
“Kyaaa!!!” Sekelompok hantu wanita berteriak melihat Sadewa dengan setelan jas putih bak pacar idaman.
“Aku dulu!!” Sundel 1 maju dan berdiri di samping Sadewa.
“Aku duluan!” Sundel 2 tidak ingin kalah dari Sundel 1 dan berdiri di sisi lain Sadewa yang kosong.
“Aku duluaaan!!!” Kunti 3 tidak mau kalah dan menarik Sundel 1 menjauh dari Sadewa, berusaha untuk merebut posisi Sundel 1.
“Aku duluaaann!!!!” Kunti 4 yang juga tidak ingin kalah melakukan hal yang sama dengan Kunti 3 dengan menarik Sundel 2 dan merebut posisinya.
Alena melihat Sadewa yang tampak risih dengan keributan para hantu wanita yang sedang berebut posisi untuk berfoto bersama dengan Sadewa. Ya ... harga untuk informasi mengenai Pocong 2 adalah semua hantu wanita yang datang saat itu dan mendengar permintaan dari Alena adalah berfoto bersama dengan Sadewa. Dan bukan foto bersama yang biasa, Sadewa juga harus berdandan tampan layaknya boyfriendable. Para hantu wanita itu iri dengan permintaan dari Kunti 2 yang ingin berkencan dengan Sadewa sebelum akhirnya pergi ke alam baka.
“Aku duluan!! Apa kau tidak tahu artinya??” Sundel 1 membalas Kunti 3 dengan menariknya menjauh dari Sadewa.
“Aku duluaan!! Apa kau tidak tahu budaya antre??” Sundel 2 membalas Kunti 4 dengan melakukan hal yang sama dengan Sundel 1.
“Bagaimana jika aku duluan??” Tiba-tiba dari langit muncul hantu wanita tua dengan beberapa tuyul di gendongannya. “Kalian berebut begitu, biar aku saja yang duluan. Bagaimana??”
“Alena!” Sadewa memanggil Alena dengan suara kesal.
“Ya?”
“Tidak bisa!!!” Sundel 1, Sundel 2, Kunti 3, Kunti 4 bahkan Sundel 3 dan Sundel 4 yang tidak berebut, ikut bicara dengan serentak karena tidak terima dengan kehadiran hantu wewe gombel dengan membawa dua tuyul di gendongannya.
“Alena!!” Sadewa berteriak lebih kencang kepada Alena dan kali ini bersiap untuk mengayunkan tongkat bisbol yang digunakannya sebagai senjata pusaka durawapati.
__ADS_1
“A-aku mengerti.” Alena menganggukkan kepalanya dan maju ke dekat Sadewa. Alena bahkan membuat pagar dengan tubuhnya untuk melindungi Sadewa dari hantu-hantu wanita yang sedang memperebutkan dirinya. “Karena kalian berebut satu sama lain, bagaimana kalau begini saja? Kita undi siapa yang lebih dulu dan setelah itu, aku bisa mengambil foto kalian. Bagaimana?”
Alena sempat ragu dengan caranya itu karena melihat bagaimana brutalnya para hantu wanita ketika sedang memperebutkan Sadewa. Tapi nyatanya sekelompok hantu wanita itu setuju begitu saja dengan cara Alena dan hal itu menyelamatkan Alena dari banyak tekanan yang saat ini sedang menyerangnya bersama-sama.
“Oke, cheese.” Klik. Alena mengambil foto pertama dari Kunti 3 bersama dengan Sadewa.
“Ini untukmu, durawapati. Ini adalah tanda cintaku padamu dan tanda bahwa hatiku selalu milikmu.” Setelah selesai mengambil foto bersama, Kunti 3 tiba-tiba mengeluarkan jantungnya yang berwarna hitam dan tidak lagi berdetak, dan memberikannya kepada Sadewa.
Tentu saja Sadewa menolak pemberian itu karena Sadewa tidak bisa menerima perasaan dari hantu yang hidup di dunia yang berbeda dengan manusia.
“Oke, cheese.” Setelah Kunti 3, kini giliran Sundel 1 yang berfoto bersama dengan Sadewa. Sundel 1 yang tidak mau kalah dengan Kunti 3, juga memberikan sesuatu kepada Sadewa. Tapi bukan jantung yang diberikan oleh Sundel 1, melainkan tanda hati yang dibuat dengan ibu jari dan jari telunjuk yang dipelajarinya dari dunia manusia.
Setelah Sundel 1, giliran Sundel 2, Kunti 4, Sundel 4 dan Sundel 3 maju satu persatu untuk mengambil gambar mereka dengan Sadewa. Mereka berpose seolah mereka adalah kekasih Sadewa yang sesungguhnya. Yah hanya dalam beberapa detik, mereka adalah kekasih Sadewa dan foto itu adalah buktinya.
“Jadi ... apa keinginan dari Pocong 2?” Alena bertanya kepada Sundel 1 dan Kunti 3 ketika sesi foto berakhir.
