School Myth: When Lies Become Reality

School Myth: When Lies Become Reality
18. Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

"Mbak, pesan cheese burger-nya dua, sama cola dua, pudding cokelatnya satu, dah itu aja," pesan Citra di depan kasir KFC. Ia kembali ke tempat duduknya dan April. Sahabatnya itu duduk menyender pada bantalan empuk di kursinya sembari menggulir beranda instagram. 


Nomor meja mereka dipanggil cukup lama setelahnya. Maklum, hari ini weekend, pengunjung restoran hampir penuh. Citra bangkit dari kursinya dan mengambil nampan yamg diatasnya terdapat pesanan mereka lengkap. 


April membuka bungkus cheese burger dengan tak sabaran dan melahapnya dengan satu gigitan besar. 


"Rakus bener, Pril. Keju sama sausnya tuh di bibir lo semua," ujar Citra seraya menggeleng heran. 


"Enak, Cit. Udah lama enggak makan burger. Niatnya mau diet soalnya." 


"Diet? Mimpi lo? Mau ngechat Kak Husain aja segala makan mie instan dulu." 


"Hehe," cengir April, lalu menggigit burgernya lagi. 


Keduanya meninggalkan KFC begitu selesai menyantap makanan masing-masing. Dengan perut terisi penuh, lebih mudah bagi mereka untuk bersenang-senang hari ini. 


April melangkah dengan ringan, diiringi lompatan-lompatan kecil. Gadis itu bersenandung ketika kakinya menginjak eskalator. Citra di sebelahnya tak melirik April sama sekali dengan kedua tangan masuk ke dalam saku. "Bukan temen gue," batinnya malu. Meski senang mood April baikan, tapi tingkah kekanakan April membuatnya sesekali mendapat atensi dair orang-orang yang melewati mereka. 


"Timezone, yuk!" ajak April ceria. 


"Ga bawa kartu timezone." 


"April bawa kok! Pengen main basket, pancingan terus nanti photo box," rencananya ia katakan dengan suara keras. 


"Kecilin suara lo, btw. Diliatin, April!" 


"Hehe," cengirnya tanpa rasa bersalah. 


"Hahahehe mulu aja lo!" 


Di depan kasir timezone, April mengeluarkan kartunya dari tas yang ia sampirkan di bahu kanan. "Isinya lima puluh rebu aja, Pril," ujar Citra sembari mengeluarkan sepeser uang berwarna hijau dan kuning kecoklatan. 


"Okay, siap bos." April mengeluarkan uang dengan jumlah sama dengan Citra lalu memberikannya pada wanita yang berjaga di depan komputer kasir. 


April menerima kartunya yang telah diisi poin untuk bermain. Matanya mengelilingi Timezone untuk mencari permainan pertama yang selalu menjadi langganan hampir semua pengunjung Timezone. "Basket di sana, Cit!" tunjuk April di sudut ruangan. 

__ADS_1


Citra pasrah saja tangannya ditarik ke sana kemari oleh April. 


Puas bermain hingga poin habis tak tersisa, dua sahabat itu berburu lotion dan masker di sebuah toko bodycare. Satu plastik penuh dengan berbagai macam jenis masker dan lotion dengan wangi yang bervariasi. 


"Abis uang tabungan April cuma buat beli ini doang," keluhnya seraya mengangkat plastik itu lemas. 


"Salah lo kenapa ngeborong." 


"Khilaf, Cit." Citra memutar kedua bola matanya mendengar alasan klise yang keluar dari mulut April. 


"Pulang naik apa? Angkot, bis, gojek, grab?" tanya Citra sambil membuka aplikasi ojek online. April diam menatap ke arah pintu ke luar. 


"Pril?" panggil Citra, lalu menggenggam lengan sahabatnya. Mengikuti arah mata April, gadis itu menoleh ke arah pintu ke luar. Di sana, berjalan dua orang yang amat dikenalnya menenteng dua plastik berukuran besar. Husain dan Isla berjalan beriringan, sesekali Isla menoleh ke arah Husain dengan senyuman terbentuk oleh bibirnya. 


"Ini toh janji yang dimaksud," gumam Citra pelan. Jujur, tak sedetik pun terbesit di kepalanya, bahwa Isla mungkin saja punya janji dengan Husain. Sialnya, mereka harus ke luar mall di waktu yang hampir bersamaan. Harusnya dia sadar lebih dulu dibanding April, jika begitu kan, dia punya waktu untuk mengalihkan perhatian April sampai mereka meninggalkan mall. Tapi, semua itu hanyalah angannya saja. 


