Screamnight

Screamnight
#screamnight part 2


__ADS_3

Teriakan Sadewa memecah keheningan malam.


Alena bersama dengan Manda dan Gala untuk sejenak membeku dan tidak mengerti


alasan dari teriakan Sadewa yang menyuruh mereka bertiga untuk berlari. Tapi


... Manda dan Gala yang merasakan sesuatu yang buruk mendekat, langsung berlari


dengan menarik tangan Alena untuk berlari bersama mereka.


            “Apapun


itu, kita lari sekarang!!”  Gala menarik


tangan Alena karena tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi pada Alena.


            “Ya,


kita lari sekarang!!” Manda setuju.


            Alena bersama dengan dua temannya


berlari keluar dari hutan dengan Sadewa yang juga ikut berlari mengikuti di


belakang mereka. Tapi semakin lama berlari, Alena semakin tidak melihat Sadewa


yang harusnya berada di belakangnya dan mengikutinya.


            “Tunggu!”


Alena menghentikan langkah kakinya. “Sadewa tidak ada di belakang kita! Kita


harus mencarinya! Kita tidak bisa membiarkan Sadewa tertinggal di hutan ini


seorang diri!!”


            Mendengar


ucapan Alena, Manda dan Gala menghentikan lari mereka untuk melihat ke belakang


dan menemukan bahwa Sadewa memang tidak ada di belakang mereka.


            “Ke


mana, Sadewa???” Manda khawatir.


            “Sial!!


Di saat seperti ini ke mana dia pergi??” Gala mengumpat kesal sebelum akhirnya


menarik tangan Alena dan Manda lagi dan memaksanya untuk berlari. “Pokoknya


kita kembali dulu ke mobil! Kita tunggu di mobil!! Berada di luar sini, hanya


akan membuat kita nantinya terpisah dan mengulang kejadian yang sama seperti


waktu itu! Nanti setelah matahari pagi muncul, kita akan mencari Sadewa


bersama.”


            Melihat


Gala yang terus khawatir dengan kejadian yang mungkin terulang lagi, Alena


tidak punya pilihan lain selain mengikuti permintaan Gala. Bersama dengan Gala


dan Manda, Alena menunggu Sadewa di dalam mobil mereka hingga pagi menjelang.


Dan jika hingga pagi tiba Sadewa tidak juga muncul, Alena bersama dengan Manda


dan Gala nantinya akan mencari Sadewa dengan menyusuri hutan di pagi hari.


            Brrrrr!


            Tapi


sepertinya pilihan untuk tetap tinggal di dalam mobil adalah pilihan yang tepat


karena beberapa kali terdengar suara aneh yang mungkin berasal dari hewan buas


dan beberapa kali juga terasa guncangan di tanah yang cukup keras. Dan hal itu


membuat Manda merasa benar-benar ketakutan hingga Gala harus memeluk Manda


selama berada di dalam mobil. Di saat seperti itu, entah kenapa Alena sama


sekali tidak merasa takut apalagi merasa nyawanya terancam, tidak seperti


Manda.


            “Aku


terkejut, kamu benar-benar takut. Tapi masih mau menggeluti pekerjaan di bidang


ini.” Alena bicara sambil melihat Manda yang ketakutan dan berada dalam pelukan


Gala.


            “Aku


memang takut, Alena. Aku semakin takut setelah apa yang terjadi padamu waktu


itu. Tapi jika aku mundur dari pekerjaan ini, aku akan membiarkanmu melakukan


pekerjaan ini seorang diri.  Membayangkan


kamu datang ke tempat berbahaya seorang diri dan mungkin tidak akan kembali,


aku lebih memilih melawan rasa takutku,” jawab Manda.


            Mendengar


jawaban Manda, Alena merasa sedikit bersalah.. “Maaf. Padahal dulu kamu sangat


suka hal-hal berbau mistis seperti ini. Tapi karena aku, kamu merasa ketakutan


sekarang. Sekali lagi, maaf.”


            “Jangan


bilang maaf, Alena. Kita adalah teman. Meminta maaf bukanlah hal yang dilakukan

__ADS_1


oleh teman baik.”


            Di


tengah rasa takutnya, Manda bisa sedikit tersenyum berkat percakapan kecilnya


dengan Alena.


            Krekkk,


krekkk!!!


            Suara


lain yang kini terdengar dekat dengan mobil di mana Alena bersama dengan Manda


dan Gala berada, membuat ketiganya semakin ketakutan. Akan tetapi ketika Alena


melihat ke kaca mobil dan melihat sesuatu di langit, kilatan bayangan aneh


muncul di dalam benak Alena lagi.


            “Maafkan


aku, tapi aku terpaksa melakukan ini, Kunti 1! Aku harus menghentikan amarahmu,


Kunti 1!”


            Setelah


berteriak kencang ke arah Kunti 1, Sadewa kemudian memukul-mukulkan tongkat


bisbolnya ke permukaan tanah sebanyak tiga kali dan  tidak lama kemudian, dari dalam tanah


pemakaman muncul beberapa rantai berukuran besar yang langsung mengikat tangan


dan kaki Kunti 1.


            Alena


menganga melihat kejadian itu. “Apa itu? Dari mana datangnya rantai-rantai


itu??”


            “Inilah


alasan kami tidak pernah berani melawan durawapati, Alena.” Kunti 2 bicara


menjawab pertanyaan Alena. “Durawapati dan keturunannya mampu melakukan banyak


hal kepada kami.”


            “Bukankah


ini pertunjukan yang menarik??” Pocong 3 tersenyum melihat ke arah Alena dan


sekali lagi ... Alena bergidik, karena takut dengan senyuman Pocong 3 dan di


saat yang sama merasa bersalah kepada Kunti 1 karena Kunti 1 harus mengalami


hal itu karena pertanyaan dari Alena.


