
Ketika matahari benar-benar telah terlihat, beberapa hantu yang sudah lama tidak melihat matahari merasa senang dan beberapa lainnya menyingkir karena cahaya matahari terlalu menyilaukan. Pocong 2 adalah satu dari hantu yang muncul karena merasa senang melihat matahari lagi setelah sekian lama.
“Kalian benar-benar bekerja keras. Salam, durawapati.” Pocong 2 langsung memberikan salamnya kepada Sadewa dan seperti biasanya, bersikap mengabaikan Alena.
“Kami ... “ Sadewa melihat ke arah dirinya sendiri dan Alena untuk memberi tahu arti kami yang dia ucapkan. “Kami berdua melakukan ini untuk mewujudkan keinginanmu, Pocong 2.”
Pocong 2 memasang senyumannya yang dingin. Pocong 2 kemudian menatap ke arah Alena dengan tatapan tajam yang menandakan bahwa dirinya tidak suka dengan Alena. “Ya ... kalian memang melakukannya untukku tapi ada alasan lain kenapa kalian ingin mengabulkan keinginan beberapa hantu yang terjebak di pemakaman Durawa ini. Jangan kira aku tidak tahu akan hal itu, durawapati.”
“Kau benar juga.” Sadewa menganggukkan kepalanya setuju. “Aku melakukan itu untuk menyelamatkan Alena. Bagaimana pun Alena adalah manusia, jadi sudah seharusnya aku segera membantunya keluar dari tempat ini. Dia masih punya kehidupan yang harus dijalaninya dan itu bukan di tempat ini-di tanah ini. Aku tidak akan melakukan hal ini jika Alena adalah makhluk yang sama seperti kalian.”
“Seperti yang sudah aku duga. Kau jujur sekali, durawapati.”
“Maafkan aku, Pocong 2.” Sadewa meminta maaf kepada Pocong 2 dan di saat yang sama Alena juga mengatakan hal yang sama kepada Pocong 2.
“Aku suka kejujuranmu, durawapati. Seperti ucapan dari Pocong 1, kau benar-benar manusia yang cukup baik sebagai durawapati.” Pocong 2 memasang senyumannya lagi dan kali ini senyuman itu tidak dingin. Melainkan senyuman yang sedikit nakal dan membuat Alena dan Sadewa bertanya-tanya mengenai arti dari senyuman itu. “Kau bahkan mau berfoto dengan sekelompok hantu wanita di pemakaman ini hanya untuk mendapatkan informasi mengenai keinginan yang menjebakku. Aku terharu melihat usahamu itu, durawapati.”
Dan kali ini senyuman dari Pocong 2 itu berubah menjadi tawa kecil yang membuat Sadewa yang melihatnya merasa kesal.
“Jangan bahas itu lagi, Pocong 2!” Sadewa melirik ke arah Alena dengan wajah kesal. “Aku tidak ingin mengingat kenangan buruk itu lagi. Aku bahkan belum pernah punya pacar, dan karena wanita ini ... aku harus berfoto sebagai kekasih sekelompok hantu wanita yang terjebak di pemakaman ini!!!”
“Kau belum pernah punya pacar??” Alena bertanya dengan nada terkejut dan tidak percaya.
“Kau tidak perlu seterkejut itu, Alena. Apa ada yang aneh dengan belum pernah punya pacar sama sekal?” Sadewa berbalik bertanya.
__ADS_1
“Dengan wajah setampan itu, kau belum pernah punya pacar?? Apa para wanita di desa ini, di kota ini dan di dekatmu buta semua??” Alena berbalik mengajukan pertanyaan lagi kepada Sadewa karena masih tidak percaya akan kenyataan bahwa Sadewa belum pernah punya pacar sama sekali.
“Kau juga wanita di dekat dan di sekitarku, kukira kau juga buta akan wajahku yang tampan, Alena.” Sadewa membalas pertanyaan Alena dengan sindiran yang cukup tajam.
“Hahaha ...” Pocong 2 tertawa melihat perdebatan yang terjadi antara Sadewa dan Alena. “Kalian benar-benar pasangan yang serasi.”
“Kami bukan pasangan!!” Alena dan Sadewa memberi penolakan di waktu yang bersamaan.
“Baiklah ... baiklah, kalian bukan pasangan.” Pocong 2 menyerah dengan cepat masih dengan tawa kecil di bibirnya. Pocong 2 kemudian menundukkan kepalanya ke arah Sadewa dan memberinya isyarat. “Sudah waktunya, durawapati. Sudah waktunya kau melepaskan tali pocong ini dan membiarkanku pergi ke alam baka.”
Sadewa mengangkat tangannya dan langsung melepaskan tali pocong milik Pocong 2. Dan dalam sekejap ... cahaya terang muncul dari tubuh Pocong 2. Kini di hadapan Alena bersama dengan Sadewa, tidak lagi berdiri Pocong 2 melainkan pria bernama Arjuna dengan wajah yang masih muda dan terlihat cukup rupawan.
“Kyaaa!!! Ternyata wajahmu semasa hidup rupawan juga, Pocong 2!!” Sundel 1, Sundel 2 dan Kunti 3 yang berada di dekat Alena dan Sadewa terkejut melihat perubahan Pocong 2 yang kini terlihat sangat-sangat berbeda.
