
Pertemuannya
dengan ibunya, terasa seperti mimpi bagi Alena. Penantian, penyesalan, rasa
bersalah dan banyak perasaan lain, tumpah keluar begitu Alena melihat sosok
ibunya.
“Maaf, Bu.”
Alena
berulang kali mengatakan kata maaf kepada Ibunya seolah banyaknya kata itu
terulang tidak akan pernah cukup.
“Alena
benar-benar buat Ibu bangga. Sekarang kamu sudah bisa hidup mandiri dengan
melakukan apa yang kamu sukai. Ibu … tidak bisa berkata apapun selain merasa
bangga dan merasa bersalah karena sempat meragukan pilihanmu, Alena.”
“Bukan
Ibu saja yang begitu.” Alena sadar banyak ibu lain yang mengalami hal yang sama
ketika tahu anaknya bekerja sebagai youtuber. Pekerjaan ini awalnya memang
bukan pekerjaan yang menjanjikan. “Banyak orang tua dari teman Alena sesame
pekerjaan ini yang juga sempat meragukan pekerjaan ini. Tapi berkat
berkembangnya teknologi dengan sangat cepat, sekarang bekerja tidak lagi harus
di kantor.”
“Ibu
sudah melihatnya. Kamu sekarang sudah punya cukup banyak uang, mampu beli mobil
sendiri dan hidup mandiri dengan Manda dan Gala. Melihatmu begitu, Ibu sudah
cukup merasa senang dan bangga, Alena.”
Ibu
Alena memberikan pelukan di tubuh Alena. Tapi Alena justru terkejut mendengar
pengakuan dari ibunya.
“Ba-bagaimana Ibu tahu semua itu??”
Ibu Alena meneteskan air matanya
mendengar pertanyaan Alena. “Ibu tahu segalanya, Alena. Ibu tahu alasan kamu
memilih untuk datang ke tempat-tempat mengerikan dan menempuh bahaya bukan
hanya karena kerjaanmu saja. Ibu tahu selama ini kamu terus mencari Ibu karena
merasa bersalah.”
“I-itu … I-Ibu, bagaimana Ibu???”
Alena tidak bisa memproses apa yang sedang terjadi.
“Selama ini, Ibu selalu di dekatmu,
Alena.” Ibu Alena mengeratkan pelukannya di tubuh Alena. “Kamu mungkin tidak
sadar, tapi selama ini, Ibu selalu di sampingmu.”
Dalam waktu singkat, Alena menyadari
beberapa kejadian aneh yang berulang kali berusaha untuk memperingatinya ketika
dirinya berada dalam bahaya. Dari suara-suara yang memanggil namanya hingga
embusan angin dingin yang seolah sedang bicara pada dirinya. Alena juga ingat
bagaimana suara yang memanggilnya berusaha untuk menghalanginya masuk ke
pemakaman durawa dan berusaha menyelamatkannya ketika dirinya pertama kali
terjebak di pemakaman durawa.
“Su-suara itu, suara yang terus
bicara padaku, itu suara Ibu??”
“Ya, Alena. Itu suara Ibu.”
Percakapan panjang antara Alena dan
Ibunya, terus terjadi. Kadang Alena dan ibunya akan tertawa bersama, kadang
akan menangis bersama dan kadang akan merasa sedih bersama. Dan Alena merasa
tidak ingin berpisah dengan ibunya setelah semua usahanya untuk bisa melihat
__ADS_1
ibunya. Sayangnya kainginan itu, tidaklah mungkin terjadi karena kematian telah
memisahkan Alena dengan ibunya.
“Alena, sudah waktunya untuk
berpisah.” Bendara Abinawa yang sejak tadi duduk menunggu bersama dengan
Sadewa, mendekat ke arah Alena dan menghentikan percakapan panjang Alena dan
ibunya.
“Apa aku tidak bisa lebih lama lagi
menghabiskan waktuku dengan ibuku, Kek??” Alena langsung menggenggam erat
tangan ibunya.
Bendara Abinawa menggelengkan
kepalanya. “Tidak, Alena. Ibumu sudah terlalu lama tertahan di dunia ini. Sudah
waktunya buat Ibumu untuk pergi. Keinginannya sudah terpenuhi begitu juga
dengan keinginanmu. Setelah kamu juga masih harus melanjutkan hidupmu lagi,
Alena. Kamu tidak bisa selamanya terjebak di sini bersama dengan ibumu.”
Alena menatap ibunya dan langsung
meneteskan air matanya lagi membayangkan kehidupannya tanpa ibunya dan
perpisahan untuk kedua kalinya dengan ibunya.
Tuk! Ibu Alena menyentil kening
Alena seperti yang selalu dilakukan Ibunya semasa Alena kecil. “Jangan serakah,
Alena. Kita berdua sudah cukup beruntung bisa bertemu selama ini.”
