Screamnight

Screamnight
keinginan yang belum terkabul: pocong 2 part 2


__ADS_3

            Pocong 2 adalah tipe hantu yang berbeda dengan pocong 1: kurang ramah, menjaga jarak dari hantu lain dan tidak banyak bicara kepada hantu-hantu lain. Tapi ada satu hal yang membuat Pocong 2 terlihat mirip dengan Pocong 1, Pocong 2 suka dengan kesendirian atau mungkin itulah sifat dari hantu pocong: mereka sama-sama suka dengan kesendirian. Yang membedakan adalah Pocong 1 suka dengan kesendirian tapi ketika bersama dengan hantu-hantu lain, Pocong 1 akan banyak bicara dengan mereka baik itu sekedar menyapa atau hanya  bertanya sebagai bentuk kesopanan. Pocong 1 juga dikenal oleh banyak hantu, bahkan hantu-hantu dari bagian pemakaman Cina yang jarang berkumpul dengan hantu-hantu lain karena merasa mereka adalah hantu terhormat-karena pakaian mahal yang mereka kenakan, juga mengenal baik Pocong 1. Dan lagi ... Pocong 1 pernah berteman baik dengan tetua genderuwo, itu sudah cukup membuktikan Pocong 1 adalah hantu yang mudah berteman dengan hantu lain meski suka menyendiri.


            Pocong 2 adalah tipe yang benar-benar suka menyendiri dan tidak ingin diganggu oleh hantu lain. Alena mendengar dari perkumpulan gosip hantu yang terdiri dari hantu sundel bolong, kuntilanak dan beberapa hantu wanita lain seperti suster ngesot dan wewe gombel, bahwa selama ini jika bukan karena Pocong 1, maka Pocong 2 tidak akan pernah mau mendekat atau berkumpul dengan hantu-hantu lain.


            “Apa kau sudah menemukan apa keinginan dari Pocong 2?” Sadewa yang baru saja datang ke pemakaman Durawa langsung mengajukan pertanyaan itu kepada Alena.


            Alih-alih menjawab, Alena hanya bisa ngos-ngosan karena napasnya yang terputus setelah terus berlarian.


            “Kenapa dengan nafasmu itu?” Sadewa mengerutkan keningnya melihat napas Alena yang terputus-putus. “Apa kau baru saja berolahraga dengan berlari mengelilingi pemakaman ini?”


            Hosh! Hosh!. Alena mengembuskan napasnya panjang sembari melemparkan tatapan tajam ke arah Sadewa.  Alena kemudian mengangkat tangannya ke atas dan menunjuk ke atas pohon. Sadewa mengikuti arah jari Alena dan melihat alasan napas Alena yang terputus-putus. “Olahraga apanya?? Aku sedang mengejarnya!! Boro-boro aku tahu apa keinginan dari Pocong 2, aku bahkan kesulitan untuk bertanya karena Pocong 2 selalu lari dariku dan bahkan sengaja melompat dari satu pohon ke pohon lain untuk menghindariku!! Ahh ... ini menyebalkan!!! Kukira kami sudah memiliki hubungan yang dekat sejak pesta untuk Kunti 1 tapi kenapa sekarang dia seperti ini padaku?? Sengaja menghindariku.”


            Sadewa sudah mengetahui hal ini akan terjadi karena Sadewa sudah kenal baik dengan sikap dari Pocong 2 yang kurang ramah dan jarang bicara. “Kau mungkin tidak tahu ... tapi memang seperti inilah sikap Pocong 2. Jika bukan karena Pocong 1 yang selalu memaksanya, mungkin Pocong 2 tidak akan pernah berhubungan dengan hantu-hantu lain.”


            “Sial!” Alena melihat dengan tatapan tajam ke arah Pocong 2 yang sedang berdiri di atas pohon dengan wajah datarnya. “Aku bahkan pernah menyangka dan tidak pernah berpikir jika hantu pun punya sifat introvert!!! Andai Pocong 1 ada di sini untuk membantuku!”


            Buk. Sadewa menepuk bahu Alena dengan sedikit keras. “Ini tugasmu, jangan selalu mengharapkan bantuan orang lain.”


            Hup. Wussshhhh!  Di saat Alena sedang bicara dengan Sadewa, Pocong 2 melompat tinggi lagi dan melompat ke pohon lain. Alena yang terlambat menyadari hal itu, kemudian langsung mengerahkan tenaganya lagi untuk mengejar Pocong 2 sembari terus mengeluh dan mengumpat kesal. “Sial!!!!!”


