Screamnight

Screamnight
keinginan Alena part 2


__ADS_3

Pertemuannya


dengan ibunya, terasa seperti mimpi bagi Alena. Penantian, penyesalan, rasa


bersalah dan banyak perasaan lain, tumpah keluar begitu Alena melihat sosok


ibunya.


            “Maaf, Bu.”


Alena


berulang kali mengatakan kata maaf kepada Ibunya seolah banyaknya kata itu


terulang tidak akan pernah cukup.


“Alena


benar-benar buat Ibu bangga. Sekarang kamu sudah bisa hidup mandiri dengan


melakukan apa yang kamu sukai. Ibu … tidak bisa berkata apapun selain merasa


bangga dan merasa bersalah karena sempat meragukan pilihanmu, Alena.”


“Bukan


Ibu saja yang begitu.” Alena sadar banyak ibu lain yang mengalami hal yang sama


ketika tahu anaknya bekerja sebagai youtuber. Pekerjaan ini awalnya memang


bukan pekerjaan yang menjanjikan. “Banyak orang tua dari teman Alena sesame


pekerjaan ini yang juga sempat meragukan pekerjaan ini. Tapi berkat


berkembangnya teknologi dengan sangat cepat, sekarang bekerja tidak lagi harus


di kantor.”


“Ibu


sudah melihatnya. Kamu sekarang sudah punya cukup banyak uang, mampu beli mobil


sendiri dan hidup mandiri dengan Manda dan Gala. Melihatmu begitu, Ibu sudah


cukup merasa senang dan bangga, Alena.”


Ibu


Alena memberikan pelukan di tubuh Alena. Tapi Alena justru terkejut mendengar


pengakuan dari ibunya.


            “Ba-bagaimana Ibu tahu semua itu??”


            Ibu Alena meneteskan air matanya


mendengar pertanyaan Alena. “Ibu tahu segalanya, Alena. Ibu tahu alasan kamu


memilih untuk datang ke tempat-tempat mengerikan dan menempuh bahaya bukan


hanya karena kerjaanmu saja. Ibu tahu selama ini kamu terus mencari Ibu karena


merasa bersalah.”


            “I-itu … I-Ibu, bagaimana Ibu???”


Alena tidak bisa memproses apa yang sedang terjadi.


            “Selama ini, Ibu selalu di dekatmu,


Alena.” Ibu Alena mengeratkan pelukannya di tubuh Alena. “Kamu mungkin tidak


sadar, tapi selama ini, Ibu selalu di sampingmu.”


            Dalam waktu singkat, Alena menyadari


beberapa kejadian aneh yang berulang kali berusaha untuk memperingatinya ketika


dirinya berada dalam bahaya. Dari suara-suara yang memanggil namanya hingga


embusan angin dingin yang seolah sedang bicara pada dirinya. Alena juga ingat


bagaimana suara yang memanggilnya berusaha untuk menghalanginya masuk ke


pemakaman durawa dan berusaha menyelamatkannya ketika dirinya pertama kali


terjebak di pemakaman durawa.


            “Su-suara itu, suara yang terus


bicara padaku, itu suara Ibu??”


            “Ya, Alena. Itu suara Ibu.”


            Percakapan panjang antara Alena dan


Ibunya, terus terjadi. Kadang Alena dan ibunya akan tertawa bersama, kadang


akan menangis bersama dan kadang akan merasa sedih bersama. Dan Alena merasa


tidak ingin berpisah dengan ibunya setelah semua usahanya untuk bisa melihat

__ADS_1


ibunya. Sayangnya kainginan itu, tidaklah mungkin terjadi karena kematian telah


memisahkan Alena dengan ibunya.


            “Alena, sudah waktunya untuk


berpisah.” Bendara Abinawa yang sejak tadi duduk menunggu bersama dengan


Sadewa, mendekat ke arah Alena dan menghentikan percakapan panjang Alena dan


ibunya.


            “Apa aku tidak bisa lebih lama lagi


menghabiskan waktuku dengan ibuku, Kek??” Alena langsung menggenggam erat


tangan ibunya.


            Bendara Abinawa menggelengkan


kepalanya. “Tidak, Alena. Ibumu sudah terlalu lama tertahan di dunia ini. Sudah


waktunya buat Ibumu untuk pergi. Keinginannya sudah terpenuhi begitu juga


dengan keinginanmu. Setelah kamu juga masih harus melanjutkan hidupmu lagi,


Alena. Kamu tidak bisa selamanya terjebak di sini bersama dengan ibumu.”


            Alena menatap ibunya dan langsung


meneteskan air matanya lagi membayangkan kehidupannya tanpa ibunya dan


perpisahan untuk kedua kalinya dengan ibunya.


            Tuk! Ibu Alena menyentil kening


Alena seperti yang selalu dilakukan Ibunya semasa Alena kecil. “Jangan serakah,


Alena. Kita berdua sudah cukup beruntung bisa bertemu selama ini.”


