
“Bukankah hidup ini tidak adil, Bu? Ada orang yang lahir dengan kecantikan luar biasa, di sisi lain ada orang yang lahir dengan wajah yang buruk rupa. Ada orang yang lahir dengan kehidupan serba nyaman, di sisi lain ada orang yang sepanjang hidupnya harus hidup dengan seluruh kerja kerasnya. Ada orang yang lahir dengan bakat istimewa, di sisi lain ada orang yang lahir tanpa membawa bakat apapun. Jika benar begitu ... bukankah hidup ini tidak adil?” Alena mengajukan pertanyaan kepada Ibunya dan membuat Ibunya merasa kesal dengan pertanyaan itu.
Buk. Alena merasakan pukulan kencang di kepalanya. “Auwwwww!!! Kenapa Ibu memukul kepalaku yang berharga ini? Bagaimana jika nantinya aku tumbuh jadi orang yang bodoh karena Ibu memukul kepalaku??”
“Apa yang terjadi padamu hingga kau berpikir seperti itu, Alena??”
“Apa aku salah berpikir seperti itu, Bu?” Alena membalas pertanyaan ibunya dengan pertanyaan yang lain.
“Ya, itu salah. Apa yang kau pikirkan itu adalah kesalahan besar!” Ibu Alena menjawab dengan tegas.
“Jadi ... Ibu sama sekali tidak pernah berpikir hidup Ibu tidak adil??” Alena memastikan.
“Ya, Ibu tidak pernah memikirkan hal itu.” Ibu Alena menganggukkan kepalanya tanpa rasa ragu sedikit pun.
“Kenapa???”
“Pikiran yang muncul di dalam benakmu itu, pikiran yang mengatakan bahwa kehidupanmu tidak adil itu, karena kau membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain. Jika kau tidak pernah membandingkan hidup dengan hidup orang lain, maka kau tidak akan pernah merasa hidupmu tidak adil. Tuhan itu adil, Alena. Mata dan pikiran manusia saja yang tidak sanggup melihatnya. Tapi jika kau mensyukuri hidupmu, mungkin kau akan melihat sedikit bagaimana Tuhan itu selalu adil pada semua manusia.”
Aku ingat, aku pernah menanyakan hal itu pada Ibuku. Aku ingat pertanyaan itu aku ajukan ketika aku masih sekolah di mana aku selalu merasa iri dan cemburu dengan teman-temanku dan keluarga yang mereka miliki. Mereka punya ayah yang akan menjemput dan mengantar mereka ke sekolah, sementara aku tidak. Mereka punya ibu yang selalu menyiapkan bekal makan siang, sementara aku tidak karena ibuku sibuk bekerja untuk menghidupi kami berdua.
Melihat perbedaan itu, aku merasa hidupku benar-benar tidak adil. Tapi saat mendengar ucapan ibuku saat itu, sejak saat itu aku berhenti membandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Akan tetapi ... sepertinya ibuku lupa dengan ucapannya sendiri ketika itu. Karena ibuku mulai membandingkan hidupku dengan hidup anak tetanggaku di saat aku dewasa.
*
“Apa yang keinginanmu yang belum terkabul ketika kau hidup, Kunti 1?” Alena bertanya dengan lugas kepada Kunti 1 ketika Kunti 1 muncul dengan tiba-tiba di hadapannya.
“Kau bertanya padaku, manusia??” Kunti 1 menunjuk dirinya sendiri sembari mengerutkan alisnya pertanda tidak percaya dengan pertanyaan yang Alena ajukan pada dirinya.
Alena menganggukkan kepalanya. “Ya.”
“Kenapa? Kenapa menanyakan hal itu padaku??” Kunti 1 masih merasa heran dengan pertanyaan Alena itu.
__ADS_1
“Penasaran. Bukankah kau punya alasan kuat kenapa masih berada di sini dan terjebak di pemakaman Durawa ini?” Alena bertanya.
Kunti 1 memasang senyuman di bibirnya dan membuat Alena bergidik bersamaan dengan semua bulu kuduk Alena seketika berdiri ketika melihat senyuman itu. Meski sudah hidup bersama mereka selama sebulan, aku masih tidak bisa terbiasa dengan senyuman itu. Bagaimanapun aku melihatnya, senyuman itu adalah senyuman yang menakutkan dan sama sekali bukan senyuman yang mampu membuat orang yang melihatnya terpesona.
“Mungkin aku merasa hidupku tidak adil.” Kunti 1 menjawab pertanyaan Alena.
“Tidak adil? Tidak adil, bagaimana maksudnya?” Alena bertanya dengan mengulangi pertanyaannya.
Kunti 1 berusaha untuk mengingat bagaimana kehidupannya sebagai manusia sebelum akhirnya menjadi kuntilanak dan bergentayangan di pemakaman Durawa. Wajah Kunti 1 kemudian berubah menjadi menakutkan dan membuat Alena merasa semakin ketakutan saja. Dan tiba-tiba ... Kunti 1 mengamuk dengan kedua matanya yang berubah bak api yang menyala. Alena mengambil beberapa langkah mundur karena dirinya merasakan aura menakutkan dari Kunti 1.
“Kenapa kau membuatku mengingat hidup lamaku yang penuh dengan penyesalan itu, manusia????” Kunti 1 menaikkan nada bicaranya pada Alena dan memandang Alena dengan tatapan tajam seolah ingin membunuh Alena saat itu juga.