            Sadewa tertawa kecil melihat bagaimana Alena berlari mengejar Pocong 2 dengan kakinya sementara Pocong 2 hanya perlu satu lompatan besar dari satu pohon ke pohon yang lain untuk menghindari Alena. Hahaha. Ini pemandangan yang jarang sekali terlihat!! Cukup lucu mengingat biasanya para hantu yang akan mengejar manusia untuk menakutinya, tapi kali ini keadaan benar-benar terbalik.


            “Hancur sudah harga diriku sebagai hantu melihat kejadian ini!”


            Sadewa menoleh ke arah sampingnya karena tiba-tiba mendengar suara dari  hantu lain di dekatnya. Dan tanpa Sadewa sadari beberapa hantu wanita sudah berdiri di kanan dan kirinya: di sisi kanan ada Kunti 3 dan Kunti 4, dan di sisi kiri ada Sundel 1, Sundel 2, Sundel 3 dan beberapa hantu Sundel lain. Dan yang bicara tadi adalah Kunti 3. Dalam waktu singkat ... Sadewa merasa risih karena para hantu wanita yang kini berdiri di dekatnya seolah sedang berusaha untuk menarik perhatiannya.


            “Yahhh ... aku setuju.” Sundel 1 menganggukkan kepalanya setuju dengan Kunti 3. “Semenjak Alena tinggal di sini, aku merasa pamor kita sebagai hantu telah jatuh dengan sangat jatuh bak saham yang mengalami krisis. Seolah tidak ada harganya lagi.”


            “Bagaimana manusia satu ini tidak takut sama sekali kepada kita?” Sundel 2 bertanya. “Beberapa manusia normal yang terjebak di tempat ini selalu berakhir gila ketika tinggal untuk waktu yang lama. Tapi dia ... bagaimana manusia satu ini tetap baik-baik saja?”


            “Apa kau melindunginya, durawapati?”  Sundel 1 bertanya kepada Sadewa.

__ADS_1


            “Tentu saja aku harus melindunginya. Alena terjebak di sini juga karena kesalahanku.” Sadewa menjawab dengan nada datarnya sembari berusaha untuk menjauh dari sekumpulan hantu wanita di dekatnya. Tapi sekumpulan hantu wanita itu tidak mau melepaskan Sadewa dan terus berusaha untuk mendekat dengan Sadewa.


            “Kalian dengar?” Kunti 3 bicara sembari melihat ke arah sekumpulan hantu lain secara bergantian. “Durawapati kita melindunginya!!”


            “Yah itu memang tugas dari durawapati kita: menjaga dan melindungi manusia yang terjebak di pemakaman ini.” Sundel 2 setuju dengan ucapan dari Kunti 3. “Kita hanya perlu bersabar dengannya selama beberapa waktu ini dan setelah manusia bernama Alena itu pergi, kita bisa menghentikan gencatan senjata ini untuk memperebutkan siapa di antara kita yang akan jadi pemilik hati durawapati kita yang tampan ini.”


            Mendengar ucapan dari Sundel 2, sekelompok hantu wanita yang berdiri di dekat Sadewa, memandang Sadewa dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan oleh Sadewa. Entah itu tatapan menggoda, tatapan penuh nafsu atau tatapan sok manis, Sadewa tidak tahu. Yang diinginkan Sadewa sekarang adalah segera menjauh dari sekelompok hantu wanita di dekatnya ini.


            “Alena!!!!” Sadewa berteriak memanggil Alena.


            “Apa kau tidak lihat aku sedang sibuk, huh???” Alena membalas teriakan Sadewa dengan teriakan pertanyaan lain.


            “Kemari sekarang juga!!!” Sadewa berteriak lagi dan kali ini memberi penekanan bahwa kalimat yang keluar dari mulutnya adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh Alena.


            “Aku sibuk, Sadewa!!!” Alena berteriak sembari melihat ke arah Sadewa. “Kau punya banyak hantu wanita di dekatmu, kau bisa meminta tolong pada salah satu dari mereka!!! Mereka pasti siap membantumu, Sadewa!!!”


            Ucapan Alena itu menjadi bumerang untuk Sadewa karena sekelompok hantu wanita itu justru menatap Sadewa lebih tajam dari sebelumnya.


            “Yah ... setidaknya di antara banyak manusia lain, ada satu manusia yang memberi kita peluang untuk bersama dengan Durawapati.” Sundel 2 juga tersenyum puas.


