
Teriakan Sadewa memecah keheningan malam.
Alena bersama dengan Manda dan Gala untuk sejenak membeku dan tidak mengerti
alasan dari teriakan Sadewa yang menyuruh mereka bertiga untuk berlari. Tapi
... Manda dan Gala yang merasakan sesuatu yang buruk mendekat, langsung berlari
dengan menarik tangan Alena untuk berlari bersama mereka.
“Apapun
itu, kita lari sekarang!!” Gala menarik
tangan Alena karena tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi pada Alena.
“Ya,
kita lari sekarang!!” Manda setuju.
Alena bersama dengan dua temannya
berlari keluar dari hutan dengan Sadewa yang juga ikut berlari mengikuti di
belakang mereka. Tapi semakin lama berlari, Alena semakin tidak melihat Sadewa
yang harusnya berada di belakangnya dan mengikutinya.
“Tunggu!”
Alena menghentikan langkah kakinya. “Sadewa tidak ada di belakang kita! Kita
harus mencarinya! Kita tidak bisa membiarkan Sadewa tertinggal di hutan ini
seorang diri!!”
Mendengar
ucapan Alena, Manda dan Gala menghentikan lari mereka untuk melihat ke belakang
dan menemukan bahwa Sadewa memang tidak ada di belakang mereka.
“Ke
mana, Sadewa???” Manda khawatir.
“Sial!!
Di saat seperti ini ke mana dia pergi??” Gala mengumpat kesal sebelum akhirnya
menarik tangan Alena dan Manda lagi dan memaksanya untuk berlari. “Pokoknya
kita kembali dulu ke mobil! Kita tunggu di mobil!! Berada di luar sini, hanya
akan membuat kita nantinya terpisah dan mengulang kejadian yang sama seperti
waktu itu! Nanti setelah matahari pagi muncul, kita akan mencari Sadewa
bersama.”
Melihat
Gala yang terus khawatir dengan kejadian yang mungkin terulang lagi, Alena
tidak punya pilihan lain selain mengikuti permintaan Gala. Bersama dengan Gala
dan Manda, Alena menunggu Sadewa di dalam mobil mereka hingga pagi menjelang.
Dan jika hingga pagi tiba Sadewa tidak juga muncul, Alena bersama dengan Manda
dan Gala nantinya akan mencari Sadewa dengan menyusuri hutan di pagi hari.
Brrrrr!
Tapi
sepertinya pilihan untuk tetap tinggal di dalam mobil adalah pilihan yang tepat
karena beberapa kali terdengar suara aneh yang mungkin berasal dari hewan buas
dan beberapa kali juga terasa guncangan di tanah yang cukup keras. Dan hal itu
membuat Manda merasa benar-benar ketakutan hingga Gala harus memeluk Manda
selama berada di dalam mobil. Di saat seperti itu, entah kenapa Alena sama
sekali tidak merasa takut apalagi merasa nyawanya terancam, tidak seperti
Manda.
“Aku
terkejut, kamu benar-benar takut. Tapi masih mau menggeluti pekerjaan di bidang
ini.” Alena bicara sambil melihat Manda yang ketakutan dan berada dalam pelukan
Gala.
“Aku
memang takut, Alena. Aku semakin takut setelah apa yang terjadi padamu waktu
itu. Tapi jika aku mundur dari pekerjaan ini, aku akan membiarkanmu melakukan
pekerjaan ini seorang diri. Membayangkan
kamu datang ke tempat berbahaya seorang diri dan mungkin tidak akan kembali,
aku lebih memilih melawan rasa takutku,” jawab Manda.
Mendengar
jawaban Manda, Alena merasa sedikit bersalah.. “Maaf. Padahal dulu kamu sangat
suka hal-hal berbau mistis seperti ini. Tapi karena aku, kamu merasa ketakutan
sekarang. Sekali lagi, maaf.”
“Jangan
bilang maaf, Alena. Kita adalah teman. Meminta maaf bukanlah hal yang dilakukan
__ADS_1
oleh teman baik.”
Di
tengah rasa takutnya, Manda bisa sedikit tersenyum berkat percakapan kecilnya
dengan Alena.
Krekkk,
krekkk!!!
Suara
lain yang kini terdengar dekat dengan mobil di mana Alena bersama dengan Manda
dan Gala berada, membuat ketiganya semakin ketakutan. Akan tetapi ketika Alena
melihat ke kaca mobil dan melihat sesuatu di langit, kilatan bayangan aneh
muncul di dalam benak Alena lagi.
“Maafkan
aku, tapi aku terpaksa melakukan ini, Kunti 1! Aku harus menghentikan amarahmu,
Kunti 1!”
Setelah
berteriak kencang ke arah Kunti 1, Sadewa kemudian memukul-mukulkan tongkat
bisbolnya ke permukaan tanah sebanyak tiga kali dan tidak lama kemudian, dari dalam tanah
pemakaman muncul beberapa rantai berukuran besar yang langsung mengikat tangan
dan kaki Kunti 1.
Alena
menganga melihat kejadian itu. “Apa itu? Dari mana datangnya rantai-rantai
itu??”
“Inilah
alasan kami tidak pernah berani melawan durawapati, Alena.” Kunti 2 bicara
menjawab pertanyaan Alena. “Durawapati dan keturunannya mampu melakukan banyak
hal kepada kami.”
“Bukankah
ini pertunjukan yang menarik??” Pocong 3 tersenyum melihat ke arah Alena dan
sekali lagi ... Alena bergidik, karena takut dengan senyuman Pocong 3 dan di
saat yang sama merasa bersalah kepada Kunti 1 karena Kunti 1 harus mengalami
hal itu karena pertanyaan dari Alena.
