Screamnight

Screamnight
keinginan yang belum terkabul: tuyul 1 dan tuyul 2 part 2


__ADS_3

            Malam harinya.


            Sekitar pukul 10 malam, Sadewa tiba di pemakaman Durawa dan bertemu dengan Alena yang menunggunya di dekat gerbang pemakaman Durawa. Dan begitu melihat Alena, Sadewa langsung memasang wajah masamnya.


            “Kenapa kau berwajah masam seperti itu? Apa ada yang membuatmu kesal?” Alena mencoba bertanya.


            Tadinya ... Sadewa tidak ingin menceritakan alasannya berwajah masam kepada Alena. Tapi  karena Alena terus bertanya dan pertanyaan itu membuat telinga Sadewa sakit, akhirnya Sadewa memutuskan untuk mengatakan alasan dari wajah masamnya kepada Alena. Akan tetapi ... Sadewa langsung menyesali keputusannya itu ketika melihat reaksi dari Alena setelah mendengar alasan itu.


            “Bwahahahahaha ....” Alena tertawa dengan terbahak-bahak dan sangat kencang hingga tawa yang renyah itu memecah keheningan malam.


            “Jangan tertawa!” Sadewa langsung bicara dengan tegas melihat Alena tertawa karena penjelasan darinya.


            “Ehm ...” Alena berusaha menahan tawanya. “Men-mendengar ceritamu, aku merasa bahwa pengorbananmu yang dengan sangat terpaksa itu menjadi sia-sia. Pocong 2 tahu dengan baik cara membuat orang lain tersiksa sementara dirinya merasa senang melihat orang itu tersiksa. Hahahaha ....”


            “Jangan membuatku semakin kesal saja, Alena!! Kau!! Kau banyak berhutang padaku karena tugas ini!! Ingatlah untuk membayarnya nanti!!” Sadewa merengut kesal sembari menuntut balasan.


            “Hahahaha ... apa yang kau inginkan sebagai balasannya, Sadewa? Jika masalah uang, aku bisa membayarnya. Jika kau ingin sesuatu, aku bisa membelikannya. Masalah uang ... aku punya cukup banyak uang dari pekerjaanku sebagai youtuber.” Alena masih berusaha untuk menahan tawanya meski dengan sedikit susah payah.


            “Aku akan meminta bayaran itu ketika kau kembali dan mengingatnya.”


            Alena mengerutkan keningnya bingung. “Tentu aku akan mengingatnya, Sadewa. Kenapa aku harus melupakannya? Kau adalah satu dari beberapa pahlawan dalam hidupku, jadi aku tidak akan melupakanmu, terutama semua usahamu yang berhubungan dengan sekelompok hantu wanita yang genit itu. Hehe.”


            Alena masih berusaha untuk menahan tawanya ketika Sadewa bergidik membayangkan ingatannya mengenai waktu-waktu sulitnya ketika harus membantu Alena terutama yang berhubungan dengan sekelompok hantu wanita genit yang tergila-gila padanya.

__ADS_1


            “Jika kau masih saja tertawa, aku tidak akan memberitahukamu keinginan dari Tuyul 1 dan Tuyul 2 yang diberikan oleh Pocong 2 sebelum dia pergi ke alam baka!” Kali ini Sadewa yang merasa kesal, mengeluarkan ancaman kecilnya untuk membungkam tawa Alena yang tak kunjung berhenti.


            Hup. Alena langsung menutup mulutnya dengan dua telapak tangannya.


            “Tawamu sudah berhenti?” Sadewa yang melihat tindakan Alena, bertanya untuk memastikan bahwa Alena sudah tidak lagi menertawai dirinya dan kesialan dalam hidupnya karena Alena.


            “Ehm.” Alena masih menutup mulutnya dan memberikan jawaban singkat disertai anggukan kepalanya.


            “Dari informasi yang diberikan oleh Pocong 2, keinginan dari Tuyul 1 dan Tuyul 2 adalah sama: mereka sama-sama ingin bermain bersama dengan seluruh penghuni dari pemakaman Durawa ini.” Sadewa memberikan informasi yang didengarnya dari Pocong 2.


            “Hanya itu??” Alena bertanya dengan wajah tidak percaya.


            Sadewa menganggukkan kepalanya. “Ya, hanya itu yang diberikan oleh Pocong 2. Kenapa? Terlalu mudah?? Hanya orang bodoh yang menganggap keinginan itu adalah keinginan yang mudah.”