            “Tidak heran jika dia tidak takut dengan kita!” Kunti 3 juga tersenyum puas.


            “Alena!!!” Sadewa berteriak lagi karena merasakan tatapan menggoda dari sekelompok hantu wanita di dekatnya. “Kemari sekarang juga!!!”


            “Tidak mau!!!” Alena membalas dengan santainya karena tidak menyadari perasaan Sadewa saat ini yang sebenarnya sedang meminta tolong pada Alena. “Kalau aku mengalihkan pandanganku, Pocong 2 akan melarikan diri dariku lagi. Aku akan kesulitan menemukannya lagi! Apa kau tidak tahu betapa besar usahaku untuk menemukannya!!! Leherku sampai sakit karena terus menatap ke atas!!”     


            Sial!!! Sadewa mengumpat di dalam benaknya. Benar ucapan para hantu ini, Alena memang bukan manusia normal seperti kebanyakan. Dia bahkan lebih mementingkan hantu daripada aku. Sadewa yang tidak punya pilihan lain, akhirnya mengayunkan tongkat bisbol di genggamannya dan kemudian memukulkan ujung tongkat bisbol itu ke permukaan tanah di hadapan Sadewa.


            Buk!! Kreeet!! Kreeet! Rantai pengikat jiwa kemudian keluar dari dalam tanah dan langsung menangkap sekelompok hantu yang sedang menggoda Sadewa.


            “Aduhhh! Durawapati menangkapku!!!” Sundel 1 berteriak dengan senyum puas di bibirnya. “Jangan begini, Durawapati!! Kau tidak perlu menangkapku dengan rantai ini, hatiku pasti akan kuberikan padamu, Durawapati!!”

__ADS_1


            “Kalau begini caranya, aku semakin suka dengan Durawapati!!!” Sundel 2 juga tersenyum ketika Sadewa menangkapnya dengan rantai pengikat jiwa.


            “Durawapati, aku cinta kau!!” Kunti 3 tidak mau kalah. “Hatiku milikmu!!”


            “Durawapati, aku milikmu!!” Kunti 4 tidak mau kalah.


            “Durawapati, milikku!!!” Sundel 1 juga tidak mau kalah.


            “Durawapati milikku seorang!!!” Sundel 2 juga tidak mau kalah dari hantu wanita lain.


            Sadewa menggelengkan kepalanya sembari berjalan pergi menuju ke arah Alena, ketika mendengar perdebatan para hantu wanita yang sedang memperebutkan dirinya.


            Alena yang melihat tindakan Sadewa hanya bisa melongo sejenak. “Apa kau harus melakukan hal itu pada mereka-penggemar setiamu?? Lihat, mereka bahkan rela memberikan hati mereka untukmu, Sadewa!!”


            “Hati mereka sudah tidak berdetak lagi, Alena!! Jangan memperburuk keadaan dengan menjahiliku seperti itu!!!” Sadewa menatap tajam ke arah Alena.


            “Tapi apa perlu sampai memanggil rantai pengikat jiwa untuk mereka??” Alena bertanya lagi.


            “Aku hanya menggunakan sedikit tenagaku, jadi rantai itu tidak sepenuhnya bekerja dan hanya menghalangi mereka bergerak saja!!”


            Hup. Wussh! Ketika pandangan Alena teralihkan oleh Sadewa dan hantu-hantu wanita penggemarnya, Pocong 2 menggunakan kesempatan itu untuk menjauh dari Alena dan melompat tinggi ke pohon lain.


            “Sial!! Dia melompat lagi!!!” Alena mengumpat kesal menyadari Pocong 2 melompat lagi. Pikiran Alena kemudian terbersit sebuah cara untuk menghentikan lompatan Pocong 2 yang menyusahkannya. “Ini salahmu, Sadewa!! Cepat gunakan rantai pengikat jiwamu itu untuk menangkap Pocong 2!!”


            “Tidak mau!!!”


            “Kenapa??” Alena bertanya dengan kesal.


            “Kau tadi tidak membantuku! Kenapa sekarang aku harus membantumu??” Sadewa membalas Alena dengan cukup kejam.


            “Sial kau, Sadewa!! Sebagai pria, kau perhitungan sekali!!” Alena mengumpat kesal sembari mengumpulkan tenaganya untuk mengejar Pocong 2 lagi.

__ADS_1


__ADS_2