
Apparently, jika kau adalah murid berkelamin perempuan di SMANDUGA terutama berada di kelas 11 dan 10 pada tahun ini, maka kau pasti pernah barang sehari mengagumi, bahkan menyukai Arais atau Husain, atau malah keduanya di saat yang bersamaan.
Mungkin, problem-nya memang di sana. Sebagai orang yang tanpa angin tanpa hujan tiba-tiba menjabat sebagai manajer basket yang anggotanya terdapat salah satu dari dua lelaki paling nge-top di SMA ini, Isla sudah mengalami banyak pengalaman baru. Bukan hanya bekerja sebagai manajer, ia juga tiba-tiba menjadi seperti karyawan di meja informasi sebuah perusahaan.
Pertanyaan seperti, "Kak Arais gimana pas latihan?" "Ada nomor Kak Arais gak?" "Anak basket kalau ganti baju, lo pernah liat gak? Rumor kalau Arais punya roti sobek bener gak?" Oke, yang terakhir itu kelewat batas. Itu privasi. Kalaupun Isla tahu takkan ia sebar.
Menjadi manajer tidak mempermudah hidupnya. Mempersulit iya. Ia harus mengatur ulang jadwal untuk belajar, jualan, dan mengikuti ekskul. Helaan nafas terdengar lirih dari bibirnya. Isla menatap buku yang sudah penuh coret-coretan jadwal baru. Awalnya sudah sesuai harusnya, tapi tiba-tiba ekskul basket mengubah sedikit jadwalnya dengan menambahkan jadwal latihan pada sore hari sepulang sekolah. Beberapa hari setelah ulangan akhir semester selesai, akan ada pertandingan dengan SMA dari kabupaten sebelah. Makanya, tim mereka melakukan latihan intensif. Tim yang akan dilawan nanti katanya telah berhasil mencapai tingkat provinsi yang permainannya sebagian besar kalah di final. Artinya, mereka tim yang kompeten.
Padahal, Isla saja tidak tahu peraturan basket. Sekadar mendukung dengan menyiapkan alat-alat dan makanan tidak cukup untuk manajer. Kadang, kami juga harus mencatat progres latihan. Seperti, berapa kali pemain A bisa memasukkan bola three-point selama satu permainan berlangsung, berapa rebound yang berhasil dilakukan setiap babak, siapa yang melakukan kesalahan terbanyak, dan lain-lain, deh.
Karena ekskul itu menyita banyak waktunya, Isla harus mengalihkan jam belajar pada malam hari mulai dari jam 8 ke atas. Agak berat karena ia mudah mengantuk.
Sore ini juga akan ada latihan. Saat ini, jam pelajaran terakhir sedang berlangsung di kelasnya. Sekitar dua puluh menit lagi, bel akan berbunyi dan ia harus kembali ke lapangan. She is tired, honestly. Not that she can do anything about it. Ini konsekuensi karena secara impulsif mengajukan diri menjadi manajer untuk menyelamatkan Mina. Gadis yang diselamatkan berterima kasih pun tidak. Mina sempat kesal padanya karena menjadi manajer dengan mudah. Sepertinya, gadis itu menganggap Isla mengganggunya sebagai satu-satunya perempuan di ekskul ini. Bukannya Isla mau. Namun, abaikan saja itu. Isla memang tidak berniat Mina memberikan balasan apa-apa.
Soal menjadi manajer dengan mudah itu, enggak sepenuhnya salah. Mendengar nama Isla mengajukan diri sebagai manajer saja, pelatih langsung senang dan semangat 45 untuk menyantumkan namanya sebagai anggota menit itu juga. Di kantor, namanya bersiliweran sebagai murid IPS paling teladan. Isla merasa bahwa standar anak teladan untuk jurusan IPS lebih rendah dari standar biasa. Karena dirinya pribadi cuma melakukan hal-hal yang merupakan kewajiban murid dan bersikap sewajarnya dengan sopan-santun juga bicara yang baik. Itu ... bukannya bare minimum?
__ADS_1
Dering bel yang dirindukan siswa-siswi setiap mereka mengijakkan kaki di sekolah memecah lamunan Isla. Meski pikirannya mengudara sampai angkasa, bak memori otot, tangannya telah menulis ringkasan materi hari ini. Kalau begini, Isla jadi merasa seperti robot autonom yang belajar dengan sendirinya.
Perannya sebagai pusat perhatian hari ini telah berakhir. Siswi-siswi sudah kehilangan ketertarikan mereka terhadap Isla.
