
“Siapa yang kamu
bawa kemari, Alena?? Kenapa durawapati yang harusnya tidak bisa jauh dari
pemakaman durawa bisa berada di kota besar seperti ini??” Begitu melihat Sadewa
yang datang bersama dengan Alena,. Manda langsung menghujani Alena dan Sadewa
dengan beberapa pertanyaan.
“Kenapa durawapati ada di sini?”
Gala juga sama terkejutnya dengan Manda.
“Percayalah, tadinya aku juga sama
terkejutnya dengan kalian. Tapi… “ Alena melirik ke arah Sadewa yang berdiri di
sampingnya. “Seperti yang kalian lihat, Sadewa memang ada di sini.”
Satu dari beberapa hal aneh yang
aku rasakan adalah pria ini. Sadewa-durawapati yang merupakan penjaga makam
durawa, harusnya adalah pria asing yang tidak begitu aku kenal. Perkenalan kami
harusnya cukup singkat mengingat aku dan timku memintanya untuk memandu kami
saat masuk ke dalam pemakaman durawa. Aku tidak akan merasa heran jika Manda
dan Gala mungkin cukup akrab dengan Sadewa karena dari cerita Manda, Sadewa
sering datang menjengukku di rumah sakit dan berusaha dengan keras untuk
menyelamatkanku dengan caranya sendiri. Tapi yang membuatku heran, lidahku ini
terasa sudah tidak asing memanggil nama durawapati ini seolah kami benar-benar
sudah merasa sebagai teman dekat.
“Aku ada di sini karena aku sudah pensiun sebagai
durawapati.”
“APA??PENSIUN???” Alena bersama
dengan Gala dan Manda berteriak bersama-sama mendengar ucapan singkat dari Sadewa.
“Ya, begitulah.”
“Kalau kamu pensiun, siapa yang
menjaga pemakaman durawa??” tanya Manda penasaran.
“Ah posisi itu sudah kembali kepada
Kakakku. Setengah tahun yang lalu, dia kembali ke rumah dengan membawa istrinya
dan meminta tanggung jawab yang pernah ditinggalkannya.”
“Kalau begitu sekarang, kamu bukan
durawapati tampan lagi??” tanya Manda lagi.
Sadewa tersenyum kecil dengan wajah
polosnya. “Sayangnya, ya. Aku bukan durawapati tampan lagi.”
Mendengar ucapan dari Manda yang
menyebut Sadewa dengan sebutan durawapati tampan, ingatan Alena memutar kilas
balik ingatannya yang hilang meski itu hanya sebuah pecahan kecil dari semua
ingatannya yang hilang.
“Aku
harus melakukan hal itu?”
“Ya sepertinya begitu. Bantu aku kali ini,
Sadewa. Aku mohon padamu.”
“Dasar hantu wanita!! Kenapa mereka semua bisa
jatuh hati padaku seperti ini dan selalu menyusahkanku??”
“Salahkan
wajahmu yang tampan itu, Sadewa. Kau terlalu tampan hingga pesonamu tidak hanya
menarik manusia tapi juga para hantu.”
Ingatan yang datang secara tiba-tiba itu membuat
kepala Alena merasa sedikit berdenyut.
__ADS_1
“Alena! Kamu kenapa??” Gala yang
berdiri melihat Alena, menyadari lebih dulu keanehan pada Alena.
“Hanya sedikit sakit kepala.”
“Kamu yakin, Alena???” Manda
langsung mengubah raut wajahnya. “Apa kita perlu ke rumah sakit sekarang
juga??”
“Ini cuma kelelahan saja, Manda!
Berhenti khawatir berlebihan begitu. Aku baik-baik saja.” Alena berbohong pada
Manda.
“Tapi kamu sering sekali sakit
kepala akhir-akhir ini! Harusnya kamu memeriksakannya ke dokter.” Manda masih
berusaha untuk membuat Alena pergi ke rumah sakit.
“Nanti setelah tugas kita di kota
ini selesai, aku akan pergi ke rumah sakit.”
“Janji??” Manda masih ingin Alena pergi ke rumah sakit.
“Ya, janji.”
Setelah Alena membuat janji, Manda
yang sudah merasa lega kemudian mempersilakan Sadewa masuk ke vila yang disewa
Alena bersama dengan timnya. Dan hal ini membuat Gala sedikit cemburu,
mengingat Manda dan Gala akhirnya telah resmi berkencan. Sayangnya … sifat
kecil Manda yang sedikit menyebalkan buat Gala masih tidak bisa dihilangkan.
“Kamu cemberut?? Kamu cemburu dengan
Sadewa?” Alena berbisik pada Gala setelah menyikut perutnya.
“Apa kelihatan jelas?”
“Sedikit.”
