Screamnight

Screamnight
keinginan yang belum terkabul: pocong 2 part 1


__ADS_3

            “Apa yang terjadi??” Manda memukul Sadewa dan pukulan itu cukup keras hingga Sadewa harus mundur ketika menerima pukulan itu di wajahnya yang tampan. “Kenapa kau menghilang selama dua hari dan tubuh Alena tiba-tiba lebam-lebam seperti ini???”


            Gala yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Manda, langsung menarik Manda menjauh dari Sadewa dan berusaha untuk menenangkan Sadewa. “Apa yang kau lakukan, Manda?? Kenapa harus memukul Sadewa??? Kau tidak harus seperti ini!! Kita bisa bicara baik-baik!!”


            “A-aku ... “ Manda tidak bisa menahan emosinya yang saat ini sedang campur aduk. Jadi Manda hanya bisa berjalan pergi dan menangis di samping tempat tidur Alena dengan menggenggam tangan Alena.


            “Saya mewakili Manda untuk meminta maaf.” Gala meminta maaf kepada Sadewa.


            “Tidak apa-apa. Saya paham perasaan Manda. Sudah sebulan berlalu dan Alena masih belum sadar, jika hal ini terjadi padaku ... mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama dengan Manda.”  Seperti biasa ... Sadewa berusaha untuk bersikap bijak dengan memahami situasi Manda dan Gala.


            “Terima kasih banyak.” Gala sedikit merasa lega karena Sadewa tidak merasa marah dengan perbuatan Manda dan justru berlapang dada. “Selama dua hari ini ... ke mana saja kau pergi? Kami berdua yang menjaga Alena, kebingungan setengah mati ketika melihat tubuh Alena kejang-kejang sebelum akhirnya banyak luka memar muncul di tubuhnya. Apa yang terjadi dengan Alena di sana?”


            Sadewa melipat kedua tangannya dan kemudian mengetukkan jarinya. Saat ini ... Sadewa sedang bimbang melihat kekhawatiran Manda dan Gala kepada Alena, tapi di sisi lain ... Sadewa tidak bisa mengungkapkan apa yang terjadi di dalam pemakaman Durawa kepada manusia yang hidup. Alam gaib dan alam manusia adalah dua dunia yang berbeda, itulah ajaran yang diterima oleh Sadewa ketika belajar bersama dengan kakaknya yang kini sedang melarikan diri karena tidak sanggup menerima tugas sebagai durawapati.


            “Aku hanya bisa mengatakan  bahwa aku menghilang karena sedang membantu Alena. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga Alena dengan baik dan membuat kalian berdua khawatir. Tapi satu hal yang harus kalian tahu, aku benar-benar berusaha untuk melindungi Alena di sana.”


            Gala menerima ucapan Sadewa dan menganggapnya sebagai janji dari Sadewa yang akan melindungi Alena apapun yang terjadi. “Bagaimana dengan keadaan Alena di sana? Apakah dia baik-baik saja?"


            "Ya, dia baik-baik saja. Tidak lama lagi ... aku yakin Alena pasti akan kembali.”


            “Terima kasih banyak, Sadewa.”


            Sadewa keluar dari kamar rawat Alena setelah berbincang-bincang dengan Gala. Sebelum pergi ... Sadewa melihat ke arah Alena yang masih terbaring koma di atas ranjangnya. Sadewa melihat dengan tatapan iri pada Alena. Jujur ... aku merasa sangat iri padamu, Alena. Mengenalmu membuatku merasa sedikit iri, dua temanmu itu ... mereka tidak punya hubungan darah denganmu. Tapi ... mereka sangat-sangat menyayangi dan peduli padamu. Sementara aku ... Kakakku bahkan pergi meninggalkanku dan membuatku menanggung tugasnya.


*

__ADS_1


            “Kau bekerja dengan baik, Alena.” Bendara Abinawa memberikan sedikit pujiannya kepada Alena.


            “Terima kasih untuk pujian itu, Kakek. Tapi aku datang kemari bukan untuk mendengar pujian itu.” Alena menyodorkan satu dari dua bola putih yang dibawanya dari sarang genderuwo. Satu bola kini tidak lagi berwarna putih karena arwah yang tersimpan di dalamnya telah pergi dengan tenang ke alam baka yang tidak lain adalah Chandara-kekasih dari Surya-Pocong 1. Sementara satu bola lain masih tetap berwarna putih, hanya saja ... bola itu tidak lagi bicara kepada Alena seperti sebelumnya dan karena itulah, Alena datang kemari. Mau bagaimana pun, bola itu tidak bicara dan Alena kehabisan akal. Usaha terakhirnya adalah menemui Bendara Abinawa yang punya bakat untuk membaca pikiran orang lain.


            “Kau datang karena bola putih di tanganmu itu?” Bendara Abinawa mencoba membaca pikiran Alena.


            “Ya, Kakek. Sebelumnya ketika aku berada di sarang genderuwo arwah yang tersimpan di dalam botol ini bicara padaku. Tapi sekarang ... mau bagaimanapun aku mencoba, bola ini tetap tidak mau bicara. Aku sudah kehabisan akal, Kek.” Alena menatap bola putih di tangannya dengan wajah sedih.


