
Bagai maling yang menyelinap masuk ke rumah orang, April mengawasi sekitarnya dengan mata tajam dan jalan mengendap-endap. Setiap belokan, ia sempatkan untuk mengintip sebelum melewatinya. Siswa-siswi lain yang berlalu-lalang di sekitar gadis itu mengernyit heran, bahkan ada yang membuat garis miring di depan dahi saat melewatinya (artinya: gila).
April dapat bernafas lega saat sampai ke kelasnya dengan aman, damai dan utuh. Citra memutar kursinya menghadap April.
"Ngapain lo?"
"Duduk lah, buta mata Citra?"
"Bukan itu, bego. Lo ngapain jalan ngendap-ngendap? Berasa ninja hattori?"
April berdecak. "Ya ngehindarin Kak Husain lah. Liat mukanya aja April sekarang, rasanya gak sanggup."
"Belum jadi mantan aja udah ngehindar," cibir Citra dengan bibir dimonyong-monyongkan.
"April tabok nih bibirnya, kurang ajar." Tangan April sudah siap untuk melauangkan pukulan ke mulu sahabatnya. Citra tak peduli, telapak tangannya menutup mulutnya yang menguap.
"Eh, tapi biasanya Kak Husain tipikal orang yang bolak-balik sana-sini gara disuruh ini-itu ga sih? Entah kegiatan osis lah, ekskul ini lah, bantuin guru lah. Walau belakangan ini gue liatnya Kak Husain nyantai sih."
"Citra kok perhatian ke Kak Husain? Masa Citra juga suka ...."
Plak!
Dahi April terkena toyoran super dari Citra. Gadis itu terdiam dan menatap nyalang sahabatnya meminta penjelasan.
"Sembarangan! Gue ga ada ya niat ngambil cowo sahabat gue. Lebih-lebih, gantengan Kak Arais kale."
"Sebenernya gantengan Kak Husain, tapi baguslah Citra ga suka. Ga nambahin beban pikiran April."
"Bodoamat. Gue bodoamat." Citra memutar kursinya dan menghadap depan tepat saat bel pelajaran pertama berbunyi.
***
Seperti perkataan Citra, Husain memang tak terlihat di mana pun. Di pinggir lapangan, langganan tongkrongan teman-temannya, hanya lelaki itu yang tak bersama mereka.
"Kak Husain ke mana?"
"Cie penasaran. Bagus kan, kalau ga ada? Lo gak perlu susah-susah ngehindar."
"Iya sih."
Citra mendapat ide cemerlang. "Lo sekepo itu?"
"Enggak, biasa aja," elak April dengan pipi bersemu.
"Halah. Bilang aja. Bisa gue selesain."
"Caranya?"
Citra menarik kedua ujung bibirnya dan berkata, "Tunggu aja."
Dengan langkah pasti, gadis itu berjalan menuju ke pinggir lapangan. Tempat enam siswa duduk santai sembari memainkan ponsel masing-masing.
__ADS_1
"Halo, Kak," sapa Citra tanpa melambaikan tangan.
Otomatis, enam siswa itu menoleh ke arahnya. Citra tersenyum tipis dan berujar, "Gue mau nanya, boleh?"
Di tempatnya, April menggigit jarinya. "Bisa-bisanya Citra seberani itu."
"Boleh," jawab Ujang, lalu saling lirik dengan Kipli. Kalau diterjemahkan artinya, ada cewek cantik, bro.
Mengabaikan Ujang yang dengan ramah menjawabnya, Citra lurus menghadap Arais, tak goyah ke arah lain barang semili pun.
Asem, dicuekin. Nasib orang gak gudluking, batin Ujang.
"Kak, Kak Husainnya ke mana? Temen gue nyariin," tanya Citra santai walau dalam hati sudah jedag-jedug kayak remix-an jamet. Yang ditanya sontak menoleh dan memberi tatapan heran ke arah teman-temannya sebelum mendongak menatap Citra.
"Lo nanya gue?" Arais menunjuk dirinya sendiri saat bertanya.
"Sebenernya nanya semunya," tapi boong, "tapi Kak Arais aja yang jawab juga gak apa-apa."
"Modusnya," cibir Cito sebelum dicubit maut oleh Reno yang duduk di sebelahnya. "Diem woi, jangan ganggu orang lagi pedekate."
"Husain tadi ... ikut seminar bareng guru, gak sih?" jawab Arais ragu, lalu meminta penjelasan lebih dari teman-temannya. Bak patung, mereka bergeming dan hanya menggerakan mata seakan memberi kode ke masing-masing, melemparkan perintah untuk menjawab Arais.
Ujang melotot menatap Reno didepannya, lalu melirik ke arah Arais dengan cepat. Artinya, "Lo jawab ih, bego." Reno yang merasa tersindir memutar bola mata dan memberikan tatapan yang artinya, "Siapa lo nyuruh-nyuruh?" Tak hanya mereka, yang lain ikut bermain mata hanya untuk menjawab pertanyaan Arais yang sebenarnya hanya memerlukan jawaban ya atau tidak.
Citra masih setia menunggu jawaban mereka. Ralat, jawaban Arais.
"Iya, bener kok. Ke seminar dia nemenin guru. Mungkin, nanti istirahat kedua balik. Nanti gue sampein kalau ada yang nyari. Nama lo siapa?" jawab Arais terpaksa, menunggu salah satu sahabatnya menjawab sama dengan menunggu cewek selesai dandan. Namun, yang menjadi fokus teman-temannya justru kalimat terakhir Arais.
"Wih, mulus banget nanya namanya," batin Kipli mengagumi modus Arais yang mulus semulus pantat bayi.
