
“Kau di sini, Sadewa?” Bendara Abinawa menyapa Sadewa ketika melihat Sadewa mendatangi tempatnya.
“Seperti yang Kakek lihat, aku di sini.” Sadewa sampai di samping Bendara Abinawa dan duduk di sampingnya.
“Mau mengeluh apa lagi??” Bendara Abinawa bertanya kepada Sadewa dan pertanyaan itu membuat Sadewa langsung menatap tajam ke arah Bendara Abinawa.
Huft. Sadewa menghela napas panjang berusaha untuk menahan dirinya di depan pria tua yang usianya mungkin sudah ratusan tahun tinggal di pemakaman Durawa. “Ya ... ya ... ya, aku datang untuk mengeluh pada Kakek.”
“Sudah waktunya, Sadewa. Sudah waktunya untuk membersihkan tempat ini, Sadewa. Pembatas yang terlihat gelap gulita ini adalah pemandangan yang membosankan. Rasanya pengap dan sesak karena tak ada sinar matahari yang menembus aura jahat yang terkumpul di pembatas pemakaman Durawa.”
“Jadi ... ini memang sudah tugasku, Kakek?” Sadewa berusaha menerima situasi yang sedang dihadapinya. “Meski aku hanyalah durawapati pengganti?”
Bendara Abinawa tersenyum mendengar kata ‘pengganti’ keluar dari mulut Sadewa. “Aku tidak pernah menganggamu sebagai durawapati pengganti, Sadewa. Siapapun yang jadi penjaga makam ini, mereka adalah durawapati. Kewajiban kalian sama: menjaga makam ini dan hantu-hantu yang terjebak di tanah keramat ini. Durawapati pengganti hanyalah sebutan karena kau bukan anak pertama dari keluargamu dan di mataku, itu tidak mengubah apapun. Bukti bahwa kau sudah bekerja keras sebagai durawapati, itulah yang aku nilai, Nak.”
Sadewa tersenyum kecil mendengar pujian kecil dari Bendara Abinawa untuknya. “Kakek selalu pandai bicara. Rasa kesalku hilang begitu saja mendengar ucapan Kakek.”
“Terkadang manusia butuh dihargai untuk usaha yang mereka lakukan baik itu. Tapi apa kau sadar, penghargaan itu terkadang tidak perlu ditunjukkan karena malaikat yang ada di sebelah kananmu sudah mencatatnya dengan baik.”
“Kakek benar.” Sadewa menganggukkan kepalanya setuju sebelum akhirnya menatap Bendara Abinawa dengan wajah penasaran. “Karena ucapan Kakek selalu benar, aku bertanya-tanya: apakah Kakek pernah berbuat salah??”
Buk. Bendara Abinawa mengangkat tongkatnya dan menggunakannya untuk memukul bahu Sadewa. “Hei, Nak!!! Aku dulunya juga manusia, tentu saja aku pernah berbuat salah!!”
“Oohhhh!!” Sadewa menganggukkan kepalanya sembari mengelus bahunya yang dipukul oleh Bendara Abinawa. “Baiklah, Kek. Aku sudah selesai mengeluh pada Kakek. Sekarang ... bagaimana caraku membersihkan pembatas ini dari aura jahat yang terkumpul dalam jangka waktu yang sangat lama ini?”
Bendara Abinawa tersenyum dan kemudian memberi isyarat pada Sadewa untuk mendekat padanya.
*
Tiga hari kemudian.
“Sadewa!!” Alena berteriak pada Sadewa setelah tiga hari Sadewa tidak berjaga di pemakaman Durawa dan hal itu membuat Alena berpikir Sadewa akan melarikan diri seperti kakaknya.
“Apa??” Sadewa berjalan menghampiri Alena dengan wajah datarnya. “Kenapa?? Kau merindukanku setelah tiga hari tidak bertemu denganku?”
“Ya dan tidak. Untuk pertama kalinya, aku merindukan orang lain selain Ibuku, Manda dan Gala.” Alena menghentikan larinya ketika sampai di depan Sadewa dan langsung memukul bahu Sadewa. Buk! “Kukira kau melarikan diri, Sadewa??”
Sadewa menyipitkan kedua matanya mendengar ucapan dari Alena. “Picik sekali pikiranmu itu, Alena??”
