
Pojok kelas kini menjadi teritorial April dan Citra. Bibir Citra sibuk meminum es jeruk dari plastik ukuran setengah kilo yang ia beli di kantin beberapa menit lalu. Di sebelahnya, April melamun dengan mata menatap lurus ke arah kaki kursi terbelakang di kelas.
"Melamun mulu lo, Pril."
"Masih mikirin yang kemaren," sambung Citra. Itu bukan pertanyaan, merupakan pernyataan. Karena Citra tahu pasti April sednag memikirkan apa. Sesaat Citra terlempar ke dalam ingatan, saat ia dan April melihat Isla dan Husain berjalan bersama ke luar mall. April berdeham mengiyakan.
"Yah, gue juga enggak nyangka sih, Kak Husain dan Isla punya hubungan lebih."
"Masih mau mutusin Kak Husain?" sambungnya. April berdeham mengiyakan, lagi.
"Terus kenapa enggak diputusin?"
"Gak berani," jawab April lemas.
"Hah," desah Citra tak habis pikir. Sudah ke-sekian kali ia ikut pusing membantu April menyelesaikan masalahnya. Yang biasanya cuma berputar-putar ke satu titik, April enggak berani, April takut, April enggak tega. Bertepatan dengan es jeruknya yang habis, otak Citra mendapat ide yang cukup cemerlang.
"Heh, kalau takut mutusin langsung, kenapa enggak batalin mitos yang kata lo itu aja? Siapa tahu nanti Kak Husain yang mutusin lo," ujar Citra.
April menatap Citra dengan mata berbinar seraya berujar, "Ih, Citra pinter. April baru kepikiran ide itu."
"Ya emang gue pinter. Dih, lo baru sadar?" ujar gadis yang mengibaskan rambut pendeknya. Namun, April memilih mengabaikan Citra dan melesat ke luar kelas.
"Lah si anj—gue dicuekin?!" Citra terperangah, tak terima.
Dia ingat seseorang yang bisa membantunya. "Kalau butuh bantuan tentang mitos itu cari saja aku." April ingat Nina pernah mengatakannya.
***
Lima hari lalu, April tak menemukan Nina di kelasnya. Ia terpaksa kembali karena bel tanda jam istirahat telah berakhir berbunyi. Hari itu adalah hari terakhir sebelum libur empat hari karena kakak kelas XII akan mengambil alih sekolah untuk UN.
April mencari Nina setelah pulang sekolah. Sama seperti lima hari lalu, Nina tak ada di kelasnya. Menurut teman-teman sekelasnya, Nina hampir selalu berdiam diri di perpustakaan sekolah, baik saat istirahat maupun sepulang sekolah. Dan ya, kesaksian mereka benar. Nina, kakak kelasnya itu duduk di kursi penjaga perpustakaan dengan buku tebal terbuka di atas meja.
"Kak Nina," sapa April pelan. Perpustakaan adalah tempat yang melarang pengunjungnya untuk mengobrol atau berisik. Meski saat ini, perpustakaan dalam keadaan kosong dan hanya ada mereka berdua di dalamnya.
"April ya? Ada yang mau kau tanyakan?"
"Eh? Kak Nina cenayang ya, kok tahu?" Pertama kali bertemu, Nina juga selalu tahu apa yang ia ingin katakan sebelum bibirnya mengatakannya.
"Kan aku yang dulu bilang, kalau ada yang mau kau tanyakan tentang mitos itu, datang saja padaku."
__ADS_1
"Oh iya juga, hehe," cengir April.
Nina menepuk kursi di sebelahnya dua kali, mengisyaratkan pada April untuk duduk di sana. "Duduk, Pril."
"Siap, Kak." Kursinya cukup tinggi, menyentuh pusar April. Dia sedikit kesulitan saat naik, untungnya, Nina mengulurkan tangannya untuk membantu April. Setelah pantat April mendarat dengan baik di atas kursi dan sudah mendapat posisi nyaman, Nina bertanya padanya. "Jadi, mau tanya apa?"
"Ah itu, Kak Nina tahu cara batalin mitosnya?" Nina tak butuh waktu untuk berkata tidak. April sempat terperanjat karena kecepatan Nina menjawabnya.
"Kak Nina serius? Coba inget-inget lagi, siapa tahu ada," pinta April putus asa.
"Setahuku sih tidak ada, Pril. Tapi, mungkin kau bisa cari tahu sendiri?"
"Caranya?"
"Ingat soal blog sekolah yang waktu itu kubicarakan? Kau bisa cari di sana."
"April ingat!" jawabnya semangat.
Nina menekan tombol on pada komputer perpustakaan. "Bagus, akan kutunjukan."
