
Alena tadinya mengira Kunti 1 akan marah seperti sebelumnya karena mengungkit keinginannya yang belum terkabul. Alena bahkan meminta Sadewa untuk bersiap-siap jika apa yang direncanakannya gagal. Tapi untuk kesekian kalinya, dugaan Alena salah. Lebih dari yang Alena duga, Kunti 1 menikmati pesta kecil yang dibuat oleh Alena bersama dengan Sadewa dan Kunti 2. Semua hantu yang datang pun juga merasakan hal yang sama dengan Kunti 1. Mungkin ini adalah pertama kalinya bagi mereka merasakan bagian kecil dari kehidupan manusia yang pernah merasakan. Itulah yang Alena pikirkan ketika melihat wajah bahagia para hantu dengan senyuman di wajah mereka, meski senyuman itu masih terlihat mengerikan di mata Alena.
“Terima kasih.” Kunti 1 memeluk sebentar tubuh Alena. “Kau tidak tahu betapa aku ingin merasakan hal ini semasa aku hidup sebagai manusia. Merasa dicintai oleh banyak orang, memiliki banyak teman dan merayakan hal penting bersama dengan mereka. Aku yang selalu ditindas karena memiliki wajah cantik dan lahir dari keluarga miskin dianggap sebagai duri bagi mereka yang memiliki kekayaan. Di mata sebagian orang kecantikan yang aku miliki hanya bisa menimbulkan rasa cemburu dan iri. Lalu di mata sebagian yang lain, aku hanyalah alat untuk mendapatkan banyak uang karena kecantikan yang aku miliki.”
Puk ... puk ... puk. Alena menepuk bahu Kunti 1 sebagai balasannya. “Aku harap kenangan ini akan bertahan dalam ingatanmu, Kunti 1.”
Tes ... tes ... tes. Kunti 1 meneteskan air matanya pertanda rasa bahagia yang telah lama didambakannya. “Ada satu hal yang ingin aku lakukan lagi. Bisa kau membantuku, Alena?”
“Apa itu?”
Kunti 1 mendekat ke arah Alena dan berbisik. Bisikan dari Kunti 1 itu, sontak membuat Alena terkejut dan langsung melihat ke arah Sadewa dengan wajah tidak yakin.
“Aku tidak yakin apakah Sadewa mau melakukannya atau tidak.”
“Aku tidak akan memaksanya. Aku hanya membuat pernyataan bukan pertanyaan yang butuh jawaban.” Kunti 1 bersikeras.
Alena melihat ke arah Sadewa lagi dan masih merasa tidak yakin. “Bagaimana kalau aku gagal meyakinkannya, Kunti 1?”
“Kau harus bisa, Alena! Bukankah kau ingin mengabulkan permintaanku??” Kunti 1 menyeringai dan seringai itu tampak cukup mengerikan di mata Alena.
“Baiklah, aku akan coba.” Alena berjalan menghampiri Sadewa dengan segenap keyakinannya sembari menumpat di dalam benaknya beberapa kali. Sial! Sial! Sial!! Hantu memang tidak bisa dipercaya!! Dia benar-benar memanfaatkan apa yang aku lakukan untuknya!!
“Ada apa dengan tatapanmu itu, Alena?” Sadewa langsung mengajukan pertanyaan ketika melihat Alena berjalan menghampirinya.
Alena beberapa kali menggelengkan kepalanya sembari mengumpulkan keberaniannya sebelum akhirnya berbisik pada Sadewa.
“Aku harus melakukan hal itu?” Sadewa bertanya kepada Alena dengan mata yang nyaris keluar dari tempatnya.
Alena menganggukkan kepalanya. “Ya sepertinya begitu. Bantu aku kali ini, Sadewa. Aku mohon padamu.”
__ADS_1
Sadewa memijat keningnya beberapa kali sembari mengeluh. “Dasar hantu wanita!! Kenapa mereka semua bisa jatuh hati padaku seperti ini dan selalu menyusahkanku??”
“Salahkan wajahmu yang tampan itu, Sadewa. Kau terlalu tampan hingga pesonamu tidak hanya menarik manusia tapi juga para hantu.”
“Sepertinya setelah ini aku harus mengubah caramu meminta dan menghiburku, Alena.” Sadewa melotot kembali ke arah Alena. Akan tetapi tidak lama kemudian, Sadewa berjalan dengan menarik tangan Alena menuju ke arah Kunti 1. “Kau yang minta padaku karena itu kau harus menemaniku, Alena.”
Suasana hening sejenak ketika Sadewa yang menarik tangan Alena, berdiri tepat di depan Kunti 1. Semua hantu bertanya-tanya dengan keheningan itu. Alena yang tahu apa yang akan terjadi hanya bisa berusaha untuk menyembunyikan denyut jantungnya agar tidak terdengar oleh hantu-hantu di sekitarnya.