Ingatan
merasa tidak lagi ketakutan. “Itu ... rantai pengikat jiwa milik Sadewa.”
“Hah??
Apa yang baru saja kamu katakan, Alena?” Gala yang tidak sengaja mendengar
ucapan Alena, bertanya.
Bersamaan
dengan ingatan yang muncul itu, semua ingatan lama milik Alena bersama Sadewa
di pemakaman durawa, muncul bak film yang diputar dengan cepat. Alena tersenyum
dengan beberapa tetes air matanya yang terjatuh. Alena kemudian menunjuk ke
arah luar jendela mobil di mana dirinya melihat rantai pengikat jiwa milik
Sadewa yang kini sedang berusaha untuk melindunginya. “Itu adalah rantai
pengikat jiwa milik Sadewa. Apa kalian tidak bisa melihatnya??”
*
Kukuruyuk!
Begitu
pagi muncul, Sadewa langsung terlihat dan membuat Alena langsung bergegas
keluar dari dalam mobil. Alena berlari ke arah Sadewa dan memeluk Sadewa dengan
pelukan kerinduan bersamaan dengan air matanya yang jatuh.
“Kamu
dari mana saja?? Kukira sesuatu yang buruk akan menimpamu, Sadewa!!!”
Menerima pelukan dari
Alena secara tidak terduga, Sadewa membeku sembari menatap bingung ke arah Gala
dan Manda. Sadewa bertanya pada Gala dan
Manda dengan gerakan bibirnya. “Kenapa dengannya??”
Gala dan Manda hanya bisa
mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban untuk pertanyaan dari Sadewa.
“Ka-kamu.” Sadewa mencoba
bicara pada Alena sembari melepaskan pelukan Alena di tubuhnya. “Kenapa
memelukku?? Aku baik-baik saja,. Alena.”
Buk! Alena melayangkan
__ADS_1
pukulan di tubuh Sadewa yang baru saja melepaskan pelukannya. “Kamu!! Kukira
kamu sudah menghilang!! Kalau bukan karena melihat rantai pengikat jiwamu di
langit, aku pasti berpikir kamu sudah mati, Sadewa!!! Jangan lakukan itu lagi!!
Meski kamu dulunya adalah durawapati pengganti, tanah ini bukan pemakaman
durawa di mana kamu punya kuasa!!”
Sadewa menatap heran
Alena. “Ka-kamu bisa melihat rantai pengikat jiwa, Alena??”
“Sebelumnya aku juga
sudah melihatnya, kenapa aku tidak bisa melihatnya lagi??”
Mendengar jawaban dari
Alena, Sadewa melihat ke arah Manda dan Gala dan bertanya pada keduanya. “Apa
kalian juga bisa melihat apa yang Alena lihat?”
“Tidak, kami tidak
melihatnya.” Gala dan Manda menjawab bersamaan.
Sadewa melihat Alena lagi
setelah menerima jawaban dari Gala dan Manda. “Ka-kamu, apa ingatanmu sewaktu
terjebak di pemakaman durawa kembali??”
Alena menganggukkan
kepalanya. “Ya, berkat rantai pengikat jiwamu, aku mendapatkan kembali
ingatanku sewaktu terjebak di pemakaman durawa.” Buk!! Alena memukul Sadewa
lagi dan kali ini pukulannya lebih keras dari sebelumnya. “Kamu jahat,
Sadewa!!”
“Aku jahat??” tanya Sadewa bingung.
“Ya.”
“Kenapa aku jahat??”
“Kamu pasti tahu kan jika
ingatanku akan hilang jika aku kembali. Kenapa kamu tidak bilang??”
Huft! Sadewa menghela
napas panjang. “Apa yang terjadi selama kamu terjebak di pemakaman durawa
harusnya tidak kamu ingat, Alena. Kamu akan kehilangan ingatanmu karena saat
kamu terjebak, yang terjebak hanya ruhmu saja.”
Buk! Alena memukul Sadewa
lagi dan kali ini Alena memukul dengan air mata yang jatuh lagi. “Maaf, Sadewa.
Aku melupakanmu yang selama seratus hari menjaga dan melindungiku. Itu pasti
menyakitkan sekali untukmu ketika aku bilang aku tidak akan melupakanmu ketika
kembali.”
“Aku sudah terbiasa
dengan hal itu, Alena.”
Tiga
bulan kemudian.
“Sekian
dan terima kasih.”
Alena
dan Sadewa menonton video yang baru saja mereka unggah ke akun screamnight
dengan wajah puas. Sejak tiga bulan yang lalu, Sadewa resmi bergabung dengan
screamnight dan membuat popularitas screamnight semakin meningkat. Tidak hanya
itu saja, Sadewa bahkan punya penggemar khusus yang menamakan dirinya:
dewascream yang artinya Sadewa dari screamnight.
“Tidak
bosan-bosannya aku ingatkan, jangan lupa tekan tombol subcribe di akun
screamnight!”
`”Kalian
tidak makan??” Manda dan Gala berteriak bersama memanggil Alena dan Sadewa.
“Ya,
kami datang.”
Sebelum
bangkit bersama dengan Sadewa ke ruang makan, Alena mengetik sesuatu di kolom
komentar.
Nantikan
perjalanan berikutnya dari screamnight. Dukungan kalianlah yang membuat kami
terus bersemangat mendatangi lokasi-lokasi misttis. Alena juga tidak lupa
__ADS_1
menambahkan sesuatu yang penting sebelum menekan tombol enter pada laptopnya: #screamnight.