            Ingatan


merasa tidak lagi ketakutan. “Itu ... rantai pengikat jiwa milik Sadewa.”


            “Hah??


Apa yang baru saja kamu katakan, Alena?” Gala yang tidak sengaja mendengar


ucapan Alena, bertanya.


            Bersamaan


dengan ingatan yang muncul itu, semua ingatan lama milik Alena bersama Sadewa


di pemakaman durawa, muncul bak film yang diputar dengan cepat. Alena tersenyum


dengan beberapa tetes air matanya yang terjatuh. Alena kemudian menunjuk ke


arah luar jendela mobil di mana dirinya melihat rantai pengikat jiwa milik


Sadewa yang kini sedang berusaha untuk melindunginya. “Itu adalah rantai


pengikat jiwa milik Sadewa. Apa kalian  tidak bisa melihatnya??”


*


            Kukuruyuk!


            Begitu


pagi muncul, Sadewa langsung terlihat dan membuat Alena langsung bergegas


keluar dari dalam mobil. Alena berlari ke arah Sadewa dan memeluk Sadewa dengan


pelukan kerinduan bersamaan dengan air matanya yang jatuh.


            “Kamu


dari mana saja?? Kukira sesuatu yang buruk akan menimpamu, Sadewa!!!”


Menerima pelukan dari


Alena secara tidak terduga, Sadewa membeku sembari menatap bingung ke arah Gala


dan Manda.  Sadewa bertanya pada Gala dan


Manda dengan gerakan bibirnya. “Kenapa dengannya??”


Gala dan Manda hanya bisa


mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban untuk pertanyaan dari Sadewa.


“Ka-kamu.” Sadewa mencoba


bicara pada Alena sembari melepaskan pelukan Alena di tubuhnya. “Kenapa


memelukku?? Aku baik-baik saja,. Alena.”


Buk! Alena melayangkan

__ADS_1


pukulan di tubuh Sadewa yang baru saja melepaskan pelukannya. “Kamu!! Kukira


kamu sudah menghilang!! Kalau bukan karena melihat rantai pengikat jiwamu di


langit, aku pasti berpikir kamu sudah mati, Sadewa!!! Jangan lakukan itu lagi!!


Meski kamu dulunya adalah durawapati pengganti, tanah ini bukan pemakaman


durawa di mana kamu punya kuasa!!”


Sadewa menatap heran


Alena. “Ka-kamu bisa melihat rantai pengikat jiwa, Alena??”


“Sebelumnya aku juga


sudah melihatnya, kenapa aku tidak bisa melihatnya lagi??”


Mendengar jawaban dari


Alena, Sadewa melihat ke arah Manda dan Gala dan bertanya pada keduanya. “Apa


kalian juga bisa melihat apa yang Alena lihat?”


“Tidak, kami tidak


melihatnya.” Gala dan Manda menjawab bersamaan.


Sadewa melihat Alena lagi


setelah menerima jawaban dari Gala dan Manda. “Ka-kamu, apa ingatanmu sewaktu


terjebak di pemakaman durawa kembali??”


Alena menganggukkan


kepalanya. “Ya, berkat rantai pengikat jiwamu, aku mendapatkan kembali


ingatanku sewaktu terjebak di pemakaman durawa.” Buk!! Alena memukul Sadewa


lagi dan kali ini pukulannya lebih keras dari sebelumnya. “Kamu jahat,


Sadewa!!”


“Aku jahat??”  tanya Sadewa bingung.


“Ya.”


“Kenapa aku jahat??”


“Kamu pasti tahu kan jika


ingatanku akan hilang jika aku kembali. Kenapa kamu tidak bilang??”


Huft! Sadewa menghela


napas panjang. “Apa yang terjadi selama kamu terjebak di pemakaman durawa


harusnya tidak kamu ingat, Alena. Kamu akan kehilangan ingatanmu karena saat


kamu terjebak, yang terjebak hanya ruhmu saja.”


Buk! Alena memukul Sadewa


lagi dan kali ini Alena memukul dengan air mata yang jatuh lagi. “Maaf, Sadewa.


Aku melupakanmu yang selama seratus hari menjaga dan melindungiku. Itu pasti


menyakitkan sekali untukmu ketika aku bilang aku tidak akan melupakanmu ketika


kembali.”


“Aku sudah terbiasa


dengan hal itu, Alena.”


            Tiga


bulan kemudian.


            “Sekian


dan terima kasih.”


            Alena


dan Sadewa menonton video yang baru saja mereka unggah ke akun screamnight


dengan wajah puas. Sejak tiga bulan yang lalu, Sadewa resmi bergabung dengan


screamnight dan membuat popularitas screamnight semakin meningkat. Tidak hanya


itu saja, Sadewa bahkan punya penggemar khusus yang menamakan dirinya:


dewascream yang artinya Sadewa dari screamnight.


            “Tidak


bosan-bosannya aku ingatkan, jangan lupa tekan tombol subcribe di akun


screamnight!”


            `”Kalian


tidak makan??” Manda dan Gala berteriak bersama memanggil Alena dan Sadewa.


            “Ya,


kami datang.”


            Sebelum


bangkit bersama dengan Sadewa ke ruang makan, Alena mengetik sesuatu di kolom


komentar.


            Nantikan


perjalanan berikutnya dari screamnight. Dukungan kalianlah yang membuat kami


terus bersemangat mendatangi lokasi-lokasi misttis. Alena juga tidak lupa

__ADS_1


menambahkan sesuatu yang penting sebelum menekan tombol enter pada laptopnya: #screamnight.


__ADS_2