujur padanya, 'kan?


"Kenapa Isla enggak pernah bilang apa-apa?!" pekik April tiba-tiba. Ia sendiri juga tak paham kenapa kepalanya kini terasa panas. 


"Selama ini April selalu cerita semuanya ke Isla. Termasuk pas April pertama kali suka sama Kak Husain. Perasaan April sedetail-detailnya April ceritain." 


"Astaga, April ngerasa jahat banget," gumam April dengan tatapan yang tak fokus. Ia tak tahu harus menatap ke arah mana, mata Isla yang menatapnya lurus sangat mengganggu. 


 


"Boleh gue jelasin dulu?" tanya Isla dengan tenang. April menganggukan kepalanya, mencoba tenang. Sahabatnya itu menarik tangannya untuk duduk di kursi di sebelahnya. Dengan tangan saling menggenggam, Isla menjelaskan. 


"Itu coretan semasa gue SMP. Lo liat sendiri 'kan tulisan gue masih jelek banget, beda dengan tulisan gue sekarang. Gue suka sama Kak Husain karena yah, cinta lokasi? Kita sama-sama pengurus OSIS saat itu.

__ADS_1


Gue juga udah mupon dari dia. Jangan khawatir, oke?" 


"Justru, itu bikin April makin ngerasa bersalah," ujarnya, lalu menutup matanya yang menghangat. 


"Buat apa ngerasa bersalah sih, Pril?" 


"Yang suka duluan Isla, tapi yang dapet April. Rasanya kayak April ngerebut Kak Husain dari Isla." Air mata April meleleh. Dia sangat cengeng, entah karena memang saat ini menyakitkan untuknya atau karena efek samping dari mestruasi. 


"Denger, gue udah mupon dari lama juga, kok." 


"Tapi tetap Isla yang suka duluan sama Kak Husain daripada April, kan? Isla juga deket sama Kak Husain lebih dulu. Terus," April jadian sama Kak Husain cuma karena mitos itu nyata. 


"Terus gue harus gimana, April? Gue gak bisa muter waktu supaya gue enggak suka duluan sama Kak Husain," jelas Isla dengan suara lembut, tetapi malah membuat April tertikam oleh kebaikan hatinya.


Hening. April bergeming dan hanya air matanya yang bergerak di antara kedua perempuan yang mematung itu. 


"April tahu. Tapi, rasa bersalahnya enggak mau hilang, La. Maaf." April meninggalkan kelas X IPS 4 setelah mengusap air matanya dengan lengan seragam putihnya. 


Isla menahan napasnya sejak berteriak pada sahabatnya. Sesak menyerang dadanya, ia menahan air matanya untuk tak tumpah dengan menengadahkan kepala. Di saat yang bersamaan, suara bisikam yang amat pelan masuk ke pendengarannya.


"Sesuai dengan ingatanku." 


Isla menoleh dan mencari sosok yang menyuarakannya di sekeliling. "Siapa di sana?" tanya Isla dengan suara keras. Namun, tak ada yang menyahut. 


April berjalan kembali ke kelasnya dengan kepala tertunduk. Kepalanya terasa penuh akan fakta yang baru saja ia temukan. Bahkan, gadis itu tak sadar saat jarak tiang dan kepalanya sudah kuar dari sejengkal. Beruntung, sebelum kepalanya membentur tiang keras itu, uluran tangan seseorang menghalangi kepalanya. Menyadari kulit seseorang menempel dengan dahi lebarnya, April mendongak. Wajah jengah lelaki yang disukainya memantul dari bola mata April. 


"Jalan jangan melam—" 


April berlari sekuat tenaga menuju gedung kelasnya. Mengabaikan Husain yang belum menyelesaikan kalimatnya. 


***


Bungkus tokkebi dan kimbab terbuka di atas meja belajarnya. Citra yang duduk di depannya, telah berbalik dan sibuk menyantap makanan selama pemiliknya bertopang dagu dengan tatapan kosong. Setelah tinggal satu gigit lagi, tokkebi milik April lenyap, April menoleh ke arah sahabatnya. Saat itulah ia sadar. 


"Tokkebi sama kimbab April ke mana?!" pekik April panik. 


"Eh, sori, gue makan." 


"Citra!" Darah April memanas, dengan kekuatan dalam ia memukuli kepala sahabatnya dan menyubit bibir nakal Citra. 


"Woh, ya maap. Habisnya lu melamun. Melamunin apa sih?" 


April mendesah. Lalu, wajahnya berubah merana saat ia mengatakan, "Isla suka Kak Husain." 


"Hoek." Citra tersedak parah. Ia menepuk dadanya mencoba memuntahkan tokkebi di tenggorokannya. Ia mengambil botol minum asal dari meja di sebelahnya, dan menegaknya hingga tetes terakhir. 


"Citra gapapa?" 


Citra melambaikan tangannya sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja. 


"Lo dapat kesimpulan aneh kayak gitu darimana?" 


April menceritakan kejadian tadi dengan pelan, karena tak ingin ada teman sekelas mereka yang mendengar. 


 "April mesti gimana dong?" April melemas, kepalanya jatuh ke atas meja dengan posisi menghadap samping. 


"Apalagi April jadiannya sama Kak Husain gara-gara mitos itu." 


"Bener juga," cetus Citra keceplosan. 

__ADS_1


"Cit?!" 


"Apa?" 


__ADS_2