Screamnight

Screamnight
keinginan yang belum terkabul: kunti 1 part 3


__ADS_3

Alena memandang ke arah Kunti 1 lagi yang masih terhubung dengan rantai pemakaman Durawa yang dipanggil oleh Sadewa. Alena memandang iba ke arah Kunti 1 yang masih belum sadar, seolah tertidur dengan wajah tenang. Kira-kira ... apa keinginan yang belum kau dapatkan hingga kau terkurung di tempat ini-di tanah ini?


            “Apa yang sedang kau pikirkan, Alena?”


            Alena mendengar suara Sadewa dan menyadari Sadewa sudah berada di sampingnya, berdiri bersama dengannya.


            “Bertanya-tanya tentang keinginan Kunti 1 yang belum terkabul.”


            “Sudah kuduga.” Sadewa menganggukkan kepalanya.


            “Sekarang ... aku yang ingin bertanya padamu, Sadewa.” Alena berbalik ingin mengajukan pertanyaan kepada Sadewa dan melihat ke arah Sadewa dengan wajah penasaran.


            “Apa itu?”


            Alena menyentuh rantai yang merantai Kunti 1 dan tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh dari rantai itu. Alena terhuyung ke belakang setelah merasakan tubuhnya tiba-tiba kehilangan sebagian tenaganya. “I-ini, rantai apa?”


            Sadewa dengan cepat menangkap tubuh Alena yang terhuyung sebelum jatuh ke tanah dan memeriksa keadaan Alena. “Kau baik-baik saja, Alena.”


            “Sedikit pusing. Rasanya tenagaku habis dalam waktu singkat.”


            “Kau ini!!!” Sadewa menaikkan nada bicaranya kepada Alena. “Kenapa menyentuh rantai itu??”


            “Kau tadi juga menyentuhnya dan kau baik-baik saja. Kukira ... aku juga akan merasa baik-baik saja.” Alena menjawab dengan polos.


            “Ini rantai pengikat jiwa. Rantai ini adalah rantai yang hanya bisa dikeluarkan oleh durawapati dengan senjata mereka. Rantai ini memiliki kekuatan untuk menangkap siapapun jiwa yang durawapati inginkan. Kami para durawapati biasanya mengeluarkan rantai ini ketika bertemu dengan hantu yang lepas kendali.”


            Alena akhirnya paham kenapa Sadewa menyesali hari di mana serangan yang terjadi padanya di saat pengambilan rekaman screamnight. Alena ingat Sadewa hari itu tidak membawa tongkat bisbolnya dan karena itu pula, ketika serangan itu terjadi Sadewa tidak bisa memanggil rantai itu untuk melindungi dirinya, Alena, Gala dan Manda.


            “Apa kau sering memanggil rantai-rantai ini?”


            Sadewa menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku hanya akan memanggil rantai ini ketika terdesak saja. Butuh tenaga yang cukup besar untuk memanggil rantai-rantai ini dan  rantai ini adalah pedang bermata dua.”


            Alena mengernyitkan keningnya. “Pedang bermata dua, apa maksudnya?”


            “Ketika dipanggil rantai ini akan memakan tenagaku  dan ketika menangkap, rantai ini akan memakan tenaga dari yang ditangkapnya.”


            “Ah ini sebabnya ... Kunti 1 tidur dengan tenang???” Alena bertanya lagi.


            Sadewa menganggukkan kepalanya. “Ya, rantai ini sedang memakan energi kemarahan Kunti 1.”

__ADS_1


            Alena menyadari sesuatu dari penjelasan Sadewa. “Bagaimana denganmu, Sadewa? Apa kau baik-baik saja?”


            “Kenapa tiba-tiba bertanya tentangku??” Sadewa mengernyitkan satu alisnya karena merasa heran.


            “Bukankah kau bilang rantai ini memakan energimu ketika dipanggil??” Alena berbalik mengajukan pertanyaan sembari memeriksa tubuh Sadewa dengan saksama. “Apa kau merasa pusing? Lelah? Mata berkunang-kunang? Lelah? Lunglai? Atau gambaran lain dari kehilangan tenaga???”


            “Kau baru khawatir padaku???” Sadewa membalas pertanyaan dari Alena dengan pertanyaan yang lain sembari menghentikan tindakan Alena yang sedang memeriksa dirinya.


            “Kan aku tidak tahu. Jadi tolong maklumi ketidaktahuanku itu.”


            “Aku baik-baik saja. Memanggil satu kelompok rantai hanya untuk mengikat satu jiwa tidak membuatku lelah. Memanggil beberapa kelompok rantai ini untuk mengikat sepuluh jiwa, aku masih sanggup.”


            Prok ... prok ... prok ... Alena mengangkat kedua tangannya untuk bertepuk tangan yang ditujukan kepada Sadewa. “Padahal kau terlihat biasa saja, tapi nyatanya kau hebat juga, Sadewa. Tidak heran para hantu di sini, sangat mengidolakanmu.”


            Sadewa mengernyitkan alisnya lagi. “Pujianmu itu, kenapa aku merasa bahwa itu pujian berbalut ejekan??”


            Buk. Alena memukul pundak Sadewa dengan sedikit berjinjit karena selisih tinggi tubuh mereka. “Kenapa?? Kau tidak suka menjadi idola dari para hantu??”


