Screamnight

Screamnight
kembalinya Alena part 2


__ADS_3

            “Alena! Apa kamu bisa mendengarku??”


Manda bertanya gaduh karena Alena tidak segera merespon pertanyaan dan


panggilannya. “Alena??? Apa kamu tidak mendengarku???”


            Alena mengangkat tangannya dan


menyentuh tangan Manda yang menggenggam tangan Alena yang lain. “Aku dengar,


Manda. Bisakah kamu kecilkan suaramu itu?? Telinga orang lain mungkin akan


sakit mendengarnya.”


            “Ahhh, akhirnya.” Manda langsung


memeluk Alena yang masih berbaring di ranjang. “Kukira, aku akan kehilanganmu,


Alena. Kenapa kamu lama sekali bangun dari tidurmu???”


            Alena membalas pelukan dari Manda


sejenak sebelum akhirnya sadar akan sesuatu. “Memang aku tidur berapa lama?”


            “Tiga bulan lebih.” Manda mengangkat


tubuhnya dan kemudian memanggil Gala dan Sadewa yang sedang menunggu di luar


ruangan. “Gala! Sadewa! Alena sudah bangun!!”


            Dari arah pintu, dua orang pria


berlari masuk. Satu pria adalah sahabat Alena dan Manda: Gala yang kini


terlihat sedikit lebih berantakan dari biasanya. Dan satu lagi adalah pria yang


ditemui Alena belum lama ini: penjaga makam durawa-Sadewa.


            “Syukur kamu sudah bangun, Alena.”


Gala mendekat ke arah Alena dan menatap Alena dengan wajah bahagia dan lega.


            “Ya, sepertinya Tuhan masih belum


mengizinkanku untuk bertemu dengannya,” balas Alena dengan senyum kecilnya di


wajahnya yang masih pucat.


            “Kamu tidak tahu Manda benar-benar


mengira kamu tidak akan bisa bangun lagi, Alena.”


            “Sepertinya umurku masih cukup


panjang untuk bersama dengan kalian lagi.”  Setelah berbincang singkat dengan Gala, Alena melihat ke arah Sadewa dan


menatapnya dengan wajah hormat. “Sepertinya aku menyusahkan durawapati hingga


membuat durawapati dari makam durawa datang kemari untuk menjengukku.”


            Buk. Manda memukul bahu Alena dengan


sedikit kencang. Bunyinya bahkan sedikit nyaring hingga membuat Gala, Alena dan


Sadewa sedikit terkejut.


            “Kenapa kamu memukulku??” Alena


melihat ke arah Manda dengan tatapan bingung.


            “Selain aku dan Gala, Sadewa juga


yang berusaha dengan keras untuk membawamu kembali!” jelas Manda.


            Alena menatap Sadewa sebelum


akhirnya menganggukkan kepalanya untuk memberikan hormat sebagai tanda terima


kasihnya. “Maaf telah menyusahkanmu, Sadewa.”


            “Yang penting kamu bisa bangun, itu


sudah cukup membuatku merasa senang. Tapi sebelum itu, izinkan saya bertanya.”


            “Silakan, Sa- Ah, durawapati


maksudku.”


            “Apa ingatan terakhir yang kamu


ingat, Alena??”


            Alena terdiam sejenak berusaha untuk


menggali ingatan terakhirnya. Alena kemudian memberikan penjelasan mengenai


bagaimana dirinya masuk ke pemakaman durawa bersama dengan Gala, Manda dan

__ADS_1


Sadewa. Alena juga ingat bagaimana akhirnya dirinya terpisah dengan Manda, Gala


dan Sadewa setelah berusaha menyelamatkan Manda. Dan setelah itu, ingatan Alena


berhenti.


            “Hanya itu saja?” tanya Sadewa.


            “Ya, hanya itu. Tapi sepertinya


dalam tidurku, aku bermimpi bertemu dengan ibuku. Aku bicara banyak hal yang


aku ingin bicarakan dengannya.” Alena menjawab dengan wajah sedikit bahagia


sembari mengingat samar-samar mimpinya bertemu dengan ibunya.


            “Syukurlah,” ujar Sadewa.


            “Apanya yang syukurlah?” Alena


bertanya dengan wajah bingung menatap Sadewa.


            “Syukurlah kamu baik-baik saja.”


Sadewa tersenyum kecil.


*


            Di pemakaman durawa.


            “Alena melupakan segala yang terjadi


di sini?” Bendara Abinawa bertanya kepada Sadewa yang sedang berjaga di


pemakaman durawa.


            “Ya, dia lupa segalanya. Hanya


pertemuannya dengan ibunya saja yang tersisa. Itu pun di mata Alena terlihat


seperti mimpi.”


            “Akan lebih baik begitu. Mengingat


apa yang terjadi di sini, hanya akan membuatnya ingin kembali ke tanah ini,


Sadewa.”