            “Tapi, Bu-“


            Ibu Alena memeluk tubuh Alena lagi


dan kali ini mengusap punggung Alena seperti yang selalu dilakukan Ibu Alena


ketika Alena kecil menangis. “Kamu tahu dengan baik, kematian dan perpisahan


akan datang, Alena. Baik itu cepat atau lambat, kita berdua pasti akan berpisah


dan sekaranglah waktunya. Melihat kamu hidup mandiri tanpa kekurangan, itu


sudah cukup membuat Ibu merasa tenang. Sekarang kamu hanya perlu menemukan


bisa menemani dan melihatmu menikah. Maaf membuatmu menikah seorang diri,


Alena.”


            Huhuhuhu ….  Alena menangis mendengar permintaan maaf


Ibunya untuk terakhir kalinya.


            “Berjanjilah pada Ibu, kamu akan


hidup dengan baik, Alena.”


            “Ya.”


            “Berjanjilah pada Ibu, kelak kamu


akan jadi istri dan ibu yang baik.”


            “Ya.”


            “Berjanjilah pada Ibu, kelak kamu


tidak akan lupa pada Ibu dan Ayah.”


            “Ya.”


            “Itu sudah cukup. Terima kasih,


Alena sayang.”


            Ibu Alena melepaskan pelukannya dan


langsung bangkit dari duduknya. Ibu Alena berjalan ke arah Sadewa dan memohon


sesuatu pada Sadewa. “Tolong jaga putriku dan segera keluarkan dia dari sini,


Nak!”


            “Tentu, Bu. Itu sudah jadi tugas


saya sebagai penjaga makam di pemakaman ini.” Sadewa bicara dengan menunjukkan


rasa hormatnya.


            “Terima kasih, Nak. Terima kasih


kamu selalu menjaga putriku selama dirinya terjebak di pemakaman ini. Bendara

__ADS_1


Abinawa selalu menceritakan kamu yang selalu membantu Alena.”


            “I-itu … “ Sadewa melirik ke arah


Bendara Abinawa dengan tatapan bingung. “Itu sudah jadi tugas saya, Bu.”


            “Ehm.” Ibu Alena tersenyum kepada


Sadewa dan mendekat ke arah Sadewa. Ibu Alena kemudian berbisik kepada Sadewa.


“Kalau kamu punya niat baik pada Alenaku, Ibu akan memberikan restu Ibu.


Ingatlah itu, Nak.”


            “Itu … terima kasih untuk restunya,


tapi mungkin-“ Sadewa menghentikan ucapannya dan melihat Alena yang menangis


memandang ke arah Ibunya.


            “Jodoh tidak akan ke mana, Nak.


Percayalah itu.”


            Setelah mengatakan hal itu, Ibu


Alena mendekat ke arah Bendara Abinawa dan bersiap untuk pergi. “Saya sudah


siap.”


            “Baiklah kalau begitu.”


            Melihat ibunya yang akan menghilang,


Alena berlari ke arah ibunya dengan wajah yang basah oleh air mata. “Ibu!!!”


            “Baik-baik yah, sayang??” Ibu Alena


bicara dengan senyuman di wajahnya bersamaan dengan sekujur tubuhnya yang mulai


bersinar terang sama seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya pada Kunti 1 dan


hantu-hantu lain yang telah mendapatkan keinginan mereka.


            “Tapi, Bu-“ Alena menggelengkan


kepalanya dan berusaha untuk meraih tubuh ibunya dengan tangannya. Tapi usaha


itu gagal.


            “Jangan menangis lagi! Kau sudah


dewasa sekarang!! Perpisahan ini hanya memisahkan kita secara fisik! Selama


kamu mengingat Ibu, maka Ibu akan tetap hidup dalam dirimu, Alena! Ya?? Sudah


waktunya Ibu pergi menemui Ayahmu,. Alena. Lepaskan Ibu, yah??”


            Ibu Alena semakin menghilang dan


Alena hanya bisa menganggukkan kepalanya karena tidak ingin Ibunya tertahan


lagi di dunia ini karena dirinya. “Ya, Bu.”


            Cahaya terang yang menyilaukan itu


perlahan menghilang bersamaan dengan sosok Ibu Alena yang menghilang.


            “Ibu … “ Melihat ibunya yang


menghilang, Alena hanya bisa menangis tanpa henti.


            “Sekarang … “ Sadewa mendekat ke


arah Alena dan menepuk pundak Alena. “Sudah waktunya untukmu kembali ke dunia


nyata, Alena. Sebisa mungkin aku akan membuatmu ingat kenanganmu bersama dengan


Ibumu.”


            “A-apa maksudnya itu??” Alena


bertanya masih dengan wajah yang basah oleh air mata.


            “Tidak ada. Hanya mungkin beberapa


kenangan akan kamu lupakan, Alena.”


            “Apa artinya aku akan melupakan


hantu-hantu di sini dan apa yang aku lakukan bersamamu selama hampir seratus


hari?”


            Sadewa mengangkat kedua bahunya


membuat kebohongan di depan Alena. “Mungkin iya, mungkin juga tidak. Aku takt


ahu. Tapi dalam beberapa kasus ada yang lupa dan ada juga yang tidak lupa.”


            “Kalau begitu, kuharap aku tidak

__ADS_1


akan melupakan kalian semua di sini. Meski singkat, waktu-waktuku di sini cukup


menyenangkan.”


__ADS_2