
Hari ini ... Sadewa tidak berjaga di pemakaman Durawa karena ada sesuatu yang harus dikerjakan olehnya di luar desa K. Karena itu selama dua hari ... Alena tinggal seorang diri di pondok Sadewa di pemakaman Durawa tanpa Sadewa. Sebelum pergi ... Sadewa memberikan beberapa buku dan beberapa barang lain yang bisa digunakan oleh Alena ketika bosan. Tapi kebanyakan buku yang diberikan Sadewa justru membuat kepala Alena sakit ketika membacanya.
Romeo dan Juliet. Winter in Tokyo. 3600 detik. Alena melemparkan buku-buku berbau romance itu ke atas tempat tidur dan huft ... mengembuskan nafas panjang. Buku-buku dengan bau romantis seperti itu bukanlah selera Alena. Ceritanya terlalu berbau drama dan mudah ditebak ... aku tidak suka. Harusnya jika ingin memberiku buku, dia bertanya padaku. Akan menyenangkan sekali jika bisa membaca cerita misteri seperti Sherlock Holmes.
Alena yang bosan kemudian keluar dari pondok dan berjalan-jalan sendiri. Hantu pertama yang ditemuinya adalah Kunti 1 dan Kunti yang lagi-lagi sedang membuat taruhan dan kali ini yang jadi bahan taruhan adalah kembalinya Sadewa.
“Kapan durawapati akan kembali?” Kunti 1 bicara pada Kunti 2. “Bagaimana jika kita bertaruh untuk itu, Kunti 2?”
“Tidak mau!” Kunti 2 menolak. “Aku pasti akan kalah lagi darimu, Kunti 1.”
Alena yang mendengar percakapan dua kuntilanak penggemar Sadewa itu kemudian menghampiri mereka dan ikut berbincang dengan mereka. “Biar aku yang membantumu, Kunti 2.”
“Kau mau membantuku, manusia?” Kunti 2 melihat ke arah Alena dengan mata berbinar dan sebaliknya ... Kunti 1 menatap Alena dengan mata menyala seolah sedang melihat musuh.
“Ya.” Alena menganggukkan kepalanya. “Sadewa pasti akan kembali besok. Dia mengatakan padaku, dia hanya akan pergi dua hari. Jadi ... dia pasti akan menepati janjinya dan kembali padaku.”
“Kau yakin, manusia?” Kunti 2 bertanya.
“Ya.”
“Baiklah kalau begitu, aku pilih besok.” Kunti 2 akhirnya setuju untuk bertaruh dengan Kunti 1 dengan wajah penuh keyakinan.
“Ini tidak seru!!” Kunti 1 tiba-tiba memasang wajah kecewanya melihat Alena membantu Kunti 2. “Kenapa kau membantunya, manusia?”
“Aku hanya ingin saja. Kunti 2 selalu kalah bertaruh darimu, sekali-kali aku ingin melihat Kunti 2 menang darimu.” Alena bicara dengan senyum kecilnya.
__ADS_1
“Sial kau, manusia!!!” Kunti 1 hendak melayangkan pukulan ke wajah Alena, tapi dengan cepat Kunti 2 menghalangi pukulan itu dengan tangannya.
“Jangan memukulnya, Kunti 1!” Kunti 2 berteriak sembari menahan pukulan dari Kunti 1. “Kau tidak ingat pesan durawapati untuk menjaga manusia ini?”
“Ah ... aku lupa.” Kunti 1 menarik tangannya. “Kenapa kau mengingatkanku, Kunti 2?? Tadi kan ... aku lupa, jadi aku bisa memukulnya dengan alasan lupa.”
“Kau ini!!” Kunti 2 menarik tubuh Alena ke belakangnya untuk melindungi Alena. “Mulai hari ini ... manusia ini akan jadi temanku. Kau tidak boleh memukulnya lagi, Kunti 1”
Alena merasa sedikit terharu mendengar ucapan dari Kunti 2 yang menolongnya. Ternyata hantu masih punya rasa terima kasih. Alena benar-benar tidak menyangka hanya dengan membantu sekali, Kunti 2 langsung membelanya di depan Kunti 1.
“Ke-kenapa tiba-tiba kau ingin membantu manusia ini, Kunti 2?” Kunti 1 bertanya dengan wajah kesal karena merasa telah dikhianati.
