School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
Uji Nyali


__ADS_3

"Kami sudah menyebar bendera putih ke seluruh sekolah. Ada banyak yang tersebar, tapi di antaranya yang asli bertuliskan kata-kata tertentu."


"Tulis sendiri aja kali ya?" bisik Citra di sebelah April.


"Yang asli cuma ada 4, dan tulisannya cuma diketahui kakak pembina. Jadi jangan coba-coba malsuin tulisan," sambung pembina pramuka seakan bisa membaca pikiran nakal murid-muridnya.


"Cih."


"Kalian bisa cari ke seluruh tempat selama belum ke luar dari sekolah. Selamat mencari," terang pembina itu.


"Tanpa penghormatan, bubar jalan!" perintahnya.


Setiap kelas diminta seluruh pembina untuk berkumpul. April berbaris di belakang Citra. Tubuhnya yang lebih pendek dari Citra, membuatnya berjinjit untuk melihat kakak kelas yang akan menjelaskan peraturan permainan uji nyali malam ini.


"Dibagi per kelompok ya, satu kelompok tiga orang. Seperti kata pembina, jangan coba-coba berlaku curang. Bebas berkeliaran di sekolah, termasuk ruang kelas dan kantor. Jangan diacak-acak tapi. Tidak boleh bawa elektronik kecuali senter. Terus, jangan coba kabur ke luar," peringat Reno, pembina yang bertugas mengawasi kelas X IPA 3.


"Kelompok yang berhasil mendapat bendera akan diberi hadiah sebagai apresiasi atas usaha kalian."


April mencolek lengan Citra, setelah sahabatnya itu menoleh, ia berbisik, "Berdua?"


Citra berdeham menyetujui.


"Ajak Isla, yuk. Kelas kita 32 muridnya. Kita cuma berdua entar, Cit."


"Emang boleh?"


"Ya, Citra lah yang nanya. Masa April?"


Citra mendengus, kemudian mengacungkan tangan kanannya ke atas. Reno melihat tindakannya, dan bertanya, "Kamu! Kenapa angkat tangan?" tunjuk Reno ke arah Citra.


"Kak, kelas kami muridnya 32 anak. Jadi, kami cuma berdua. Boleh bareng anak kelas lain, enggak? X IPS 3 ada 31 anak, Kak."


"Oh, sebentar," ujarnya, lalu berjalan menuju barisan kelas lain. Mendiskusikan masalah ini dengan anggota Pasus lainnya.


Tak lama, ia berjalan kembali. "Boleh, kok. Tapi, izin dulu ke Kakaknya." Citra mengangguk dan memberi acungan jempol di balik punggungnya. April menyatukan kepala jempolnya dan Citra. Membuat sahabatnya terperanjat karena tindakan tiba-tibanya.


Usai Reno meninggalkan murid kelas X IPA 3 sendiri, tanpa pengawasan, dua sahabat itu melaju ke barisan X IPS 3. Dari belakang, April bisa mengetahui di mana Isla berbaris. Ia menarik Citra ke arah barisan itu.


Kemunculan mereka di barisan kelas yang bahkan sudah berbeda jurusan itu, mengejutkan beberapa pihak. Kakak yang mengawasi kelas X IPS 3 menanyakan alasan kedatangan mereka.


Ala-ala Pramuka, Citra mengawali jawabannya dengan seruan, "Siap, Kak!"


"Kelas kami berjumlah 32 anak, jadi kelompok kami hanya berdua. Sehingga, jika berkenan, kami ingin meminjam satu murid dari kelas X IPS 3 untuk menjadi bagian kelompok kami, Kak!" sambung Citra tegas dengan dada yang membusung.


"Oh, iya. Kelas ini 31 anak, kan. Kebetulan, kalau gitu. Siapa yang—"


"Siap, Kak! Maaf, kalau boleh, kami ingin bersama teman kami, Kak."


Impresif, Citra. April menyanjung keberanian Citra.


"Namanya?"


"Siap, Kak! Islaini Augustin."


"Yang namanya disebut, bisa maju ke depan," ujar Kakak itu.


Isla dengan ekspresi yang seolah mengatakan, "Udah gak heran lagi sama tingkah mereka," melangkah maju ke depan.


