
Rencana Sadewa benar-benar gila! Kalimat itu berputar-putar di dalam benak Alena sembari menatap Sadewa yang berdiri di sampingnya di bagian belakang pemakaman Durawa.
“Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau menganggapku sebagai pria gila?”
Huk. Alena tersedak mendengar pertanyaan Sadewa yang sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Bagaimana dia bisa tahu apa yang aku pikirkan? Mungkinkah ... dia punya bakat yang sama dengan Kakek Abinawa? Huft ... itu bisa saja terjadi. Siapa yang akan tahu jika Sadewa mungkin terhubung dengan Kakek Abinawa?
“Kenapa kau diam, Alena?”
Alena menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan mereka. “Aku hanya sedang berpikir apakah rencana ini akan benar-benar berhasil?? Bukankah kau bilang sebelumnya kau hanya bisa memanggil rantai pengikat jiwa untuk menangkap sepuluh hantu saja? Apa aku salah ingat??”
Sadewa mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya di kening Alena. “Ingatanmu cukup baik juga. Kenapa di saat seperti ini ingatanmu bekerja dengan baik, Alena?”
“Auuwww!” Alena langsung memegang keningnya yang memerah karena jentikan jari dari Sadewa. “Kenapa menjentikkan jarimu di keningku?? Apa kau tidak tahu sebelum jadi youtuber, aku adalah karyawan di perusahaan besar??”
“Ohh ... “ Sadewa menatap Alena dengan tatapan penasaran. “Lalu kenapa kau akhirnya keluar dari perusahaan besar itu dan memutuskan untuk jadi youtuber?”
“Aku tidak melihat masa depan dalam pekerjaanku itu. Aku merasa pekerjaan itu membosankan dan membuat diriku tersiksa baik mental dan fisik. Jadi ... aku memutuskan keluar dan mencari pekerjaan yang sesuai dengan kata hatiku.” Alena memberikan penjelasan dengan rasa bangganya.
“Jadi pekerjaan saat ini adalah pekerjaan yang membuatmu merasa senang?”
“Ya.”
“Meski harus terjebak di sini-di tanah ini? Bersama dengan para hantu??” Sadewa bertanya dengan cepat.
“Ya.”
“Haha.” Sadewa tertawa kecil. “Baru pertama kali aku bertemu dengan manusia sepertimu, Alena. Jika bisa ... kelak aku ingin memuseumkan dirimu ini.”
“Kenapa?” Alena penasaran.
__ADS_1
“Karena kau adalah manusia langka yang bahkan tidak merasa takut atau terganggu ketika terjebak di tanah ini. Kau akan kujadikan bukti kalau-kalau ada manusia lain yang terjebak di tanah ini lagi.”
Buk. Alena mengangkat tangannya dan memukul bahu dari Sadewa. “Meski wajahmu rupawan, terkadang ucapanmu bisa sangat menyebalkan!”
“Terima kasih untuk pujiannya.” Sadewa membalas masih dengan tawa kecil.
Alena kesal mendengar ejekannya yang diubah menjadi pujian. “Ah sudahlah!!! Kembali pada masalah kita saat ini! Kau yakin bisa menahan pasukan genderuwo di depan sana?? Bukankah kau bilang jumlah mereka cukup banyak karena di sana adalah sarang mereka??”
“Aku bisa menahan mereka meski tidak punya banyak waktu seperti menahan satu atau sepuluh hantu. Karena tenagaku terbatas dan aku masih baru sebagai durawapati, semakin banyak hantu yang aku tahan semakin singkat waktu yang bisa aku berikan. Jadi ... sisanya bergantung padamu.” Sadewa mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan memberikan botol berisi air kepada Alena.
“Apa ini?” tanya Alena ketika menerima botol pemberian dari Sadewa.
“Kau bisa bilang ini adalah air suci. Nanti temukan .... genderuwo tertua di antara mereka dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Lalu lemparkan sedikit demi sedikit air ini padanya untuk membuatnya bicara mengenai Pocong 1.” Sadewa memberikan penjelasan singkat kepada Alena.
“Tapi ... bagaimana aku bisa menemukan genderuwo tertua di antara mereka?? Dan lagi ... kukira bagian belakang sana tidak termasuk bagian pemakaman Durawa, bukankah aku tidak bisa ke sana?” Alena mengajukan pertanyaan lagi dan membuat Sadewa merasa kesal karena Alena terlalu kritis sebagai manusia.
Huft. Alena mengembuskan nafasnya dan memberikan keberanian pada dirinya sendiri. Saat ini ... di dalam benaknya, Alena mengingat bagaimana genderuwo menarik Manda dan dirinya hingga akhirnya terjebak di tanah pemakaman Durawa. Alena tadinya tidak berniat untuk berhubungan kembali dengan makhluk mengerikan itu, tapi saat ini untuk menemukan keinginan dari Pocong 1, Alena harus kembali berhubungan dengan makhluk itu lagi.
“Aku bisa! Aku pasti bisa!!” Alena mengumpulkan keberaniannya dengan mengucapkan kalimat itu pada dirinya sendiri.
“Bagus. Kita siap sekarang??” Sadewa bertanya memastikan keadaan Alena.
“Ya.” Alena menganggukkan kepalanya dengan mantap karena keberaniannya yang sudah terkumpul.