Dasar hantu wanita genit! Begitu ada pria dengan wajah rupawan, antenanya langsung bekerja!! Aku tidak heran kenapa kebanyakan durawapati yang berjaga di sini adalah pria yang sudah berumur, jika mereka masih muda mungkin mereka akan melarikan karena takut dengan hantu-hantu wanita yang genit ini! Alena langsung mengatakan hal itu ketika melihat mata dari tiga hantu wanita yang kini melihat wajah manusia dari Pocong 2 dengan mata berbinar layaknya seorang mata duitan yang melihat uang di depan matanya. Alena kemudian teringat dengan cerita mengenai Kakak Sadewa yang melarikan diri. Jangan-jangan Kakak Sadewa melarikan diri karena takut dengan hantu-hantu wanita genit ini??
“Senyuman itu ... oh tidak, kenapa begitu indah?? Bisakah aku memiliki senyuman itu untukku seorang? Durawapati selalu berkata hantu dan manusia tidak akan pernah bisa bersama, tapi jika Pocong 2 ... hubungan ini pasti akan berhasil.” Kunti 3 berkomentar.
“Kenapa sejak dulu aku tidak menyadari jika Pocong 2 adalah pria yang tampan semasa hidupnya??” Sundel 1 bicara dengan nada menyesal.
“Pocong 2 bisakah kau tunda kepergianmu menuju alam baka??” Kali ini giliran Sundel 2 yang bicara. “Aku masih ingin melihat dan menyimpan senyuman itu di dalam benak dan ingatanku.”
Pocong 2 mengabaikan tiga hantu wanita genit yang saat ini sedang terpesona dengannya dan melihat ke arah Sadewa. “Terima kasih, durawapati. Terima kasih karena telah membiarkanku melihat matahari setelah sekian lama. Ini adalah hal terakhir yang ingin aku lihat sebelum aku mati. Matahari ini dan kehangatannya adalah tujuanku naik ke gunung di belakang sana.”
__ADS_1
“Ini bukan karena aku saja. Alena juga bekerja keras.” Sadewa merendah.
“Tapi yang bekerja sangat keras adalah durawapati! Bahkan durawapati mau berfoto dengan sekelompok hantu wanita genit hanya demi menemukan keinginanku. Lalu untuk membersihkan aura jahat di pembatas ini juga bukan hal mudah, karena itu ... aku sangat-sangat berterima kasih kepada durawapati. Sebelum pergi ... bisakah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?”
“Aku??” Sadewa menunjuk dirinya sendiri karena terkejut mendengar permintaan dari Pocong 2.
“Ya.”
Sadewa menganggukkan kepalanya dan Pocong 2 langsung memeluk tubuh Sadewa. Alena mengerutkan keningnya melihat Pocong 2 yang sangat ingin memeluk Sadewa. Tapi tidak lama kemudian Alena tahu alasan kenapa Pocong 2 ingin memeluk Sadewa sebelum dirinya hilang bersama dengan pendar cahaya yang muncul dari tubuhnya seperti tiga hantu sebelumnya.
“Kau mungkin tidak tahu, tapi ... aku ingin mengucapkan terima kasih, durawapati. Terima kasih karena telah memberikan kebebasan bagi temanku-pocong 1, membalaskan rasa kesalku pada genderuwo yang membuatku mati dan mengabulkan keinginanku untuk melihat matahari. Sebagai tanda terima kasihku ... aku akan memberikan sesuatu sebagai hadiah untukmu, durawapati.” Pocong 2 kemudian berbisik kepada Sadewa dan Alena tidak bisa mendengar bisikan itu.
“Terima kasih untuk informasinya.” Sadewa menepuk bahu Pocong 2 yang kini terlihat seperti manusia.
“Satu lagi, durawapati. Ini hal yang paling penting dari semua hal. Aku mungkin tidak suka dengan Alena. Tapi harusnya ... kau bertanya langsung padaku mengenai keinginanku dan bukan bersusah payah berfoto bersama dengan sekelompok hantu wanita genit itu!!” Pocong 2 langsung melepaskan pelukannya pada Sadewa, untuk melihat wajah kesal dari Sadewa.
“Kau!!! Kenapa tidak mengatakannya langsung padaku??”
“Hahaha ...” Pocong 2 tertawa lebih kencang. “Melihatmu berfoto bersama mereka adalah sedikit hiburan yang menyenangkan sebelum aku pergi.”
“Sial kau, Pocong 2!!!” Sadewa mengumpat kesal pada Pocong 2 dan umpatan itu dibalas dengan senyuman oleh Pocong 2.
“Kalau begitu ... aku pamit. Selamat tinggal.”
__ADS_1
Pendar cahaya yang muncul dari tubuh Pocong 2 semakin terang dan membuat Alena bersama dengan Sadewa dan tiga hantu wanita genit tidak bisa melihat Pocong 2. Lalu ketika Alena bersama dengan Sadewa dan tiga hantu wanita itu bisa membuka matanya untuk melihat, Pocong 2 telah menghilang bersama dengan pendar cahaya yang terbang ke langit.