“Tapi, Bu-“
Ibu Alena memeluk tubuh Alena lagi
dan kali ini mengusap punggung Alena seperti yang selalu dilakukan Ibu Alena
ketika Alena kecil menangis. “Kamu tahu dengan baik, kematian dan perpisahan
akan datang, Alena. Baik itu cepat atau lambat, kita berdua pasti akan berpisah
dan sekaranglah waktunya. Melihat kamu hidup mandiri tanpa kekurangan, itu
sudah cukup membuat Ibu merasa tenang. Sekarang kamu hanya perlu menemukan
bisa menemani dan melihatmu menikah. Maaf membuatmu menikah seorang diri,
Alena.”
Huhuhuhu …. Alena menangis mendengar permintaan maaf
Ibunya untuk terakhir kalinya.
“Berjanjilah pada Ibu, kamu akan
hidup dengan baik, Alena.”
“Ya.”
“Berjanjilah pada Ibu, kelak kamu
akan jadi istri dan ibu yang baik.”
“Ya.”
“Berjanjilah pada Ibu, kelak kamu
tidak akan lupa pada Ibu dan Ayah.”
“Ya.”
“Itu sudah cukup. Terima kasih,
Alena sayang.”
Ibu Alena melepaskan pelukannya dan
langsung bangkit dari duduknya. Ibu Alena berjalan ke arah Sadewa dan memohon
sesuatu pada Sadewa. “Tolong jaga putriku dan segera keluarkan dia dari sini,
Nak!”
“Tentu, Bu. Itu sudah jadi tugas
saya sebagai penjaga makam di pemakaman ini.” Sadewa bicara dengan menunjukkan
rasa hormatnya.
“Terima kasih, Nak. Terima kasih
kamu selalu menjaga putriku selama dirinya terjebak di pemakaman ini. Bendara
__ADS_1
Abinawa selalu menceritakan kamu yang selalu membantu Alena.”
“I-itu … “ Sadewa melirik ke arah
Bendara Abinawa dengan tatapan bingung. “Itu sudah jadi tugas saya, Bu.”
“Ehm.” Ibu Alena tersenyum kepada
Sadewa dan mendekat ke arah Sadewa. Ibu Alena kemudian berbisik kepada Sadewa.
“Kalau kamu punya niat baik pada Alenaku, Ibu akan memberikan restu Ibu.
Ingatlah itu, Nak.”
“Itu … terima kasih untuk restunya,
tapi mungkin-“ Sadewa menghentikan ucapannya dan melihat Alena yang menangis
memandang ke arah Ibunya.
“Jodoh tidak akan ke mana, Nak.
Percayalah itu.”
Setelah mengatakan hal itu, Ibu
Alena mendekat ke arah Bendara Abinawa dan bersiap untuk pergi. “Saya sudah
siap.”
“Baiklah kalau begitu.”
Melihat ibunya yang akan menghilang,
Alena berlari ke arah ibunya dengan wajah yang basah oleh air mata. “Ibu!!!”
“Baik-baik yah, sayang??” Ibu Alena
bicara dengan senyuman di wajahnya bersamaan dengan sekujur tubuhnya yang mulai
bersinar terang sama seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya pada Kunti 1 dan
hantu-hantu lain yang telah mendapatkan keinginan mereka.
“Tapi, Bu-“ Alena menggelengkan
kepalanya dan berusaha untuk meraih tubuh ibunya dengan tangannya. Tapi usaha
itu gagal.
“Jangan menangis lagi! Kau sudah
dewasa sekarang!! Perpisahan ini hanya memisahkan kita secara fisik! Selama
kamu mengingat Ibu, maka Ibu akan tetap hidup dalam dirimu, Alena! Ya?? Sudah
waktunya Ibu pergi menemui Ayahmu,. Alena. Lepaskan Ibu, yah??”
Ibu Alena semakin menghilang dan
Alena hanya bisa menganggukkan kepalanya karena tidak ingin Ibunya tertahan
lagi di dunia ini karena dirinya. “Ya, Bu.”
Cahaya terang yang menyilaukan itu
perlahan menghilang bersamaan dengan sosok Ibu Alena yang menghilang.
“Ibu … “ Melihat ibunya yang
menghilang, Alena hanya bisa menangis tanpa henti.
“Sekarang … “ Sadewa mendekat ke
arah Alena dan menepuk pundak Alena. “Sudah waktunya untukmu kembali ke dunia
nyata, Alena. Sebisa mungkin aku akan membuatmu ingat kenanganmu bersama dengan
Ibumu.”
“A-apa maksudnya itu??” Alena
bertanya masih dengan wajah yang basah oleh air mata.
“Tidak ada. Hanya mungkin beberapa
kenangan akan kamu lupakan, Alena.”
“Apa artinya aku akan melupakan
hantu-hantu di sini dan apa yang aku lakukan bersamamu selama hampir seratus
hari?”
Sadewa mengangkat kedua bahunya
membuat kebohongan di depan Alena. “Mungkin iya, mungkin juga tidak. Aku takt
ahu. Tapi dalam beberapa kasus ada yang lupa dan ada juga yang tidak lupa.”
“Kalau begitu, kuharap aku tidak
__ADS_1
akan melupakan kalian semua di sini. Meski singkat, waktu-waktuku di sini cukup
menyenangkan.”