Sadewa kemudian membawa Alena masuk ke bagian belakang pemakaman Durawa di mana sarang genderuwo berada. Tempat itu sangat berbeda dengan tanah pemakaman Durawa di mana Alena tinggal selama ini. Tanah yang jadi sarang genderuwo itu punya udara yang lebih pekat, lebih menyesakkan dan berbau lebih busuk. Alena bahkan harus beberapa kali menahan pernafasannya karena tidak tahan dengan bau menyengat di tanah itu. Alena bahkan bertanya-tanya kenapa pohon-pohon yang ada di tanah itu tidak mati karena udara yang menyesakkan dan membuat Alena mual. Dan sekali lagi ... Sadewa memberikan jawaban untuk pertanyaan di benak Alena tanpa Alena harus mengatakannya lewat mulutnya.
“Tanah ini akan terlihat biasa saja di depan mata manusia terutama manusia yang tidak punya bakat untuk melihat makhluk halus. Beberapa manusia tidak akan mencium bau menyengat ini, beberapa manusia bahkan tidak akan terganggu dengan aura buruk dari tanah ini. Tapi beberapa manusia yang punya sedikit untuk melihat dan merasakan makhluk gaib, akan terganggu seperti kita saat ini.”
Alena dan Sadewa baru saja melangkah masuk ke dalam tanah sarang genderuwo di belakang pemakaman Durawa ketika langkah kaki mereka dihentikan oleh dua makhluk besar dan berbulu lebat yang mengerikan.
__ADS_1
“Durawapati!! Kenapa kau masuk kemari??” Salah satu dari genderuwo itu bertanya kepada Sadewa.
“Aku ingin bertemu dengan tetua kalian. Ada yang ingin aku tanyakan padanya.” Sadewa menarik Alena ke belakangnya untuk melindungi Alena dari tatapan dua genderuwo yang saat ini sedang memandang Alena dengan tatapan menjijikkan.
“Kami akan membiarkan durawapati masuk ke dalam tanah kami dan bertanya kepada tetua kami jika durawapati memberikan manusia di belakang durawapati kepada kami. Kebetulan tetua kami sedang mencari selir baru yang ke-100.”
Alena bergidik mendengar ucapan genderuwo itu. Hiiii!!! Melihat wajah mereka yang menjijikkan itu, sekarang aku bertanya??? Alena melihat ke arah Sadewa dengan tatapan curiga. Kenapa Sadewa tidak pergi sendiri ke tanah ini dan bertanya sendiri? Kenapa harus membawaku?
“Dengar, Alena!!” Sadewa berbisik kepada Alena. “Bersiaplah!!”
“Ya.” Alena tadinya ingin mengajukan pertanyaan yang saat ini mengganggu benaknya. Tapi Alena mengurungkan pertanyaan itu karena mendengar bisikan dari Sadewa yang memberikannya aba-aba.
“Sayangnya ... aku tidak bisa memberikan wanita di belakangku ini karena saat ini dia ada di bawah perlindunganku.”
Ucapan Sadewa itu sedikit membuat Alena terpana mendengarnya. Jika harus menarik ke belakang semua hal yang terjadi pada Alena, apa yang terjadi padanya hingga akhirnya terjebak di tanah pemakaman Durawa bukanlah sepenuhnya kesalahan Sadewa. Tapi Sadewa terus menjaga dan melindungi Alena seolah apa yang menimpa Alena adalah kesalahan Sadewa. Alena tersenyum kecil dan akhirnya tahu alasan para hantu di pemakaman Durawa jatuh hati kepada Sadewa. Kau tidak hanya rupawan, tapi hatimu ... ternyata baik juga. Pantas saja semua hantu wanita di pemakaman Durawa tergila-gila padamu, Sadewa.
“Durawapati benar-benar tidak akan memberikan wanita itu pada tetua kami padahal tetualah yang membuat wanita itu berada di tanah pemakaman Durawa?” Genderuwo itu bertanya lagi kepada Sadewa dan kali ini dengan sedikit menaikkan nada bicaranya agar lawan bicaranya merasa ketakutan.
“Ya. Aku tidak akan pernah memberikan wanita kepada tetua kalian!”
Dua genderuwo di depan Alena dan Sadewa tersenyum. Senyuman itu membuat Alena bergidik karena tahu senyuman itu bukan pertanda baik. Tidak lama kemudian dua genderuwo itu berteriak kencang. Teriakan kencang itu memekikkan telinga Alena dan membuat Alena terpaksa menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
Buk ... buk ... buk. Tidak berselang lama, Alena mendengar suara derap kaki yang kencang mendekat ke arahnya dan Sadewa berada. Derap kaki itu semakin dan membuat tanah di sekitar Alena dan Sadewa bergetar.
“Hanya karena kau durawapati, kau tetaplah durawapati pengganti!! Jangan kira kami takut denganmu, durawapati!!” Genderuwo yang tadi berteriak itu menghentikan teriakannya dan bicara dengan senyum bangga di depan Alena dan Sadewa.
Pengganti? Alena bertanya di dalam benaknya sembari melihat ke arah Sadewa.
“Bersiaplah, Alena!!” Sadewa memberikan aba-aba kepada Alena.
__ADS_1