             “Kakek benar. Akan lebih baik begini.” Buk!


kaki Sadewa. “Kenapa Kakek memukul kakiku?? Apa tongkat Kakek sudah beralih


fungsi?”


            “Kamu, kukira akan sedih. Nyatanya


kamu baik-baik saja, Sadewa.”


            “Memangnya aku kenapa??”


            “Bukannya kamu suka dengan Alena?


Makanya selama dia di sini, kamu selalu meluangkan waktumu itu untuk


mengunjungi dan menemaninya?”


            Hup. Sadewa menutup separuh mukanya


mendengar ucapan gamblang dari Bendara Abinawa. “Ba-bagaimana Kakek bisa


tahu??”


            “Huh, terlihat dengan jelas di


mukamu. Lain kali perbaiki rautmu itu agar orang lain tidak dengan mudah


menebak isi hatimu.”


            “Alena sudah lupa akan segalanya.


Jadi akan lebih baik jika aku juga melupakan semua yang terjadi berkaitan


dengannya. Aku adalah durawapati. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang mungkin


akan dihindari oleh wanita. Mungkin … wanita seperti Alena yang berasal dari


kota besar tidak akan pernah menyukaiku apalagi menikah denganku.”


            Buk! Untuk kedua kalinya, Bendara


Abinawa memukul kaki Sadewa dengan tongkatnya.


            “Kenapa Kakek memukulku lagi??”


Sadewa mengelus kakinya karena dua pukulan yang mendarat di tempat yang sama.


            “Jodoh itu sudah ada yang ngatur.

__ADS_1


Meski pekerjaanmu terlihat begini, kalau dia jodohmu maka dia akan menerimamu


dan pekerjaanmu,” jelas Bendara Abinawa. “Tapi aku yakinan satu hal, Sadewa.”


            “Apa lagi yang ingin Kakek katakan


padaku??”


            “Kamu hanya durawapati pengganti.


Suatu saat kamu akan kembali ke tempatmu semula.”


            “Aku rasa itu tidak mungkin, Kakek.”


            “Siapa yang akan tahu apa yang akan


terjadi di masa depan. Kamu mungkin tidak tahu, tapi aku bisa mengintipnya


sedikit.” Bendara Abinawa bicara dengan senyum kecil di bibirnya bersama dengan


raut bangga di wajahnya.


            Satu setengah tahun kemudian.


            Aku merasa selalu ada yang


kurang, ada yang hilang sejak hari itu. Aku berusaha menemukannya tapi aku


tidak bisa menemukannya. Kukira … awalnya aku akan baik-baik saja setelah mimpi


bertemu dengan ibuku. Tapi, lagi-lagi aku merasa ada yang hilang.


            “Alena!!! Jangan melamun!! Apa kamu sudah siap??” Gala


berteriak memanggil Alena yang sibuk dengan pikirannya sendiri padahal hendak


mengambil rekaman untuk screamnight.


            “Ah, maaf.” Alena menyesal. “A-aku


sudah siap.”


            Semenjak hari itu, aku kembali ke


aktivitasku semula. Rekaman di pemakaman durawa akhirnya berakhir dengan


kegagalan karena kecelakaan yang aku alami. Untuk beberapa bulan, akun


screamnight harus hiatus karena keadaanku. Tapi berkat itu, dukungan penggemar


dan pengikut semakin banyak. Rasa rindu dari penggemar dan pengikut, membuat


banyak dari mereka bertanya-tanya alasan screamnight harus hiatus selama


beberapa bulan. Dan begitu screamnight mengunggah video baru setelah hiatus,


video itu langsung dilihat banyak penggemar dan pengikut screamnight dalam


kurun waktu yang cukup singkat. Screamnight bahkan masuk daftar trending selama


beberapa minggu berkat itu.


            Tapi … semenjak itu, aku merasa ada


yang hilang. Aku merasa ada yang aku lupakan dan apa yang hilang dan aku


lupakan itu adalah hal yang sangat penting.


            Selama satu setengah tahun ini,


aku berusaha untuk menemukan apa yang hilang itu. Akan tetapi berulang kali aku


mencari, aku tetap tidak menemukan sesuatu yang hilang itu.


            Hingga …


            Buk!


            “Ah! Maaf, aku tidak sengaja.” Alena


yang sedang berjalan-jalan di kota, tidak sengaja menabrak seseorang di jalan.


            “Tidak apa-apa.”


            “Itu, aku benar minta ma-“ Alena


menghentikan ucapannya ketika mengenali wajah orang yang baru saja ditabraknya.


“Kamu bukannya??”


            “Ah … lama tidak bertemu, Alena.”


            Sesuatu di dalam dada Alena


tiba-tiba bergejolak ketika melihat wajah tidak asing di hadapannya.


            “Kenapa kamu bisa di sini, Sadewa?”

__ADS_1


__ADS_2