Usai pamit dengan cara ala-ala Pramuka, yang identik akan seruan, ketiga sahabat itu meninggalkan barisan.


"Mau pake senter siapa?" tanya Isla.

__ADS_1


"Bawa tiga-tiganya aja. Biar kalau sewaktu-waktu terpencar, aman."


"Jangan sampe terpencar, dong!" seru April.


"Senter gue di kelas."


"Senter gue udah gue pegang, nih." Citra menekan tombol di jam tangannya dan sebuah sinar yang menyilaukan ke luar.


"Ih, keren!" puji April takjub, yang kesannya norak. Tapi, mempan untuk Citra. Karena gadis itu jadi besar kepala, ia menggosok ujung hidungnya sambil cengengesan.


Menurut rencana yang menurut Citra jenius abieezz, mereka harus mengelilingi sekolah mengikuti pagar. Kalau mengikuti pagar, mereka bisa melihat melalui kaca, juga mengawasi jika di belakang gedung kelas ada benderanya atau tidak.


April menyela, "Kalau benderanya ada di dalam kelas, kita mesti muter balik dong, buat masuk lewat pintu."


"Siapa bilang mau lewat pintu? Kan ada jendela." Tak terbantahkan, mereka terpaksa mengikuti rencana Citra yang katanya jenius abieezz itu.


Kantor sudah dimasuki oleh delapan orang, yang tak satu pun di antara mereka April kenal. Yah, gadis itu cukup kuper-


—kurang pergaulan—memang.


"Masuk kantor gak?"


"Gak deh, udah rame," sahut April.


Di belakang lapangan indoor, kantin kelas 12 yang terletak sekitar 20 meter di kanan kantor, tampak sepi dan sunyi, suram tanpa pencahayaan.


"Lebih baik gini, sih, daripada pas ada kakak kelasnya," celetuk April, masih trauma akan kejadian beberapa waktu lalu.


"Setuju," sahut Isla dan Citra kompak.


Tanah di samping kantin kosong. Citra mengarahkan senternya ke arah jendela UKS yang terletak di sebelah lapangan indoor. "Ada benderanya?" tanya April sambil menyorotkan senternya ke dalam UKS.


"Ada, Cit!"


"Bukan rejeki kita, Pril." Isla berusaha menguatkan.


"Iya." April menatap UKS kecewa.


Kalau tiga orang itu disatukan, ke-alay-an mereka bertambah sepuluh persen dari biasanya. Terutama, April tentunya.


Di sebelah UKS, terdapat perpus. Setidaknya, perpus di terangi di bagian koridor. Isla mengarahkan cahaya senternya ke dalam. Rak buku yang berlapis-lapis membuat mereka tak leluasa melihat isi perpus dari luar.


"Loh, ada bendera, Cit!" seru April sembari menarik bahu Citra menatap pohon beringin yang ada di mitos sekolah itu. Sebuah bendera tertancap di bagian akarnya.


"Pohon yang lo bicarain, kan?"


"Emang April pernah ngomongin pohon?" sela Isla.


"Dia emang enggak cerita ke lo soal pohon itu."


"Sst!" desis April dengan jari telunjuk di depan bibirnya.


Perhatian Citra dan Isla beralih pada April. Gadis itu menunjuk telinganya, memberi kode pada dua sahabatnya itu. Citra dan Isla menajamkan pendengaran mereka, samar-samar suara tawa bak hantu di film horror terdengar. Bulu kuduk Citra berdiri. Semilir angin bertiup di sekitar tengkuknya, membuat Citra semakin merinding.


Dengan kaku, Citra menggerakkan kepalanya menghadap pohon beringin di depan mereka. Tampak ... seorang wanita berbaju putih bergelantungan di atas ranting pohon. Kompak, ketiga gadis itu menelan ludah dengan wajah memucat. Citra bersiap berbalik badan. Isla mulai melangkah mundur. Sementara April, dengan sisa keberaniannya, berjalan mendekat.


"Ma-makasih." "Astaga, pohonnya ada penunggunya!" jerit April dalam hati. Serius, ini April gak tahu hantunya marah April peluk pohonnya atau enggak. "Makasih soalnya setiap April ke sini kalau siang enggak diganggguin," batin gadis itu panik.


