Screamnight

Screamnight
keinginan yang belum terkabul: tuyul 1 dan tuyul 2 part 4


__ADS_3

Alena benar-benar membuat rencana yang matang untuk permainan yang akan dimainkan oleh hantu-hantu yang terjebak di pemakaman Durawa. Beberapa permainan bisa dimainkan oleh individu dan beberapa permainan lainnya adalah permainan yang dimainkan secara berkelompok. Permainan yang dipilih oleh Alena adalah permainan lama yang biasa dimainkan ketika hari kemerdekaan datang seperti lomba balap karung,  lomba memindahkan air dari baskom, lomba memasukkan paku ke botol dan yang paling penting adalah[dsp1]  lomba estafet dan lomba tarik tambang yang akan dimainkan oleh semua hantu. Sebelum permainan dimulai, Alena teringat kembali dengan bagaimana usahanya untuk mengumpulkan semua hantu di tempat ini.


“Bagaimana kalian setuju dengan itu?” Alena bertanya kepada hantu-hantu yang dikumpulkan olehnya di pemakaman Durawa.


“Kau ini manusia yang sedikit menyusahkan!!” Sundel 1 mengeluh. “Kau benar-benar sibuk dengan ini dan itu, dan membuat kami tidak bisa bergentayangan dengan tenang di pemakaman ini.”


“Maafkan aku. Tapi ini yang terakhir kalinya aku menyusahkan kalian.” Alena merasa sedikit bersalah. Tapi hal itu tidak membuat Alena menyerah begitu saja. Alena kembali menggunakan kelemahan dari beberapa hantu yang diketahuinya untuk membuat para hantu membantunya. “Apa kalian tidak ingin melihat Sadewa berkeringat lagi???”


Mendengar kalimat pancingan dari Alena itu, mata para hantu wanita genit langsung membulat besar dan bersinar terang layaknya manusia mata duitan yang sedang melihat uang di depan mata mereka. Bagus, aku menangkap  kelemahan kalian, pikir Alena. Tapi di sisi lain … beberapa hantu pria hanya memandang hantu wanita dengan tatapan nyinyir dan Alena dengan mudah bisa menebak pikiran mereka. Dasar wanita!! Selalu saja mudah dijebak oleh keinginan mereka dan pria dengan wajah tampan.  


Dan berkat bantuan dari para hantu wanita yang ingin melihat Sadewa yang berkeringat karena ikut dalam permainan, hantu-hantu lain yang sempat menolak kini menerima acara kecil yang dibuat Alena. Bahkan pasukan hantu genderuwo yang sebelumnya sempat berselisih dengan Alena dan Sadewa karena masalah hantu Pocong 1 dan bola kaca yang dicurinya, berhasil diselesaikan oleh para hantu wanita genit yang pandai menggoda.


“Bagaimana cara kalian membujuk pasukan dari hantu genderuwo??” Alena bertanya kepada hantu kunti dan hantu sundel setelah mendengar bahwa mereka berhasil membuat genderuwo ikut dalam permainan.


“Ah, itu mudah sekali.” Kunti 3 membanggakan dirinya.


“Ya, itu benar-benar sangat mudah sekali.” Sundel 1 tidak ingin kalah dari Kunti 3 untuk membanggakan dirinya.


Alena yang tidak bisa menahan rasa penasarannya kemudian bertanya lagi. “Bagaimana caranya?? Aku penasaran sekali!!”


Kunti 3 dan Sundel 1 kemudian saling melihat satu sama lain dengan senyuman di bibir mereka. Kunti 3 kemudian mendekat ke arah Alena dan berbisik Alena. “Ini mudah sekali. Kau tahu apa kelemahan dari hantu genderuwo?”


Alena menggelengkan kepalanya tidak tahu. “Apa?”


“Kecantikan.”


Alena mengerutkan keningnya bingung. “Memangnya akan ada wanita cantik yang datang ke permainan itu?”


Kunti 3 menarik wajahnya dan melihat ke arah Sundel 1 dengan tatapan tidak percaya. “Apakah kami berdua tidak cantik??”

