
“Alena! Apa kamu bisa mendengarku??”
Manda bertanya gaduh karena Alena tidak segera merespon pertanyaan dan
panggilannya. “Alena??? Apa kamu tidak mendengarku???”
Alena mengangkat tangannya dan
menyentuh tangan Manda yang menggenggam tangan Alena yang lain. “Aku dengar,
Manda. Bisakah kamu kecilkan suaramu itu?? Telinga orang lain mungkin akan
sakit mendengarnya.”
“Ahhh, akhirnya.” Manda langsung
memeluk Alena yang masih berbaring di ranjang. “Kukira, aku akan kehilanganmu,
Alena. Kenapa kamu lama sekali bangun dari tidurmu???”
Alena membalas pelukan dari Manda
sejenak sebelum akhirnya sadar akan sesuatu. “Memang aku tidur berapa lama?”
“Tiga bulan lebih.” Manda mengangkat
tubuhnya dan kemudian memanggil Gala dan Sadewa yang sedang menunggu di luar
ruangan. “Gala! Sadewa! Alena sudah bangun!!”
Dari arah pintu, dua orang pria
berlari masuk. Satu pria adalah sahabat Alena dan Manda: Gala yang kini
terlihat sedikit lebih berantakan dari biasanya. Dan satu lagi adalah pria yang
ditemui Alena belum lama ini: penjaga makam durawa-Sadewa.
“Syukur kamu sudah bangun, Alena.”
Gala mendekat ke arah Alena dan menatap Alena dengan wajah bahagia dan lega.
“Ya, sepertinya Tuhan masih belum
mengizinkanku untuk bertemu dengannya,” balas Alena dengan senyum kecilnya di
wajahnya yang masih pucat.
“Kamu tidak tahu Manda benar-benar
mengira kamu tidak akan bisa bangun lagi, Alena.”
“Sepertinya umurku masih cukup
panjang untuk bersama dengan kalian lagi.” Setelah berbincang singkat dengan Gala, Alena melihat ke arah Sadewa dan
menatapnya dengan wajah hormat. “Sepertinya aku menyusahkan durawapati hingga
membuat durawapati dari makam durawa datang kemari untuk menjengukku.”
Buk. Manda memukul bahu Alena dengan
sedikit kencang. Bunyinya bahkan sedikit nyaring hingga membuat Gala, Alena dan
Sadewa sedikit terkejut.
“Kenapa kamu memukulku??” Alena
melihat ke arah Manda dengan tatapan bingung.
“Selain aku dan Gala, Sadewa juga
yang berusaha dengan keras untuk membawamu kembali!” jelas Manda.
Alena menatap Sadewa sebelum
akhirnya menganggukkan kepalanya untuk memberikan hormat sebagai tanda terima
kasihnya. “Maaf telah menyusahkanmu, Sadewa.”
“Yang penting kamu bisa bangun, itu
sudah cukup membuatku merasa senang. Tapi sebelum itu, izinkan saya bertanya.”
“Silakan, Sa- Ah, durawapati
maksudku.”
“Apa ingatan terakhir yang kamu
ingat, Alena??”
Alena terdiam sejenak berusaha untuk
menggali ingatan terakhirnya. Alena kemudian memberikan penjelasan mengenai
bagaimana dirinya masuk ke pemakaman durawa bersama dengan Gala, Manda dan
__ADS_1
Sadewa. Alena juga ingat bagaimana akhirnya dirinya terpisah dengan Manda, Gala
dan Sadewa setelah berusaha menyelamatkan Manda. Dan setelah itu, ingatan Alena
berhenti.
“Hanya itu saja?” tanya Sadewa.
“Ya, hanya itu. Tapi sepertinya
dalam tidurku, aku bermimpi bertemu dengan ibuku. Aku bicara banyak hal yang
aku ingin bicarakan dengannya.” Alena menjawab dengan wajah sedikit bahagia
sembari mengingat samar-samar mimpinya bertemu dengan ibunya.
“Syukurlah,” ujar Sadewa.
“Apanya yang syukurlah?” Alena
bertanya dengan wajah bingung menatap Sadewa.
“Syukurlah kamu baik-baik saja.”
Sadewa tersenyum kecil.
*
Di pemakaman durawa.
“Alena melupakan segala yang terjadi
di sini?” Bendara Abinawa bertanya kepada Sadewa yang sedang berjaga di
pemakaman durawa.
“Ya, dia lupa segalanya. Hanya
pertemuannya dengan ibunya saja yang tersisa. Itu pun di mata Alena terlihat
seperti mimpi.”
“Akan lebih baik begitu. Mengingat
apa yang terjadi di sini, hanya akan membuatnya ingin kembali ke tanah ini,
Sadewa.”