Kunti 2 menarik tangan Alena dan membawa Alena menjauh dari Kunti 1. Kunti 2 bahkan menarik tangan Alena tanpa menjawab pertanyaan dari Kunti 1 dan membuat Kunti 1 benar-benar marah dengan Kunti 2. Alena yang melihat adegan ini merasa benar-benar terharu dan mengira bahwa hantu masih punya rasa simpati kepada manusia. Akan tetapi perasaan itu tidak bertahan lama.
“Karena aku telah menolongmu, lain kali tolong pujilah aku di depan durawapati.”
Kunti 2 terus membawa Alena berjalan melewati hutan-hutan kecil di pinggiran pemakaman Durawa sembari bercerita mengenai kompetisi antara kuntilanak dengan sundel bolong untuk memperebutkan hak menggoda durawapati.
“Sudah mencapai titik final. Beberapa hari lagi, Kunti 4 akan adu kekuatan dengan Sundel 3 untuk menentukan pemenangnya.” Kunti 2 mengakhiri ceritanya.
“Aku memang mengakui jika Sadewa memiliki penampilan yang cukup tampan. Tapi ... apa Sadewa setampan itu hingga kalian saling berebut hanya untuk menarik perhatiannya?"
Kunti 2 menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah Alena dengan senyum kecil di sudut bibirnya. Alena bergidik melihat senyuman itu karena senyuman itu masih terlihat mengerikan di mata Alena meski Alena telah berulang kali melihatnya. “Muda dan tampan memanglah hal yang bagus. Tapi alasan kami berebut untuk mendapatkan perhatian durawapati bukan karena itu saja.”
“Lalu ... apa ada alasan lain?” Alena mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Durawapati sekarang adalah satu-satunya durawapati yang tidak pernah menyakiti kami.” Jawaban dari Kunti 2 itu membuat Alena mengingat bagaimana trik-trik kecil yang Sadewa katakan padanya ketika harus hidup di lingkungan baru bersama dengan hantu-hantu ini.
“Durawapati sebelumnya selain mereka sudah tua ketika menerima tugas sebagai durawapati dan mereka itu orang yang kaku dan kolot. Hukuman berat selalu menunggu kami ketika kami membuat kesalahan. Tapi hal itu tidak berlaku untuk durawapati yang sekarang. Dia jauh lebih manusiawi. Untuk kami yang bukan manusia, durawapati yang sekarang seolah menganggap kami adalah manusia yang masih hidup. Durawapati yang sekarang tidak kaku juga tidak kolot.” Kunti 2 melanjutkan ceritanya lagi mengenai Sadewa dan berkat Kunti 2, Alena mengetahui lebih dalam mengenai Sadewa lagi.
Kunti 2 kemudian mengajak Alena berjalan lagi dan kali ini bercerita mengenai Sadewa dan beberapa hal yang membuatnya menjadi pusat perhatian para hantu wanita di pemakaman Durawa. “Keringat yang menetes dari kening durawapati terlihat seperti kilauan berlian yang indah. Senyuman yang jarang diperlihatkan oleh durawapati itu seperti pelangi yang jarang muncul di langit setelah hujan turun-sangat langka dan sangat indah. Tatapan mata dari durawapati ketika melihat kami seperti palung paling dalam di lautan yang akan menelanmu kapan saja .... ”
Sepanjang jalan ... Kunti 2 membuat gambaran mengenai Sadewa dan Alena hanya bisa tersenyum kecil mendengarnya karena Alena tidak menyangka hantu juga bisa bersikap romantis dan membuat pengandaian untuk mengungkapkan perasaan mereka.
“Ahhh itu ... “ Kunti 2 menghentikan langkah kakinya karena melihat tuyul 1, tuyul 2. tuyul 3 dan tuyul 4 sedang bermain di pagar area terlarang di pemakaman Durawa.
Alena mengintip dari belakang Kunti 2 dan melihat tuyul bermain dengan seorang pria tua yang sudah berjanggut panjang. Pria tua itu hanya duduk memainkan tongkatnya tapi hal itu sudah membuat tuyul yang bermain bersamanya merasa sangat senang. Alena belum pernah melihat pria tua itu dan Sadewa sendiri belum pernah menceritakan apapun tentang hantu pria tua itu padanya. Bahkan trik-trik yang diberikan Sadewa padanya tidak pernah membahas mengenai hantu pria tua yang sedang menemani tuyul bermain.
“Siapa pria tua itu?” Alena bertanya kepada Kunti 2 dengan wajah penasaran.
“Pemilik pertama makam ini.”
__ADS_1