__ADS_1


Kukira siapa, ternyata … Alena tersentak sebelum dengan cepat memasang senyuman di bibirnya ketika mendengar ucapan dari Kunti 3. “Kau benar, kalian para hantu wanita memang yang paling cantik di sini.”


“Ide yang bagus, bukan?” Kunti 3 masih membanggakan dirinya sendiri dan Sundel 1 yang berdiri di sampingnya juga ikut melakukan hal yang sama.


“Ya, itu ide yang bagus.” Alena terkekeh dengan senyuman terpaksa.


Masalah berikutnya adalah hantu dari pemakaman Cina. Alena meminta bantuan dari hantu kepala buntung karena belum pernah masuk ke dalam kawasan pemakaman Cina. Hantu kepala buntung yang juga dekat dengan hantu Pocong 1, rupanya memiliki banyak kenalan dari hantu di pemakaman Cina dan berkat itu masalah lain yang dialami Alena, selesai lebih cepat.


“Terima kasih. Kau banyak sekali membantu, hantu kepala buntung.” Alena mengucapkan rasa terima kasihnya kepada hantu kepala buntung.


“Sama-sama. Ini juga bentuk rasa terima kasihku karena kau membuat pemakaman ini tidak lagi terasa membosankan.”


“Bisakah aku meminta bantuan lagi padamu, hantu kepala buntung?” Alena bertanya dengan sedikit enggan.


“Tentu. Apa itu?”


“Maukah kau jadi wasit untuk setiap permainan yang nanti diadakan?”


“Hahahaha … “ Semua hantu tertawa ketika melihat hantu yang ikut dalam permainan itu terjatuh dan berguling-guling karena tidak bisa melompat dengan baik.


Setelah permainan pertama dimenangkan oleh hantu tuyul, permainan kedua adalah lomba memindahkan air dari baskom yang akan dilakukan secara berkelompok sesuai dengan ras para hantu di pemakaman Durawa. Kali ini hantu dari bagian makam Cina ikut dalam perlombaan ini dan lomba ini benar-benar menarik. Alena benar-benar tidak menyangka jika para hantu akan sangat kompetitif padahal permainan ini adalah permainan yang dimainkan oleh manusia.


“Kita harus menang! Dan terlihat keren di depan durawapatiku yang tampan.” Kelompok Kuntilanak berusaha dengan keras untuk menang hanya agar terlihat oleh Sadewa.


“Kita harus menang! Aku tidak bisa kalah dari kelompok Kuntilanak yang genit itu!” Kelompok Sundel Bolong juga tidak mau kalah hanya untuk menarik perhatian dari Sadewa yang sebenarnya usaha itu adalah sia-sia saja.


“Kita harus menang! Demi harga diri kami sebagai pria!” Kelompok hantu genderuwo yang merasa kelompok kuntilanak dan kelompok sundel bolong tidak lagi tertarik pada mereka semenjak durawapati diganti, merasa harga diri mereka hancur karena kehadiran Sadewa. Dan kemenangan ini adalah sedikit cara bagi kelompok  genderuwo untuk memperbaiki harga diri mereka dan harga pasaran mereka yang telah jatuh ke titik paling dasar.


            “Kita harus menang!” Teriakan berikutnya terdengar dari bagian makam Cina yang selalu merasa jika derajat mereka lebih tinggi dari hantu pribumi karena pakaian dan makam mereka yang terlihat jauh lebih wah jika dibandingkan dengan hantu-hantu pribumi.

__ADS_1


“Kita harus menang!” Kelompok hantu pocong juga tidak kalah dari kelompok lainnya.


Dan di saat semua kelompok sibuk dengan harga diri mereka dan berteriak untuk kemenangan mereka, kelompok tuyul telah menyelesaikan permainan dan sekali lagi memenangkan lomba yang ada.


            “Yay!!!” Kelompok tuyul bersorak untuk kemenangan kedua mereka.