Tepat setelah itu, wanita itu terkikik lebih keras. April sampai lupa bernapas. Dengan teriakan histeris dalam hati, gadis itu menjatuhkan tubuh ke tanah dan hilang kesadaran, ketika Citra dan Isla sudah kabur ke arah belakang. Suara gedebuk jatuhnya tubuh April membuat kedua gadis itu berbalik.


"April!"

__ADS_1


Secepat kilat, tanpa menengok ke arah pohon beringin, dua gadis yang masih sadar itu menggotong tubuh April dan berlari sekuat tenaga.


"Mak! Ada Hantuuu!" teriak Citra ketakutan.


***


Perlahan, mata April terbuka dan menatap langit-langit UKS.


"Dah sadar, Pril?" tanya Isla.


"Iya," lirih April.


"Weh, serem banget. Sumpah," celetuk Citra sembari memeluk tubuhnya sendiri. Isla dan April mengangguk setuju.


Suasana sunyi, yang hanya diiringi suara tokek dan jangkrik, membuat keadaan menjadi semakin seram. Citra hampir menggigit lidahnya sendiri saat melihat rambut hitam panjang melewati jendela UKS. Wanita berambut panjang itu berhenti. Isla dan April mengikuti arah tatapan Citra. Tertegun menatap sosok diam wanita di balik jendela.


"Hantu pohon beringin?"


"AAAaghh," pekik ketiganya bersamaan.


"Hantunya bisa ngomong!" seru April histeris dan melempar bantal UKS hingga mengenai jendela.


Nina yang berdiri di balik jendela UKS menoleh, tatapannya datar tanpa ekspresi. "Kalian ngapain?"


"Astaghfirullah, Kak Nina! Ya Allah, subhanallah," ucap April memegangi dadanya sendiri. Keringat mengucur di pelipisnya.


"Kak! Jangan nakut-nakutin, dong!" Citra berseru kesal.


Nina masuk melalui pintu UKS dan menatap tiga orang di dalamnya dengan kernyitan. "April sakit?"


"Enggak, dia pingsan setelah liat hantu di pohon beringin belakang perpus," sahut Isla mewakili kedua temannya yang syok berat.


"Oh, hantu pohon beringin itu? Mau dengar kisahnya enggak?" tawar Nina sambil menarik kursi plastik untuk diduduki.


"Gak! Enggak!"


Mengabaikan penolakan dari April, Nina melanjutkan, "Dulu, ada yang meninggal di hari ulang tahunnya terus dikubur di bawah pohon. Katanya, saat itu temen dari korban bilang mau ngerayain ultah di bawah pohon itu, tapi mereka bohong dengan alasan April Mop ternyata mereka malah merundung cewek itu sampai dia meninggal. Enggak lama kemudian, beredarlah mitos kalau berbohong di hari ultahnya 1 april, akan jadi nyata. Karena cewek itu pengen kebohongan temannya saat itu nyata dan bukan kebohongan."


Usai kisah singkat itu Nina sampaikan, Citra dan April menjerit histeris dengan kedua tangan saling menggenggam.


"Tapi, boong."


"Ini nih, ciri-ciri orang yang halal buat ditimpuk," batin Citra mencoba sabar.


Suara ketukan dari arah pintu membuat mereka menoleh. Husain berdiri menatap gadis yang berbaring di atas tempat tidur. "Gue denger April pingsan, makanya ke sini."


"Udah baikan?" tanyanya. April mengangguk. Husain menanyakan lebih banyak tentang keadaannya, kemudian ke luar ruangan bersama Nina.


"Yang tadi beneran bohong 'kan?" Sebenarnya, Husain sudah berdiri di depan UKS sejak Nina mulai bercerita.


"Kenapa? Takut?" tanya Nina santai, tapi kesannya menantang Husain. Membuat harga dirinya tak rela untuk diinjak.


"Ya enggaklah," enggak salah lagi.


"Masa takut hantu."


"Gak usah ngelak. Arais udah cerita."


Terdengar panggilan lewat speaker utnuk seluruh pembina. Husain berlari menuju sumber suara, tapi sempat-sempatnya ia berbalik dan menunjuk-nunjuk Isla sembari berseru, "Bilangin ke sepupu lo, jangan bocor!"


Harga diri Husain baru saja diinjak. Ia malu, sangat.

__ADS_1


__ADS_2