Kunti 1 menatap Sadewa dengan mata berkaca-kaca sebelum akhirnya membuka mulutnya dan mengejutkan semua hantu yang ikut dalam pesta kecil itu. “Semasa aku hidup, aku belum pernah melakukan hal ini. Aku ingin membuat pengakuan kepadamu. Mungkin kau sudah lama tahu akan hal ini, durawapati. Aku menyukaimu, durawapati.”
Sadewa terdiam melihat ke arah Kunti 1. Alena yang berada di samping Sadewa bertanya-tanya mengenai reaksi Sadewa karena Sadewa hanya diam saja dan tidak bereaksi. Alena menyenggol Sadewa dan membuat Sadewa akhirnya membuka mulutnya untuk bicara. “A-aku sudah mendengarnya. Kuharap kelak ... kau akan bisa benar-benar jatuh cinta dan memiliki pasangan sejati, Kunti 1. Ah tidak ... Sriati.”
“Terima kasih.” Kunti 1 tersenyum menerima respon dari Sadewa.
Tidak lama kemudian wajah Kunti 1 berubah. Cahaya terang muncul dari tubuh Kunti 1. Riasan yang tadi menutupi wajah Kunti 1 perlahan pudar dan memperlihatkan bagaimana rupa asli Kunti 1 semasa hidupnya. Kunti 1 tersenyum tapi kali ini senyuman itu bukan senyuman mengerikan yang diingat oleh Alena.
“Kita berpisah di sini. Terima kasih, Alena, Kunti 2 dan hantu-hantu lain yang ikut membantu pesta ini. Terima kasih juga kepada durawapati yang telah bersedia mendengar pengakuanku. Sekali lagi terima kasih.”
Pemakaman Durawa yang sebelumnya selalu gelap kini berubah begitu terang berkat cahaya dari tubuh Kunti 1.
“Kita akan bertemu lagi bukan?” Kunti 2 menangis melihat Kunti 1 yang perlahan menghilang bersama dengan cahaya terang.
“Kuharap begitu dan ketika itu terjadi, aku harap kita akan jadi teman lagi.”
Cahaya menyilaukan bersinar begitu terang, membuat Alena bersama dengan Sadewa dan hantu-hantu lain kesulitan untuk melihat. Cahaya itu bersinar terang selama kurang lebih satu menit dan ketika padam, Kunti 1 telah benar-benar menghilang.
*
Setelah Sadewa keluar dari pemakaman Durawa, Alena melihat Kunti 2 yang duduk di ranting pohon yang duduk seperti sedang menunggu dirinya.
__ADS_1
“Kau sepertinya sedang menungguku, Kunti 2.” Alena menyapa Kunti 2 dengan melambaikan tangannya beberapa kali ke arah Kunti 2.
Kunti 2 terbang turun dengan cara terbaiknya dan seanggun mungkin meski setelah mendarat sedikit tersandung pakaian putih panjang yang kini tidak lagi bisa disebut dengan warna putih. Keanggunan yang berusaha ditunjukkan oleh Kunti 2 berakhir dengan kegagalan.
“Ah sial! Aku gagal lagi mendarat dengan baik dan seanggun mungkin.” Kunti 2 menyumpahi dirinya sendiri.
“Hahaha ... “ Alena tertawa kecil melihat hantu yang sedang menyumpahi dirinya sendiri. “Aku tidak menyangka kau begitu peduli dengan keanggunan, Kunti 2. Ada apa menungguku di sana? Kau ingin melihat Sadewa pergi atau ingin bicara denganku setelah Sadewa pergi?”
Kunti 2 membenarkan pakaian yang membuatnya nyaris jatuh terjungkal. Kunti 2 bahkan mengangkat sedikit baju putih yang tidak lagi bisa disebut dengan warna putih. “Dua-duanya benar.”
Alena menganggukkan kepalanya sebagai tanda paham. “Oke, apa itu?”
“Aku ingin kau juga mengabulkan keinginan yang membuatku terjebak di sini, Alena.”
Alena menutup mulutnya tidak percaya ketika mendengar ucapan dari Kunti 2. Ini benar-benar jackpot!! Kali ini ... aku iidak perlu kesulitan untuk membujuk Kunti 2 seperti Kunti 1.
Alena melihat ke arah Kunti 2 dengan wajah penasaran dan bertanya. “Keinginan apa yang membuatmu terjebak di sini, Kunti 2?”
Kunti 2 mendekat ke arah Alena dan kemudian berbisik. Alena mendengarkan bisikan itu dengan saksama sebelum akhirnya menatap Kunti 2 dengan wajah tidak percaya.
“Itu tidak mungkin!!!” Alena berteriak sembari membayangkan wajah penuh penolakan dari Sadewa untuk permintaan itu. Sial!!! Kenapa durawapati-penjaga makam ini terlalu tampan dan menarik perhatian banyak hantu di dalamnya??? Sial!! Wajah tampan itu benar-benar menyusahkan sekali!!!
__ADS_1