            Lomba ketiga adalah lomba memasukkan paku ke botol di mana paku diikatkan ke pinggang dari para hantu. Dan sekali lagi … permainan ini dimenangkan oleh kelompok tuyul di saat kelompok lain kesulitan seperti kelompok sundel bolong dan kelompok kuntil anak yang kesulitan untuk melihat paku dikarenakan baju mereka yang terlalu panjang dan menghalangi pandangan. Lalu, kelompok pocong yang kesulitan untuk menekuk tubuh mereka karena kain kafan yang membungkus tubuh beserta dengan ikatannya. Lalu, kelompok genderuwo yang ukuran tubuhnya terlalu besar dan justru menghancurkan botol kaca di mana harusnya paku masuk ke sana karena jatuh di atasnya dan terakhir hantu dari bagian makam Cina yang tidak ingin ikut karena merasa permainan ini tidak pantas untuk kalangan terhormat seperti mereka.


            Lalu puncak acara yang paling seru adalah lomba estafet dan lomba tarik tambang. Lomba keempat adalah lomba tarik tambang di mana semua hantu dibagi-bagi oleh Alena dan Sadewa karena jika permainan ini dimainkan oleh kelompok ras masing-masing, pemenangnya sudah bisa dipastikan: kelompok genderuwo.


            Booom!


            “Hahahaha!!”


            Tawa kencang terdengar dari seluruh hantu yang ikut dalam perlombaan karena melihat bagaimana satu kelompok terjatuh ketika tertarik oleh kelompok yang lain. Dan suara kencang itu berasal dari suara jatuh hantu genderuwo yang memiliki ukuran tubuh yang besar dibandingkan dengan hantu-hantu yang lain.


            Lomba tarik tambang kemudian dimenangkan oleh kelompok satu dengan anggota: sundel 1, kunti 3, pocong 3, tuyul 1 dan genderuwo yang berukuran paling besar meski tidak sebesar tetua mereka yang kali ini tidak datang karena masih merasa kesal dengan Alena dan Sadewa yang telah mencuri dua bola kaca miliknya.


            Lomba terakhir adalah lomba estafet yang diikuti dengan pembagian kelompok yang sama. Dan kali ini lomba ini adalah lomba terabsurd yang pernah dilihat oleh Alena dan Sadewa hingga keduanya tidak bisa berhenti tertawa.


            Bagaimana tidak??


            Lomba lari estafet ini harusnya dilakukan dengan cara pelari dalam setiap kelompokanya yang berlari kemudian memberikan tongkat estafetnya kepada pelari berikutnya hingga sampai pada pelari terakhir yang harus berlari dengan sekuat tenaga menuju garis finish. Tapi kelakuan absurd para hantu dimulai di sini. Hantu sundel bolong dan kuntilanak tidak mau berlari karena menolak berkeringat, alhasil kedua hantu itu melayang ketika membawa tongkat estafet dan bukannya berlari. Berikutnya, kelompok pocong yang jelas tidak bisa berlari dan hanya bisa melompat. Alhasil … ketika tiba giliran dari pocong untuk membawa tongkat estafet, pocong akan melompat-lompat dan bukannya berlari. Lalu berikutnya giliran kelompok genderuwo membawa tongkat estafet. Ketika kelompok  genderuwo berlari membawa tongkat estafet, tanah di pemakaman Durawa bergetar layaknya gempa bumi sedang terjadi dan membuat kehebohan bagi banyak hantu lain. Lalu yang terakhir adalah kelompok hantu tuyul yang bertugas untuk membawa tongkat estafet terakhir menuju ke garis finish. Kelompok hantu tuyul menggunakan jurus bergerak cepat dengan beberapa kali menghilang dan muncul secara tiba-tiba di garis finish.


            Alena dan Sadewa yang melihat lomba untuk manusia yang dimainkan oleh hantu hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari sesekali tertawa.


            “Aku benar-benar tidak menyangka lomba-lomba ini bisa dilakukan dengan cara seperti ini,” ujar Sadewa.


            “Aku juga.” Alena setuju sembari menahan tawanya. “Tapi … menyenangkan juga melihat permainan para hantu-hantu ini. Ini benar-benar membuat perutku sakit karena tidak bisa berhenti tertawa.”

__ADS_1


 


 [dsp1]Lomba untuk para hantu


__ADS_2