Kakinya berjalan santai menuju lapangan yang sudah dipenuhi oleh anggota basket yang telah berganti pakaian. Kaus seragam mereka tidak berlengan berwarna biru tua dan nomor satu digit di bagian punggung. Arais dengan nomor 4 di punggungnya itu sedang melakukan peregangan. Tubuhnya membungkuk dan tangannya mencoba meraih ujung jemari kakinya. Anggota basket yang lain pun mengikuti.
Mina, di sudut lapangan, sedang menghitung jumlah anggota basket yang datang untuk menyesuaikan dengan absen. Beberapa orang akan ada yang licik menuliskan nama temannya padahal temannya tidak berangkat. Perhitungan ini biasanya dilakukan dengan perintah ketua agar anggotanya menghitung sendiri sambil meneriakkan hitungan mereka. Namun, hari ini Mina memilih melakukannya sendiri sebelum menunggu ketua memerintahkannya.
Sementara itu, aku menemui pelatih untuk bertanya apa yang harua diperhatikan untuk latihan hari ini. Pada setengah jam pertama, latihan akan dimulai dengan para anggota melakukan shooting satu per satu. Sepertinya, aku harus mencatat skor mereka nanti. Lalu, dilanjutkan dengan latihan berpasangan 2-2.
Makanya, saat ini Isla harus dengan cepat menghapal wajah dan nama mereka. Satu-satunya yang ia kenal adalah Arais, itu pun karena lelaki itu adalah sahabat Husain, gebetannya pada masa SMP.
Mata Isla menangkap wajah-wajah anggota dengan baik, merekamnya dalam ingatan. Tiba-tiba, penglihatannya menangkap satu orang yang sudah cukup lama ia tak lihat. Citra berdiri dengan kaki menyilang, tangan kiri di saku sedangkan tangan kanan menggenggam tali ranselnya.
"Hei," sapa Citra santai. Isla mendekat ke arah sahabatnya yang sedang menunduk. Ketika kaki Isla masuk ke penglihatan Citra yang menatap permukaan tanah, tangannya meraih bahu Isla erat seolah mencengkramnya. Sentuhan kuat Citra menyentak Isla, membuatnya menahan tangan Citra untuk terlepas seraya ia bertanya, "Kenapa lo?"
__ADS_1
Kepala Citra naik dan mata mereka bertatapan lurus. Suara Citra lirih dan inilah yang Isla dengar keluar dari mulutnya, "Lo jadi manajer basket gak bilang-bilang, ya ...." Tangannya melepas cengkramannya, lalu ia memasang muka cemberut pada Isla.
"Kalau tahu dari kemaren 'kan gue nemenin lo latihan, Islaaaaa. Gue juga mau lihat Kak Arais," rengeknya. Isla merasa Citra semakin lama semakin tertular virus April. Apalagi sekarang Citra memeluknya sambil berkata, "Enak banget lo liat Kak Arais tiap hari dari deket, gratis lagi." Gadis yang dipeluk dibuat kebingungan oleh pernyataan Citra. Pertama, jadi manajer basket enggak ada enak-enaknya. Kedua, lihat Arais ya gratis, sejak kapan bayar?
Gadis berambut bob sebahu itu melepas pelukannya dan berkata pada Isla, "Kalau latihan bilang-bilang, ya. Gue bakal jadi penonton setia," lalu menunjukkan jempol tangannya.
Isla jadi makin heran. Citra jadi agak ngadi-ngadi seperti ini efek Arais atau April, ya? Filter apa juga yang ada di matanya sampai Kak Arais tampak setampan itu? Bukannya Husain lebih tampan? Isla yang berpikir dalam diam telah melewatkan tatapan Citra yang berubah.
Pupil gadis yang menggenggam erat ranselnya itu memantulkan wajah seorang lelaki berambut jabrik yang sedang tertawa brutal, lelaki yang sekarang melakukan tos dengan Arais. Dia tak pernah bilang pada siapa pun kenyataannya. Bisa jadi ia malu untuk mengungkapkannya, lelaki itu bukan jenis manusia yang biasa disukai oleh perempuan di sekolah ini. Terutama, sifatnya yang ugal-ugalan itu, Citra bisa membayangkan teman-temannya menatapnya dengan skeptis dan penuh pertanyaan.
Isla memecahkan fokusnya dengan berucap, "Gue mesti balik, nih. Entar pelatih marah kalau liat gue ngobrol. Maaf gue lupa bilang ke lo, ya."
Citra berdeham mengiakan. Namun, sebelum Isla memunggunginya, gadis itu memberi pesan, "La! Potoin pas mereka latihan, ya!"
Kalau hoki, dia bisa mendapat stok foto doi.
__ADS_1