Screamnight

Screamnight
keinginan yang belum terkabul: pocong 1 part 5


__ADS_3

Siapa yang akan menyangka bahwa ada cerita kelam antara Pocong 1 dan tetua genderuwo yang dulunya pernah menjadi teman baik dan sahabat? Alena benar-benar tidak menyangka cerita itu memang benar adanya dan alasan di balik perpisahan itu adalah perbuatan tidak baik dari tetua genderuwo karena tergila-gila pada wanita yang harusnya jadi istri dari Pocong 1 sebelum kematian datang menjemputnya.


            Pocong 1 yang selama ini selalu menyembunyikan alasan dia terjebak di pemakaman Durawa bahkan ketika seseorang menawarkan diri untuk membuka tali pocong dari Pocong 1 adalah karena wanita. Surya tewas dalam perang tahun 1940, mati sebagai tentara yang gagah berani karena membela tanah air. Meski hanya tentara biasa yang bahkan namanya tidak tercatat dalam sejarah, Surya cukup bangga dengan tugas dan pekerjaannya. Di samping semua itu, ada satu alasan kenapa Surya sangat bangga dengan pekerjaannya. Wanita yang dicintainya juga sangat mendukungnya. Wanita itu bernama Chandara, usia dua tahun lebih muda dari Surya dan bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit. Surya dan Chandara bak matahari dan bulan yang saling melengkapi satu sama lain. Itulah gambaran dari cinta keduanya.


            Sebulan sebelum kematian menjemput, Surya dan Chandara membuat janji bahwa tiga bulan kemudian mereka akan menikah dan meresmikan hubungan yang telah dijalani selama beberapa tahun. Segala persiapan sudah dipersiapkan oleh kedua keluarga, sayangnya ... dua bulan sebelum pernikahan, Surya tewas dalam peperangan yang diikutinya.


            Gagal menikah dan meninggalkan Chandara dua bulan sebelum pernikahan mereka, menjadi salah satu tragedi dalam hidup Surya dan tragedi itu terus mengikuti Surya hingga kematian. Karena terlalu sedih dan terlalu terpukul dengan kematian Surya yang secara mendadak, salah satu orang yang mengubur Surya lupa melepaskan tali pocong di kafan Surya dan membuat Surya menjadi hantu gentayangan.


            “Apa kau tidak ingin aku melepaskan tali pocongmu? Aku akan melepas tali pocongmu dan membuatmu tenang di alam kubur.”


Salah satu durawapati pernah menawarkan hal itu kepada Surya. Akan tetapi Surya menolak tawaran itu dengan harapan kecil: harapan untuk bertemu dengan kekasihnya di alam kematian atau setidaknya melihat kekasihnya dikuburkan di pemakaman yang sama. Harapan itu terwujud dalam beberapa tahun kemudian. Chandara yang mengabdikan dirinya sebagai perawat setelah kehilangan Surya, akhirnya tewas dengan cara yang sama dengan Surya: mati dalam perang.


            Keinginan yang membuat Surya terjebak di pemakaman Durawa akhirnya terkabul dan untuk sesaat ... Surya bisa bertemu dengan arwah Chandara. Akan tetapi tragedi dalam kehidupan dan kematian pada Surya terulang lagi. Tetua genderuwo yang menjadi sahabat Surya di alam kematian, jatuh hati pada arwah Chandara dan membawa paksa arwah Chandara ke dalam sarangnya. Semenjak itu ... Surya sebagai pocong 1 berusaha untuk merebut kembali arwah kekasihnya tapi usaha itu selalu berakhir dengan kegagalan. Semenjak itu pula, sebuah larangan muncul di mana semua hantu yang dulunya bisa berkunjung ke sarang genderuwo tidak lagi bisa masuk ke sana.


            Surya menangisi tragedi yang datang dalam kehidupan dan kematiannya. Tangisan itu sampai di telinga Bendara Abinawa.


            “Kau hanya harus menunggu dan percaya, Surya. Suatu hari nanti akan ada manusia yang datang dan membantumu menyelamatkan kekasihmu. Kau hanya perlu menunggu hari itu datang.”


            Surya sebagai pocong 1 percaya akan ucapan itu.


            “Maaf, aku tidak bisa merebut arwah kekasihmu.”


Tapi setiap kali durawapati datang dan berusaha untuk membantu dirinya, usaha itu selalu berakhir dengan kegagalan. Selalu gagal dan harapan yang berulang kali kandas, membuat Surya sebagai Pocong 1 tidak lagi ingin mengatakan alasannya terjebak dan menyusahkan manusia yang masih hidup untuk menolongnya.


            Dan hari ini setelah penantian yang panjang, setelah berulang kali usaha yang dikerahkan, berulang kali harapan kandas,  Surya sebagai Pocong 1 terkejut ketika mendengar panggilan dari Sadewa dan mendapati Alena bersama dengan Sadewa yang membawa bola yang berisi arwah dari kekasihnya-Chandara.


            “Surya!” Arwah Chandara langsung keluar dari dalam bola itu ketika melihat Surya sebagai Pocong 1 muncul dan memeluk tubuh Pocong 1.

__ADS_1


            “Chandara!” Pocong 1 meneteskan air matanya karena menerima pelukan dari arwah kekasihnya yang masih setia.


