
Keselamatan Husain disambut puji-pujian kepada tuhan. Citra yang baru mendengar kabarnya sehari sebelum Husain pulang bahkan melayangkan ribuan protes pada April. Walaupun tentu saja, ia memahami bahwa sahabatnya pasti terlalu khawatir pada Husain untuk memberi kabar. Ia bisa saja mengirimkan doa untuk Husain bila April bilang sejak awal. Sementara, Isla yang juga mendengar di waktu yang berdekatan dengan Citra, langsung menangis setelah telepon April terputus. Ia lega lelaki itu selamat, tetapi juga sedih karena tidak bisa memberi pertolongan. Teman-teman Husain juga telah berkumpul di rumah lelaki itu, membuat sebuah pesta kecil atas kembalinya ia.
Mobil Kijang hitam yang membawa Husain dan kedua orang tuanya telah sampai di pekarangan rumah. Bahkan, tanpa keberadaan pemilik rumah pun, teman-temannya telah siap menyambutnya di ruang tamu. April menyempil di antara enam teman lelaki Husain ditemani oleh Nina yang saat ini sedang memotong buah-buahan di dapur. Saat lelaki itu membuka pintu rumahnya sendiri, dihadapannya terdapat orang-orang terdekat dengan kue berselimutkan fondant berwarna ungu dan topping buah anggur, cherry, dan whipping cream berukuran 20cmx20cm—dibuat oleh April.
"Selamat pulang!" sorak mereka bersama.
Di antara mereka, beberapa menyela, "Wah cowok perkasa sudah kembali, ges!" Beberapa itu adalah Kipli dan Ujang yang berteriak sembari meniup terompet kecil—yang biasa untuk pesta ulang tahun anak-anak.
"Makin jelek aja abis dari rumah sakit," ledek Arais menyengir pada temannya.
"Harusnya dia sekalian operasi plastik, maksud lo, Is?" canda Ujang, tetapi hanya ia yang tertawa keras di dalam ruangan berisi 10 orang tersebut. April yang seratus persen enggak satu frekuensi cuma menyengir canggung.
Nina yang berdiri di pinggir pintu yang memisahkan ruangan lain dan ruang utama, bertepuk tangan kecil atas perayaan kepulangan Husain, tanpa kata keluar dari lidahnya.
Husain sendiri senang. Namun, dahinya mengerut dan alisnya naik sebelah. Itu ekspresi bertanya-tanya.
"Perasaan Nina, Arais sama April cuman beda satu-dua jam sama gue berangkat dari rumah sakitnya. Kok persiapannya udah banyak?" tanya Husain.
"Iya, kuenya udah April buat dari kemarin, hehe."
"Kami siap-siap barengan sama anak SMP berangkat sekolah," jawab Kipli.
"Betewe, ini Minggu jadi anak SMP gak ada yang sekolah, bray." Reno yang membenarkan.
Pagi itu, atau bisa jadi siang, pukul setengah sebelas, mereka duduk bersama menyantap kue buatan April yang tak sesuai dugaan awal, ternyata rasanya sangat enak.
Arais meragukan indra perasanya untuk sesaat. Ia menatap Husain dan kue itu bergantian, kala sepasang matanya bertemu dengan sepasang mata lelaki itu. Dari raut wajahnya saja, kurang lebih Husain bisa mengartikan, "Bro, kue buatan pacar lo enak bat. Kok bisa? Curang lo."
Husain membalasnya dengan memutar bola mata, lalu menggerakkan mulutnya menyebut, "Curang apaan, iri banget, buat sendiri sana." Itu kenyataan isi hatinya. Setelah menyicip kue itu sesuap, hati Husain segera bergemuruh. Kesal. Harusnya kue ini untuknya saja. Kalau begitu bukan kesal, tetapi kecewa. Ia harus meminta April membuatkannya lagi atau tidak membiarkan manusia-manusia rakus yang tampak tidak pernah makan-makanan berglukosa ini, menelan semuanya habis.
__ADS_1
Setengah lagi kue itu akan hilang dari permukaan piring. Husain bertindak protektif, bahkan lebih protektif daripada ia pada April, menyelamatkan kue dari khalayak. Sontak, ia diserbu protes dari rakyat yang didzolimi. Orang tuanya menatap kue itu dengan penuh damba. Mereka bahkan baru memakan sepotong.
Arais berbisik pada Nina di sebelahnya. "Bakat terpendamnya bagus. Kalau disogok foto-foto Husain dia mau kali ya buatin buat kita lagi." Nina malah menatapnya serius dan berujar, "Kau mempraktikkan suap sejak dini."
"Salah, ini bukan suap. Tapi, barter."
"Bener katamu, bukan suap tapi pemerasan, kalau dilakukan sama orang berwajah preman."
Arais mendorong Nina dengan siku tangan kirinya.
"Orang bodoh membalas dengan kekerasan." Seolah mengamini ucapan Nina, Arais malah mendorong Nina semakin kuat.
