
Pengganti? Pikiran Alena sempat teralihkan ketika mendengar ucapan dari genderuwo di depannya saat ini. Alena itu punya waktu untuk bertanya-tanya ketika melihat banyaknya pasukan genderuwo yang berlari mendekat ke arahnya dan Sadewa. Alena bergidik sembari membayangkan gambaran perang di dunia manusia. Jika ini perang di dunia manusia, aku dan Sadewa sudah pasti kalah. Kami jelas kalah jumlah dan menurut aturan perang yang pernah aku baca, jika kekalahan sudah dipastikan seharusnya kami lari dan menunggu kesempatan lain. Kesempatan lain akan datang selama kami hidup. Tapi dalam kasus ini, tidak ada kata kesempatan lain dan kami tidak bisa lari.
“Aku tidak bisa menahan mereka lebih dari tiga puluh menit, Alena. Jumlah mereka terlalu banyak dan ketika aku menahan mereka, aku akan kehilangan banyak tenaga,. Jadi ... nanti semua bergantung padamu untuk kembali padaku sebelum rantai pengikat jiwa lepas karena aku tidak sanggup menahannya.”
“Ya, aku pasti akan kembali sebelum waktumu habis.” Alena membalas peringatan Sadewa dengan keyakinan. Tapi di dalam benaknya saat ini, Alena bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Apa ini pantas? Apa ini layak?
“Meski aku adalah durawapati pengganti, aku tetap bisa melakukan ini!” Buk. Boom. Kring ... kring .... Sadewa memukulkan tongkat bisbol yang dibawanya sebagai senjata ke permukaan tanah dan dalam sekejap ratusan rantai pengikat jiwa keluar dari dalam tanah dan menangkap semua genderuwo yang mendekat ke arah Alena dan Sadewa.
Rantai-rantai terus keluar dari dalam tanah karena Sadewa masih meletakkan tongkat bisbolnya ke permukaan tanah. Sadewa masih terus menguras energinya untuk mengeluarkan rantai-rantai pengikat jiwa untuk menangkap semua genderuwo yang ada di sarang itu.
Hebat! Alena hanya bisa mengatakan hal itu di dalam benaknya sembari melihat kekuatan Sadewa sebagai durawapati-penjaga gerbang Durawa.
“Sekarang, Alena!!” Sadewa memberikan aba-aba bersamaan dengan rantai-rantai pengikat jiwa yang telah berhenti keluar dari dalam tanah.
“Aku akan segera kembali!” Alena berlari menembus ratusan genderuwo yang kini dalam keadaan tidak sadarkan diri karena rantai pengikat jiwa yang telah menangkap roh mereka.
Alena terus berlari sembari beberapa kali memperhatikan wajah-wajah mengerikan dari genderuwo yang kini tidak bergerak. Alena menyadari meski genderuwo adalah makhluk berbulu lebat dan bertubuh besar yang terkesan sama, nyatanya wajah mereka tidak sama satu sama lain. Alena melihat beberapa genderuwo dari dekat dan menemukan wajah mereka berbeda layaknya manusia.
Ini pelajaran yang baik. Ketika nanti kembali kepada Manda dan Gala, aku harus menceritakan pengalaman ini pada mereka. Alena melanjutkan larinya dan kini tiba pada sebuah pohon besar-pohon paling besar yang di mana di bagian bawahnya berlubang dengan dua genderuwo yang menjaga bagian depan lubangnya.
Ini pasti sarang tetua yang dimaksud oleh Sadewa. Alena kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam lubang itu dan menemukan genderuwo yang ukurannya lebih besar dari genderuwo lain yang dilewati oleh Alena sebelum masuk ke pohon besar itu.
“Kau manusia yang berani.”
Alena melihat ke arah genderuwo yang sedang duduk di singgasana dengan rantai pengikat jiwa yang menangkap tangan dan kakinya. Alena menatap heran ke arah genderuwo besar yang kini masih sadarkan diri dan masih bicara. “Kau masih bisa bicara dan sadarkan diri?”
__ADS_1
“Hahahaha.” Genderuwo itu tertawa dengan kencang. Tawa itu membuat Alena bergidik ngeri karena tawa itu menggema di seluruh bagian pohon dan menggetarkan tanah di mana Alena berpijak. “Harus aku akui, durawapati pengganti itu adalah durawapati yang hebat. Meskipun dia adalah pengganti, tapi dia bisa memanggil rantai pengikat jiwa sebanyak ini dan lagi ... usianya sebagai manusia masih sangat muda. Aku ingat ini adalah kedua kalinya tangan dan kakiku tertangkap oleh rantai pengikat jiwa. Tapi sayangnya ... kekuatan durawapati pengganti itu masih belum cukup untuk membuatku kehilangan kesadaranku.”
Glek. Alena melangkahkan kakinya mundur bersiap-siap jika genderuwo besar itu melepaskan diri dari rantai pengikat jiwa yang mengikat tangan dan kakinya.
“Apa yang membawamu kemari, manusia? Kau tidak mungkin datang kemari begitu saja setelah berhasil meloloskan diri dariku waktu itu bukan??”