            “Surya, kau masih setia menungguku??”


            Pocong 1 menganggukkan kepalanya. “Tentu saja aku masih setia menunggumu! Kau tertangkap oleh makhluk jahat itu karena aku! Aku tidak bisa pergi meninggalkanmu padahal aku tahu, kau juga terjebak!”


            Bagi Alena dan semua hantu yang datang ketika mendengar panggilan dari Sadewa sebagai durawapati, pemandangan itu adalah pemandangan yang mengharukan.


*


            “Apa kau ingin aku melepas tali pocongmu, Pocong 1?” Alena bertanya kepada Pocong 1 setelah membawa Sadewa yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri ke dalam pondok di mana Alena tinggal.


            “Tidak. Biarkan tugas itu dilakukan oleh durawapati. Aku adalah pria semasa hidupku, takutnya ketika tali pocongku dilepas, kau akan melihat bagian dari tubuhku.”


            Ah, aku lupa akan hal itu!! Alena memukul kepalanya sendiri karena melupakan ucapan dari Sadewa yang pernah dikatakannya. “Maaf, aku lupa soal hal itu, Pocong 1.”


            “Kau tidak perlu berterima kasih padaku, Pocong 1. Aku tidak banyak melakukan apapun.” Alena melihat ke arah Sadewa yang sedang berbaring di atas ranjang dalam keadaan tidak sadarkan diri. “Dibandingkan dengan Sadewa, aku tidak melakukan hal besar. Sadewa bahkan sampai kehilangan kesadarannya karena berusaha untuk membantuku dan melindungiku.”


            “Itu tidak mengherankan!! Memanggil rantai pengikat jiwa sebanyak itu dan masih harus memasang pagar pembatas untuk mengurung genderuwo di sarangnya, itu adalah tindakan yang benar-benar menguras tenaganya sebagai manusia.”


            Alena tersenyum memandang wajah Sadewa yang terlihat polos bak anak kecil. “Menjadi durawapati ternyata adalah pekerjaan yang tidak mudah.”


            “Yah itu memang bukan tugas yang mudah.” Pocong 1 setuju dengan ucapan Alena.


            Tiba-tiba ... Alena teringat akan ucapan dari tetua genderuwo yang mengatakan bahwa Sadewa adalah durawapati pengganti. Alena memberanikan diri bertanya kepada Pocong 1 untuk mendapatkan jawaban untuk rasa penasarannya. “Pocong 1, bisakah aku bertanya?”


            “Apa yang ingin kau tanyakan, Alena?”

__ADS_1


            “A-apa kau tahu soal durawapati pengganti?? Tadi ketika aku bertemu dengan tetua genderuwo berulang kali dia mengatakan dan menyebut Sadewa sebagai durawapati pengganti?” Alena mencoba bertanya meski tidak yakin dia akan mendapatkan jawaban untuk pertanyaan itu dengan mudah.


            “Rahasiakan ini dari durawapati, maka aku akan memberitahumu, Alena!” Pocong 1 bicara dengan nada berbisik sembari melirik ke arah Sadewa yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. 


            “Aku akan menjaga rahasia ini rapat-rapat!” Alena langsung menganggukkan kepalanya tanpa berpikir dua kali.  


            “Durawapati adalah tugas yang dijatuhkan dari ayah kepada anaknya hingga keturunan berikutnya di setiap generasi. Tapi untuk menanggung tugas itu ... biasanya durawapati dilatih lebih dulu untuk menjaga fisik dan mental mereka. Menghadapi makhluk-makhluk gaib seperti kami bukanlah tugas yang mudah. Menjadi durawapati sama artinya dia memiliki dua kehidupan dalam dua dunia: kehidupan di mana manusia hidup dan kehidupan setelah kematian di mana kami terjebak ... “


            Alena mendengarkan penjelasan dari Pocong 1 dengan saksama. Penjelasan itu benar-benar menarik perhatiannya.


            “ ... Kebanyakan durawapati yang bertugas berusia di atas 30 tahun mendekat usia 40 tahun ketika bertugas dan kebanyakan sudah menikah dan punya anak. Mereka dituntut untuk menikah muda dan segera memiliki keturunan untuk penerus selagi durawapati sebelumnya masih bertugas.”


            Alena mengerutkan keningnya merasa ada sesuatu yang ganjil dengan penjelasan Pocong 1. “Sadewa masih terlalu muda untuk tugas ini ketika ayahnya meninggal, begitu?”


            “Itu satu alasan lain. Alasan sebenarnya durawapati sekarang disebut durawapati pengganti karena tugas itu sebagai durawapati harusnya jatuh kepada anak pertama dari durawapati sebelumnya.”


            “Maksudmu?” Alena masih berusaha untuk mencerna penjelasan Pocong 1. “Sadewa bukan anak pertama dari durawapati sebelumnya?”


            Pocong 1 menganggukkan kepalanya. “Ya, durawapati yang sekarang adalah anak kedua dari durawapati sebelumnya. Anak pertama yang harusnya menjadi durawapati kabur ketika pertama kali bertemu dengan kami.”


            “Oops!” Alena menutup mulutnya rapat-rapat karena terkejut. Alena kemudian melihat ke arah Sadewa yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Aku tidak menyangka hal seperti itu akan terjadi!!


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2