Screamnight

Screamnight
keinginan yang belum terkabul: pocong 1 part 6


__ADS_3

            Pemulihan tenaga milik Sadewa ternyata jauh lebih lama dari perkiraan Alena bersama dengan semua hantu yang melihat bagaimana Sadewa ambruk setelah berhasil keluar dari sarang genderuwo. Sadewa tidur untuk waktu yang lama dan mungkin beberapa hari, Alena tidak bisa menghitungnya dengan tepat karena hanya ada malam ketika terjebak di pemakaman Durawa. Itulah hal pertama yang Alena sadari ketika terjebak di pemakaman Durawa: hanya ada malam ketika terjebak di pemakaman Durawa. Dan Alena tidak tahu kenapa hanya ada malam di pemakaman Durawa.


            “Arrgh!” Sadewa mengerang kecil ketika membuka matanya setelah istirahat beberapa hari dan hanya tertidur.


            “Syukurlah!!! Kau akhirnya bangun juga, Sadewa!! Jika kau tidak bangun hari ini, aku hendak menemui Kakek untuk meminta bantuan padanya!” Alena langsung membantu Sadewa yang sedang berusaha untuk bangkit dari posisi tidur menjadi duduk.


            Sadewa memegang kening kepalanya dan memijatnya. “Mendengar ucapan panjangmu itu sepertinya aku tidur untuk waktu yang lama, Ehm ... berapa lama aku tidur?”


            “Mungkin tiga, mungkin juga empat hari. Aku tidak bisa menghitungnya karena hanya ada malam di sini. Perhitungan waktu biasanya aku hitung dengan kedatanganmu.” Alena menjawab  sembari menggaruk kepalanya karena keraguannya.


            “Huft.” Sadewa menghela napasnya sembari memijat keningnya. “Masalah itu nanti biar aku pastikan sendiri ketika keluar dari pemakaman Durawa. Bagaimana dengan Pocong 1? Apa dia sudah pergi?”


            Alena menggelengkan kepalanya. “Belum, Pocong 1 menunggumu bangun untuk pergi. Dia ingin kau sendiri yang melepas tali pocongnya.”


            “Lalu bagaimana dengan keinginan dari Pocong 1? Apa alasan yang membuatnya terjebak di pemakaman Durawa?”


            Alena kemudian memberikan penjelasan singkat untuk pertanyaan Sadewa. Dimulai dari cerita tetua genderuwo, suara dari bola milik tetua genderuwo yang bicara pada Alena, pertemuan mengharukan yang dilewatkan oleh Sadewa dan cerita kecil Pocong 1 tentang kehidupannya sebelum kematian datang hingga alasannya memilih untuk bertahan terjebak di pemakaman Durawa.


            Sadewa mendengarkan cerita itu dengan saksama dan ketika bagian dari momen mengharukan antara Pocong 1 dengan kekasihnya terjadi, Sadewa meneteskan air matanya beberapa kali karena merasa terharu dan bahagia untuk Pocong 1.


            “Sekarang ... karena kau sudah sadar, Pocong 1 menunggumu di luar untuk melepaskan tali pocong miliknya dan berpisah dengan kita.”


            Sadewa mengumpulkan tenaga di tubuhnya yang masih belum terkumpul dengan sempurna. Setelah beberapa kali mengambil napas dan mengembuskannya, Sadewa bangkit dari duduknya dengan dibantu oleh Alena, berjalan keluar pondok dan bertemu dengan Pocong 1 yang sedang berdiri menunggu di depan pondok.


            “Kau terlihat baik-baik saja setelah melepas banyak energi, durawapati.” Pocong 1 menyapa Sadewa sembari sedikit menundukkan kepalanya ke arah Sadewa.


            “Kau juga terlihat baik-baik saja, Pocong 1.”


            Pocong 1 mengangkat kepalanya dan memasang senyuman di bibirnya. Senyuman itu membuat Alena terpana karena senyuman di bibir Pocong 1 tidak lagi terlihat mengerikan. Wajah gelap dan mengerikan dari Pocong 1 yang membuat Alena merasa takut dan harus membiasakan dirinya dengan perasaan takut itu, kini menghilang.

__ADS_1


            “Ya, durawapati. Berkat Alena dan kau, aku terlihat baik-baik saja. Kini penantianku telah berakhir, aku sudah bertemu lagi dengan kekasihku dan sekarang adalah waktu perpisahan bagiku dengan kalian.”


            Sadewa memasang senyuman di wajahnya. “Kekasihmu sudah lebih dulu pergi? Kau bahkan belum mengenalkannya padaku, Pocong 1.”


            “Hehe.” Pocong 1 tertawa kecil mendengar ucapan Sadewa itu. “Dia sudah pergi lebih dulu dan aku bersyukur untuk itu.”


            “Kenapa?”


            “Aku khawatir jika dia bertemu denganmu, durawapati, dia akan berakhir jatuh hati padamu seperti hantu-hantu wanita di pemakaman ini, durawapati.”


