
Jam empat lewat, manajer basket tim mereka malah tidak kelihatan batang hidungnya sejak latihan dimulai sampai selesai. Arais dan anggota ekskul basket lain membuka ponsel mereka untuk menghubungi manajer. Namun, tepat sebelum telepon itu tersambung, seseorang membuka pintu gedung olahraga. Hanya saja, bukan manajer yang mereka temukan di sana.
"Maaf, gue telat." Orang itu Arais kenali dengan nama Isla, mantan gebetan Husain sekaligus sahabat pacar sahabatnya itu sekarang.
"Lo ngapain di sini?" tanya Arais duluan.
"Mina lagi ada urusan keluarga, Kak. Dia udah nitip kunci gedung olahraga ke gue, terus juga dia udah minta buat gedungnya dibersihin juga. Nama gue Isla, gue bakal gantiin dia hari ini."
"Mana bisa ganti-ganti kayak gitu. Tanggung jawab dia enggak bisa dialih-tangankan semudah itu, lah," protes Arais sembari mengacak-acak rambutnya kesal. "Gue bakal hubungin tu anak."
Isla menggenggam tangan Arais sebelum lelaki itu menyentuh layar ponselnya.
"Jangan, Kak. Kasihan, adik Mina lagi sakit makanya dia minta bantuan gue."
Arais melepas tangan Isla dengan tangannya yang lain. Kemudian mengangguk paksa. "Tetep aja, kalau enggak bisa mending kasih kabar daripada nyuruh orang lain."
Usai pembicaraan singkat itu, Isla segera menyelesaikan tugas yang seharusnya dilakukan oleh Mina. Semua anggota ekskul juga telah pulang terlebih dahulu. Butuh waktu sampai pukul setengah enam untuk Isla selesai memeriksa dan membereskan alat-alat yang sudah anggota ekskul basket pakai. Ekskul ini mempunyai dua manajer, hanya saja, selain Mina, manajer lainnya memang telah meminta cuti. Anggota basket tentu bukannya kejam dan tidak membereskan ruangan. Semuanya sudah beres. Hanya saja, manajer memang diberi tugas oleh pembimbing untuk mengecek kelengkapan alat (anggota basket kurang bisa dipercaya untuk pembimbing sepertinya).
Namun, Isla adalah orang asing. Tidak seharusnya, murid di luar ekskul untuk mengemban tugas yang butuh kepercayaan guru seperti ini. Arais mengetahui itu sepenuhnya, makanya dia—
"Akh," pekik Isla saat melihat seseorang berseragam basket duduk bersila di luar gedung dengan tangan menumpu dagu.
Arais satu-satunya anggota basket yang belum meninggalkan halaman sekolah.
"Gue pikir, semuanya udah pulang."
"Mana mungkin gue biarin orang asing lakuin tugas sendirian. Entar ada yang ilang lagi." Secara tidak langsung, Arais menuduhnya. Namun, Isla seperti biasa hanya diam, tak mencari ribut. Mulut Isla yang terkunci justru menimbulkan kebingungan di kepala Arais. Rasanya, tidak mungkin gadis itu sangat polos sampai tidak memahami sindirannya. Arais mendengus dan menutup pintu gedung olahraga.
"Kunci pintunya," suruh lelaki yang menunduk untuk mengambil tas dengan motif belasan stiker Powerpuff Girls yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Kuncinya gue bawa ke rumah Mina atau—"
"Ga usah," potong Arais. "Gue aja yang bawa. Paling besok dia kena sangsi dari pelatih atau paling parah dikeluarin."
"Jangan, dong, Kak," protes Isla untuk pertama kalinya.
"Itu kesalahan dia. Lo gak berhak untuk komentar soal keputusan pelatih." Arais berjalan meninggalkan Isla. Di belakangnya, Isla berjalan cepat untuk menyusul Arais yang langkahnya jauh lebih lebar.
Ketika ia berhasil menyamakan langkah dengan lelaki bertinggi lebih dari enam kaki itu, tangannya terjulur ke depan dada Arais, menghentikan lelaki tersebut.
"Kalau gue jadi manajer juga, berarti harusnya tadi bukan kesalahan melainkan hanya berganti shift aja, 'kan?"
Terseliplah tawa dari bibir Arais. "Kalau pun lo mau jadi manajer, hari ini posisi lo belum resmi, 'kan?"
"Hari ini percobaan, pelatihan, atau semacamnya."
"Pelatihan gak ada pengawasnya?"
" .... " Arais tak bisa berkata-kata. Adik kelas satu ini berani juga menjawab kata-katanya sampai akhir.
"Yah, lihat aja nanti keputusan pelatih."