“Ma-ta-ha-ri?” Alena mengulang kata itu dengan ekspresi terkejut karena tidak menyangka keinginan dari Pocong 2 adalah keinginan yang cukup aneh menurut Alena. “Kenapa matahari? Kenapa Pocong 2 ingin melihat matahari??”
“Mungkin kau tidak tahu kisah ini, tapi Pocong 2 itu dulunya adalah seorang pendaki. Jika aku tidak salah ingat Pocong 2 tewas ketika mendaki gunung di belakang pemakaman ini. Waktu itu ... kejadiannya cukup heboh baik di dunia manusia maupun di dunia hantu. Karena pendaki itu hilang selama seminggu lamanya sebelum akhirnya ditemukan tewas.” Sundel 1 menjelaskan apa yang diingatnya kepada Alena.
“Ya ... aku juga dengar cerita itu dari Kunti 1. Kejadian itu benar-benar menghebohkan pemakaman Durawa karena durawapati saat itu membawa beberapa hantu di pemakaman Durawa keluar dari pemakaman ini untuk menemukan pendaki yang hilang itu. Dengar-dengar yang menyesatkan Pocong 2 sebelum kehilangan nyawanya adalah genderuwo di belakang pemakaman.” Kunti 3 ikut menambahkan.
“Wahh ... kalau begitu Pocong2 tidak suka dengan genderuwo dan kelompoknya?” Alena bertanya.
“Jelas!! Begitu muncul menjadi hantu di pemakaman ini, Pocong 2 langsung masuk ke dalam sarang genderuwo untuk menuntut balas.” Sundel 1 bicara dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
“Tapi kenapa terjebak di pemakaman ini? Kukira pendaki harusnya berasal dari luar kota?” Alena bertanya lagi.
“Pocong 2 itu adalah penduduk di desa K. Hanya itu yang aku dengar. Di antara kita semua-para hantu di sini, hanya makam Pocong 2 yang selalu dikunjungi oleh keluarganya.”
Setelah berusaha dengan cukup keras: dari mengejar-ngejar Pocong 2, membeli informasi dari komunitas gosip hantu hingga berlutut di depan Sadewa untuk membantunya, Alena akhirnya menemukan keinginan dari Pocong 2. Dan sekarang ... Alena sedang berpikir bagaimana meminat Sadewa untuk membuat matahari agar bisa dilihat oleh Pocong 2 karena tugas itu bukanlah tugas yang mudah mengingat di pemakaman Durawa hanya ada malam tanpa siang karena pembatas yang melindungi pemakaman Durawa dan hantu-hantu di dalamnya.
*
“Jadi ... apa kau sudah tahu apa keinginan dari Pocong 2 dengan pengorbanan yang aku lakukan?” Sadewa bertanya kepada Alena dengan melepas jas putih yang tadi dikenakannya.
Alena menganggukkan kepalanya menatap Sadewa. Alena duduk di samping Sadewa di dalam pondok di mana Alena tinggal untuk sementara. “Sudah.”
“Apa keinginan dari Pocong 2?” Sadewa bertanya.
“Sepertinya keinginan kali ini benar-benar cukup sulit, Sadewa.” Alena memberikan jawaban dengan menundukkan kepalanya dan bahkan mengacak-acak rambutnya.
“Sulit??” Satu alis Sadewa naik ketika mendengar kata sulit keluar dari dalam mulut Alena menjawab pertanyaan darinya. “Apa ada yang lebih sulit dari menjadi teman kencan para hantu wanita, berfoto dengan hantu wanita, masuk ke dalam sarang genderuwo dan mengobrak-abrik isinya, dan memanggil banyak rantai pengikat jiwa untuk menangkap para genderuwo sekaligus memanggil penghalang untuk menghalangi mereka yang sangat marah kepada kita?”
“Kenapa mendengar ucapanmu itu membuatku merasa aku telah membebanimu dengan banyak hal, Sadewa?”
“Baguslah kalau kau sadar. Jika kau kembali ke dunia manusia, kau harus membayarku untuk semua usahaku itu.” Sadewa memberi peringatan kecil pada Alena. “Apa permintaan Pocong 2 lebih sulit dari semua yang aku dan kau telah lakukan?”
Alena menganggukkan kepalanya. “Ya, lebih sulit dari semua yang kau dan aku telah lakukan. Dan kali ini ... sekali lagi, kau yang harus menerima kesulitan itu agar aku bisa mengerjakan tugas untuk bertemu dengan ibuku, Sadewa.”
Huft. Sadewa menghela napasnya panjang. “Apa yang lebih sulit dari semua itu, Alena?”
__ADS_1
Alena melihat ke arah Sadewa dengan tatapan dalam. “Pocong 2 ingin melihat matahari, Sadewa.”
Glup. Sadewa menelan ludahnya sembari mengumpat di dalam benaknya. Sial!!! Apa benar tugas-tugas ini untuk Alena? Kenapa aku merasa tugas-tugas Alena ini bukan tugas untuknya melainkan tugas untukku yang datang melewati Alena?? Padahal aku hanya durawapati pengganti, tapi banyak sekali tugas yang harus aku lakukan!! Sial!! Menyelamatkan wanita ini bukanlah tugas yang mudah!!