“Hehehe.” Alena tertawa kecil merasa bersalah dengan pikirannya sendiri. “Kamu tidak datang selama tiga hari dan tidak memberi kabar sama sekali.”
“Haruskah aku memberimu ponsel juga di tempat yang tidak punya sinyal seperti ini?? Haruskah aku membangun tower wifi di sini demi kau juga?” Sadewa membalas ucapan Alena dengan sedikit sinis.
__ADS_1
Alena menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya yang membuat isyarat untuk meminta maaf. “Maaf ... aku tidak berpikir panjang padahal kau sudah banyak melakukan banyak hal untukku.”
“Kuterima maafmu itu jika kau membalasku ketika kau kembali nanti.”
“Tentu, aku akan membalasnya, Sadewa. Kau bak superhero di hidupku dan hal ini pasti tidak akan datang dua kali dalam hidupku.” Alena memberikan sedikit pujian agar Sadewa tidak lagi marah dan kesal pada dirinya. Dan ... pujian itu benar-benar manjur.
“Kita selesaikan hari ini juga agar keinginan dari Pocong 2 segera terkabul.” Sadewa mempersiapkan dirinya untuk mulai membersihkan pembatas pemakaman Durawa yang mengumpulkan banyak aura jahat.
“Bagaimana caranya?” Alena bertanya penasaran.
“Kau masih menyimpan bola milik kekasih Pocong 1 ditawan?” Sadewa berbalik bertanya kepada Alena.
“Ya, masih.”
“Kita akan gunakan itu untuk menyimpan aura jahatnya.”
Alena buru-buru berlari ke arah pondok dan mengambil bola kaca itu. Dan dalam hitungan menit, Alena kembali dengan membawa botol itu di tangannya.
“Buka botol itu sekarang!” Sadewa memberikan instruksi pada Alena. “Dan ketika langit sudah benar-benar cerah, segera tutup bola kaca itu!”
Alena menganggukkan kepalanya sebagai tanda mendengar instruksi itu. Tapi ... “Bagaimana caranya aku tahu langit telah berubah cerah??”
“Kau akan tahu karena aku datang kemari satu jam sebelum matahari terbit.”
Sadewa kemudian mengangkat tangannya ke atas, menyalurkan semua energi yang dimilikinya untuk menarik aura jahat di pembatas masuk ke dalam bola kaca. Usaha itu tidaklah mudah mengingat Sadewa baru mempelajari teknik itu dalam dua hari saja. Sadewa sempat kesulitan di awal sebelum akhirnya berhasil menarik aura jahat itu masuk ke dalam bola kaca.
Wusssshhhhh!
Aura jahat yang ditarik oleh Sadewa bergerak layaknya angin kencang dan menimbulkan suara berisik bak angin kencang datang. Alena yang juga merasakan hal itu, hanya diam sembari menatap ke arah langit untuk bersiap-siap seperti instruksi dari Sadewa.
“Apa yang terjadi?” Kunti 3 muncul dari langit dan langsung menghampiri Alena dan Sadewa. “Apa yang sedang dilakukan oleh durawapati?”
“Angin ribut apa ini?” Sundel 1 juga muncul dari langit dan langsung mengajukan pertanyaan kepada Alena dan Sadewa.
Alena ingin menjawab pertanyaan itu, tapi ketika melihat beberapa hantu tuyul yang sedang menikmati angin ribut, Alena mengurungkan niatnya dan hanya tersenyum saja. Alena bahkan tertawa kecil ketika melihat hantu kepala buntung yang kesulitan menemukan kepalanya karena tubuh dan kepalanya yang terpisah beberapa kali tertarik angin ribut.
“Angin ribut ini!! Membuat rambutku semakin berantakan saja!!” Sundel 2 yang juga muncul dari langit langsung mengeluh di depan Alena mengenai rambutnya.
“Itu benar!” Sundel 1 setuju dengan Sundel 2. “Rambut yang baru aku tata ketika berfoto dengan durawapati kini sudah berantakan lagi bak sarang burung. Burung mungkin akan bersarang lagi di kepalaku!!!”
“Durawapati!!” Kunti 3 merengek. “Apa ini caramu menolak perasaan kami semua??”