            Alena terkekeh mendengar ucapan Pocong 1 sembari menganggukkan kepalanya. Itu benar. Kekhawatiran itu tidak salah! Sebagai pria bahkan hantu pria, Pocong 1 juga merasa khawatir dengan wajah rupawan dari Sadewa yang membuat banyak hantu wanita tergila-gila padanya.  Alena kemudian membayangkan sesuatu dalam benaknya ketika melirik ke arah Sadewa dan wajah rupawan miliknya. Apa yang akan terjadi jika aku membawa pria ini ke kota dan membuatnya berjalan di jalanan kota? Apakah para wanita akan menatap ke arahnya dan tidak melepaskan pandangan darinya? Aku penasaran akan hal itu.


            “Hahaha.” Sadewa tertawa mendengar pujian dari Pocong 1 untuk wajahnya yang rupawan. “Aku akan menganggap itu pujian, Pocong 1.”


            “Itu memang pujian, durawapati.”


            Sadewa kemudian melepaskan lengan Alena yang membantunya berjalan keluar dari pondok dan berjalan mendekat ke arah Pocong 1. Sadewa mengangkat tangannya dan Pocong 1 berusaha untuk menundukkan kepalanya agar Sadewa bisa melepaskan ikatan Pocong yang jadi penyebab arwah bergentayangan setelah kematiannya. Sadewa memegang tali itu. “Kau sudah siap, Pocong 1?”


            Tsk. Sadewa melepas tali pocong milik Pocong 1 dan dalam sekejap kejadian yang sama terulang. Cahaya terang yang menyilaukan muncul dari Pocong 1, membuat Alena dan Sadewa kesulitan untuk melihat.


            “Terima kasih banyak, durawapati, Alena.”


            Ketika Alena membuka matanya, Pocong 1 tidak lagi berwujud pocong yang selama ini dilihatnya. Pocong 1 berubah menjadi pria yang cukup tampan dengan seragam perangnya yang dikenal dengan nama Surya. Pria bernama Surya itu memberikan pelukan kecil kepada Sadewa dan Alena secara bergantian.


            Tes, tes .... Air mata Alena menetes ketika menerima pelukan itu karena pelukan itu terasa begitu hangat.


            “Sekali lagi, terima kasih banyak. Aku pergi dulu.”


            Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Pocong 1 yang telah berubah wujud menjadi Surya sebelum dirinya menghilang bersama dengan cahaya terang yang keluar dari dalam arwahnya.

__ADS_1


            “Hiks ... hiks ....”


            “Hiks ... hiks ....”


            Begitu Pocong 1 menghilang, Alena mendengar banyak tangisan. Alena menoleh ke belakang dan mendapati banyak hantu muncul di belakangnya yang sedang menangis bersama setelah kepergian Pocong 1.


            Selamat jalan, Pocong 1. Ahh, tidak, haruskah aku memanggilmu dengan nama Surya?? Ya ... lebih baik Surya saja. Selamat jalan, Surya.  Untuk waktu singkat yang mempertemukan kita berdua, aku hanya bisa membalasnya dengan ucapan terima kasih. Terima kasih karena kau banyak membantuku dan menjagaku ketika aku terjebak di sini dan dipaksa untuk menerima keadaan yang membingungkan. Sebagai hantu dan arwah gentayangan, harus kuakui kaulah hantu terbaik yang pernah aku temui dan untuk pertemuan itu, aku merasa bersyukur.


            Lebih dari yang kau kira, sebagai hantu, kau disayangi oleh banyak hantu lain, Surya. Untuk kepergianmu, banyak hantu yang meneteskan air matanya. Ini menandakan sebagai hantu ... kau cukup baik, Surya.


            Sekali lagi ... selamat jalan, Surya. Semoga kau bisa tenang di alam baka.


            Alena menundukkan kepalanya karena air mata yang terus berjatuhan dan membuat wajahnya basah.


            “Menangislah jika kau ingin. Kita semua bersedih untuk kepergiannya.” Sadewa tiba-tiba mendekat ke arahnya, berdiri di hadapannya dan menepuk bahu Alena dengan lembut. Alena menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Sadewa sembari membiarkan air matanya mengalir deras di wajahnya.


            “Hei, hei!!”


            Dalam tangisannya, Alena mendengar teriakan itu secara tiba-tiba. Alena menghapus air matanya dan membuka matanya.


            “Hei, hei!!!”


            Kali ini ... Alena merasakan tubuhnya didorong menjauh oleh beberapa hantu: Sundel bolong dan kuntilanak.


            “Apa?” Alena bertanya dengan wajah yang basah oleh air mata dengan tatapan tidak mengerti.


            “Meski kau sedih, jangan mengambil kesempatan untuk berada dalam pelukan durawapati!!!” Beberapa hantu Sundel bolong dan Kuntilanak bicara dengan kalimat yang sama dan membuat Alena tercengang ketika mendengarnya.


            Sial!!! Hantu-hantu ini benar-benar!!! Di saat seperti ini, mereka masih sempat berebut mengenai Sadewa!!

__ADS_1


 


 


__ADS_2