"Udah itu aja?" tanya Arais sebelum Citra berbalik dan pergi.
Kesempatan! Mata Citra berbinar dengan pipi bersemu malu saat menjawab, "Sebenarnya udah, tapi kalau Kak Arais mau ngobrol lebih lama gapapa. Gue siap."
Jawaban berani Citra membuat enam lelaki itu seolah tersambar petir. Ujang berdecak kagum. Sementara Kipli melongo tak percaya ada cewek yang berani ngegodain cowok semudah itu. Reno, Cito dan Fiki seketika merinding. Arais hanya merespon datar dengan menyahut, "Oh, ya udah."
"Oh? Ya udah?!" Citra melotot, kemudian dengan kecepatan cahaya ekspresinya berubah ceria saat melambaikan tangan dan kembali berdiri di sebelah April.
"Citra nekat banget, April mau jantungan," gadis itu berkata sembari memegang dadanya. "Alhamdulillah, gak jantungan. Males gue jenguk lo di rs." Dan dalam hitungan detik pula, Citra kembali ke dirinya yang biasa. Judes, bodoamat, dan savage.
Bagai orang berbeda di satu tubuh yang sama.
Tentu saja, Citra tak lupa menjelaskan jawaban Arais dengan nada datar dan malasnya.
"Alhamdulillah, gak perlu susah-susah ngehindar berarti," pikirnya.
***
Oke, ekspektasi dan realita memang tak jarang mengecewakan manusia. Termasuk April, karena hari ini, yang April pikir tak lerku bertemu Husain, justru melihat lelaki itu berjalan tak jauh di ujung koridor sana sembari membawa buku di pelukannya.
"Mampus pol," batin April mengumpati ketidakberuntungannya.
__ADS_1
Otaknya memberi ide cemerlang dalam waktu singkat. Dengan cepat ia menunduk dan berjongkok di balik semak-semak yang terletak di pinggir koridor. Kaki dan lututnya menyentuh rerumputan dan merangkak dengan kepala menunduk sedalam-dalamnya. Tinggi semak-semak yang dipotong persegi panjang rapi itu hampir mencapai pinggang. Jika dia beruntung, Husain tak akan memerhatikannya.
Ah, tapi April tak pernah beruntung.
"Pril? Lo ... merayap?"
Tenggelamkan April sekarang!
"Eh?" April gelagapan, tubuhnya diam dan mulutnya menganga, siap untuk dihinggapi lalat.
Gadis itu berdiri dan berlari tanpa arah sembari menutup wajahnya dengan rambut. "Malu banget, malu. April mah terjun dari gedung pencakar langit aja. Huaaa," rengek gadis itu di setiap langkahnya.
"Dia kenapa, sih?" Husain tak tahu mengapa pacarnya bertingkah dua kali lipat lebih aneh dari keanehannya yang biasa.
***
Suram. Aura kegelapan menguar dari tubuh April. Citra di depannya jadi ikutan murung dan semakin malas untuk mengerjakan tugas di atas mejanya setelah melihat wajah April yang tampak tak bernyawa. Atau itu cuma alasannya saja.
Bahu April turun, ujung bibirnya turun, matanya hampa, bahkan guru yang sedang menjelaskan di papan tulis pun suaranya memantul ke luar telinga.
Citra terkena virusnya. Jauh lebih parah. Jika April murung dalam keadaan duduk menyender pada kursi. Maka, Citra menghadapi kesuraman hari dengan membaringkan kepala di atas meja dan menutup kepalanya dengan buku paket, tak lupa ransel yang berubah fungsi menjadi guling.
Kesuraman mereka berakhir ketika guru sejarah selesai mengajar dan meninggalkan kelas. Citra berbalik pada sahabatnya, dengan suara datar tak bersemangat, ia berujar, "Maen, yok. Suram banget lo, Pril. Gue yang idupnya udah suram jadi makim dark."
"Pril," panggil Citra sekali lagi.
"Mumpung empat hari ke depan libur kakel UN," lanjutnya.
"Boleh deh, Cit. April males juga di rumah terus," jawab April lemas.
"Emang namanya galau tuh serem ya, Pril. Orang yang ceria jadi berubah sendu, jadi kayak mayat hidup."
"Lucu," berbanding terbalik dengan ucapannya, April tak tersenyum atau merubah ekspresinya.
"Padahal gue gak ngelucu. Untung gue lagi males atau enggak ini bibir lo udah gue tampol."
Usai mengajak April dan memastikan janjian jam berapa, di mana, dan agenda lainnya, Citra mengambil ponselnya di dalam tas. Ia menggulir layarnya, mencari aplikasi chatting hijau, lalu menekan kontak sahabatnya yang lain.
Diam-diam, ia berharap jika mereka kumpul dan bermain bersama lagi, mungkin April bisa lebih memahami keadaan dan memutuskan apa yang harus dilakukam selanjutnya dengan serius. Isla tampak baik atau tidak, mungkin bisa memengaruhi pilihan April. Putus atau lanjut. Citra juga ingin keadaan mereka kembali seperti semula. Malas juga tiap hari suram, sunyi, kayak kuburan.
Islalala aku suka sekali doraemon (nama kontak Isla)
La, bsk mo maen, ikut?
^^^Sori, udah ada janji.^^^
Janji paan?
^^^Cie, kepo. Ada deh. Jalan bareng April? ^^^
Heeh.
__ADS_1
^^^Have fun, guys. ^^^
Citra kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Mereka juga janjiannya mendadak. Tak peduli lebih, Citra meletakan kembali ponselnya di dalam tas dan menatap lurus ke arah depan bersamaan dengan guru jam selanjutnya memberi salam sebelum jam pelajaran dimulai.