__ADS_1
Alena melongo mendengar hantu-hantu wanita yang datang justru meributkan angin kencang karena Sadewa. Mereka benar-benar sudah tidak waras!! Mereka benar-benar sudah dibutakan oleh Sadewa!! Ini benar-benar definisi cinta buta!!
Setelah sekitar 30 menit angin ribut terus bergerak, usaha dari Sadewa mulai terlihat. Langit malam yang Alena lihat selama dua bulan ini, mulai terlihat berbeda. Ada kilau-kilau bintang di langit dan ini adalah pertanda bahwa Sadewa benar-benar mengerjakan tugasnya sebagai durawapati.
“Apa kita akan mati ketika melihat matahari, durawapati?” Kunti 3, Sundel 1 dan Sundel 2 bertanya dengan serentak kepada Sadewa ketika melihat kilauan bintang di langit.
Di tengah usahanya untuk membersihkan aura jahat yang membuat pembatas gelap, Sadewa melirik ke arah Kunti 3, Sundel 1 dan Sundel 2 dengan tatapan tajam. “Logika dari mana itu? Kalian akan mati jika terkena matahari, bukankah kalian sudah mati??”
“Ah benar juga, kami sudah mati.” Kunti 3, Sundel 1 dan Sundel 2 bicara secara serentak lagi. “Lalu apa kami akan menghilang??”
Ketiga hantu wanita masih saja mengganggu Sadewa dan membuat Sadewa yang mulai kelelahan merasa sangat kesal. Alena bahkan bisa melihat keringat mengucur dari kening Sadewa. Tapi berkat keringat itu ... ketiga hantu itu akhirnya bisa diam dan tidak lagi mengajukan pertanyaan kepada Sadewa.
“Ahhh keringat itu ... “ Kunti 3 melihat keringat di kening Sadewa bak melihat berlian. “Keringat itu ... aku ingin menyekanya!!!”
“Aku saja!!!” Sundel 1 menarik ke Kunti 3 dan berusaha untuk melakukan apa yang ingin dilakukan oleh Kunti 3.
“Biar aku saja!!!” Sundel 2 juga tidak mau kalah. Sundel 2 menarik Kunti 3 dan Sundel 1 untuk menyeka keringat dari Sadewa.
Sinar matahari kemudian benar-benar terlihat. Dan untuk sejenak menghentikan keributan dari tiga hantu wanita yang sedang berebut menyeka keringat Sadewa.
“Sudah selesai.” Sadewa bicara sembari memberi instruksi kepada Alena yang langsung menutup bola kaca yang digenggamnya untuk menyimpan aura jahat dari pembatas Durawa.
Sadewa langsung terduduk ke tanah dengan nafas terputus-putus karena tenaganya yang habis terkuras.
“Kau baik-baik saja??” Alena langsung berlutut di samping Sadewa.
“Ti-tidak. Kepalaku pusing.” Sadewa sempat menjawab pertanyaan itu sebelum akhirnya ambruk. Beruntung ... Alena memiliki refleks yang cepat jadi berhasil menangkap tubuh Sadewa sebelum jatuh menghantam tanah.
“Kyaaaaa!!!”
Alena mengira para hantu wanita itu berteriak karena melihat Sadewa kehilangan kesadarannya. Tapi ketika Alena melihat ke arah ketiga hantu itu, Alena menemukan ketiga hantu itu juga jatuh ambruk ke tanah.
“Kenapa dengan kalian? Apa sinar matahari membuat kalian lemas?” Alena bertanya dengan heran.
“Tidak.” Sundel 1 menjawab mewakili dua hantu lainnya.
“Lalu??”
“Kami lemas karena tidak kuat melihat pesona dari durawapati. Sinar matahari yang menyinari durawapati dengan wajah keringat itu membuatnya tampak semakin rupawan, berkilau seperti malaikat dan semakin mempesona.”
Sial! Alena mengumpat kesal di dalam benaknya mendengar ucapan dari Sundel 1 dan melihat ketiga hantu itu tergeletak lemas di tanah dengan mata berkaca-kaca. Sial!! Kapan dram cinta ini akan berakhir? Siapapun tolong hentikan dramatisasi dari hantu-hantu wanita ini!!
__ADS_1