Wushhhh .... Kunti 1 mengayunkan tangannya ke arah Alena dan dalam sekejap tubuh Alena terhempas ke belakang karena ayunan itu.
Sial! Kenapa tiba-tiba begini? Alena yang terkejut dengan apa yang terjadi, tidak sempat bereaksi untuk melindungi dan menyelamatkan dirinya sendiri. Dan buk .... Tubuh Alena menabrak sesuatu setelah terhempas beberapa meter ke belakang.
“Apa yang terjadi, Alena?”
“Sadewa! Akhirnya kau kembali!” Alena melihat Sadewa dengan wajah bahagia.
Sadewa melepaskan tangannya di tubuh Alena dan membantu Alena bangkit. “Apa yang terjadi? Kenapa Kunti 1 terlihat marah seperti itu?”
Alena berbisik di telinga Sadewa dan mengatakan pertanyaan yang tadi diajukannya kepada Kunti 1. Seketika ... Sadewa mengambil tongkat bisbol yang dibawanya dan terjatuh di sampingnya ketika tadi berusaha menangkap tubuh Alena yang terhempas. Sadewa berlari ke arah Kunti 1 dan menekan bagian belakang baju putih Kunti 1 dengan tongkat bisbol miliknya.
“Berhenti, Kunti 1! Hentikan amarahmu itu!!”
Kunti 1 yang biasanya selalu berusaha untuk terlihat manis di depan Sadewa, kini menatap Sadewa dengan tatapan nyalang yang menakutkan dan penuh dengan amarah. Alena yang berada beberapa meter di belakang Sadewa, terkejut dengan tatapan Kunti 1 karena ini pertama kalinya Kunti 1 melihat Sadewa dengan tatapan ingin membunuh.
Ada apa dengan Kunti 1? Kenapa dia menatap Sadewa dengan tatapan seperti itu? Alena bertanya di dalam benaknya sendiri.
“Hidupku ... kehidupanku penuh dengan penyesalan!! Aku ingin membunuh mereka yang membuatku mati dengan penuh penyesalan!!! Aku ingin membunuh mereka!! Aku ingin menuntut balas pada mereka!!! Aku ingin menuntut balas pada mereka karena merekalah, hidupku berakhir dengan cara yang tragis!!!” Kunti 1 tidak lagi menaikkan nada bicaranya dan kali ini berteriak kencang. Teriakan itu bahkan mampu menggetarkan tanah di pemakaman Durawa.
__ADS_1
Wushhh .... Kunti 1 mengayunkan tangannya lagi dan kali ini mengarah pada Sadewa. Tadinya ... Alena mengira Sadewa akan terhempas seperti dirinya. Tapi dugaan Alena itu salah, karena Sadewa tetap berdiri di tempatnya semula seolah angin kencang itu tidak menyentuh dirinya. Sebaliknya ... Alena yang berada beberapa meter di belakang Sadewa kembali terhempas lagi ke belakang sejauh beberapa meter.
Buk. Tubuh Alena jatuh dan menabrak papan nisan di pemakaman. “Akhhhh!!!”
“Apa yang terjadi??” Pertanyaan itu terdengar bersamaan dengan munculnya hantu-hantu lain di dekat Alena.
“Apa yang terjadi, Alena?” Kunti 2 yang tiba langsung membantu Alena bangkit dari jatuhnya.
“Wah ... wah ... “ Pocong 3 tersenyum ketika tiba di dekat Alena. “Sepertinya Kunti 1 mengamuk lagi!! Dan setelah ini ... pasti durawapati kita akan memberikan pertunjukan terbaik yang sudah lama tidak kita lihat.”
“Pertunjukan??” Alena melirik ke arah Pocong 3 dengan wajah heran sembari menahan rasa sakit di tubuhnya. “Pertunjukan apa??”
“Lihat saja setelah ini, manusia!”
Alena menuruti ucapan Pocong 3. Alena melihat ke arah Sadewa yang beberapa kali berusaha untuk menenangkan Kunti 1. Tapi usaha Sadewa itu gagal dan beberapa kali pula, Kunti 1 mengayunkan tangannya dan membuat hantu-hantu bersama dengan Alena terhempas lagi dan lagi. Beruntung, kali ini Alena bersama dengan Kunti 2 dan Pocong 3 yang membantunya untuk tidak lagi jatuh dan menabrak papan nisan.
“Maafkan aku, tapi aku terpaksa melakukan ini, Kunti 1! Aku harus menghentikan amarahmu, Kunti 1!”
Setelah berteriak kencang ke arah Kunti 1, Sadewa kemudian memukul-mukulkan tongkat bisbolnya ke permukaan tanah sebanyak tiga kali dan tidak lama kemudian, dari dalam tanah pemakaman muncul beberapa rantai berukuran besar yang langsung mengikat tangan dan kaki Kunti 1.
Alena menganga melihat kejadian itu. “Apa itu? Dari mana datangnya rantai-rantai itu??”
“Inilah alasan kami tidak pernah berani melawan durawapati, Alena.” Kunti 2 bicara menjawab pertanyaan Alena. “Durawapati dan keturunannya mampu melakukan banyak hal kepada kami.”
“Bukankah ini pertunjukan yang menarik??” Pocong 3 tersenyum melihat ke arah Alena dan sekali lagi ... Alena bergidik, karena takut dengan senyuman Pocong 3 dan di saat yang sama merasa bersalah kepada Kunti 1 karena Kunti 1 harus mengalami hal itu karena pertanyaan dari Alena.
__ADS_1