“Kenapa kamu bisa melihatnya, tapi
“Soal itu, kamu tahu sendiri Manda
itu sedikit tidak perhatian masalah seperti ini. Manda suka dengan kamu, tapi
ketika melihat pria tampan, kebiasaan kecilnya itu masih tidak bisa diubah.
Mohon maklumi sedikit.”
“Aku sedang berusaha.”
Alena berusaha membuat Gala
bersabar, sementara dirinya melihat ke arah Sadewa dengan tatapan menyelidik. Ingatan
tadi itu, kapan terjadinya? Sejak kapan aku bisa seakrab itu dengan Sadewa? Dan
lagi kenapa aku menyebut hantu menyukai Sadewa? Jika ingatan itu memang pernah
terjadi, kenapa aku bisa lupa??
*
“Kenapa tidak ikut dengan kami?”
Manda dengan tiba-tiba mengajak Sadewa untuk melakukan perjalanan malam yang
akan digunakan untuk rekaman akun screamnight. “Waktu itu rekaman di pemakaman
durawa, banyak penggemar dan pengikut kami yang menyukai wajahmu, Sadewa.”
Manda bicara dengan entengnya
sembari menatap Alena dan Gala dengan senyum polosnya.
“Kamu ini! Kenapa mengajak orang
dengan mudahnya seperti itu??” Gala sedikit menasehati kebiasaan Manda yang
‘sedikit’ kurang peka. “Jika kamu ingin mengajak Sadewa sejak awal, harusnya
sejak tadi kamu bilang dengan Sadewa. Agar Sadewa bisa bersiap-siap.”
Manda menatap ke arah Gala sebelum
akhirnya menatap Sadewa dengan tatapan polosnya. “Kenapa Sadewa?? Apa karena
__ADS_1
sekarang bukan durawapati lagi, kamu tidak ingin datang ke tempat-tempat angker
seperti dulu??”
Sadewa tersenyum kecil seolah
pertanyaan Manda adalah tantangan secara tidak langsung pada Sadewa. “Ehm,
kenapa tidak??? Hanya karena aku bukan durawapati lagi, bukan berarti aku
kehilangan semua yang aku pelajari sebagai durawapati. Aku akan ikut. Sebuah
kehormatan untukku, aku terkenal seperti screamnight mengundangku untuk jelajah
malam.”
Manda tersenyum ke arah Gala dengan
raut kemenangan di wajahnya. “Lihat!! Sadewa tidak keberatan!! Kamu saja yang
terlalu khawatir dengan banyak hal, Gala!!”
Setelah sedikit perdebatan antara
Gala dan Manda, akhirnya screamnight secara resmi mengundang mantan durawapati
dari pemakaman durawa sebagai bintang tamu kali ini dan ikut melakukan jelajah
malam bersama dengan screamnight. Lokasi tujuan dari screamnight kali ini
adalah hutan di ujung pulau J yang terkenal dengan keangkerannya dan dirumorkan
sebagai tempat tinggal bagi bangsa gaib dalam jumlah yang cukup besar. Alena
bersama dengan dua rekannya dan Sadewa, memarkir mobilnya di pinggir jalanan
dan masuk ke dalam hutan dengan berjalan kaki.
Seperti biasanya, Alena akan membuka
pembukaan screamnight dengan salam pembukanya dan memberikan sedikit penjelasan
dari lokasi kali ini kepada penonton nantinya. Dan setelah itu Alena akan
berbincang kepada Manda dan juga mengajukan beberapa pertanyaan kepada Sadewa
sebagai bintang tamu kali ini.
Di tengah jelajah malam, Alena yang
memimpin jalan tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika telinganya menangkap
suara lain di antara mereka.
“Wahhh … ada manusia tampan datang
kemari. Apa kalian melihatnya??”
“Aku juga melihatnya. Dia
benar-benar sangat tampan bak pangeran berkuda putih.”
“Kuno sekali gambaranmu itu!! Dia
mirip dengan oppa-oppa Korea.”
Alena menghentikan langkah kakinya
karena di saat yang sama, sesuatu muncul di dalam benaknya.
“Ya.
Penggemarmu di dunia hantu pasti akan sedih dan patah hati masal jika tahu kau
sudah menikah dan punya anak.”
“Patah hatiku,
durawapati! Rasanya dunia tidak akan pernah mengizinkan kita bersama,
durawapati.”
“Lihatlah, Sadewa!! Kau telah mematahkan hati
Kunti 2. Jika tidak bisa bersama, harusnya jangan
beri mereka harapan!!”
Alena memijat keningnya sembari menatap Sadewa. Lagi-lagi
begini! Ingatan apa ini?? Jika ingatan ini adalah milikku? Kenapa aku tidak
bisa mengingatnya??
Di tengah Alena yang diam membeku
dengan Manda dan Gala yang bingung melihat reaksi Alena, Sadewa tiba-tiba
__ADS_1
berteriak memecah keheningan malam. “Lari sekarang juga!!!”