Nina membuka Google Chrome, lalu mengetik di atas keyboard. Kolom pencarian menunjukan salah satu blog yang pernah dikunjungi, blog sekolah tahun 2000-an awal.
"Kenapa mau batalin mitosnya? Gara-gara Isla pernah suka Husain?" tanya Nina sambil menggeser kursor ke bawah, mencari artikel mengenai mitos sekolah.
"Aku liat pas kalian berantem di kelas," jelasnya.
"Kak Nina kayak punya mata dimana-mana."
"Mataku normal kok, Pril. Ada dua. Kebetulan aja kemarin lewat, kan masih satu gedung."
"Iya sih."
April sesekali melirik wajah datar Nina saat gadis itu fokus menatap komputer. Entah kenapa, ia ingin menanyakan ini. "Kak Nina percaya enggak sama mitosnya?"
Jari Nina berhenti bergerak. Menatap April sekilas, lalu kembali menatap layar kala ia berkata, "Iya."
"Pernah coba mitosnya?" Nina tertawa pelan dengan bibir tertutup. April sempat terpana untuk sesaat, itu pertama kalinya ia melihat Nina merubah ekspresi datarnya. "Enggak, April," jawabnya pelan.
"Kenapa?"
"Kepo banget?" Kepala Nina kini menghadap April lurus. April mengerjapkam matanya cepat. Sedikit kaget. Kemudian, kepalanya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Belum ada yang kuinginkan." Nina lanjut mengerjakan apa yang sebelumnya ia lakukan.
Ketemu. "Bacalah," ujar Nina, lalu menggeser kursi agar April lebih leluasa untuk membacanya.
Selagi April fokus pada setiap kalimat dan paragraf pada layar, Nina bertanya, "Kau percaya tidak, kalau kebohongan yang kita ucap sesuai syarat mitos itu, bisa menembus waktu bahkan dimensi?"
"Maksudnya?"
April belum terjerumus masuk ke dalam lubang mitos ini, mengetahui itu, Nina memutuskan untuk diam tidak menjelaskan. Bila suatu saat ia tahu, biarlah ia tahu dengan sendirinya. Atau saat ia akhirnya memutuskan untuk menggali lebih dari Nina, tiba.
"Bukan apa-apa. Tak usah dipikirkan," ujarnya seraya menggelengkan kepala.
Lima belas menit lebih April habiskan hanya untuk membaca artikel itu dan memahaminya. Rekor baru. Biasanya ia sudah mengeluh kesal jika membaca paragraf-paragraf rumit apalagi jika itu buku pelajaran.
"Gimana?"
"Enggak ketemu, Kak, " keluhnya usai membaca artikel hingga kata terakhir.
"Kak Nina beneran gak tahu sama sekali?" tanya April dengan tatapan putus asa.
Dia benar-benar tidak bisa jika harus memutuskan Husain. Hatinya tidak siap. Tapi, dia juga tak mau menghalangi hubungan Isla dan Husain dengan terus-terusan menjadi pacar Husain dengan perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Cuma ini satu-satunya cara yang tersisa.
"Maaf, Pril. Aku juga enggak tahu." Mendengar jawabannya, April hanya bisa menenggelamkan wajahnya dalam kedua tangan yang ia tekuk di atas meja. Akan lebih baik jika Husain memutuskannya segera. Dia tak sanggup menahan rasa bersalah ini, pada Isla maupun pada Husain.
"Tapi ...." April menunggu Nina menyelesaikan kalimat yang ingin dilontarkannya.
"... ada satu orang yang percaya mitosnya seperti April. Mungkin, kau bisa bertanya padanya." April menegakan leher dan menatap Nina penuh harap.
"Belum pasti dia tahu," ujarnya tak ingin April berharap terlalu banyak.
"Enggak apa, Kak! Siapa yang percaya mitosnya? Nama? Kelas?" tanya April beruntun.
"Itu ...." Nina menggantungkan kalimatnya ketika pintu perpustakaan dibuka oleh seseorang. Terdengar decitan kecil saat siswa itu mendorong pintu untuk masuk.
April mengikuti arah tatap Nina, pintu perpustakaan. Ia mengenal orang yang sedang membuka pintu perpustakaan itu. Salah satu teman Husain yang setia menemaninya, Arais.
"Kebetulan, orang yang dimaksud datang."
Jedar! April saking kagetnya seakan tersambar petir. Enggak salah denger, kan?
"Kak Arais yang ... " gantung April sengaja, meminta Nina untuk melanjutkan ucapannya supaya jelas.
__ADS_1
"Iya, dia juga pernah ngikutin mitos itu, April."