Alena mengurungkan niatnya untuk lari dan menatap penuh keyakinan ke arah genderuwo. “Aku kemari karena Sadewa memintaku untuk datang kemari dan bertanya padamu.”
“Apa yang ingin kau tanyakan padaku, manusia?”
“Pocong 1, keinginan apa yang membuatnya terjebak di pemakaman Durawa? Kau terlihat sudah cukup lama tinggal di sini, harusnya kau tahu akan hal itu.”
“Ahh ... mengenai teman lamaku itu. Kau kemari untuk bertanya mengenai dirinya? Aku benar-benar tidak percaya manusia sepertimu datang hanya untuk membantu teman lamaku itu.” Genderuwo tua itu mulai bicara dengan nada santainya seolah rantai pengikat jiwa yang menangkapnya tidak membuatnya terganggu.
“Kau dan pocong 1 adalah teman lama?” Alena bertanya karena terkejut dan tidak percaya dengan ucapan dari Genderuwo tua di depannya.
Dulu sebelum pemakaman Durawa memiliki banyak makam di dalamnya, pemakaman Durawa adalah tempat yang cukup sepi. Sebelum menjadi tempat pemakaman umum di desa K, pemakaman Durawa adalah pemakaman khusus bagi Bendara Abinawa dan keturunannya. Tetua genderuwo yang sekarang memimpin banyak genderuwo, dulunya hanyalah genderuwo yang diusir dari tempat tinggal lamanya karena telah mengganggu banyak manusia. Setelah sempat berpindah-pindah tempat, tetua genderuwo akhirnya menemukan tempat tinggal yang cocok dan jauh dari pemukiman manusia. Sayangnya ... tempat itu adalah milik seseorang.
“Apa saya boleh tinggal di tempat ini?”
“Aku tidak keberatan selama kau tinggal dengan tenang dan tidak mengganggu anak, cucuku dan semua keturunanku.”
Sejak saat itulah tetua genderuwo tinggal di bagian belakang pemakaman Durawa dan membawa beberapa genderuwo lain yang jadi pasukannya. Beberapa tahun kemudian pemakaman Durawa diubah menjadi pemakaman umum di mana orang pertama yang dikuburkan adalah Pocong 1. Karena tali pocongnya lupa untuk dilepaskannya, Pocong 1 kemudian menjadi hantu gentayangan yang terjebak di dalam pemakaman Durawa dan hidup di dalamnya.
“Bagaimana mengatakannya? Aku dan Pocong 1 adalah teman pada awalnya. Kami sering menghabiskan waktu bersama hanya sekedar bercerita kehidupan lama.”
__ADS_1
“Lalu kenapa akhirnya kalian tidak saling bertemu satu sama lain? Kenapa kalian akhirnya tidak lagi menjadi teman?” Alena bertanya sembari mengingat bagaimana raut wajah Pocong 1 ketika hantu Kunti membahas genderuwo di depan Pocong 1 dan dirinya. Alena ingat dengan baik raut wajah Pocong 1 menunjukkan amarah yang sedang ditahannya.
“Alena, cepat pergi dari sini!!”
Alena tersentak karena tiba-tiba mendengar suara yang pernah didengarnya di hari di mana dirinya terjebak di pemakaman Durawa. Suara ini lagi. Siapa kau sebenarnya?
“Cepat pergi dari sini, dia sedang mengulur waktu!”
Alena menatap ke arah sekeliling tetua genderuwo dan menemukan banyak bola putih yang tertata rapi di rak. Salah satu bola itu bersinar lebih terang dari bola-bola lainnya seolah sedang bicara pada Alena. Mungkinkah dia yang bicara padaku berasal dari sana??
“Bola-bola apa itu??” Alena bertanya sembari menunjuk ke arah bola-bola yang tersimpan dengan rapi di rak-rak di dekat singgasan tetua genderuwo.
“Ahh ... bola-bola itu adalah bola di mana wanita-wanita yang aku sukai tinggal.” Tetua genderuwo bicara dengan nada bangga dan sedikit kesombongan di wajahnya. “Mereka beruntung bisa tinggal di sana dan menjadi wanita-wanita yang aku sukai.”
“Alena!! Cepat lari!!
Alena mendengar suara itu lagi dan kali ini, Alena benar-benar merasa yakin jika suara itu berasal dari bola-bola itu. Grrr ... Tetua genderuwo menggeram dan geraman itu membuat tanah di mana Alena berpijak bergetar.
“Lari, Alena!!!” Dari kejauhan ... Alena mendengar suara teriakan Sadewa yang memecah keheningan. Di saat yang bersamaan, Alena sadar bahwa Sadewa sudah tidak sanggup menahan rantai pengikat jiwa yang dipanggilnya dalam jumlah yang sangat banyak.
Sial!! Aku masih belum selesai bertanya!!! Alena melihat ke arah tetua genderuwo yang berusaha bangkit dari singgasananya dan mulai menarik rantai pengikat jiwa untuk membebaskan kedua tangan dan kedua kakinya.
__ADS_1