
Melihat Kunti 1 yang sudah dilepas dari rantai yang dipanggil oleh Kunti 2 datang ke pondok tepat setelah Pocong 1 dan Pocong 2 pergi. Alena tadinya mengira Kunti 2 akan menertawakan Kunti 1 yang dirantai oleh rantai pengikat jiwa yang dipanggil oleh Sadewa. Tapi dugaan Alena itu salah. Sebaliknya ,,, Kunti 2 merasa sedih menatap Kunti 1 yang masih tidak sadarkan diri karena sebagian dari tenaganya diserap oleh rantai pengikat jiwa.
“Ke-kenapa tiba-tiba Kunti 1 mengamuk dan kehilangan kendali??” Kunti 2 bertanya kepada Alena dan Sadewa dengan mata nyalang dan wajah yang basah oleh air matanya. “Ini sudah sejak lama Kunti 1 kehilangan kendali dan melepaskan amarahnya.”
“Ma-maaf.” Alena maju dengan menundukkan kepalanya karena merasa bersalah. “A-aku tidak sengaja menanyakan sesuatu yang sepertinya membuat Kunti 1 marah dan kehilangan kendali.”
“Apa yang kau tanyakan padanya, Alena?” Kunti 2 bertanya.
“Keinginan yang membuatnya terjebak di sini-di pemakaman Durawa.”
“Ahh itu ... “ Kunti 2 mengambil langkah mundur mendengar ucapan dari Alena, “Pantas saja. Tidak heran Kunti 1 kehilangan kendalinya dan marah besar. Kau mengingatkannya pada kehidupan lamanya yang tragis dan penuh dengan rasa sakit.”
“Ma-maaf. Sekali lagi, maafkan aku.” Alena menyesali perbuatannya. “Aku benar-benar tidak menyangka pertanyaan itu akan membuat Kunti 1 seperti ini.”
Kunti 2 menepuk bahu Alena, membuat tubuh Alena merasakan hawa dingin yang menusuk dan bergidik karena bulu kuduknya yang secara tiba-tiba berdiri bersamaan. Sadewa yang menyadari hal itu langsung menarik tangan Kunti 2 dan membuat Kunti 2 salah paham.
“Durawapati ... “ Kunti 2 menatap Sadewa dengan mata berbinar dan dalam sekejap air matanya yang tadi jatuh untuk Kunti 1 menghilang karena menguap, merasa senang dengan tindakan Sadewa.
“Jangan salah paham. Sentuhanmu terlalu lama di tubuh Alena, akan membuatnya merasakan dingin yang teramat sangat.” Sadewa langsung mengatakan kalimat itu sembari melepaskan tangan Kunti 2.
“Ahhh maaf, aku lupa akan hal itu, durawapati.” Kunti 2 melirik ke arah Alena yang tubuhnya masih bergidik. “Tapi durawapati ...”
“Apa lagi?” Sadewa bertanya dengan melihat tajam ke arah Kunti 2.
“Tindakanmu inilah yang sering membuat kami-para hantu wanita salah paham.” Kunti 2 memberikan jawaban yang mengejutkan bagi Sadewa dan Alena.
“Bukankah kau bilang kau menjaga jarak dari wanita dan perempuan?” Alena langsung mengajukan pertanyaan kepada Sadewa dengan sorot mata tajam menuntut.
Sadewa melihat ke arah Alena dan Kunti 2 secara bergantian. Sadewa tidak tahu harus menatap ke arah mana, tapi yang jelas saat ini Sadewa sedang bingung menghadapi dua wanita dari dua dunia yang berbeda yang kini menatapnya dengan tajam. “A-aku memang melakukan hal itu, Alena.”
__ADS_1
“Kau memang pria impian, durawapati.” Kunti 2 merasa senang mendengar ucapan itu dari mulut Sadewa.
“Tapi kenapa kau tidak menjaga jarak dari mereka juga?” Alena melirik ke arah Kunti 2, memberi isyarat pada Sadewa.
Sadewa memiringkan kepalanya merasa tidak yakin. “Karena mereka tidak lagi hidup. Manusia dan hantu tidak akan pernah bisa bersama terlebih lagi ketika aku adalah durawapati, Alena.”
“Sedih hatiku mendengar ucapan itu, durawapati.” Kunti 2 bicara dengan nada sedih, lengkap dengan air mata yang jatuh. “Patah hatiku, durawapati! Rasanya dunia tidak akan pernah mengizinkan kita bersama, durawapati.”
Alena menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Kunti 2. “Lihatlah, Sadewa!! Kau telah mematahkan hati Kunti 2. Jika tidak bisa bersama, harusnya jangan beri mereka harapan!!”