            “Aahh ...” Alena terkekeh karena pikirannya yang dibaca oleh Sadewa. Untuk sejenak ... Alena berpikir bahwa Sadewa memiliki bakat yang sama dengan Bendara Abinawa. “Bagaimana kau tahu apa yang sedang aku pikirkan??”


            “Tunggu!!” Alena menyela. “Apa mereka bisa berkeringat setelah mati??”


            Sadewa mengangkat kedua bahunya bersamaan. “Aku tidak tahu. Itulah yang mereka katakan padaku. Terlebih lagi ... mereka tidak terbiasa untuk menggunakan kaki mereka karena mereka biasanya melayang di udara.”


            “Kau benar juga. Aku lupa akan hal itu.”


“Lalu para pocong tidak bisa berlari dan hanya bisa melompat. Ditambah lagi ... hantu kepala buntung yang selalu kehilangan kepalanya dan kesulitan untuk menemukan kepalanya jika sudah terjatuh. Lalu ... ada beberapa hantu dari pemakaman lain seperti pemakaman Cina yang tidak ingin bergabung dengan hantu dari pemakaman pribumi yang dianggapnya hantu kotor. Dan ... masih ada satu lagi, para genderuwo yang berada di bagian belakang pemakaman adalah kelompok yang sulit untuk diatur, Alena! Tugas itu-keinginan itu bukanlah tugas yang mudah!” Sadewa melanjutkan penjelasannya yang sempat disela oleh Alena.

__ADS_1


            “Itu memang tugas yang sulit.” Alena setuju dengan penjelasan panjang dari Sadewa. “Tapi ... itu bukan tugas yang tidak mungkin. Setelah beberapa tugas sulit sebelumnya, aku rasa tugas kali ini tidak cukup sulit. Aku akan menemukan cara yang tepat untuk mengumpulkan mereka semua. Sadewa.”


            Alena tersenyum dengan wajah penuh keyakinan memandang Sadewa dan hal itu membuat Sadewa sedikit bergidik melihat keyakinan di wajah Alena. “Keyakinanmu itu membuatku merasa sedikit takut, Alena.”


            “Kenapa?” Alena bingung. “Bukankah itu hal yang baik?”


            “Heh.” Sadewa terkekeh. “Ya, itu hal yang baik. Anggap saja baik, aku tidak ingin berdebat lebih panjang lagi denganmu. Aku masih harus berkeliling berjaga di pemakaman ini.”


            Sadewa mulai berjalan pergi dengan membawa tongkat bisbolnya.


            “Kau sudah mau pergi?” Alena bertanya.


            “Ya. Tugasku bukan hanya mengurusmu saja, Alena.” Sadewa berjalan pergi meninggalkan Alena untuk menjalankan tugasnya yang mirip dengan ronda malam. “Aku masih harus mengurus semua hantu di pemakaman ini.”


*


            “Kapan Alena akan sadar, Sadewa? Ini sudah lebih dari dua bulan, Alena terbaring koma.” Manda bertanya kepada Sadewa ketika melihat pria itu mengunjungi Alena yang terbaring koma di ranjang rumah sakit.


            “Tidak lama lagi.”


            “Kau yakin Alena bisa kembali, Sadewa?” Manda bertanya dengan raut wajah khawatir. Setelah dua bulan lamanya berlalu dan melihat keadaan Alena yang tak kunjung bangun, Manda mulai merasa khawatir. Ditambah lagi ... beberapa lebam kadang muncul di tubuh Alena dan terkadang tubuh Alena mengalami kejang yang membuat Manda dan Gala sempat berpikir mereka akan kehilangan Alena saat itu juga.


            Sadewa menganggukkan kepalanya. “Meski tidak seratus persen, aku merasa yakin Alena akan kembali. Aku sedang berusaha dan Alena juga sedang berusaha. Jika kalian tidak percaya denganku, maka setidaknya percayalah pada Alena-teman kalian. Percayalah ... Alena juga sedang berusaha dengan sangat keras untuk kembali pada kalian.”

__ADS_1


            Manda langsung menutup mulutnya ketika mendengar ucapan dari Sadewa. Di sisi lain ... Gala yang hanya mendengarkan percakapan Manda bersama dengan Sadewa kemudian menepuk lembut bahu Manda yang masih terlihat khawatir kepada Alena.


            “Ya Manda, apa yang  Sadewa  katakan benar. Jika kita tidak percaya pada Sadewa, setidaknya percayalah pada Alena. Apa yang Sadewa lakukan, semuanya adalah permintaan Alena. Di luar sana Alena sedang berusaha dengan sangat keras, maka kita yang di sini ... harus percaya padanya bahwa dia akan kembali bersama dengan kita lagi.”


__ADS_2