            Bendara Abinawa mengulurkan tangannya meminta bola yang berada di genggaman Alena. “Berikan bola itu padaku, Alena. Aku akan menyimpannya hingga kau menyelesaikan tugasmu. Aku yakin setelah tugasmu berakhir, arah di dalam bola itu akan bisa bicara lagi padamu.”


            Alena menatap Bendara Abinawa dengan tatapan curiga dan Bendara Abinawa menyadari arti dari tatapan itu.


            “Kau tidak percaya padaku, Alena?” Bendara Abinawa bertanya kepada Alena.


            Hup. Alena langsung memberikan bola digenggamannya kepada Bendara Abinawa. “Aku bisa percaya pada Kakek, bukan?”


            Huft. Alena menghela nafas panjang mengingat tiga tugas terakhir yang masih harus dikerjakannya. “Jangankan kemajuan, Kek! Aku benar-benar kesulitan untuk bicara dengan mereka bertiga. Pocong 2 langsung berlari dan melompat jauh ketika melihatku. Sementara Tuyul 1 dan Tuyul 2 mengabaikanku seolah aku tidak. Tiga hantu ini benar-benar menyusahkan, Kek.”


            Bendara Abinawa tersenyum kecil mendengar keluhan Alena. “Kau tahu kan baik hidup atau mati, tidak ada yang pernah mudah??”


            “Aku tahu itu, Kek.” Alena menjawab sembari menatap langit malam di pemakaman Durawa. Alena tiba-tiba teringat akan pertanyaan di dalam benaknya yang selama ini tidak pernah ditanyakannya. “Kek ... kenapa di sini tidak ada matahari dan hanya ada malam hari? Apakah para hantu tidak mengganggu manusia ketika siang hari?”


            “Kukira kau tidak sadar akan hal itu, Alena.”


            Alena melirik ke arah Bendara Abinawa dengan tatapan tidak percaya. “Apa Kakek mengira aku bodoh hingga tidak menyadarinya??”

__ADS_1


            “Mungkin saja.” Bendara Abinawa mengangkat kedua bahunya.


            “Kakek!!!” Alena menaikkan nada bicaranya karena merasa kesal. “Aku tidak bodoh, Kek!”


            “Hahahaha ...” Bendara Abinawa tertawa melihat reaksi dari Alena ketika merasa dirinya bodoh. “Aku hanya bilang mungkin dan kata mungkin itu selalu punya dua arti di baliknya: bisa ya dan juga bisa tidak. Kenapa kau marah begitu pada Kakek tua sepertiku ini??”


            “Di saat seperti ini Kakek merasa Kakek adalah orang tua??” Alena berbalik bertanya dengan nada tidak percaya. “Kakek benar-benar curang!”


            Bendara Abinawa menggelengkan kepalanya beberapa kali karena mengingat sesuatu. “Kau  ... membuatku teringat akan pertemuanku dengan Sadewa pertama kalinya.”


            Mata Alena berbinar mendengar ucapan Bendara Abinawa yang dengan tiba-tiba menyinggung Sadewa.  Alena menyipitkan matanya dan bertanya kepada Bendara Abinawa. “Memangnya apa yang membuat Kakek tiba-tiba teringat pada Sadewa?"            


            Bendara Abinawa mengangkat tongkatnya dan membuat ujungnya mengarah pada Alena yang sedang duduk di hadapannya. “Kalian sama-sama tidak takut padaku dan bersikap tidak sopan pada pria tua ini.


            “Hehe.” Alena terkekeh mendengar ucapan dari Bendara Abinawa. Sial, pria tua ini!! Dia sedang mempermainkanku bukan??


            “Ya, aku sedang mempermainkanmu, Alena. Dan lagi ... jangan bicara di dalam benakmu, aku bisa mengetahuinya.”


            “Tidak ada bedanya aku bicara di dalam benakku atau lewat mulutku, Kek. Toh Kakek pasti akan mendengarnya juga!! Aku bicara di dalam kepalaku untuk menghemat tenaga agar mulutku tidak lelah.” 


            “Kau pintar sekali bicara, Nak.” Bendara Abinawa memberikan pujiannya pada Alena.


            “Terima kasih untuk pujiannya itu, Kek.” Alena menundukkan kepalanya seolah pujian itu adalah kehormatan bagi Alena. “Kembali pada langit malam, kenapa ... di sini tidak ada  siang hari, Kek?”


            “Itu karena pembatas yang dibuat oleh para durawapati membuat aura jahat menumpuk dan membuat pembatas itu  berubah menjadi gelap. Jika ingin ada siang hari, maka harus membersihkan aura jahat yang terkumpul di pembatas itu.” Bendara Abinawa memberi sedikit penjelasan kepada Alena.

__ADS_1


            “Apa sulit untuk melakukan hal itu, Kek?” Alena bertanya dengan raut wajah penasaran.


            “Antara ya dan tidak. Tergantung pada durawapati. Satu-satunya orang yang bisa membersihkan pembatas di pemakaman Durawa hanyalah durawapati itu sendiri karena dia adalah penjaga makam di pemakaman Durawa.”  


__ADS_2