“Kakek benar. Akan lebih baik begini.” Buk!
kaki Sadewa. “Kenapa Kakek memukul kakiku?? Apa tongkat Kakek sudah beralih
fungsi?”
“Kamu, kukira akan sedih. Nyatanya
kamu baik-baik saja, Sadewa.”
“Memangnya aku kenapa??”
“Bukannya kamu suka dengan Alena?
Makanya selama dia di sini, kamu selalu meluangkan waktumu itu untuk
mengunjungi dan menemaninya?”
Hup. Sadewa menutup separuh mukanya
mendengar ucapan gamblang dari Bendara Abinawa. “Ba-bagaimana Kakek bisa
tahu??”
“Huh, terlihat dengan jelas di
mukamu. Lain kali perbaiki rautmu itu agar orang lain tidak dengan mudah
menebak isi hatimu.”
“Alena sudah lupa akan segalanya.
Jadi akan lebih baik jika aku juga melupakan semua yang terjadi berkaitan
dengannya. Aku adalah durawapati. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang mungkin
akan dihindari oleh wanita. Mungkin … wanita seperti Alena yang berasal dari
kota besar tidak akan pernah menyukaiku apalagi menikah denganku.”
Buk! Untuk kedua kalinya, Bendara
Abinawa memukul kaki Sadewa dengan tongkatnya.
“Kenapa Kakek memukulku lagi??”
Sadewa mengelus kakinya karena dua pukulan yang mendarat di tempat yang sama.
“Jodoh itu sudah ada yang ngatur.
__ADS_1
Meski pekerjaanmu terlihat begini, kalau dia jodohmu maka dia akan menerimamu
dan pekerjaanmu,” jelas Bendara Abinawa. “Tapi aku yakinan satu hal, Sadewa.”
“Apa lagi yang ingin Kakek katakan
padaku??”
“Kamu hanya durawapati pengganti.
Suatu saat kamu akan kembali ke tempatmu semula.”
“Aku rasa itu tidak mungkin, Kakek.”
“Siapa yang akan tahu apa yang akan
terjadi di masa depan. Kamu mungkin tidak tahu, tapi aku bisa mengintipnya
sedikit.” Bendara Abinawa bicara dengan senyum kecil di bibirnya bersama dengan
raut bangga di wajahnya.
Satu setengah tahun kemudian.
Aku merasa selalu ada yang
kurang, ada yang hilang sejak hari itu. Aku berusaha menemukannya tapi aku
tidak bisa menemukannya. Kukira … awalnya aku akan baik-baik saja setelah mimpi
bertemu dengan ibuku. Tapi, lagi-lagi aku merasa ada yang hilang.
“Alena!!! Jangan melamun!! Apa kamu sudah siap??” Gala
berteriak memanggil Alena yang sibuk dengan pikirannya sendiri padahal hendak
mengambil rekaman untuk screamnight.
“Ah, maaf.” Alena menyesal. “A-aku
sudah siap.”
Semenjak hari itu, aku kembali ke
aktivitasku semula. Rekaman di pemakaman durawa akhirnya berakhir dengan
kegagalan karena kecelakaan yang aku alami. Untuk beberapa bulan, akun
screamnight harus hiatus karena keadaanku. Tapi berkat itu, dukungan penggemar
dan pengikut semakin banyak. Rasa rindu dari penggemar dan pengikut, membuat
banyak dari mereka bertanya-tanya alasan screamnight harus hiatus selama
beberapa bulan. Dan begitu screamnight mengunggah video baru setelah hiatus,
video itu langsung dilihat banyak penggemar dan pengikut screamnight dalam
kurun waktu yang cukup singkat. Screamnight bahkan masuk daftar trending selama
beberapa minggu berkat itu.
Tapi … semenjak itu, aku merasa ada
yang hilang. Aku merasa ada yang aku lupakan dan apa yang hilang dan aku
lupakan itu adalah hal yang sangat penting.
Selama satu setengah tahun ini,
aku berusaha untuk menemukan apa yang hilang itu. Akan tetapi berulang kali aku
mencari, aku tetap tidak menemukan sesuatu yang hilang itu.
Hingga …
Buk!
“Ah! Maaf, aku tidak sengaja.” Alena
yang sedang berjalan-jalan di kota, tidak sengaja menabrak seseorang di jalan.
“Tidak apa-apa.”
“Itu, aku benar minta ma-“ Alena
menghentikan ucapannya ketika mengenali wajah orang yang baru saja ditabraknya.
“Kamu bukannya??”
“Ah … lama tidak bertemu, Alena.”
Sesuatu di dalam dada Alena
tiba-tiba bergejolak ketika melihat wajah tidak asing di hadapannya.
“Kenapa kamu bisa di sini, Sadewa?”
__ADS_1