Sialnya lagi, April masih dapat mendengar gumamannya. April menoleh dan menatap Citra serius, meminta penjelasan dari perkataannya. 


"Janji apa, Cit?" 


"Janji apaan?" elak Citra, matanya bergerak tak tentu arah. Dan makin salting ia saat April memajukan wajahnya hingga wajah mereka hanya berjarak kurang dari sepuluh sentimeter. 


"Citra ... " panggil April pelan, namun menusuk. Citra merinding. 


"Ada deh, kepo lo," elak Citra lag. Berhenti kepo atuh. 


"Cit, jujur atau enggak April ngambek." 


"Dih, apa peduli gue kalau lo ngam—"


"Citra ... " desis April menggertakan giginya. 


Tak dapat mengelak lagi, Citra mengungkapkan sejujur-jujurnya pada sahabatnya itu dengan terpaksa. "Gue ajak Isla ikut jalan-jalan kemarin lewat WA. Tapi, dia nolak katanya udah ada janji." 


"Mana gue tahu janjinya itu maksudnya ini." Citra menghela nafasnya dalam seraya memijit pelipisnya pelan demi mengurangi pening yang tiba-tiba menyerang. "Kisah cinta orang lain ribet amat yak."

__ADS_1


***


Muka April seburuk orang yang baru saja kena sial 99 kali dalam sehari. Murung banget, kayak enggak bernyawa. Citra sampai meringis saat melihat April tersandung, tapi ekspresinya konsisten tak berubah. 


Wajah murung April sontak memancing hasrat jahil Hugo yang duduk di sofa ruang tamu. Dengan senyum menyebalkan, Hugo bersiul dan meledek adiknya. "Siapa nih, pulang-pulang mukanya ditekuk. Galauin cowok lo ya ...." 


April menggigit bibirnya menahan tangis dengan kedua mata berkaca-kaca. Kepalanya tertunduk saat berjalan menuju tangga. 


" ... " Kicep. 


Hugo menutup mulutnya dengan telapak tangan saat menyadari ekspresi adiknya. Kok malah nanges. 


Setitik rasa bersalah menghinggapi dada Hugo. Hanya sebentar, karena menit berikutnya lelaki itu sudah mabar dengan teman-teman sekelasnya. 


 ***


Misi menghindar dari Isla dan Husain part 2.


Citra sendiri, meski yang punya masalah adalah April, entah kenapa ikut menghindari dua orang itu. Karena, jika bertemu nanti, dia tak tahu harus memasang wajah apa. Marah? Kesal? Prihatin? "Ah, bodo!" batin Citra kesal. 


Berbeda dengannya, April yang punya masalah, justru jalan lurus tanpa sembunyi-sembunyi dengan kepala tertunduk dan kedua tangan menggenggam tali tasnya erat. Saat melewati tangga, kebetulan, Husain, Arais, dan Fiki sedang menuruni anak tangga. April mendongak sekilas. Matanya bertemu pandang dengan sang pacar. Seperti biasa, muncul debaran di dadanya. April merengut, menyadari perasaan tak mengalami perubahan. 


Husain membuka mulutnya, hendak memanggil nama April. Namun, belum sempat suaranya keluar, gadis itu berbalik arah tiba-tiba. Bibirnya bungkam. 


"Wah apa nih. Berantem lo berdua?" tanya Arais kepo. 


"Menghindari mulu dia kalau ketemu lo. Padahal kemaren masih nanya lo ke mana." Ucapan Arais membuat Husain menoleh cepat. 


"Semoga baikan ya lo sama April. Salah langkah, langsung tuh, putus. Kek gue sama mantan. Ambil pelajaram dari veteran, bro," ujar Arais sok bijak. 


"Sok-sok-an veteran, lo kira lo pahlawan?" sindir Fiki judes. 


"Heeh. Pahlawan hati para cewek jomlo," ucapnya, lalu berkedip pada dua siswi kelas sepuluh yang melewati mereka. 


Husain tak mendengarkan percakapan mereka. Suara-suara di sekitarnya hilang, ia tenggelam dalam pikirannya tentang mengapa April menghindarinya selama beberapa hari ini. 

__ADS_1


"Aneh," gumamnya. 


__ADS_2