“...” Sadewa kehilangan kemampuan bicaranya mendengar dua wanita dari dua dunia menyalahkan dirinya. Sadewa hanya bisa menahan rasa kesalnya dengan keluar dari dalam pondok untuk menenangkan dirinya.
Sementara itu Alena dan Kunti 2 yang berada di dalam pondok tersenyum kecil melihat Sadewa yang pergi karena tidak bisa berkata apapun membalas ucapannya.
“Aku tidak bisa membayangkan jika Kunti 1 mendengar ucapan durawapati tadi.” Kunti 2 menghapius air matanya yang jatuh tadi.
“Kau tidak sedih lagi?” Alena bertanya. “Kukira kau benar-benar patah hati, Kunti 2.”
“Ah ... aku tidak tahu akan hal itu. Kasian sekali Sadewa tadi. Wajahnya benar-benar merasa kesal sekali.” Alena tertawa kecil mengingat wajah Sadewa sebelum keluar dari dalam pondok.
Kunti 2 kembali melihat ke arah Kunti 1 yang tergeletak di lantai karena ulah Pocong 1 dan Pocong 2. “Jika niatmu baik, aku bisa menceritakan keinginan Kunti 1 padamu, Alena.”
“Niat baik?” Alena mengulangi dua kata itu.
“Ya, niat baik. Jadi katakan padaku kenapa tiba-tiba kau ingin mengetahui keinginan dari Kunti 1 yang membuatnya bergentayangan dan terjebak di tanah pemakaman Durawa? Apa ini ada hubungannya dengan pertemuanmu dengan Bendara Abinawa?” Kunti 2 bertanya dengan tatapan mata tajam.
Alena bergidik melihat tatapan mata karena masih belu bisa membiasakan dirinya menghadapi para hantu di tanah pemakaman Durawa. Alena ingat alasannya berada di tanah ini, ingat pertemuannya dengan Bendara Abinawa dan ingat batas waktu yang dimilikinya ketika tinggal di tanah pemakaman Durawa. Huft, Alena menghela nafas panjang setelah mengatur benaknya sebelum bicara dan ... Alena akhirnya mengataan alasan dirinya mengajukan pertanyaan itu kepada Kunti 2.
“Bendara Abinawa mengatakan hal itu padamu?” Kunti 2 betanya kepada Alena ketika Alena menyelesaikan penjelasannya.
__ADS_1
Alena menganggukkan kepalanya. “Ya.”
“Kalau begitu ... aku akan menceritakan keinginan Kunti 1 padamu. Mungkin dengan ceritaku ini, Kunti 1 bisa segera kembali ke kuburnya dan tak lagi bergentayangan dan terjebak di tanah ini-di pemakaman ini.” Kunti 2 berkata dengan wajah sedikit berharap.
“Kenapa? Kenapa tiba-tiba mau menceritakan hal itu?” Alena penasaran.
“Yang aku dengar, satu dari bakat Bendara Abinawa adalah mampu menerawang masa depan. Jadi aku tidak akan jadi hantu bodoh yang mengabaikan ucapan dari Bendara Abinawa. Siapa yang mau jadi hantu gentayangan selamanya hingga kiamat?? Aku dan Kunti 1 tentu saja tidak ingin hal itu terjadi.”
“Ahh begitu.” Alena terkekeh mendengar ucapan dari Kunti 2.
“Baiklah ini adalah keinginan dari Kunti 1 ... “ Kunti 2 yang sepertinya memiliki hubungan yang dekat dengan Kunti 1 mulai menceritakan keinginan dari Kunti 1 pada Alena.
*
Alena bergegas keluar dari pondok setelah selesai mendengar cerita dari Kunti 2 mengenai Kunti 1. Di luar pondok, Alena bertemu dengan Sadewa yang sedang duduk menunggu seorang diri sembari termenung menatap langit malam.
“Sadewa!!” Alena berteriak dengan senyuman sembari berlari menghampiri Sadewa.
“Ada apa dengan senyuman di wajahmu itu, Alena?” Sadewa melihat Alena dengan tatapan menyelidik.
“Kita akan adakan pesta besok malam. Apa kau bisa membawakan daftar benda yang akan aku sebutkan??” Alena menghentikan langkah kakinya dan berdiri di depan Sadewa dengan wajah penuh semangat.
“Pesta?? Kenapa tiba-tiba mengadakan pesta??” Sadewa yang terkejut mendengar ucapan Alena, langsung bangkit dari duduknya.
“Untuk mewujudkan keinginan dari Kunti 1, tentunya.”
“Apa pesta akan mewujudkan keinginan dari Kunti 1??” Sadewa bertanya lagi untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah mendengar ucapan dari Alena.
“Ya.” Alena menganggukkan kepalanya tanpa ragu. “Tolong bawakan benda-benda ini untukku. Jika kau kesulitan, kau bisa meminta bantuan Manda dan Gala.”
__ADS_1