            “Ya, aku tidak suka. Kau mungkin tidak tahu karena kau bukan penduduk desa K, tapi di desa ... aku dikenal sangat menjaga jarak dengan wanita dan perempuan.” Sadewa memberikan jawaban yang mengejutkan Alena.


            “Kenapa begitu? Apa kau alergi dengan wanita??” Alena bertanya dengan mendekatkan tubuhnya pada Sadewa. “Kau tidak menjauhiku dan terlihat baik-baik saja di dekatku.”


            Sadewa mengambil dua langkah mundur menjauhi Alena.  Sadewa memeriksa rantai yang merantai Kunti 1 dan tidak lama kemudian memukulkan tongkat bisbol miliknya ke permukaan tanah lagi dan boom. Rantai-rantai yang mengikat Kunti 1 kembali ke dalam tanah. Alena langsung berlari menangkap tubuh Kunti 1 yang terjatuh di tanah sementara Sadewa berdiri di samping Alena. Sadewa membuka mulutnya menjawab pertanyaan Alena sebelumnya. “Keadaan memaksaku untuk terus berada di dekatmu, Alena. Jadi aku hanya membiasakan diri dengan keadaan ini.”


            Sadewa mengernyitkan alisnya lagi. “Kenapa aku merasa jawabanmu itu tidak enak didengar, Alena??”


            Alena tidak lagi melirik dan kini menatap ke arah Sadewa dengan tatapan tajam. “Itu hanya perasaanmu saja, Sadewa. Ayo bantu aku membawa tubuh Kunti 1. Tidak mungkin kita biarkan dia tidak sadarkan diri di sini begitu saja bukan??”


            Sadewa mengangkat tangannya dan kemudian membuat siulan dengan meniup dua jarinya. Tidak lama kemudian Pocong 1 dan Pocong 2 muncul karena mendengar siulan dari Sadewa.


            “Salam, durawapati.” Pocong 1 dan Pocong 2 langsung memberikan salamnya kepada Sadewa,  hal itu membuat Alena merasa sedikit kagum dengan Sadewa dan posisinya sebagai  durawapati.


            “Bantu aku membawa tubuh Kunti 1.”


            Hnatu punya tubuh?,  tanya Alena di dalam benaknya.


            “Mau dibawa ke mana, durawapati?”


            Sadewa melihat ke arah Alena untuk mendapatkan jawaban dari Alena.

__ADS_1


            “Ke pondok,” jawab Alena dengan cepat yang sadar akan tatapan dari Sadewa yang mengarah padanya.


            Karena pocong 1 dan Pocong 2 tidak bisa menekuk tubuhnya, Sadewa mengangkat tubuh Kunti 1 ke atas kepala Pocong 1 dan Pocong 2. Dan karena Pocong 1 dan Pocong 2 tidak bisa mengeluarkan tangan mereka dari dalam kain kafan karena ikatan di kain kafan, tubuh Kunti 1 dibawa dengan disunggi di atas kepada Pocong 1 dan Pocong 2.


            Alena menggelengkan kepalanya melihat pemandangan tidak biasa di hadapannya itu. Bagaimana pun ... aku tetap tidak bisa terbiasa melihat hal ini?? Sadewa bisa menyentuh tubuh hantu yang kukira selama ini adalah makhluk gaib yang tidak punya tubuh. Alena melihat bagaimana Pocong 1 dan Pocong 2 melompat-lompat dengan tubuh Kunti 1 di atas kepala mereka. Lompatan Pocong 1 dan Pocong 2 benar-benar satu irama dan membuat Alena lama-lama tidak bisa menahan tawa kecilnya.


            “Kau!” Alena melirik tajam ke arah Sadewa.


            “Apa lagi??” Sadewa bertanya dengan nada dingin dan sedikit jengkel.


            “Bagaimana kau bisa membiarkan dua pocong yang tidak bisa mengeluarkan tangannya dari dalam kain kafan untuk membawa tubuh Kunti 1??”


            Sadewa melihat Alena dengan tatapan tajam. “Kau cerewet sekali hari ini, Alena! Aku tidak punya pilihan lain. Lagi pula mereka sudah terbiasa melakukan hal itu, kerja sama mereka berdua cukup bagus, kau harus tahu itu.”


“Tapi tetap saja ...”


“Apa kau lupa jika Kunti 1 itu tergila-gila padaku??”


            “Kenapa memangnya dengan itu?” Alena bertanya dengan wajah polosnya. “Bukankah kau harusnya merasa senang ada yang menyukai dan mengagumimu?”


            “Apa yang akan terjadi padaku jika aku yang membawa tubuh Kunti 1 ke pondok?? Bisa-bisa dia memelukku dengan erat dan membuatku terpaksa memanggil lagi rantai pengikat jiwa hanya untuk melepaskan pelukan Kunti 1 di tubuhku. Itu sayang sekali.”


            Alena tertawa kecil mendengar jawaban dari Sadewa. “Ahh ... aku lupa bagaimana Kunti 1 sangat tergila-gila padamu, Sadewa. Tapi ... “


            “Tapi apa??”


            “Tapi ... aku berharap bisa melihat pemandangan yang kau gambarkan itu, Sadewa. Itu pasti akan sangat lucu sekali.”


“Aku tidak ingin itu terjadi, Alena!”


            Alena tertawa kecil sementara Sadewa menahan rasa kesalnya mendengar jawaban dari Alena.


           


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2