"Oh, santai, Kak." Arais makin mengernyit.
Singkat cerita (lebih tepatnya Arais malas cerita panjang-panjang, dia pengen cepet-cepet tahu keputusan pelatih), saat ini Isla berdiri di hadapan seluruh anggota ekskul basket bersama pelatih di sebelah kanannya.
Isla datang dengan wajah datar, tetapi kala matanya bertemu dengan Arais, ia menunjukkan mata tersenyum dengan bibir datar. Sangat menggelitik emosi Arais hari itu. Puncaknya adalah ketika pelatih memperkenalkannya sebagai manajer baru.
Apa rahasianya? Kok bisa? Sama, itu juga pertanyaan Arais. Makanya, sekarang ia mengikuti ke mana pun gadis itu pergi dan menuntutnya dengan tatapan tajam tanpa kata-kata. Isla dibuat gatal ingin mendorong Arais pergi. Tentu, sebagai orang paling waras di antara mereka, ia berhenti ketika mereka berada di dalam ruang penyimpanan hanya berdua.
__ADS_1
"Ada apa, Kak?"
"Lo ... kok?" Isla mengedip-kedipkan matanya, menunggu lelaki itu menyelesaikan pertanyaan. Namun, sepertinya lidah Arais kelu (atau ia malu).
"Kakak mungkin cuma kenal gue sebagai ... mantan gebetan Kak Husain," ucapnya santai tanpa emosi, lalu ia melanjutkan, "Tapi, di mata teman-teman gue dikenal sebagai murid penjilat dan di mata guru-guru, imej gue adalah murid terpercaya nan teladan. Terima kasih." Isla mengakhiri penjelasannya dengan senyuman singkat. Kemudian, ia melangkah ke luar ruangan, menyisakan Arais di dalam sendirian dengan tubuh membeku.
"What?" Ia sungguh mengira Isla akan dihukum atau apa. Pantas sejak awal dia tidak khawatir akan menerima hukuman dan hanya mempedulikan sangsi yang mungkin akan diterima temannya. Arais mengusap rambutnya asal.
***
Selain Isla, sepertinya ada orang lain yang juga dibuat jengkel oleh Arais. Lelaki itu duduk membuka-menutup buku berulang-ulang tanpa membacanya seraya menatap ke luar jendela yang hanya terdapat dinding pagar yang berlumut.
"Isi otaknya pasti kosong," batin siswi penunggu perpustakaan yang sedang menyusun buku-buku yang baru dikembalikan.
Ketenangan perpustakaan dirusak oleh teriakan tiba-tiba dari Arais. Kalau Nina bukan manusia paling sabar, ia mungkin sudah melemparkan buku setebal 500 halaman di tangannya menuju puncak kepala lelaki itu.
Untungnya, suasana perpus memang sedang sepi. Karena memang seharusnya tidak ada murid di sini. Arais membolos tentunya, sementara Nina seharusnya kembali ke kelas kalau bukan karena sekelompok kelas 10 tanpa sopan-santun mengembalikan buku mereka dipenghujung jam istirahat. Ke manakah para guru yang mengawas? Tentu saja, menyalahgunakan kuasa mereka dan memanfaatkan murid-murid seperti Nina. Nina tidak merasa dimanfaatkan karena ia memang suka buku, sih.
"Ar, jam istirahat sudah habis dari setengah jam lalu. Lebih baik kamu ke kelas sekarang," nasihat Nina.
Arais berbalik dan menemukan sepupunya itu menyusun buku pada rak yang berada tepat belakangnya. "Gak adil 'kan, ya, kalau murid kesayangan guru dapat perlakuan spesial?"
Nina menoleh sepenuhnya pada Arais dan mengungkapkan pendapatnya, "Murid kesayangan guru pasti ada gunanya daripada kamu yang anorganik, 'kan?"
Arais melambaikan tangannya di depan wajah seraya berkata, "Salah gue ngomong sama lo."
"Aku balik," pamit Nina setelah pekerjaannya usai. "Omong-omong, jangan terlalu memikirkan yang tidak penting."
Bagaimana bisa Nina berpikir ini bukan topik penting? Bukannya ini asal mula nepotisme? Arais terlalu dalam meneliti masalah ini.
__ADS_1
Di sisi lain, gadis yang hinggap di pikirannya justru belajar dengan tekun di kelas. Walau sempat terpikir sesuatu, yaitu, "Dia suka Powerpuff Girls juga?" seraya menekan tombol pena yang bergambar Bubble (tokoh Powerpuff Girls yang berambut kuning dan beramta biru dengan citra imuj dan lucu). Itu pena favoritnya.