Nina menggenggam tangan Arais, mengisyaratkan ia untuk berhenti mengacau. Husain kembali dari dapur setelah misi penyelamatan kuenya berhasil. Acara itu diakhiri dengan doa, kemudian pelukan cinta—ide Kipli—yang berubah menjadi permainan kucing-anjing karena Husain kabur berlarian mengelilingi rumah demi menghindari Arais dan Ujang yang semangat mengejarnya dengan tangan terbuka serta bibir mengerucut manjahhh.
***
April ingin bertanya soal kesehatan Husain sebenarnya, juga soal kapan ia akan berangkat sekolah lagi. Namun, daritadi, ia bisa merasakan punggungnya terbakar oleh bara api di mata kedua calon mertuanya yang tidak lepas menonton gerak-gerik April. Dia yang biasanya berisik seperti burung bersahut-sahutan, bergerak seperti mereog, apalagi ratusan gombal yang keluar dari mulutnya bak preman menggoda cabe-cabean di pinggir jalan, justru duduk sopan dengan kaki tertutup begitu pula mulutnya.
Kalau salah bicara nanti, orangtua Husain enggak bakal tiba-tiba, "Putus kamu sama anak saya! Cewek kayak kamu, mana pantas sama Husain yang ganteng, pintar, baik, HAH?!" April dibuat merinding dengan dialog di imajinasinya itu.
Imajinasi April pada kenyataannya bagai antonim dengan pikiran orangtua kekasihnya. Isi pikiran mereka justru, "Haduh, kok Husain bisa punya pacar lucu kayak gitu? Gemes, lho. Pendek-pendek imut. Itu kenapa dia enggak ngapa-ngapain? Ajak ngobrol, lha. Pah, nanti kamu harus kasih wejangan. Kaku banget, kanebol kering aja kalah." Itu dari Mama. Kalau Papa, "Halah, Husain sok kalem mentang-mentang di rumah. Pasti dia udah aneh-aneh itu. Mana mungkin pacaran lebih kaku dari kanebol kering kalau enggak ada apa-apa. Papah udah berpengalaman dalam menutupi aib sendiri pada keluarga."
Husain sendiri bisa merasakan orangtuanya yang sedang ... entah berimajinasi seperti apa, tetapi firasatnya jelek. Ia memang tidak pernah membawa perempuan, kecuali teman satu kelompok dan Nina, ke rumah. Namun, saat pertama kali membawa Nina ke rumah, setelah gadis itu pulang, ibunya berujar, "Dia dari suku apa? Jangan jawa, ya! Kamu orang sunda enggak boleh nikah sama orang jawa." Sunda keturunan saja, Husain enggak bisa bahasa Sunda walau orangtuanya fasih sekali, lidahnya berbahasa gen z.
Oleh karena itu, Husain bisa menebak orangtuanya pasti membayangkan yang aneh-aneh. Masih SMA saja sudah bahas menikah. Kalau sekarang Husain diam, alasannya satu, ia sedang memutar otak supaya orangtuanya memberi jarak 10 meter untuk mereka.
Alhasil, karena alasan masing-masing, April dan Husain diam sambil meminum teh yang disajikan ibu Husain tadi.
Yang memutus kesunyian panjang itu adalah Arais, dengan ucapannya, "Halo, kayaknya gue tersesat di tengah kuburan deh. Hening banget, mengalahkan Mengheningkan Cipta."
__ADS_1
Husain meliriknya, lalu mendesah jengah karena keanehan Arais yang harus ia hadapi lagi hari ini. "Duduk, deh. Biar cair."
Dipersilakan oleh pemilik rumah, Arais menarik Nina untuk duduk di sofa.
"April, lo ke Bandung ngapain? Untung waktu itu ada lo, jadi cepet deh Husain diurus. Tapi, kayak kebetulan banget," ungkap Arais merasa janggal.
"Oh, itu, Kak Nina minta aku pergi ke Bandung nemuin Kak Husain, gitu," jelas singkatnya.
"Ooh, Nina, ya?" Sambil mengatakannya, Arais melirik Nina dengan alis naik sebelah.
Pembicaraan berjalan lancar karena kesupelan Arais dan lawakan garing memenuhi setiap dialognya.
Setelah mengantar April pulang, sepasang sepupu itu mengendarai mobil mereka menuju rumah. Arais lagi-lagi menjadi pemecah keheningan.
"Don't you owe an explanation to me, Nina?"
"No, focus on driving."
"Nin, gue tanya lo jawab. Kenapa lo ngajak gue ke Bandung bahkan sebelum April ngabarin lo soal kecelakaan Husain?"
"Enggak perlu tahu, Ar. Nanti kalau aku merasa kamu perlu tahu, aku bakal bilang."
"Nina, ini aja, kejadiannya yang aneh atau lo yang enggak normal? Answer please."
"Both," jawab gadis bergaun hitam itu lugas tanpa jeda. Menunjukkan keyakinan atas jawabannya.
Banyak hal yang Arais rasa, Nina perlu ceritakan padanya. Namun, bisunya gadis itu pada pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan selanjutnya, membuatnya memilih untuk menunggu.
Waktu Nina akan menjelaskan padanya pasti akan tiba. Jika tidak, sampai dijemput malaikat pencabut nyawa pun, ia akan tetap membuntuti gadis dengan hawa suram yang menusuk itu.
__ADS_1